Sapardi dan Puisi Sunyi

Asarpin *
Lampung Post, 28 Mar 2010

SAPARDI Djoko Damono berulang tahun ke-70 pada 20 Maret tahun ini. Penyair lirik yang banyak menghadirkan tema kesunyian ini pantas diberi apresiasi. Walau kita tahu: Sapardi bukanlah penyair yang menyuarakan semangat kebangsaan. Tak satu pun puisinya mengangkat masalah bangsa yang jadi perhatian orang banyak di negeri ini.

Dalam usianya yang ke-70 tahun pada 20 Maret ini, Sapardi pantas dibicarakan kembali mengingat selama ini ia termasuk penyair yang telah begitu banyak memikirkan “laskar hitam”, atau kata-kata. Dan lapangan pertaruhan Sapardi adalah kata-kata. Dan medianya adalah puisi dan prosa.

Begitu banyak kata yang telah tumpah dan menggores di kertas hingga jadi puisi sunyi dan bunyi, prosa yang hemat, cermat, dan cantik, sebagaimana dalam kumpulan Pengarang Telah Mati, atau esai-esainya tentang kesusastraan modern Indonesia, tentang sosilogi sastra, tentang Rendra, yang jadi rujukan banyak orang.

Tema-tema sajak dan prosanya begitu beragam. Ada tema sosial dan ada juga tema individual, yang hampa maupun yang berisi, yang sunyi maupun yang bunyi. Dua hal ini tak mungkin ditolak karena itu merupakan bagian dari perjalanan kepenyairan Sapardi. Kendati kita tahu, sajak sosialnya hanya secuil saja dari ratusan sajak lirik dengan tema-tema sederhana, remeh, tapi sebagian terasa bening-terbening.

Mungkin lantaran karena itu, puisi-puisi Sapardi kerap ingin “dihabisi” oleh para kritikus. Tak kurang dari penyair Hasan Aspahani pernah berniat untuk menghabisi sajak-sajak penyair ini, tetapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya: Aspahani terpukau dan terpesona dan menyebut Sapardi sebagai raksasa dari pohon rindang-tinggi yang sulit dijangkau.

Kalau Sapardi meninggalkan bumi yang fana ini, begitu banyak yang bisa kita kenang tatkala kita membuka buku-buku sastra Indonesia. Di perpustakaan daerah Provinsi Lampung, buku-buku Sapardi berjejer dan lusuh karena begitu sering dibuka. Kita pernah mengenal penyair ini dengan akrab karena buku-buku kumpulan sajaknya yang banyak. Mulai dari Duka-Mu abadi, lalu disusul Akuarium, Mata Pisau, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Perahu Kertas, Arloji, Ayat-ayat Api, dan Kolam.

Semua buku puisi itu amat penting untuk tidak disimpan di lemari buku. Dulu, ketika saya masih tinggal di Jakarta, saya harus memburu buku-buku puisi Sapardi yang pernah diterbitkan karena saya mulai jatuh cinta pada sajak-sajak liriknya yang cantik dan cocok bagi dahaga anak-anak muda yang sedang jatuh cinta.

Pernah, kalau tidak salah, saya merasa kesulitan dalam membandingkan capaian sajak Sapardi dalam buku Duka-Mu abadi dan Hujan Bulan Juni, atau antara Sihir Hujan dan Hujan Bulan Juni. Akhirnya saya menyerah. Saya berhenti dengan mengambil kesimpulan bahwa sajak-sajak dalam Hujan Bulan Juni adalah puncak lain dari pencapaian Sapardi. Puncak itu sebenarnya begitu pendek, jadi tidak ada pergeseran yang menjulang. Keduanya beda tapi betapa sulit untuk membedakan. Keduanya sama-sama kuat kendati sama-sama bicara soal yang remeh temeh.

Lagi pula, saya tak mau terjebak pada penilaian sajak melalui perbandingan nilai yang seolah-olah cara ini memang cocok untuk membedah sajak. Sudah cukup banyak orang bersibuk dengan mengait-kaitkan puisi Sapardi dengan puisi generasi sesudahnya. Setelah Goenawan Mohamad, Sapardi adalah penyair yang puisi-puisinya sering dibandingkan dengan puisi-puisi para penyair yang lebih muda. Setiap kali orang membicarakan puisi lirik, akan muncul kata “dipengeruhi Sapardi dan Goenawan”, atau epigonnya Sapardi dan Goenawan. Bahkan ada yang membuat sejumlah penyair muda mutung karena sajak-sajak yang dihasilkannya dinilai oleh kritikus sebagai sajak yang mencuri sajak Sapardi.

Yang paling intens menyelidiki pengaruh sajak-sajak Sapardi terhadap puisi mutakhir adalah Nirwan Dewanto. Begitu sibuk ia membaca puisi generasi muda untuk kemudian diberi cap mengikuti Sapardi, padahal sudah lumrah kalau ada kesamaan pengucapan, gaya dan irama di antara banyak penyair. Lagi pula, para penyair yang disebut mengekor Sapardi itu sendiri, kalau diuji, sangat lemah. Sungguh hebat kalau memang sajak-sajak generasi mutakhir dipengaruhi oleh sajak-sajak Sapardi. Malah saya melihat justru hampir tak ada jejak sajak Sapardi terhadap sajak “Angkatan 2000”.

Orang lupa bahwa menulis puisi bukan seperti orang membuat makalah, dan kritik puisi yang bersibuk mencari kesamaan semacam ini mesti ditolak karena kalau yang melulu dipikirkan ada tidaknya persamaan maka akan ketemu persamaan itu.

Saya lebih tertarik mengungkapkan kesan pribadi saat membaca sajak-sajak Sapardi karena kesan itu terbentuk dari pengalaman saya sebagai pembaca yang juga berhak untuk diungkapkan. Tentu saja saya tidak berani mengatakan bahwa sajak-sajak Sapardi gagal. Bahasa yang dipakai Sapardi dalam menulis puisi adalah bahasa hasil penyulingan, dan karena itu tidak lagi terasa kaku karena sebagian besar sajaknya sudah bebas dari kungkungan yang bernama bait.

Mendekati sajak Sapardi tidak mungkin dengan menggunakan penggada besar. Sapardi sangat hirau dengan alam. Rumput, perdu, sulur, gerimis, hujan, embun, mendapat tempat yang dominan dalam buku sajaknya. Kalau pun ada tema yang agak besar, seperti religiusitas, itu sama sekali jauh dari khotbah. Sajak Prologue dalam Duka-Mu abadi pernah saya hapal di luar kepala. Belum lagi sajak Tuan, sajak Aku Ingin dan Belajar Membaca, yang sempat membangkitkan naluri mencuriku, yang kemudian aku kirim kepada orang yang aku cintai. Betapa palsu sebenarnya kata-kataku, dan betapa malu aku jika ia tahu kemudian….

Cukup lama saya tersentuh sajak-sajak dalam dua kumpulan itu, dan tak pernah terbayang sama sekali kalau kemudian Sapardi harus juga menulis sajak sosial. Sebab ia pernah mengkritik dengan keras sajak-sajak sosial yang tak lebih dari “lebah tanpa sengat”.

Maka, saya pun mulai melirik sajak-sajak sepi Sapardi. Yang menggoda dan mempesona adalah sajak-sajak pendek mirip haiku, di mana kata dibikin sehemat mungkin mirip sajak-sajak Medy Loekito. Misalnya, Sapardi menulis: angin memahatkan tiga patah kata/di kelopak sakura/ada yang diam-diam membacanya, atau kita pandang daun bermunculan/kita pandang bunga berguguran/kita diam: berpandangan. Atau gerimis musim semi/tengkorakku retak;/kau pun menetes-netes ke otak.

Sementara buku himpunan puisi Ayat-ayat Api (2000) memuat sejumlah sajak sosial, seperti tentang terbunuhnya Marsinah, tentang mahasiswa yang mati tahun 1996 dan demonstrasi mahasiswa 1998. Ketika tsunami akhir tahun 2004, Sapardi menulis sajak realis dengan judul Hari itu Ahad, 26 Desember 2004, yang pernah dilisankan Niniek L. Karim dan Opic Tamba Ati.

Saya merasa sedih saat menemukan satu-dua larik yang keberatan memanggul beban sosial. Saya tahu penyair ini sangat sunyi, kesepian, penuh kejutan, dan karena itu sajak-sajaknya dengan tema kabut dan waktu penuh warna penghayatan akan pengalaman pribadi. Ya, itulah sajak individual, hal-hal kecil yang remeh, yang tak berguna dan tak bermanfaat, tapi merupakan bagian yang mengangkat nama Sapardi sebagai penyair lirik yang baik.

Memang, bila dibandingkan dengan pergeseran Sutardji, sajak-sajak sosial Sapardi hanya sedikit, dan itu tidak semuanya berterus-terang. Sapardi masih memanfaatkan personifikasi dan metafora, yang sekalipun tidak lagi bening, tetap menggoda imaji kita. Salah satu ciri sajak sosialnya adalah tidak melantangkan suara. Nadanya tetap tenang dan diam, iramanya masih terasa sayu.

Barang kali kita rindu sajak yang begitu intens mencatat percakapan sunyi, tanpa berteriak, dan jauh dari narasi-narasi besar seperti bangsa dan kebangsaan. Sajak-sajak sapardi menjadi unik dan menarik justru karena ia enggan bicara hal-hal besar yang jadi perhatian dan kepedulian sastrawan macam Takdir Alisjahbana, Pram, dan Romo Mangun.

Sampai di sini, Sapardi memang lebih tangguh kalau menulis sajak cinta, rembulan, embun, gerimis, dan hujan, kolam, ketimbang sajak demonstran. Tapi yang terakhir ini sama sahnya dengan yang pertama, dan keduanya tetap layak untuk dicatat dan dapat tempat karena keberhasilan sebuah puisi tidak melulu diukur dari tema yang dipilih, melainkan kukuh tidaknya benang-benang intuitif yang dipintal saat melakukan eksperimen dalam tema, bahasa, gaya, isi maupun bentuk.

*) Asarpin, Pembaca sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *