150 Tahun Max Havelaar

Andar Ismail
http://www.suarapembaruan.com/

Max Havelaar baru diangkat menjadi wakil residen di Keresidenan Lebak yang membawahi beberapa kabupaten di Banten. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1850-an. Sebagai orang Belanda yang baru tiba di Indonesia ia mengamati keadaan dengan tajam. Yang langsung menyita perhatiannya adalah perkebunan kopi.

Havelaar terkejut melihat penderitaan para kuli perkebunan. Mereka diperas oleh para mandor, para demang dan para bupati. Keluarga para kuli tinggal di desa-desa sekitar perkebunan secara melarat. Mereka ditindas dan diperlakukan kurang adil oleh para petugas pemerintah setempat.

Havelaar merasa prihatin lalu menghubungi beberapa kepala polisi baik orang Indonesia maupun Belanda untuk memperbaiki nasib para kuli. Usaha ini gagal. Ia lalu menghadap atasannya, tetapi atasannya bersikap masa bodoh. Kemudian ia menghadap Gouverneur-general, yaitu penguasa tertinggi atas seluruh kepulauan Indonesia yang dijajah Belanda. Havelaar mendesak agar perusahaan-perusahaan pemerintah Belanda di Indonesia mau mempunyai hati nurani sehingga bukan hanya meraup laba, melainkan juga memberi perlakuan yang baik dan jaminan hidup yang sepadan. Sama seperti pejabat lain, orang itu berjanji, ?Kami akan memperhatikan soal ini?. Namun janji itu cuma tinggal janji.

Havelaar kecewa dan minta berhenti. Ia kembali ke Nederland. Disana ia menjadi penyendiri lalu menuangkan frustasinya dengan cara menulis buku.

Demikian inti novel berjudul Max Havelaar. Pengarangnya adalah Eduard Douwes Dekker (1820-1887) yang memakai nama samaran Multatuli. Buku itu merupakan dongeng, tetapi jangan bilang cuma dongeng sebab buku itu kemudian mengubah angin politik dan sosial di banyak bagian dunia. Buku fiksi berdampak besar itu mengangkat tema hati nurani dan keadilan.

Alkitab juga menonjolkan tema hati nurani dan keadilan. Ketiga kategori kitab-kitab Perjanjian Lama semuanya mengangkat tema itu. Kitab-kitab Taurat dengan gaya legal, misalnya, ?Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai? (Ul.24:17). Kitab-kitab nabi dengan gaya kecam, misalnya, ?Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, janganlah engkau menindas?? (Yer.23:3). Kitab-kitab Tulisan (Kethubim) dengan gaya pe-tuah, misalnya, ?Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya?? (Ams.14:31).

Perjanjian Baru melanjutkan tema ini, misalnya kritik Yesus terhadap para rohaniawan, ??hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang?? (Mat.23:14).

Kurang Disukai

Kritik terhadap ketidakadilan biasanya kurang disukai orang. Buku-buku tulisan Multatuli (semua bukunya memakai nama samaran itu, artinya: ?Aku banyak menderita?) ditanggapi secara dingin. Sekembalinya dari Indonesia pada tahun 1859, Multatuli hanya bekerja sebagai pengarang. Ia menyewa kamar atap yang sempit di Brussel. Dalam kemiskinannya, Multatuli menulis banyak novel, prosa, surat imajiner, skrip drama dan aforisme yaitu ragam sastra singkat padat yang serius dan sarkastis namun dalam bentuk jenaka dan imajinatif.

Keunikan Multatuli adalah bahwa dalam tiap karyanya ia memasukkan dirinya sendiri sebagai pelaku. Semua tulisan Multatuli adalah aspirasi dan emosi si penulis itu sendiri atau merupakan sindiran dan kecaman terhadap masyarakat. Yang dikecam bukan hanya kolonialisme, melainkan juga diskriminasi terhadap wanita yang ketika itu masih lazim di Eropa, borjuisme, keangkuhan para majikan, kekerdilan para rohaniawan dan kemunafikan para politisi. Para sastrawan sungguh mengagumi keunggulan karya Multatuli, namun buku-bukunya itu hanya dibaca oleh kalangan yang terbatas.

Baru kemudian hari setelah Multatuli meninggal buku-bukunya mulai dipelajari secara lebih luas. Muncul cendekiawan yang terilhami oleh Multatuli, lalu meniupkan angin pembaruan sosial dan budaya di Eropa. Sejumlah cendekiawan mendesak pemerintah mereka masing-masing untuk memerdekakan jajahan di Asia dan Afrika, misalnya Hendrik Kraemer (perintis STT Jakarta) dan Johanes Verkuyl (perintis BPK Gunung Mulia). Semua buku-buku Multatuli sebenarnya adalah gema dari buku pertamanya yaitu Max Havelaar.

Max Havelaar yang terbit pada tahun 1860 diterjemahkan kedalam puluhan bahasa dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Pada tahun 1976 buku itu difilmkan oleh sutradara terkemuka Fons Rademakers. Memperingati 150 tahun terbitnya novel Max Havelaar pada tahun 2010 sejumlah gereja di Belanda dan Indonesia mengadakan diskusi buku untuk menemukan kembali aktualita hikmat yang terkandung dalam buku-buku Multatuli.

Dalam keluarga Multatuli rupanya mengalir darah pejuang. Seorang cucu saudaranya yaitu Ernest Douwes Dekker (1879-1950) menjadi guru SD Kesatrian di Bandung dan penulis politik yang dikagumi oleh Bung Karno. Ia berganti nama menjadi Danudirdja Setiabudi serta Jl. Kesatrian untuk menghormati Ernest Douwes Dekker.

Sesuai dengan nama samarannya yang berarti ?Aku banyak menderita?, Multatuli memang menderita sepanjang usianya. Berkali-kali ia terpaksa mencari kamar lain yang lebih murah sewanya. Pada musim dingin ia tidak mampu membeli kayu bakar tungku pemanas kamar, sehingga ia ditinggalkan istrinya. Baru menjelang kematiannya pada usia 67 tahun, beberapa teman dan pembacanya membelikan rumah di Nieder-Ingelheim. ?Aku banyak menderita?, katanya. Memang ia banyak menderita untuk membuat dunia membaca, memasang telinga dan membuka mata. Tulisnya, ?Diperlukan banyak derita untuk sedikit mengerti bahwa hanya sedikit yang dimengerti oleh banyak orang?.

Penulis adalah pengarang buku-buku renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *