Diagnosis Penyakit Jiwa Kolektif

Judul : Asvattha, The Journal of Psychology
Pengarang : Sutarto Wijono, Hardani Widhiastuti, Michael James Braund, Novi Qonitatin, AM Hendropriyono
Tahun : April, 2009
Penerbit : Asvattha Institut dan Fakultas Psikologi USM
Halaman :102 halaman.
Peresensi : Saifur Rohman
http://suaramerdeka.com/

TUDUHAN tentang ?universitas sebagai menara gading? atau ?keilmuan yang tidak pernah membumi? sekurang-kurangnya bisa ditepis dengan penerbitan buku ini. Ini bisa dibilang sebuah jurnal ilmiah psikologi yang berani mengambil risiko untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan sosial yang berkembang belakang ini. Sebagai jurnal ilmiah, bentuk baku tidak bisa dihindari, tetapi isinya memiliki relevansi yang sangat kuat.

Ada lima penulis karya ilmiah dan satu resensi. Mereka adalah Sutarto Wijono (?Pengaruh Locus of Control Eksternal dan Iklim Organisasi terhadap Stres Kerja Manajer Madya?), Hardani Widhiastuti (?Kinerja Hasil dan Kinerja Perilaku sebagai Pendukung Organisasi?), Michael James Braund (?The Structures of Perception: Ecological Perspective to Psychological Learning?), Novi Qonitatin (?Peran Dukungan Sosial dan Efikasi Maternal terhadap Kecenderungan Depresi Pasca-Melahirkan pada Ibu Primipara?), AM Hendropriyono (?Partisipasi Masyarakat dalam Demokrasi: Suatu Perspektif Psikologi Militer?), serta satu resensi buku oleh Saifur Rohman.

Dilihat dari sisi penulisnya, mereka bisa dikatakan terpilih. Kalau dilihat pada tradisi akademis, empat orang bergelar doktor dan satunya lagi master. Dari sisi isi, mereka menggarap tema-tema yang aktual sekaligus sesuai dengan kompetensi mereka.

Secara umum, tema yang diangkat adalah psikologi industri dan sosial. Tampaknya, tema tersebut menjadi sangat relevan dalam situasi masyarakat kita sekarang ini. Dalam kerangka pikir Marxian, situasi itu dapat dibagi menjadi dua, yakni situasi infrastruktur (ekonomi) dan suprastruktur (politis).

Pertama, dari sisi ekonomi, situasi resesi masih berlangsung. Dunia usaha dunia satu per satu bangkrut. Di Indonesia sendiri, sugesti itu kian menjadi-jadi manakala para pengusaha menggantungkan komoditasnya dari luar negeri. Karena itu, Sutarto Wijono memberikan ancang-ancang di dalam artikelnya untuk peningkatan kinerja melalui pembangunan iklim organisasi. Hal itu setali tiga uang dengan artikel yang ditulis Hardani Widhiastuti. Di situ dia mengangkat kinerja hasil dan kinerja perilaku untuk memperkuat semangat laju organisasi.

Novi Qonitatin yang justru mengangkat masalah ?privat? perempuan pada kenyataannya tetap mengambil sudut pandang dukungan sosial. Hal itu bisa dibaca sebagai poin penting dalam melihat konteks kebergunaan ilmu psikologi bagi masyarakat. James Braund lebih mendekatkan diri pada aspek-aspek ekologis yang bermanfaat untuk membangun ilmu psikologi dalam wawasan yang lebih visioner. Dia mempertanyakan asumsi-asumsi psikologis yang disebut tidak ramah lingkungan.

Kedua, secara politis, skema masyarakat Indonesia dalam satu tahun terakhir diwarnai dengan aneka jargon yang mengguncang kesadaran kolektif masyarakat. Stres yang dialami calon anggota dewan yang tidak terpilih adalah fenomena sosial yang baru ditemui dalam beberapa waktu terakhir. Akal sehat kita bertanya: apa yang terjadi dengan struktur kesadaran masyarakat kita?

Pertanyaan itu dijawab AM Hendropriyono dalam artikelnya. Bahkan dia menukik menuju ke dalam relung-relung kesadaran kolektif dalam perspektif psikologi militer. Dia memberikan simpulan tentang arti penting partisipasi tanpa harus menjadi pemenang. Sebab, baginya demokrasi bukanlah soal menang dan kalah, tetapi soal bagaimana cara kita mengangkat harkat kemanusaian sebagai masyarakat beradab.

Hal itu bisa dibaca sebagai eksplisitasi dari semangat penerbitnya. Kata ?asvattha? adalah sebuah konsep filsafat India yang menerangkan tentang jiwa manusia. Sebagaimana diterangkan dalam Bhagawad Gita, kata itu merujuk pada sebuah sebuah pohon yang terbalik. Sepotong metafora terhadap konstruksi jiwa. Akar berada di atas, batang di tengah, dan daun di bawah. Akar mengacu pada jiwa universal yang terhubung dengan keabadian. Batang adalah kiasan dari sebuah jembatan dari universalitas menuju partikularitas. Di situlah apa yang dinamakan Freud sebagai jiwa subsadar. Sebuah jiwa yang menopang kehadiran kesadaran. Sementara itu, daun melambangkan pancaindera yang terkait dengan kesadaran. Kesadaran ini mengandung aneka perasaan yang terjebak dalam konsepsi ruang waktu.

Hal-hal yang perlu dibenahi selanjutnya adalah persoalan salah ketik, terutama di halaman judul, sehingga agak mengganggu. Demikian pula tata wajah yang masih terkesan kaku-beku. Bila kekurangan itu bisa ditutupi, maka jurnal ini bisa menjadi kekuatan pendobrak bagi barisan jurnal ilmiah psikologi di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *