Ingin Jadi Penulis? Why Not

Alam Panrita
http://lifestyle.kompasiana.com/

Kalau kata di atas keluar dari mulut Bapak Mario teguh sih, wajar-wajar saja. Atau keluar dari mulut penulis-penulis besar yang sudah banyak menerbitkan buku juga sudah tepat. Jika kata itu keluar dari sang motivator juga tidak salah, tapi kalau kata itu keluar dari mulut Alam Panrita, Seorang kompasioner yang baru seminggu bergabung, tidak punya dasar pendidikan mengenai tulis-menulis, belajarnya hanya secara otodidak, apakah tulisannya pantas untuk di baca? Wah tunggu dulu. Bukankah itu sebatas mengada-ada? Salah sasaran? Mengajak ikan untuk berenang? Sesuatu hal yang tidak harus dibaca dan didengar, dan buang-buang waktu saja alias percuma. Wah, ternyata kalian pintar dan tidak tertipu, hahahaaa?Jadi bagusnya? Ya, anggap saja kita lagi membaca tulisan Bapak Mario Teguh, biar urusan cepat selesai, hehehee. Betul. Karena saya pun seolah-olah menganggap diri saya seperti beliau ketika sedang menulis artikel ini.Wah wah wah..Tambah ngawur nih Daeng, mungkin akibat perut keroncongan karena menjalankan ibadah puasa. Tepaaaat!.

Guys, dalam buku karangan Jeanne Shay Schumm,Ph.D. Yang berjudul ?Sekolah? Siapa Takut?. Ada satu kutipan ? Selalu kukatakan kepada orang-orang bahwa aku menjadi penulis bukan karena aku bersekolah, melainkan karena ibu membawaku keperpustakaan. Aku jadi ingin menulis karena aku ingin melihat namaku tertera dikartu catalog (SANDRA CISNEROS).?

Kemudian A.A Denata (Kang Sasto), Seorang penulis buku ? Gue Bisa Menjadi Apa Yang Gue Mau?, awal ketertarikannya dalam dunia tulis menulis ketika mendapati sebuah cerpen dalam sebuah majalah bekas yang dijual seorang bocah kecil disebua bazaar kepadanya. Cerpen tersebut membuat hatinya mencair hingga ia bisa menitipkan air mata. Setelah itu dia bergabung di PELATPULPEN (Pelatihan Penulisan Dan Cerpen) yang diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Solo. Ditahun yang sama tulisannya muncul dibeberapa media massa dan sebentar lagi novelnya akan terbit (Sumber: Biodata Kang Sastro dalam bukunya ?Gue Bisa menjadi Yang Gue Mau?)

Siapa pula yang tak kenal Joni Ariadinata? Lewat cerpennya ? Lampor? yang dinobatkan sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas pada tahun 1994. Tulisannya juga sering menghiasi majalah Sastra Horison dan sekarang dipercaya menjadi ketua umum Jurnal Cerpen Indonesia. Bagaimana latar belakang pendidikan dan kehidupan Pak Joni? Tidak lebih baik dari kita guys. Beliau (maaf) awalnya hanyalah tukang becak, beliau hanyalah bekas penjaga mesjid (marbot) di Yogya, bahkan pernah menjadi pemburu tikus untuk warung mie ayam gara-gara tidak punya uang untuk makan. Subhanallah! Berapa kali kah penolakan yang dialami pak Joni sebelum menjadi penulis besar? Satu kali?, sepuluh kali, lima puluh kali atau seratus kali? Bukan guys. Itu terlalu sedikit. Beliau mendapatkan penolakan sebanyak lima ratus kali ( Sumber: A.A.Denata?Gue Bisa Jadi Yang Gue Mau? Napak tilas sang tokoh).

Kemudian ada Ibu Helvy Tiana Rosa sang pendiri FLP (Forum Lingkar Pena) yang menulis cerpen, puisi dan naskah drama ketika dia masih kelas 3 SD, tetapi ketika dewasa dan ingin menerbirkan karyanya, dia pun mengalami banyak penolakan karena karyanya bernafaskan Islam. Dia harus menunggu selama 6 tahun sebelum tahun 1997 lewat majalah islam Annida, karyanya ? Ketika Mas Gagah Pergi? diterbitkan dan laku sebanyak 5000 eksemplar dalam waktu hanya sebulan guys. Dan sekarang karyanya sudah banyak, bahkan beberapa cerpennya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Arab, Prancis, Jepang serta dikomikkan dan disinetronkan. (Sumber: A.A.Denata?Gue Bisa Jadi Yang Gue Mau? Napak tilas sang tokoh).

Nah guys, cukup rasanya mereka dijadikan sebagai tauladan, untuk membangkitkan motivasi kita dalam menulis. Jangan merasa rendah diri, merasa risih karena tidak punya latar belakang pendidikan jurnalis, hanya belajar secara otodidak, merasa minder dengan kompasioner yang hebat-hebat, dan perasaan lain yang bisa menghambat kita untuk menjadi penulis. Jangan pernah lupakan kata Sandra Cisneros di atas ? Menjadi penulis bukan karena saya sekolah, tetapi aku ingin namaku tertera di kartu catalog?.

Intinya kemauan guys. Hasrat, keinginan, dan tentunya keberanian dalam keyakinan. Nah, masalahnya apakah kita siap menunggu waktu 6 tahun kedepan untuk ?diakui karyanya lewat terbitan buku?? apakah kita sanggup mengirim 500 tulisan kepada penerbit? Apakah kita bisa menerima sepuluh, seratus bahkan ribuan penolakan? Kalau iya, tinggal menunggu waktu untuk menjadi seorang pemenang gays. Tetapi jika tidak, tinggal menunggu waktu juga untuk menjadi seorang yang gagal. Kita akan selamanya menjadi pengagum karya orang lain. Kita akan selamanya menjadi ? pembaca tulisan orang lain?. Terus kapan dong tulisan kita yang di baca orang lain? kapan dong karya kita di kagumi orang lain?.

Wah wah wah??Daeng? Alam. Semakin ngawur saja rupanya, baru sadar ya kalian. Hehehe! kan saya sudah bilang kalau saya sekarang merasa seperti Pak Mario Teguh, juga sudah terserang penyakit busung lapar karena puasa, hahahaa?Gays, saya menulis artikel ini karena saya ?sedikit? punya keberanian. Keberanian untuk di ejek, di tertawakan, di kritik dan lainnya. Saya siap malu untuk itu. Semenjak dulu, sajak-sajak saya berserakan di bawah kasur. Kertas-kertas puisi saya menjadi tamu agung tong sampah dan menjadi pembungkus kacang oleh ibu ketika sekolah dulu. Syair-syair saya terbang bersama debu, hilang, hanyut bersama busa ke sungai. Hanya sedikit yang tersisa di otak bersama dengan pikiran kotor. Hahahaa?Kenapa? ?Karena saya seorang penakut?. Saya takut tulisan saya di ejek, saya takut tulisan saya jadi bahan tertawaan, takut tulisan saya dihina, saya malu orang lain membaca tulisan saya, dan percaya tidak percaya, cinta pertama saya ketika SMA dulu pun sampai sekarang belum terucap. Karena saya takut dan malu menulis surat untuk dia. Akhirnya? Dia di embat orang lain guys. Menyedihkan bukan? Hahaaa..Mungkin juga anda pernah merasakan seperti itu. Wajar! Wajar apa? Wajar belum sukses jadi penulis. Kwkwkwww?Tapi setidak-tidaknya, ketika apa yang kita pikirkan sudah tertuang dalam tulisan, apalagi ada fihak ke dua, ketiga dan fihak selanjutnya membaca tulisan kita, perasaan kita akan legaaaaaaaaaaa?.Iya kan?. ? Kalau kalian belum bisa menjadi penulis hebat untuk penerbit, penulis jago untuk orang lain, jadilah penulis untuk anda baca sendiri?. Semuanya berawal dari hal-hal yang kecil. Ceileeeee?Saya baru saja mendapatkan SMS dari seorang teman guys, ? Selamat Bro, puisimu terbit di Harian Fajar hari ini?. Demikian SMS nya. Apa? Betul? Masa iya? Yang mana? Setelah saya cek, benar juga puisi ? Senja?yang pernah saya publikasikan di kompasiana terbit di Harian Fajar Makassar hari ini. Bukan sombong guys, bukan mau dikata, bukan ? We, nih aku..nih, dadaku penuh panu, ckckck??Bukan juga mau promo, saya katakan kepada anda karena saya ingin berbagi dan saya juga ingin mengatakan ? itulah contoh kecil dan buah dari keberanian?.

Bagi kalian, tulisan yang terbit di media cetak mungkin hal yang biasa, para penulis besar yang sedang membaca artikel ini pasti berkata, allaaaa?Gitu aja di banggain, puisi norak begitu kok di umbar-umbar?Tapi bagaimana dengan sang ?penakut? seperti saya? Seperti mereka yang baru belajar? Itu sangat berarti Paaaaak! itu bisa menjadi tangga pak, itu bentuk motivasi pak, aku juga ingin naik kelas pak, aku juga ingin ke atas sana, masa hanya terus duduk diayunan? Lalu kapan kita akan menikmati manisnya buah anggur yang sedang masak di atas sana? Apa kita menunggu sisa makanan kekelawar? Iya kan pakkkk? Ayo guys, yang lagi belajar, yang mau berbagi, yang masih malu-malu menulis, yang naksir sama saya?hahahaa?ayo, Kita bikin tangga. Ayo, sediakan perahu, ayo, belajar, lanjutkan anda menulis, belajar melalui tulisan orang lain, dan setelah itu mari kita berbagi. Gimana? Hahahaaa, Sudah lah Guys, aku betul-betul merasa lapar sekarang. Tadi aku Cuma di ?rasuki? Bpk. Mario Teguh. Hahahaaaaa, selamat menantikan waktu buka puasa, Salam.

(Makassar, 29-08-2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *