Kado di balik Bencana

Wiwik Hidayati
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

Rentetan peristiwa masih membekas di benak kita. Kerusuhan di Aceh, Poso, Maluku; tsunami yang memakan korban puluhan ribu orang; bencana di Yogyakarta, Sidoarjo, dan Pangandaran; belum lagi pengeboman di beberapa wilayah Indonesia; ditambah akhir-akhir ini bencana banjir melanda Jakarta.

Deretan derita serasa tak henti-hentinya mendera dan seringkali membuat trauma. Membuat diri semakin pesimis memandang hidup.

Tapi yang lalu biar berlalu. Hidup harus tetap jalan meski sulit. Dalam sebuah pepatah Inggris dikatakan bad weather makes good timber. Cuaca yang buruk memang hanya menyisakan pohon-pohon kuat yang berkualitas. Ini tentu tak salah.

Mahatma Gandhi dikenang harum hingga sekarang. Bagi yang mengenal Gandhi dari buku, film, cerita dll akan tahu betapa beratnya penderitaannya. Mulai dari siksaan-siksaan di Afrika Selatan, kemudian cemoohan saat sampai di India, sampai dengan kerasnya jalan kehidupan berhadapan dengan penjajah Inggris.

Kahlil Gibran juga tak jauh beda. Ia adalah salah satu penyair yang beberapa karyanya menjadi masterpiece. Kemiskinan, duka cita, kesedihan merupakan menu kesehariannya dalam rentang waktu lama.

Tokoh Indonesia, Muhammad Hatta juga serupa. Salah satu putrinya pernah bertutur bahwa gaji pensiunnya tidak cukup untuk membayar listrik. Ketika ada ketidakcocokan dengan mitra lainnya, ia lebih memilih mundur dan kembali jadi dosen UGM daripada bikin ribut memuaskan ego. Sang proklamator ini saat Indonesia mengalami krisis kepemimpinan, ketokohannya banyak dicari.

Begitulah orang-orang besar. Penuh dengan derita dan kesedihan. Namun mereka tetap hidup. Bahkan menjadi orang-orang hebat yang dikagumi. Berpuluh-puluh tahun namanya tak pernah lepas dari ingatan.

Cara memandang masalah menjadi pengaruh dalam kebahagiaan diri. Pengalaman kehidupan mana pun mirip dengan kotoran sapi. Bagi petani yang haus dengan kesuburan sawah, kotoran sapi adalah pupuk. Bagi orang kota yang menyukai bersih dan steril, kotoran sapi tidak lebih dari penyakit yang menjijikkan. Terlihat jelas, dalam kehidupan tidak selalu kita melihat apa yang kita lihat. Kerap kita melihat pandangan-pandangan kita sendiri. Cara kita memandang menentukan wajah kehidupan yang akan kita alami kemudian.

Kesedihan bisa menjadi keterpurukan maupun kekuatan membangkitan. Kembali lagi, tergantung cara pandang. Dalam buku Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan; Mengolah bencana menjadi vitaminnya jiwa? banyak tips bagaimana mengubah kesedihan menjadi kekuatan. Karya Gede Prama ini juga memuat kehidupan orang-orang besar yang bisa menjadi inspirator dalam mencari kebahagiaan.

Buku ini adalah hiburan bagi yang membutuhkan. Sangat diperlukan dan cocok untuk kondisi Indonesia yang sudah beberapa tahun dilanda kesedihan. Semoga dengan hadirnya buku ini, ada secercah semangat untuk masyarakat. Dan Indonesia kembali tersenyum. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *