Novel Seks Gaarder

Bagja Hidayat
http://www.ruangbaca.com/

Terasa lokal, karena penerjemahnya terkena sindrom ?refleksologi untuk?.

Setiap terjemahan, apalagi di ladang sastra, selalu membawa soal yang tak tuntas tentang seberapa jauh ia memindahkan pelbagai anasir di belakang kata-kata. Sebab menerjemahkan tak sekadar mengalihkan bahasa. Tapi, bagaimanapun, sebuah terjemahan selalu merupakan input penting bagi kebudayaan.

Karena menurut Ignas Kleden, dengan menukil selarik syair Emily Dickinson, setiap terjemahan adalah surat yang ditulis ke arah siapa saja dan menyentuh arah siapa saja. Ada orang yang khawatir karyanya diterjemahkan. Umberto Eco dan Milan Kundera salah duanya.

Ketika mengomentari terjemahan Inggris Il nome della rosa, Eco menyebut penerjemahnya ?dengan meminjam pemeo Italia?sebagai pengkhianat. Sebuah metafora, tentu saja. Kundera mencak-mencak ketika membaca terjemahan Inggris The Castle, Franz Kafka.

Penerjemah novel itu, kata dia, terjangkit semacam synonymizing reflex. Sejak dari judul, novel Gaarder Gaarder ini diterjemahkan tak bersetia pada teks asli. Tetapi tambahan Lelaki Penjual Dongeng membuat judul ini mencerminkan kisah pokok yang ditulis Gaarder.

Novel ini memang seluruhnya bercerita tentang Petter, laki-laki yang kepalanya dipenuhi oleh imajinasi liar. Hasil terjemahannya kurang mengalir. Paragraf pertama Bab I bahkan bisa mematahkan reputasi Gaarder sebagai penulis ?bergaransi bacaan bermutu.?

?Saya rasa, masa kecil saya bahagia. Tidak demikian pendapat Ibu. Bahkan sebelum Petter masuk sekolah, Ibu telah mendengar tentang perilakunya yang sangat idak ramah.? Siapakah saya? Setelah beberapa halaman, kita baru tahu saya di sana dipanggil Petter. Aduh.

Gunting penyunting juga kurang jeli. Penerjemah novel ini terkena sindrom ?refleksologi untuk???penyakit? yang juga menjangkiti sebagian besar wartawan Indonesia. Dalam 394 halaman, setidaknya ada 90 kata ?untuk? yang dipasang sia-sia. Seandainya penyunting bisa tega membabat ?untuk? dalam kalimat yang tak memerlukannya, tuturan terjemahan ini bisa lebih mengalir.

Baiklah. Novel ini sesungguhnya amat menarik. Ini novel ?dewasa? pertama Gaarder yang diindonesiakan. Ada Vita Brevis (Jalasutra, 2005) yang mengungkap percintaan Aurelius Agustinus sebelum jadi santo dengan Floria Aemilia.

Tapi Vita Brevis bukan karya asli Gaarder. Penulis Norwegia ini menerjemahkan sebuah perkamen tua yang ditemukan di Argentina. Juga Maya yang ditulis untuk pembaca dewasa, tapi belum diterjemahkan. Selebihnya adalah novel anak-anak, dalam arti novel yang dituturkan anak-anak atau remaja berumur 13-15 tahun.

Dunia Sophie, Misteri Soliter, Gadis Jeruk memakai kacamata ini. Putri Sirkus?yang tetap ditulis dengan gaya khas Gaarder dengan menyuguhkan cerita dalam cerita?merupakan biografi Petter yang tinggal di Oslo pada kurun 1950 hingga akhir 1990. Ada beberapa adegan seks yang ditulis dengan gamblang ?hal yang tak dijumpai dalam novel-novelnya yang lain.

Petter bahkan digambarkan sebagai remaja yang tidur dengan perempuan mana saja tanpa ingin menikah. Dari sekian perempuan yang ditidurinya, Maria paling mengesankan Petter. Maria sanggup mengejutkan Petter dengan meminta anak dari benihnya, dengan satu syarat anak itu tak boleh punya ingatan tentang ayahnya.

Merekapun hidup bersama menanti kehamilan. Selama hubungan itu, Petter tak henti-hentinya menceritakan pelbagai kisah yang ia karang sendiri. Maria selalu terpesona mendengarnya hingga hamil lalu melahirkan anak perempuan dan pindah ke lain negara. Gelegak imajinasi Petter membuatnya seringkali tersiksa.

Ia mengaku kepalanya selalu dipenuhi oleh bermacam suara. ?Mereka menggunakan sel-sel otakku untuk saling berbicara satu dengan yang lain,? katanya. Setiap kali suara itu muncul, seorang lelaki semeter elalu berada di sekelilingnya.

Lelaki yang hanya ada dalam penglihatannya itu mendorong Petter terus berimajinasi hingga otaknya tak lagi bisa menampung cerita-cerita. Ia meringankan siksaan itu dengan duduk dan menulis. Kebiasaan dan bakat Petter itu kelak menuntun hidupnya bergaul dengan para penulis. Ia menjual ringkasan-ringkasan cerita kepada para penulis yang sedang kehabisan ide untuk dijadikan novel.

Petter kaya raya dengan bisnisnya itu. Petter menamai sendiri usahanya itu dengan Bantuan bagi Penulis (Writers Aid). Saking banyaknya cerita yang telah ia jual, Petter lupa cerita apa saja yang telah dijualnya kepada penulis yang sedang mengajaknya ngobrol.

Dari banyak cerita itu, Petter sendiri terkesan oleh kisah tentang Panina Manina. Versi pertama yang ia ceritakan kepada Maria, Panina adalah anak seorang pemimpin sirkus yang tersesat di hutan lalu bertemu dengan perempuan tua. Setelah besar Panina menjadi pemain sirkus ayahnya sendiri tanpa keduanya tahu mereka bapak dan anak.

Ketika cerita ini dijual, versinya berubah-ubah meski Panina tetap menjadi anak yang tak mengenal pemimpin sirkus tempatnya bermain sebagai ayah kandungnya. Usaha Petter akhirnya terbongkar juga. Cerita Panina mengguncang sastra Norwegia setelah dibukukan.

Dalam waktu yang hampir sama, di Jerman juga terbit buku dengan cerita sama yang ditulis Wilhelmine Wittman. Penulis yang tak dikenal Petter itu juga menulis cerita lain yang versinya hanya didengarkan kepada Maria. Petter curiga penulis itu nama samaran Maria, atau nama anaknya yang ketika dipertemukan dengan Petter hanya dipanggil Poppet.

Nyawa Petter pun terancam. Ia dituding sebagai pemasok ide para penulis. Sebuah koran Italia dengan jelas menulis soal kesamaan pelbagai cerita itu. Petter pun sembunyi ke Amalfi di Italia setelah menghadiri pameran buku Frankfurt. Di sana ia didatangi oleh Beate, seorang perempuan asing yang mengajaknya bercinta.

Petter bergidik karena Beate yang misterius tahu cerita-ceritanya. Ia curiga Beate tak lain adalah Poppet, anaknya sendiri. Karena didera rasa takut, Petter memberikan semua ceritanya kepada Beate, lalu melupakannya. Ia ingin kembali menjadi orang biasa ?yang bisa melihat burung- burung, pohonan dan mendengar tawa anak kecil.?

Bukan Gaarder jika tak menyusupkan ajaran filsafat ke dalam cerita- ceritanya. Sejak Dunia Sophie yang merupakan diktat filsafat yang funky, Gaarder tak lagi secara pedagogis memasukkan unsur filsafat. Dalam novel ini rumusan tentang konsep ruang dan waktu amat kental. Meski hanya tersirat, kisah hidup Petter mendedahkan perdebatan klasik tentang takdir.

Petter merasa hidupnya sudah ditentukan tanpa bisa dikendalikan. Hidupnya bergerak menemui kejadiankejadian yang ada di masa depan tanpa sanggup ia sangkal. Zeno, Ouspensky, Iqbal hingga Einstein telah berusaha mengungkap soal misteri takdir dalam karier mereka sebagai para sophies.

Dengan begitu, untunglah, kompleksitas cerita imajinatif Gaarder mengimpaskan sejumlah masalah teknis terjemahan novel ini.

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*