LAKNAT PEREMPUAN KEPADA BUNGA-BUNGA

Siti Sa’adah

Aku faham benar kapan aku mulai membenci bunga, bukan sekedar muak, tapi setiap bersinggungan, tersentuh, melihat terlalu dekat kepalaku terasa berat dan ingin aku muntah sebagai ungkapan penolkan. Bunga apapun itu, yang bisa memancing keindahan, karena keindahan tak bertaut berkali-kali bersamaku melalui bunga. Untuk menceritakan ini aku harus menahan mual yang ingin meledak. Tapi ku tahan kuat-kuat, sebelum kau mengerti kehancuranku bersama bunga. Continue reading “LAKNAT PEREMPUAN KEPADA BUNGA-BUNGA”

DUNIA SURAM MARHALIM ZAINI

Maman S. Mahayana *

Marhalim Zaini: sebuah nama yang patut diperhitungan dalam deretan sastrawan Riau masa kini. Ia tergolong sastrawan generasi selepas Ibrahim Sattah, Rustam S. Abrus, BM Syam, Idrus Tintin, Ediruslan PE Amanriza, Sutardji Calzoum Bachri, Sudarno Mahyudin, Rida K. Liamsi, Tien Marni, Al-Azhar, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Hoesnizar Hood, Samson Rambah Pasir, Abel Tasman, Syaukani Al Karim, dan sederet panjang sastrawan Melayu lainnya yang bermunculan seperti tiada habisnya. Continue reading “DUNIA SURAM MARHALIM ZAINI”

BEYE, LURAH BANCI

M.D. Atmaja

Orang-orang telah garang karena banyak ketimpangan yang terjadi. Kelurahan tetangga terus menyusup ke halaman. Kadang merembes ke hijau sawah pertiwi. Mencuri ketimun atau kangkung. Mereka, Kelurahan Maling itu menggunakan tangan petani, menginjak padi yang merunduk. Mengambil segala yang bisa diambil. Seperti perompak dalam cerita-cerita bajak laut Wilayah Barat. Petani kelurahan tetangga mencuri, petani Kekurahan Luruh Indon menahan lapar yang sangat. Pencurian itu membuat petani di Kelurahan Indon meradang. Merah membara. Mengasah senjata dan berteriak-teriak kesetanan mengajak perang. Para petani tidak terima atas penghinaan kelurahan tetangga. Menginjak harga diri Kelurahan yang diperjuangkan dengan segenap tumpah darah seluruh rakyat Luruh Indon. Continue reading “BEYE, LURAH BANCI”

Oka Rusmini Makin Menjadi

Sunaryono Basuki Ks
suarakarya-online.com

Sejak terbitnya novel Tarian Bumi sebagai cerber Harian Republika, Oka Rusmini menjadi daya tarik sastra Indonesia. Kerenanya Taufiq Ismail dengan Horison Sastra Indonesia memasukkan nukilan novel ini di dalam Kitab Nukilan Novel, Horison Sastra jilid ke III.

Dia mewakili 41 novelis Indonesia yang karyanya dicuplik di dalam buku ini, bersamaan dengan Panji Tisna dan Putu Wijaya. Namun, Tarian Bumi bukanlah novel pertamanya. Saat dia masih duduk di bangku SMA, dai menulis novel berjudul Gurat-Gurat, di muat sebagai cerber di Bali Post tempat dia kemudian bekerja sebagai redaktur. Continue reading “Oka Rusmini Makin Menjadi”

Bahasa ยป