PAHALA LAILATUL QADAR

Aguk Irawan MN
Kedaulatan Rakyat, Minggu, 05/09/10

Setelah matahari seharian penuh berputar dari arah Timur, kemudian tegak di tengah bumi, kini berangsur menjatuhkan diri dan tergelincir di arah Barat, sinarnya pun berangsur ikut berubah, yang tadinya terik, kini berubah menjadi teduh, dengan warna keemasan, berpendar-pendar silau, membiaskan kabut kuning yang menyelimuti alam. Dan sebentar lagi, bumi akan berubah warna menjadi kemerah-merahan, pertanda magrib menjelang tiba. Saat suana alam seperti itulah, Malaikat Rakib dan Atid di langit, sedang sibuk-sibuknya menyiapkan tugas maha berat, terkait jatuhnya malam lailatul qadar di bumi, yang bertepatan dengan malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Rakib dan Atid, tidak saja merasa sangat berat dengan tugas yang menjadi rutinitas sekali dalam setahun itu, tapi dua malaikat itu kadang tersedu-sedu, saat mengingat peristiwa jutaan tahun yang lalu itu muncul dibenaknya. Ya, tepat di malam yang sebentar lagi menjelang seperti inilah, malam lailatul qadar itu, ia merasa pernah berbuat dosa, dan dosa itu hanya sekali saja diperbuat seumur-umurnya, yaitu saat Allah menjadikan manusia dan mengangkatnya sebagai khalifah, lalu ia iri hati, kenapa manusia yang dipilih, bukan golongan dari dirinya yang sudah lama menghamba dan selalu taat kepada perintah-Nya.

?Sudahlah jangan kau menangis, Atid??, tutur Malaikat Rakib, menenangkan.

Malaikat Atid, berusaha keras menghibur dirinya dan mencoba berusaha keras melupakan prihal yang paling bersejarah dalam hidupnya itu, tapi entah kenapa, tiap kali ia mengalami senja menjelang malam lailatul qadar, kesedihannya tak bisa disembunyikan.

?Lebih baik, kita siapkan tugas maha berat kita malam ini?, Rakib mengingatkan. Tapi Atid masih saja diam.

Memang dalam benak Atid, ia tak bisa percaya kalau Allah bakal menunjuk manusia sebagai khalifah para makluk, sebab ulah para manusia bakal sering malampaui batas, misalnya senang dengan harta-benda, tak peduli bagaimana cara mendapatkannya, dengan saling tindas dan tindih atau cara-cara keji lain. Manusia juga gemar bersenda gurau, bahkan sampai tak mengenal waktu, dan sering mengisinya hanya dengan perkara-perkara yang nyaris tak ada nilainya disisi Allah. Tapi demikianlah kenyataan, keputusan sudah ditetapkan oleh Sang Khaliq, ia pun harus bersabar menerima ketetapan itu. Dengan berlalunya waktu, ia berharap sedikit demi sedikit bisa melupakan sepenuhnya, tapi ia merasa selalu saja gagal, bila malam lailatul qadar menjelang.

?Sepertinya malam ini, saya tak bisa bekerja secara optimal?, keluh Atid kepada Rakib.

?Kenapa?!? Rakib sedikit terperangah.

?Ketenangan malam lailatul qadar kali ini, rasanya, begitu banyak kenangan yang keluar dari pikiranku?

?Kalau begitu tak usah kau mengingatnya??

Atid membisu. Rakib sendiri paham dengan kegaulan yang sedang menjangkiti Atid, sebab ia sendiri diam-diam juga tak bisa melupakan sepenuhnya kejadian jutaan tahun yang telah lalu itu. Tapi Rakib tak mau menampakkan kesedihannya, karena yang ia tahu, hidup hanya untuk menghamba kepada-Nya semata. Tak ada tempat selain itu. Setelah lama tak ada percakapan, kini giliran Atid yang bicara.

?Baiklah, apa sudah datang tuan ?Al-masyail??, Atid berusaha menguatkan dirinya dengan ketegaran yang dipaksaakan, dan mencoba fokus dengan hajatan besar yang sebentar lagi dimulai.

??Al-masyail??, tanya Rakib seketika.

?Ya, saya kira ?Al-masyaillah yang paling pantas jadi komando bala tentara untuk turun ke bumi. Bukanlah ia sudah teruji memberi komando pada bala tentara untuk membagi-bagikan hujan sepanjang masa. Jadi malam ini, bagaimana kalau kita meminta bantuannya agar pahala yang tersedia di malam lailatul qadar ini bisa terdistribusi tepat pada sasarannya??

Dengan bicara banyak, Rakib merasa, kawannya itu sudah benar-benar lupa pada peristiwa yang membuat ia bersedih. Dan tak lama kemudian ia mengangguk, tanda setuju pada usulan Atid, sebab tahun yang lalu ia sendiri yang memilih malaikat Hatmahtokyai sebagai komando, maka tak ada salahnya kali ini ia menyetujui usulan Atid.

***

Senja semakin merapat dengan malam. Di langit, suasananya pun tak jauh berbeda dengan bumi, bias warna kuning menyilaukan mata. Keremengan seperti memeluk-meluk jagad raya, dan membuat mata seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Saat itu pula malaikat ?Al-masyail datang menemui dua kepala Malaikat pencatat amal kebaikan dan keburukan, Atid-Rakib di persemayamannya.

?Ampun, baginda telah menganggu tuan.? Sapa ?Al-masyail sopan setiba menemuinya. Sejurus kemudian Rakib membuka pembicaraan.

?Sudah tahu, untuk apa kau kupanggil kesini??

?Saya sudah menebak-nebak, tuan.?

?Baik, kalau begitu!?

Karena suasana malam itu berbeda dengan malam-malam biasanya, tahulah kenapa ?Al-masyail diminta menghadap. Saat itu memang angin begitu lembut menyisir tiap helai isi bumi, ombak yang begitu tenang, sungai yang nampak lebih jernih, serangga yang lebih hikmat bersuara, tentu yang dimaksud Rakib tak lain dan bukan adalah malam ini adalah malam lailatul qadar, dan ia beruntung telah dipilih untuk mengkoordinir bala tentara malaikat lain untuk turun ke bumi dan membagi-bagikan pahala kepada manusia

Sekejap saja, bala tentara sudah berkumpul di hadapan ?Al-masyail. Semakin temaram semakin ramai. Bahkan hampir menyerupai pasar malam yang hingar bingar, berduyun-duyun datang ke tempat mereka. Ada yang terlihat malaikat membawa pahala sebesar gunung, dengan sempoyangan, ada yang membawa sebesar rumah, dengan belepotan, begitu seterusnya, sangat beragam-ragam, bahkan ada yang nampak terlihat mereka hanya membawa pahala sangat kecil seperti dalam bungkusan jajan pasar dengan enteng. Suara-suara bala tentara malaikat yang dikoordinir ?Al-masyail itupun tak luput meneriakkan kesanggupannya untuk membagi-bagikan pahala malam lailatul qadar. Setelah adzan magrib benar-benar berkumandang, bertalu-talu dan saling sahut, turunlah mereka ke bumi untuk menyalurkan pahala itu.

***

Perjalanan malam yang disebut-sebut sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan itupun, berjalan sebagaimana mestinya, hanya berjalan kurang lebih enam ratus menit saja, begitu cepat. Menjelang adzan subuh, cepat-cepat bala tentara malaikat yang ditugaskan membagi-bagikan pahala itu dengan berdebar-debar dan gugup menghadap Malaikat Rakib, Atid dan tentu saja ?Al-masyail yang sedang menunggu kerja mereka. Tapi ada yang aneh pada malam lailatul qadar kali ini, dimana kalau pada tahun-tahun yang lalu selalu saja habis pahala itu terdistribusi, tapi pada malam yang segera beringsut itu, bala tentara malaikat itu masih menghadap dengan membawa kembali pahala-pahala besar itu, dan hanya pahala yang kecil-kecil saja, seperti sebungkus jajan pasar yang berhasil didistribusikan. Melihat keanehan itu, langsut Rakib bertanya:

?Kenapa tidak kau berikan pahala sebesar gunung itu? Padahal aku mendengar di masjid-masjid banyak orang yang tadarus, begitu juga di rumah-rumah, bahkan tak sedikit dalam musafir orang yang sedang mudik??

Setelah semua diam, barulah salah satu dari bala tentara itu menjawab, mewakili yang lain.

?Maaf tuan Rakib, terpaksa kami membawa kembali pahala sebesar gunung ini, karena ternyata, setelah kami sampai disana, yang sedang tadarus semalaman suntuk itu bukanlah manusia, melainkan benda-benda aneh zaman kini, yang kata teman kami itu bernama; Tipe, VCD, Komputer dan Ponsel. Jadi saya bingung, kepada siapa pahala ini diberikan??

Setelah mendengar keterangan ini, tepat saat adzan subuh berkumandang, Rakib, Atid dan ?Al-masyail hanya bisa saling bersitatap. Ia tak bisa berkata-kata lagi, mungkin dalam benak mereka saling terselinap kata; benarkah manusia lebih pantas diutus sebagai khalifah?.

Yogyakarta, 23 Agustus 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *