Pemberontakan Tiga Idiot

Sunlie Thomas Alexander *
jawapos.co.id

“SINGA sirkus juga belajar untuk bisa duduk di kursi hanya karena takut dicambuk. Tapi, kita tetap boleh menyebut singa itu terlatih, bukan terdidik,” tukas Ranchhodas Chanchad di depan rektor dan teman-teman sekelasnya dalam film 3 Idiots besutan Rajkumar Hirani (2009). Meski selalu ranking pertama setiap semester, dia dianggap sebagai biang pengacau sistem.

Di perguruan tinggi nomor satu India itu, Imperial College of Engineering (ICE), para mahasiswa diajarkan untuk selalu berkompetisi secara ketat. ”Hidup adalah perlombaan,” kata Dr Viru Shastrabhuddi, sang rektor yang oleh mahasiswanya dipanggil Virus. ”Jika kau tidak cepat, kau akan menjadi telur pecah burung Cuckoo!” tambah dia.

Akibatnya, banyak mahasiswa stres, bahkan mengalami depresi berat. ”Ini adalah universitas, bukan panci bertekanan. Para mahasiswa ini punya hati, Pak. Bukan mesin yang bisa terus menahan tekanan di sini,” kata Rancho tatkala seorang kakak kelasnya gantung diri lantaran terancam drop-out, setelah hasil praktikumnya ditolak. Dan menurut Rancho, itu sama saja dengan pembunuhan.

3 Idiots adalah sebuah film kritik terhadap sistem pendidikan yang terlampau mengagungkan target dan nilai, sekaligus potret kondisi pendidikan India dewasa ini yang lebih mendewakan pertumbuhan teknologi dan ekonomi. Konon, negeri itu menempati peringkat pertama dalam kasus bunuh diri pelajar.

Maka, Rancho pun memilih melawan dengan caranya sendiri dan memprovokasi teman-temannya, terutama kedua sahabatnya, Farhan dan Raju. Bagi dia, sistem pendidikan di ICE tak memungkinkan mahasiswa untuk membicarakan sesuatu yang terkait dengan terobosan baru. Sebab, dosen hanya mengajarkan apa yang ada di buku. Padahal, ilmu pengetahuan seharusnya dipahami bukan dihafal.

Dia tak sudi menjadi robot: ”Hanya omong besar, nilai, atau paling banter bekerja di Amerika. Kami bahkan tidak memperoleh pengetahuan di sini, Pak. Kami hanya diajari bagaimana mendapatkan nilai bagus.” Kepada teman-temannya, dia juga sering mengatakan bahwa ilmu bisa diraih di mana pun, tak hanya di bangku sekolah.

Kurikulum Manusia Pantat

KENDATI bicara soal India dengan gaya satirnya yang khas, toh sebetulnya kondisi sosial yang diangkat film itu tak berbeda jauh dari kondisi kita. Banyaknya orang tua di sana yang menginginkan anaknya jadi insinyur dan dokter, misalnya, notabene mengingatkan kita pada cita-cita keramat yang ditanamkan kepada anak-anak Indonesia.

Jelas ini sebuah problem negara dunia ketiga. Tatkala rasa minder sebagai bangsa tertinggal dalam pencapaian teknologi membuat kita mengekor sikap pragmatisme Barat secara membabi-buta, selain tentunya masalah taraf kesejahteraan yang menghantui mayoritas masyarakat. Akibatnya, eksistensi manusia pun kerap diukur dari kematerian (to have) dan apa yang berhasil dilakukan (to do) daripada nilai kepribadian (to be atau being-nya). Hidup berada dalam kalkulasi statistik dan bidang eksak pun dipandang sebagai kunci kesuksesan lantaran lebih luas menyediakan lapangan kerja. Sementara itu, humanisme dan estetika terabaikan.

”Kami semua kuliah hanya untuk dapat ijazah. Tanpa ijazah, kami tak bisa bekerja! Tanpa bekerja, tak seorang ayah pun mau menikahkan anaknya! Bank tak akan memberikan kredit, dunia tak akan memandang kami. Tapi, si idiot satu itu, dia ke kampus bukan untuk ijazah, tapi untuk belajar!” tukas Farhan yang bertindak sebagai narator dalam film ini.

Toh, berkat nasihat-nasihat Rancho lah, dia dan Raju akhirnya mendapatkan pekerjaan. Juga, berani menghadapi ayahnya yang sejak dia lahir sudah menginginkan anaknya menjadi seorang master of engineer. Padahal, dia lebih menyukai satwa liar dan fotografi. ”Jika aku nanti menjadi fotografer, kemudian gajiku sedikit, rumahku kecil, mobilku kecil. Namun, aku akan bahagia, Ayah!”

Tentu 3 Idiots tak sekadar mengingatkan kita bahwa kurikulum yang membelenggu hanya akan mencetak manusia robot, tapi juga bagaimana ilmu pengetahuan adalah berkah yang harus dinikmati. Atau, kita bakal seperti Chathur, sosok pengikut teladan yang di akhir kisah harus membuka celana dan menunggingkan pantat ala ospek ICE seraya berseru, ”Oh Paduka Raja, Anda sungguh hebat. Terimalah persembahan hamba!” sebagai tanda kekalahannya dalam taruhan. Sebab, sepuluh tahun kemudian, ternyata Rancho, anak tukang kebun yang kuliah atas nama anak majikannya itu, telah menjadi penemu terkenal (dalam nama baru) dengan 400 hak paten dan dikejar-kejar dunia.

Menjadi Manusia Indonesia

AH, bukankah di Indonesia kita punya seorang Ki Hajar Dewantara yang memandang perlunya pendidikan melingkupi segenap daya jiwa, yaitu cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (konatif)? Dengan begitu, penekanan pada keberadaan pribadi di mana aspek-aspek kemanusiaan ditumbuhkembangkan jauh lebih utama. Sebab, pendidikan yang terlampau menekankan aspek intelektual tidaklah menciptakan keutuhan perkembangan manusia.

Pendidikan yang humanis mesti melihat pentingnya pelestarian eksistensi manusia; membantu manusia jadi lebih manusiawi dan berbudaya. Dengan demikian, yang dihasilkan adalah manusia berkepribadian merdeka secara politis, ekonomis, dan spiritual.

Pendirian Taman Siswa seyogianya bertujuan membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan kemerdekaan dalam hati setiap manusia melalui media pendidikan yang berlandaskan aspek-aspek nasional sekaligus universal. Sebuah sistem pendidikan yang tak mengasingkan manusia dari kebudayaan dan lingkungannya. Metode pendidikan yang cocok dengan itu adalah sistem among. Metode yang berdasar asih, asah, dan asuh: ”Ing ngarsa sung tulada, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani”.

Adalah keliru jika lembaga pendidikan menganggap dirinya sebagai penentu gagal tidaknya seorang anak, sekolah tak berhak menjadi perumus masa depan. Sekolah hanya menjalankan fungsi memanusiakan manusia. Maka, dengan mengubah namanya sendiri, Ki Hajar Dewantara pun menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan, yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria, dari kesatria berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa kesatria.

”Jangan belajar untuk menjadi sukses, tapi untuk membesarkan jiwa. Jadilah orang besar, kesuksesan akan mengikutimu.” Atau, ”Jadilah apa pun menurut hatimu!” kata Rancho. ”Karena aku mencintai mesin, mekanika adalah jiwaku. Tahukah kau, apa jiwamu?” tanyanya kepada Farhan.

Di sinilah, pendidikan sesungguhnya berperan sebagai sarana pembebasan, bukan sebaliknya. Yakin pasti ada perusahaan yang membutuhkan manusia, bukan mesin untuk bekerja, mahasiswa cerdas itu pun bertaruh dengan sang rektor jika kedua karibnya yang mendapat ranking buncit bakal memperoleh pekerjaan layak.

Lantas siapa sebetulnya yang harus disalahkan ketika di tanah air sekarang ini banyak yang mengeluhkan tingginya angka siswa tak lulus ujian nasional (unas)? Kendati kurikulum kita silih berganti, dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), lalu entah apa lagi namanya. Adakah sebuah kelulusan harus ditentukan lewat unas, padahal penilaian tak hanya dilakukan pada kemampuan daya pikir tetapi juga tingkah laku dan budi pekerti anak didik?

Yang jelas, jika ingin lebih terhormat, Indonesia memang layak belajar dari India bagaimana mengirim migrant labour dengan kualifikasi bidang teknologi dan informasi, tidak cuma melulu pembantu rumah tangga. Toh, kita tak mau disebut sebagai bangsa babu, kan?

*) Aktivis Bale Sastra Kecapi dan Periset Parikesit Institute Jogjakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*