Personalitas Perempuan Sutradara

Tonny Trimarsanto
http://www.sinarharapan.co.id/

Preview salah satu film independen (kelompok I Sinema) karya perempuan sutradara Nan T Achnas, yang berjudul Bendera beberapa waktu lalu, menjadi salah satu momen baru dalam wajah baru perfilman nasional. Nan T Achnas yang sebelumnya menggarap film Pasir Berbisik dengan sukses komersial kecil, muncul lagi dalam panggung filmis dengan karya yang diciptakan dengan semangat independen.

Profesi sutradara bagi kaum perempuan boleh dibilang langka. Namun, pada kenyataannya, perempuan sineas juga mampu berbicara dalam bahasa filmis. Berbincang tentang: mimpinya, obsesinya, visi dan perspektifnya. Yang lantas diterjemahkan dalam gairah kerja penyutradaraan, pengadeganan, perspektif artistik, angel dan movement camera, pola editing dan musikalisasi visual. Jelas, perspektif ini akan berbeda dengan apa yang acap dikembangkan, dikenalkan oleh sutradara pria.

Jangan lantas menuduh, jika sebuah karya visual filmis ketika dipegang oleh perempuan sutradara mengedepankan atau memprioritaskan aspek feminitas. Mungkin bukan hal ini. Jangan heran, ketika film Cau Bau Kan justru lebih banyak diopinikan film dengan desain kostum paling matang?karena sutradaranya perempuan?yang memakai tak kurang 1.000 kostum dengan setting awal tahun 1900-an. Jangan lantas pengopinian semacam ini menjadi salah satu perspektif perempuan sutradara. Namun, yang paling menarik adalah mencoba membaca kembali grafik turun-naiknya sutradara perempuan itu sendiri. Yang justru acapkali tenggelam dalam dominasi sutradara pria. Maskulinitas sinema, demikian pernah muncul klaim, ketika dunia sinematografis hanya didominasi oleh pria sineas saja.

Minimnya perempuan sutradara, baik itu dari kawasan perfilman nasional atau pun kawasan Asia dan juga dunia, bukanlah sesuatu yang aneh. Banyak perempuan sutradara tidak mampu berbicara banyak dalam panggung sinema, dengan definisinya sebagai karya hiburan. Akhirnya, para perempuan sutradara hanya menciptakan karya, yang tak banyak mampu berbicara dalam forum apresiasi. Tetapi, di luar sinisme tentang prestasi yang tak banyak dicatat, perempuan sutradara paling tidak telah mampu mengisi kekosongan definitif profesi sutradara itu sendiri, yang lebih dominan kaum pria.

Kering Produktivitas

Tradisi panjang dunia sinematografis nasional tak banyak menghasilkan perempuan sutradara. Perempuan sutradara jarang sekali muncul secara produktif dalam peta perkembangan perfilman nasional. Jika mau dihitung, kelahiran perempuan sutradara senantiasa berada dalam masa kering. Kering kelahiran dan kering produktivitas yang mereka lahirkan.

Jika mau membuka pengalaman yang ada, perempuan sutradara yang kita punyai sangatlah minim. Seperti yang ditulis media Cinemaya (India, 2001) sejak berkembangnya dunia sinematografi dari pra hingga paska-kemerdekaan, perempuan sutradara Indonesia hanya beberapa orang saja. Memang, dari rentang waktu tersebut, hingga saat ini tak kurang 2000 judul film telah diproduksi. Dari jumlah ini tak kurang telah lahir 240 sutradara baru, dengan tingkat produktivitas yang tidak terlalu menggembirakan. Dari jumlah sutradara film yang lahir tersebut, hanya 6 orang saja yang mengantongi predikat sebagai perempuan sutradara.

Mungkin, kita masih ingat dan mengenal nama Ratna Asmara, Citra Dewi, Sofia WD, Ida Farida yang lantas disusul oleh Nan Triveni dan Nia Dinata. Dari nama-nama sutradara ini, yang paling produktif menghasilkan karya adalah Ida Farida, dengan film Guruku Cantik Sekali (1979), Busana dalam Mimpi (1983), Dewi Cipluk Semua Sayang Kamu (1989). Sementara Sofia WD hanya menghasilkan satu karya saja yakni Halimun (1982). Sekadar catatan, bakat penciptaan dan penyutradaraan Sofia WD tampak dari difilmkannya naskah miliknya oleh Misbach Yusa Biran tahun 1974 dengan judul Melawan Badai.

Nama-nama perempuan sutradara seakan kalah oleh sosok sutradara pria. Menyebut nama perempuan sutradara terasa asing, kering dan aneh. Tidak biasa? Mungkin juga. Yang pasti dalam kuantitasnya yang minim, ternyata perempuan sutradara mempunyai eksistensi yang kuat. Jika di tanah air saat ini hanya terdapat 6 orang perempuan sutradara, bukan berarti eksistensi perempuan dalam profesi ini tak bertaji.

Paling tidak perempuan sutradara untuk kawasan Asia saja, telah begitu banyak mendapatkan tempat. Simak saja karya perempuan sutradara yang masih belia Samira Malkmabaf asal Iran yang baru saja memukau publik Cannes dengan Blackboard. Lantas dari Jepang ada dua sosok yang cukup berpengaruh yakni Yoko Narahashi dengan film Wind of Gold dan Sumiko Haneda (Chichosei Rojin no Sakai).

Dari daratan Cina ada nama Huan Jianxin: Bei Kao Bei Lian Dui Lian (Back to Back, Face to Face). Dari Taiwan ada Shu Lea Cheang yang saat ini telah ?dicangkok? Hollywood lewat film Fresh Kill. Atau mau menyebut India dengan perempuan sineas produktif semacam Jaddan Bai dan Shobhana Samarth. Dan masih banyak lagi sosok dan karya dari perempuan sutradara Asia.

Dramaturgi Humanis

Dari kemunculan perempuan sutradara dalam peta dunia sinematografis, tentunya menarik untuk dikaji. Kemunculan mereka secara langsung mengasumsikan banyak hal. Tercatat, ada beberapa kecenderungan yang menarik, kenapa seorang perempuan tiba-tiba menjadi sutradara. Dalam dunia sinematografi, dunia film, kecenderungannya tertangkap dalam beberapa sinyalemen.

Pertama, ada kecenderungan bahwa sutradara perempuan itu berasal dari sosok aktris. Artinya aktris perempuan pemain film terdorong untuk bisa menggeluti dunia penyutradaraan. Dari seni peran ke seni melahirkan peran, pengadeganan. Ingat perempuan sutradara kita Sofia WD, Ida Farida serta Citra Dewi. Mungkin ini sebuah kecenderungan yang sangat wajar.

Bahkan, kalau mau bicara lebih luas, sosok perempuan sutradara komersial kelas Hollywood juga sangat banyak yang berasal dari dunia aktris. Misalkan saja aktris Asia Joan Chen yang lantas mencoba peruntungannya dengan menyutradarai Autumn in New York. Atau pun aktris Barbara Streisand dengan karyanya yang memikat lewat Mirror Has Two Faces, Prince of Tides, dan Yenti. Aktris Diane Keaton dengan Heaven dan Unstrong Heroes, serta Wild Flower. Aktris Jodie Foster dengan film Home for Holidays dan Litle Man Tate.

Kedua, tema-tema yang diangkat oleh perempuan sutradara acapkali tak lepas dari aspek humanis. Artinya dramaturgi humanisnya lebih kuat jika dibandingkan dengan aspek kekerasannya. Jenis karya drama lebih banyak dipilih. Mungkin juga malah cenderung untuk melakukan eksplorasi pada aspek humor. Ingat karya Barbra Streisand yang sangat memukau karena kekuatan unsur dramatik-nya, mulai dari Mirror Has Two Faces dan Prince of Tides. Tema cinta, humanisme, berbagai upaya berbagi adalah personalitas dari kebanyakan sutradara perempuan.

Perempuan sutradara setidaknya menyimpan bakat yang berbeda. Bakat yang dipunyai, dimilikinya lebih banyak mengedepankan dimensi personalitasnya. Terkadang, cenderung menjadi sebuah karya pribadi, dengan visi personalnya. Fakta semacam inilah yang paling sering dilontarkan oleh para kritikus, ketika perempuan sutradara menggelar karyanya. ***

Tonny Trimarsanto, sutradara pengamat film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *