Regenerasi Sastrawan

Adin
http://www.suaramerdeka.com/

KELAHIRAN Komunitas Seribu Pintu yang mengadakan acara rutin “Grenengan Analisis Sastra”, beberapa waktu lalu, membuat saya gembira. Namun, tak lama kemudian kegembiraan saya mereda. Sebab, acara yang saya harapkan jadi awal kebangkitan kesusastraan di Semarang itu ternyata vakum.

Namun bukan berarti kesusastraan di Semarang telah mati. Setidaknya melihat intensitas Triyanto Triwikromo, S Prasetyo Utomo, dan Eko Tunas, kesusataraan di Semarang masih bertaji. Namun kebesaran nama mereka, saya rasa tak cukup. Sebab, proses regenerasi berlangsung tertatih-tatih.

Artinya, setelah “kematian” mereka tak ada lagi “anak muda” yang bakal melanjutkan tradisi para sastrawan itu. Bukan berarti proses regenerasi tak ada. Bisa kita sebut beberapa komunitas yang muncul, misalnya Komunitas Seribu Pintu dan Kampoeng Sastra Soeket Teki.

Kedua komunitas itu ternyata masih didominasi orang-orang tua yang sudah jadi. Anak muda yang mengambil inisiatif tak banyak. Kalaupun ada, gerakan mereka bersifat angin-anginan.

Lalu, timbul pertanyaan di hati saya. Ada apa dengan Semarang? Para anak muda yang malas atau kesalahan orang tua yang tidak bisa mendidik “anak-anak” mereka?

Jika kita melihat proses regenerasi di Yogya dan Bali, sewajarnya kita iri hati. Di sana pergantian tongkat estafet kepenyairan memang tak terlangsung secara linier. Namun dukungan aktif para sastrawan kawakan menjadi pemantik yang cukup efektif.

Selain itu, iklim yang mendukung kelahiran gerakan mereka juga jadi faktor pertimbangan yang menarik. Daerah-daerah yang pernah disentuh Umbu Landu Paranggi, misalnya, kebanyakan menghasilkan penyari bernas.

Namun, Semarang? Apakah kita harus beralasan dengan iklim? Apakah kita harus menunggu “macan-macan” itu turun gunung?

Saya rasa tidak! Jika kita ingin regenerasi sastrawan di Semarang berhasil, anak muda harus segera memulai, tanpa menunggu aba-aba dari pusat (otoritas estetis kesusastraan di Semarang).

Pemuda harus bergerak. Karena itulah saya dan beberapa rekan membentuk Komunitas Hysteria yang melahirkan diskusi rutin “Ngobrol Sastra, Rerasan Budaya”. Saya berharap, kelak, gerakan itu jadi pemantik untuk menggairahkan anak muda untuk berkesusatraan di Semarang.

Gerakan itu sekaligus sebagai sindiran bagi gerakan-gerakan yang dibekingi orang-orang lama yang mendirikan komunitas, tetapi cuma bersifat statistik.

Artinya, ada nama berikut daftar juru kunci, tetapi tak melakukan apa-apa, terutama berkait dengan regenerasi sastrawan yang terseok-seok selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *