Samin, Indonesia yang Lain

”Sing Penting Ora Srei, Ora Colong Jumput”
Prayitno
http://www.suaramerdeka.com/

DUA hari pertengahan Januari lalu, warga penganut Saminisme menggelar perhelatan yang boleh dikatakan akbar di Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus. ”Timbang Gunem”, sebuah kerja yang relatif besar, bila dilihat jumlah yang datang dan asal mereka.

”Sebagian terutama rumahnya yang jauh sudah pada kembali pagi tadi. Ya bila kemarin waktu masih kumpul semua sekitar 200 orang,” tutur Margono, tuan rumah acara itu. Suara Merdeka datang terlambat pada siang hari kedua, tepat saat mereka hendak makan.

Makan bersama pun terhenti saat Margono yang sebelumnya keluar menyongsong wartawan harian ini kemudian mengajak masuk. Satu per satu dari sekitar 100-an orang mulai anak-anak, kaum perempuan, hingga orang dewasa yang masih tersisa menyalami dan memperkenalkan diri.

”Paringi pengaran sinten, sederek saking pundhi? (Siapa namanya dan saudara dari mana?),” begitu sapa mereka. Seragam. Sebagian mengenalkan diri setelah makan siang usai. Nasi pecel dicampur kuah bumbu pindang daging (mirip rawon) tersaji.

Sajian makanan tersebut berbeda dari saat Suara Merdeka bertandang di rumah Margono pada paruh 1998. Kala itu nasi jagung dengan kuah sayur bening kangkung yang di dalamnya dicampur ikan wader. Minumnya kopi kental. Menyanyikan makan bagi tamu sebagaimana umumnya warga desa dipandang sebagai persahabatan.

Para peserta tersebut selain dari Kudus seperti Desa Kaliyoso (Karangrowo) dan Desa Larikrejo (Undaan) juga perwakilan dari kantung-kantung Samin di Pati, antara lain Galiran, Bombong, Ngawen, dan Curug. Demikian pula Blora, misalnya Desa Balong dan Desa Mantren.

Mereka berkumpul di rumah suami istri Margono dan Ny Niti Rahayu. Bangunan rumah beratap genting pres model kodok dan berdinding papan kayu itu relatif luas untuk ukuran kota. Jogro satru (ruang tamu) untuk ajang pertemuan misalnya, berukuran 12 x 12 m.

Di ruang tamu itu para pengikut ajaran Samin bertemu, berembuk, dan berdialog dengan beralaskan tikar. Mereka beristirahat dan tidur di tempat itu pula. Semua mengenakan ikat kepala, berbaju takwa hitam, dan bercelana hitam komprang model tiga per empat. Sebagian lain berbaju warna gelap bukan hitam.

Kaum perempuan, semua keluarga Margono, duduk di barisan belakang mengikuti jalannya acara setelah menyajikan penganan. Yang harus merawat anak balita, menyimak dengan duduk atau tiduran di balai kayu di pojok ruang tamu. Mereka mengenakan kain jarit dan berbaju hitam atau hijau tua.

Timbang Gunem

Tidak ada umbul-umbul, spanduk, atau dekorasi dalam perhelatan warga Samin dengan tema ”Timbang Gunem” itu.

”Anda kok tahu dari mana?” tanya Gunretno, anak Margono yang telah berkeluarga dan tinggal di Bombong, Kecamatan Sukolilo, Pati. Gunretno adalah tokoh muda dalam masyarakat Samin.

Rupanya dia salah satu warga Samin yang telah ”maju”. Dia yang telah ber-HP itu menjadi pimpinan kelompok tani. ”Kebetulan. Tempo hari di Suara Merdeka ada berita mengenai jlarang yang rasanya kurang pas dengan kenyataan.” Jlarang adalah perangkap ikan dari kayu atau bambu di kali sehingga mengganggu arus air.

Seusai mengkritik berita mengenai jlarang, Gunretno melempar persoalan kartu tanda penduduk (KTP) ke peserta, ”Kaya aku dhewe. Wektu aku njaluk KTP tak jelaske yen agamaku Adam. Kamangka ning KTP mung ana lima agama, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, lan Konghucu. Akhire KTP-ku nggon isian agama dikosongi.”

Namun dia menyadari, di desa lain tentu tidak semua perangkat pemerintahan bisa memenuhi atau mau mengerti persoalan seperti itu. ”La KTP dhewe iku penting apa ora, tak kira antara sedulur siji lan sijine duwe pandangan dhewe-dhewe. Iki piye janjane?”

Setelah dua orang menanggapi dan belum diperoleh jawaban pas tentang KTP, Gunretno melempar permasalahan itu ke Hermanu Triwidodo.

”Soal KTP kuwi ya iso dianggap penting ya isa ora penting.”

Dia mengemukakan, KTP bagi warga Samin sebatas tata cara dalam berhubungan dengan orang di luar komunitas itu. ”Saya pikir, jika kades dan camat tidak mau menulis bahwa agama kita (Samin) adalah Adam ya bukan salah mereka. Karena aturan yang mereka pegang memang hanya mengenal lima agama.”

Karena itu, jika keinginan warga Samin ngotot isian KTP mereka soal agama ditulis Adam atau cukup dikosongi seperti KTP milik Gunretno ditolak aparat, tidak perlu memaksakan kehendak. ”Ya sudah tidak usah ber-KTP. Bila nantinya dipegang polisi lantaran tidak punya SIM, ya itu kan memang wis bagiane awake dhewe.”

Makin Jauh

Hermanu mengingatkan kembali ajaran Saminisme dalam menyikapi masalah KTP itu. ”Kabeh kuwi ana nggone, anggone, panggone dhewe-dhewe. Awake dhewe kuwi ra sing penting jujur, ora drengki, srei, lan ora colong jumput.”

Dia mengaku tak habis pikir, mengapa agama yang merupakan urusan paling pribadi umat harus ditulis dalam KTP. ”Ning negara maju kaya Amerika, kuwi saru yen ana wong kenalan kok takon agama. Ora ana kuwi, termasuk pendapatanmu pira?”

Kepada warga Samin, Hermanu menegaskan, karena itulah pihaknya bersama masyarakat adat di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) berusaha memperjuangkan pengakuan eksistensinya. ”Masalah agama ini seperti yang dihadapi Suku Dayak Kahayan. Agama mereka ya Kahayan, mesti cedak karo Hindu. La Islam awake dhewe ya Is-slamet kuwi.”

Namun, upaya untuk memperjuangkan agar budaya dan tata cara kehidupan masyarakat adat termasuk Samin dilindungi undang-undang kini semakin jauh dari harapan bisa terwujud. ”Jane sing tepat jaman Presidene Gus Dur. Konghucu diakui sebagai agama kan waktu dia presidennya. Saiki tambah adoh. Awake dhewe ya ora dhuwe wakil ning DPR.”

Siapa Hermanu? Dosen IPB yang menyelesaikan dua program pendidikan S3-nya (Biometrika dan Entomologi) di Amerika bukan keturunan Samin dan tak pernah dibesarkan dalam masyarakat Samin. Namun dia telah jatuh hati dan menyatu dengan masyarakat itu. Terbukti, dia menjadi semacam tempat rujukan dalam ”Timbang Gunem” itu.

Anak seorang pendeta di Jawa Timur yang kemudian kawin dengan gadis keluarga Pondok Pesantren Suralaya Jabar itu mengenal Saminisme secara mendalam saat membimbing warga Samin dalam soal pertanian pada 1996-1997. ”Jangan dikira warga Samin itu bodoh dan kumpul kebo. Mereka memiliki teknologi tinggi dalam soal pertanian.”

Dia mengemukakan, warga Samin sangat menjunjung tinggi tanah mereka sebagaimana menghormati ibunya. ”Tanah bagi mereka adalah ibu. Mana ada warga Samin yang menjual tanah atau sawahnya?”

Sementara itu, bila ada yang berpandangan bahwa warga Samin penakut atau minder dalam bergaul, dia menekankan, itu sama sekali tidak benar. ”Warga Samin itu egaliter. Mereka tidak takut dengan jenderal sekalipun. Mereka akan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.”

Apa dan bagaimana sesungguhnya warga Samin atau Saminisme? Secara singkat paham itu diajarkan oleh Samin Surontika dan mulai dikenal menjadi komunitas masyarakat tersendiri sejak 1890. Awalnya pengikut Saminisme hanya ada di Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, Jatim.

Seiring perkembangan zaman dan dinamika kehidupan mereka kemudian menyebar, antara lain ke Blora, Pati, dan hingga ke Kudus. Beberapa ahli telah meneliti dan menulis buku tentang masyarakat itu. Mereka antara lain Harry J Benda dan Lance Castles, Sartono Kartodirdjo, serta RPA Suryanto Sastroatmodjo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *