Sastra dan Rasa Cinta pada Tuhan

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Masih ingatkah adik-adik dengan cuplikan di atas? Itu baris-baris lirik dari sebuah lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik legendaris, Bimbo, berjudul ?Sajadah Panjang.? Tahukah adik-adik, bahwa lirik lagu itu adalah bait pertama (dari 4 bait) puisi karya Taufiq Ismail?

Di bulan Ramadan ini, lebih elok juga kiranya kalau kita berbicara lagi tentang puisi-puisi, atau karya sastra, sebagai ruang ekspresi seseorang untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Tuhan. Ada banyak karya sastra tentunya yang dapat kita apresiasi, yang mengangkat tema ini. Sebab sejak lama para pujangga kita, bahkan di zaman klasik, telah pun menuliskan rasa cintanya yang dalam kepada Tuhan.

Satu hal yang perlu dicatat, bahwa sesungguhnya justru karya-karya mereka lahir memang diproyeksikan untuk sesuatu yang membawa ajaran moral dan bersifat relijius. Sebab para pujangga lama kita itu, menganggap sastra sebagai panutan hidup. Bahkan, seorang pujangga memang bertugas mengemban ?ka-lam Tuhan.? Maka, adik-adik akan segera membaca banyak sekali unsur-unsur didaktis dan pedagogis (bersifat mendidik) di dalam karya-karya mereka.

Di antaranya, karya yang paling terkenal di Riau bahkan di luar Riau, dan saya kira juga diajarkan di sekolah-sekolah adalah karya Raja Ali Haji, Gurindam Duabelas. Nasehat-nasehat agama dan moral demikian gamblang kita temukan di dalamnya, semisal: ?barangsiapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.?

Karya lain, dari pujangga lain adalah, semisal Hamzah Fansuri. Ia kerap digelar sebagai ?penyair sufi.? Bahkan dia pun disebut sebagai perintis tradisi sastra tulis Melayu, digelari pula sebagai bapak ?Sastra Melayu.? Dalam sebuah karyanya yang terkenal berjudul ?Syair Perahu? ia menulis begini, ?Hai muda arif budiman/ hasilkan kemudi dengan pedoman/ alat perahumu jua kerjakan/ itulah jalan membetuli insan.?

Nah, dalam perkembangannya, karya-karya serupa itu terus diciptakan oleh generasi setelahnya. Ada banyak nama yang patut kita sebut. Di antara yang banyak itu, ada Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah dari Riau. Di luar, ada Danarto, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, dan lain-lain. Sutardji dalam sebuah karyanya berjudul ?Walau? menulis tentang kebesaran Tuhan, yang melebihi apa pun, termasuk pujangga besar sekalipun yang lihai menulis kata-kata. Bunyinya begini (bait pertama): ?Walau penyair besar/ takkan sampai sebatas Allah.? Tapi, kenapa kira-kira, mereka menuliskan kecintaan akan Tuhan itu lewat sastra? Bukankah, rasa cinta pada Tuhan, timbul karena kepekaan jiwa seseorang, yang kerap disebut sebagai ?iman?? Maka, kadang, rasa cinta pada Tuhan juga tidak muncul begitu saja setiap kali kita beribadah rutin macam sholat, juga puasa. Sebab, ia turun-naik. Rasa cinta, tak muncul tiap hari, tiap saat. Perlu kesadaran dan kepekaan jiwa.

Maka, dengan begitu, sastra menjadi media yang cukup pas kalau berbicara tentang rasa cinta pada Tuhan. Rasa cinta itu beragam bentuk dan asal-usulnya. Bisa dari kerinduan yang dalam, bisa kekaguman yang besar, bisa dari rasa berdosa seorang hamba, bisa dari ketakberdayaan manusia, bisa dari pencarian spiritual dan ketenangan, dan banyak lagi. Jadi, adik-adik, bisa saja menuliskan puisi atau cerpen dengan tema itu, tentu dari sudut pandang adik-adik sendiri.

Karya cerpen yang hadir edisi ini nampaknya juga masih terkait dengan tema Islami, ?My Name is Setan? karya Sadry Ibnu Sofyan. Cukup menarik sebenarnya sudut pandang yang dibidik. Imajinasi kolektif pembaca tentang sosok Setan dimainkan dalam reaalitas real dunia manusia. Meski masih juga terasa Sadry hendak mendesak-desakkan pesan moralnya, sehingga masih ada kesan ?menggurui.?

Puisi, ada ?Rasa yang Dicinta? karya Yofi. Ada aroma rindu kampung di sana. Cukup baik membangun diksi, meski masih lemah mengurai ruang-ruang makna. Puisi lain, aroma Ramadan berpadu dengan kritik sosial, ?Politik Kampung Ramadan? karya Mohd. Tabroni. Namun, masih lemah pe-ngembangan tema, juga kurang selektif pemilihan diksinya.

Puisi berikut, ada ?Tersesat dalam Angan? karya Yelna Yuristiary. Nampaknya Yelna masih suka bermain dengan tema-tema ?di luar dirinya.? Ada kisah memang di sana, tapi masih rumpang dan sempit membangun makna. Puisi ?Gejolak Hati? karya Ridho M Fathan, lebih terasa sublim. Terasa lebih padat. Cukup kuat bermain imaji.

?Gerimis di Beranda Neraka? karya Al Fanizat, hendak berbicara tentang kesadaran akan diri yang berdosa. Tapi, masih lemah memilih diksi. Harus lebih banyak berlatih menulis puisi. Karya lain, ?Langkah Pasti? karay Muhammad Hadi. Aroma religius juga terasa di sana. Meski masih juga terasa kaku bahasanya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *