Sebidang Kanvas di Tengah Dolar

(Industri dan Kuasa Seni Rupa di Bali)
I Ngurah Suryawan
http://www.sinarharapan.co.id/

Rahasia! Cara terbaik untuk menguasai seniman
Jadikanlah seniman sebagai budak
Jadikanlah seniman sebagai mahluk jadi-jadian
Ciptakan cara tertawa budak
Ciptakan rasa tertawa mahluk jadi-jadian
Ciptakan rasa tertawa tuan tanah
Luncurkan ?buku?kebanggaan seniman budak

(Widodo dalam Agus Wicaksono, Seni Rupa ?Gorengan?, Spekulan dan Pahala Akal Bulus, Yogyakarta 20-29 Januari 2001)

Bisakah karya seni rupa disamakan dengan kondom? Tentu akan banyak yang protes jika kedua benda ini disamakan. Tapi jangan salah, perkembangan dunia seni dan industri menjadi kabur. Diakui atau tidak, secara tidak sengaja karya seni rupa menjadi mirip dengan kondom.

Tapi yang ingin disampaikan adalah masuknya lukisan menjadi barang industri yang bisa terus diproduksi layaknya sebuah kondom tadi, Coca Cola atau barang produksi lainnya. Lukisan kini telah menjadi barang industri yang terus bisa diproduksi sesuai dengan keinginan dan permintaan pasar?tentunya pasar seni rupa, kolektor, museum, galeri.

Bali telah menjadi ladang yang subur bagi bisnis seni rupa ini. Pelukis Bali yang lugu dan sedikit romantis mendukung dominannya peran mafia dan preman seni rupa di Bali. Tulisan sederhana ini setidaknya ingin memberikan catatan yang semoga kritis tentang fenomena modal dan industri dalam seni rupa.

Metaksu-nya Modal

Secara tidak terduga, perjalanan panjang seni rupa Bali terjangkit antara tarik-ulur kapitalisme dan adat tradisi religius. Awalnya seni adalah media untuk pengungkapan rasa takwa dan bentuk persembahan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Maka seni menjadi Metaksu (unsur magis yang punya kekuatan tertentu), punya nilai yang luar biasa bagi hubungan Sanghyang Widhi dengan Manusia. Gaya-gaya lukisan tradisi Kamasan, Batuan dan Ubud bisa menjadi contoh bagaimana gaya-gaya tradisi ini berkembang. Dengan karya-karya berbentuk lamak, prada (semuanya kain-kain untuk upacara ritual di Bali) dan semua benda dipersembahkan untuk kepentingan upacara agama dan persembahan-persembahan alam-alam religius. Maka semua karya dan nilai seni diletakkan dalam konteks seni adalah barang religius dan sangat mistis.

Cikal bakal kedua adalah munculnya pengaruh Pita Maha dan Young Artist dengan mengenalkan gaya dan teknik lukisan baru. Berdiri tahun 1927, kongsi dagang seni rupa ini mulai memperkenalkan bentuk dan cara industri dan promosi dalam berpameran. Jangan heran kegiatan kelompok kongsi dagang ini?mungkin bisa disamakan dengan VOC?adalah berpameran di luar negeri, promosi keeksotikan Bali dan seterusnya. Lewat tokoh Walter Spies, Rudolf Bonnet, Arie Smith, gerakan ini memulai memasukkan paham dan nilai seni orientalis kolonial. Seni menjadi barang yang ditentukan kepentingan Barat dalam bingkai ekspansi kolonialisasi kultural. Seni di Bali menjadi seni yang terpahami sebagai sebuah nilai yang tercabut dari akar-akarnya.

Kapitalisme memulai pengaruhnya dengan memanfaatkan seni untuk memperkenalkan Bali kepada dunia internasional. Kita masih ingat bagaimana Spies membawa pelukis Bali berpameran di luar negeri. Mungkin inilah awal Bali mengenal wacana besar industrialisasi seni. Sampai di sini seni menjadi magnitude yang amat kuat untuk mengembangkan citra Bali. Yang nanti dimanfaatkan untuk kepentingan seolah-olah pariwisata.

Perkembangan seni (rupa) memasuki tahap baru ketika putra-putra Bali bernostalgia untuk mendirikan SDI (Sanggar Dewata Indonesia) di Yogyakarta awal tahun 1980-an. Menuntut ilmu di ISI Yogyakarta, seniman Bali ini tertuntut untuk mengembangkan dan mengentalkan identitas ke-Bali-an. Dan mulailah cerita ?hebat? Sanggar Dewata menciptakan gaya-gaya khas ke-Bali-an dengan simbol-simbol, mitos dan nilai angker Bali yang (ketika itu ) masih ditakuti. Nilai jual itu (menjadi senjata kuat untuk membuat terkenal kelompok yang melahirkan seniman besar macam Nyoman Gunarsa, Erawan, Sika, Made Wianta, serta banyak lagi angkatan terbaru.

Proses dan dialektika berkembang. SDI kemudian membentuk gurita-gurita kekuasaan dengan mengusung nama dan identitas Bali. Jaringan ini begitu kuat sehingga melahirkan generasi baru yang sudah dibuatkan kekuasaan untuk terus berekspresi. Saat itulah cengkeraman kapitalistik dan seni industri mencapai tahap kedua dalam memperoleh respons positif. SDI menjadi semacam kongsi kapitalis untuk membentuk dan mempertahankan citra dan keagungan Bali. Saat itu seni rupa Bali sebenarnya sudah terjual untuk kepentingan pasar dan industri.

Periode berikutnya adalah elegi tentang seniman Bali yang menuntut ilmu di sekolah lokal (STSI Denpasar, SMSR Batubulan) juga menjadi agen kepentingan pariwisata dan uang. Seni tidak lagi sejalan dengan kreativitas.

Mandeknya kreativitas menghasilkan karya-karya seni yang berulang-ulang demi memenuhi tuntutan pasar. Perjalanan seni rupa di Bali menjadi menjemukan dan membosankan. Tak ada gejolak yang menggairahkan. Pemain seni rupa ?berselingkuh? untuk mengamankan dominasi kelompok tertentu yang menentukan dan mengatur pasar. Sampai di sini, seni menjadi sampah.

Maka terkejutlah komunitas dan pemain seni rupa di Bali, ketika ?Mendobrak Hegemoni?, 23-25 Februari 2001 hadir untuk memberikan kritik tajam pada ketidakberesan dalam wacana dan aksi seni rupa Bali (Indonesia). Kamasra (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) STSI Denpasar hadir menjungkirbalikkan semua nilai, pandangan estetis seni rupa yang dipaksakan kelompok tertentu kepada yang lain. Nilai estetis dominasi menutup ruang untuk terciptanya estetis tandingan.

Tidak salah jika Widodo dan Agus Wicaksono bikin geger dunia seni rupa Indonesia karena kritiknya yang sangat tajam pada mafia perdagangan seni yang menghilangkan nilai estetis dan mengagungkan barang produksi repetisi seperti kondom misalnya. Karena pengaruh makhluk bernama kapitalisme, industrialisasi dan materialisme, barang-barang seni dibuat menjadi produksi. Dibuat terus-menerus tanpa pencarian estetis dan kreativitas yang menjadi ciri dari karya seni. Senjata kapitalisme adalah uang. Uang menjadi begitu berpengaruh sehingga banyak seniman menggadaikan idealisme, pencarian estetis dan kreativitas.

Kerangka kritik terhadap kondisi seni rupa yang impoten ini adalah otoritas kapitalisme industrialisasi seni sebagai wacana. Lanjutan dari wacana itu adalah lahirnya dominasi kekuasaan seni rupa dengan lawannya kelompok seniman kiri dengan menggulirkan wacana alternatif. Kekuasaan otoriter kapitalisme industrialisasi telah menjadi pakem dan darah daging untuk menciptakan kekuasaan kesenian yang ditanam kuat terhadap para pemain seni rupa. Tentu saja pemilik modal atau pemain dominan akan menebarkan pengaruhnya, sekali lagi dengan uang dan kekuasaan, yang menguasai ide dan tindakan para pemain seni lainnya.

Pemain seni rupa lainnya mau tidak mau masuk dalam lingkaran hitam pragmatis kapitalis dan industrialis ini. Posisi ini mereka ambil karena tidak punya kekuatan untuk melawan dan melakukan oposisi terhadap dominasi ini. Sikap yang ambigu dan mendua sangat dirasakan seniman yang lainnya. Antara tetap memelihara idealisme atau tercebur menjadi kapitalis. Bukan hanya seniman, semua pemain seni (rupa) juga telah mempraktikkan industrialisasi, tapi mereka menolak menyebut dirinya kapitalis. ?Kapitalisme Malu-malu?, meminjam istilah Arif Budiman.

Seniman sebagai kreator karya seni menjadi pemain pertama yang bergaya kapitalisme malu-malu ini. Sudah menjadi rahasia umum, jika perbincangan dan pergaulan seniman saat ini tidak lagi urusan pencarian jati diri estetis dan proses kreatif, seniman sangat asyik untuk membincangkan bagaimana perdagangan dan peta dominasi kapitalisme industrialisasi seni. Bagaimana cara melakukan trik-trik berdagang ?produksi seni?dengan gelerry, hubungan selingkuh dengan kurator dan membujuk kolektor berpengaruh untuk memunculkan karyanya. Sangat menyedihkan memang.

Akhirnya memang pelukis sangat tergantung terhadap pasar, tentunya agar lukisannya laku diterima pasar dan pemegang dominasi perdagangan seni. Ada cerita menarik bagaimana seniman tidak begitu peduli terhadap begitu carut-marutnya mafia-mafia seni yang berada di luarnya. Misalkan saja galeri, kolektor, kritikus, spekulan membentuk kongsi untuk menempatkan seniman sebagai kreator mesin produksi yang terus-menerus merepetisi karyanya.

Maka pelukis yang berani menjilat kanan-kiri dan mecik manggis (meyembah-nyembah) kepada semua pemain hegemoni akan cepat menjadi bintang dan karyanya laris manis. Ketika sudah menjadi laris, trend seperti abstrak ekspresionis Erawan, atau religiositas mistis SDI (Sanggar Dewata Indonesia), sekali lagi karena peranan perdagangan seni kapitalistik, dibuat terkenal dan dibikin promosi habis-habisan biar menyentuh akar pemain seni paling awal.

Jadilah rekayasa ini menjadi kuat untuk mempengaruhi seniman pemula, yang mungkin saja miskin wawasan dan wacana seni rupa. Kunci dari semua penjelasan di atas adalah bahwa semua pemain seni telah menempatkan logika industrialisme kapitalis menjadi ideologinya. Ideologi ini telah memenangkan pertarungan dengan mengalahkan estetis dan kreativitas karya seni.

Nasib Seni

Karena menjadi bagian proses industrialisasi, seni bukan lagi barang sakral. Nasib seni, jika masih terperangkap dalam jebakan kapitalisme industri, sama dengan kondom, sepatu Nike, susu kaleng dan barang produksi lainnya. Maka, seni bukan lagi karya langka, estetis, kreatif, dan kata orang Bali, Metaksu.

Maka permainan dan bisnis seni rupa melahirkan usaha untuk menciptakan ikon seni rupa terus-menerus. Lahirlah wacana menggoreng. Seperti layaknya orang menggoreng, maunya sendiri dengan menambahkan apa yang mereka (pemegang dominasi) kehendaki. Goreng-menggoreng dalam dunia seni juga ada. Istilah ini sangat populer di Yogyakarta.

Proses menggoreng dimulai dari seniman senior yang menjadi panutan dan laris manis. Karya-karya mereka selalu ditunggu dan menjadi rebutan kolektor. Masih ingat bagaimana Erawan diminta berkarya lagi, asalkan bertema Pralayamatra. Pasalnya, lukisannya itu laku keras sampai ada yang memesan ke rumahnya. Tentunya, seniman harus berusaha merebut hati pemain seni rupa lainnya (kolektor, galeri, kritikus berpengaruh). Seniman berkarya terlalu produktif. Hubungan dengan seniman yang lain menjadi ?aneh?, saling cemburu, bersaing dan berlomba-lomba untuk menonjolkan diri.

Proses berlangsung mengakibatkan seniman sangat tergantung bagaimana ?gorengan? pasar terhadap dirinya. Tentunya menunggu reaksi dari kolektor berpengaruh. Pemain seni rupa inilah yang bertindak sebagai tukang goreng yang memainkan seniman sesuai dengan selera dan kehendak hatinya.

Kolektor berpengaruh ini punya kongsi yang bisa sepakat untuk menaikkan harga seniman tertentu. Konsumen lain, yang berada di luar pemain dominasi tadi menjadi gamang dan tidak punya acuan tegas untuk menilai karya-karya yang ada. Konsumen minoritas ini mau tidak mau terpengaruh permainan industrialisasi yang diterapkan kolektor dominan tadi. Akhirnya perkembangan seni menjadi kacau. Para pedagang seni menambahkan nilai kesan yang luar biasa terhadap dagangannya.*

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Antrolopologi di Fakultas Sastra Universias Udayana, sedang melakukan studi hegemoni dan industri seni rupa Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *