Suara Batin Seorang Lesbian

Daryati P. Achmad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Garis Tepi Seorang Lesbian Penulis : Herlinatiens Penerbit : Galang Press, Yogyakarta, 2003

Secara seksual, orang bisa saja mewujudkan orientasi seksualnya kepada sesama jenis. Tetapi, secara sosial, ia belum tentu punya keberanian untuk mengakui eksistensinya itu secara terbuka di masyarakat. Sebab, kita tahu bahwa kehidupan dunia ini dikepung oleh masyarakat heteroseksual.

Novel Garis Tepi Seorang Lesbian yang ditulis Herlinatiens ini berkisah tentang nasib seorang perempuan yang sedang berjuang untuk jujur tentang orientasi seksualnya, bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Perempuan itu bernama Ashmora Paria. Banyak laki-laki ataupun perempuan yang jatuh cinta padanya, tetapi cintanya hanya untuk satu perempuan: Rie Shiva Ashvagosha.

Keduanya saling mencintai. Cinta baginya adalah nyawa yang berkesinambungan yang memberikan kekuatan diri untuk selalu hidup. Begitu luhur pandangan Paria tentang makna cinta. Namun, ketika ia berterus terang kepada keluarganya?kebetulan keluarga muslim yang taat?tentang orientasi seksualnya itu, ia dimarahi, dihujat, bahkan dikucilkan. Keluarganya melihat pilihannya itu sebagai pilihan yang tidak normal, sakit, dan bahkan menjijikkan.

Di tengah tekanan masyarakat heteroseksual itu, Paria kehabisan kekuatan akan eksistensinya sebagai lesbian. Apalagi kabar dari Rie tak pernah kunjung datang. Memang, cinta Paria masih hanya untuk Rie. Tapi, demi keluarga, ia mengambil keputusan menikah dengan Mahendra: laki-laki ganteng, kantoran, dan kaya.

Seperti diakui penulisnya sendiri dalam Kata Pengantarnya, kisah yang ada di dalam novel ini fiksi belaka. Namun, gagasan dan kasus yang ditampilkan bukanlah semata-mata fiktif, tetapi memang ada. Sebab, pada awalnya dalam mendokumentasi gagasan itu, ia melakukan “ziarah” ke dalam dunia lesbian.

Lewat novel ini, Herlinatiens ingin menegaskan bahwa menjadi lesbian adalah pilihan dan kesadaran yang jujur terhadap eksistensi orientasi seksualnya. Karena itu, seperti kata Saskia, sebenarnya mereka tak perlu malu akan dirinya dan tak usah merasa bersalah. Sebab, pilihan dan orientasi mencintai yang mereka pilih itu adalah kenyataan dan rahmat Tuhan. Mereka mestinya melakukan dan hidup seperti apa adanya. Masyarakat perlu sadar bahwa lesbian adalah suatu kenyataan sebagai salah satu cara untuk mencintai dan dicintai dengan tulus.

*) Pustakawati, tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *