Vladimir Braginsky: Pertukaran Ide dengan Surga di Bumi

Ignatius Haryanto, Lenah Susianty
http://majalah.tempointeraktif.com/

NAMA Indonesianis seperti Ben Anderson, William Liddle, Harold Crouch, dan Harry Poeze sudah cukup familiar bagi pembaca di Indonesia. Tapi Vladimir Braginsky, Y.A. Cherepnyova, dan N.F. Alieva adalah nama yang mungkin terdengar asing. Sebagian orang mungkin mengira tiga nama tersebut adalah pecatur atau tentara asal Eropa Timur. Padahal mereka adalah tiga dari banyak sarjana Rusia yang memiliki bidang keahlian tentang Indonesia.

Braginsky adalah doktor sastra Indonesia dan Malaysia yang kini mengajar di School of Oriental and African Studies, University of London. Cherepnyova adalah ahli sejarah Indonesia yang kini mengajar di Institute of Oriental Studies di Moskwa dan menulis disertasi tentang konsep-konsep Barat dalam pembangunan sosial politik Indonesia. Sedangkan Alieva adalah linguis yang mengajar di Russian Academy of Sciences, Institute of Oriental Studies, Moscow State University.

Karya Alieva bahkan pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh asosiasi linguis di Indonesia pada 1991. Tanpa terasa, ternyata perhatian para sarjana Rusia terhadap Indonesia cukup berkembang. Dan salah satu karya Vladimir Braginsky (yang ia tulis bersama Elena M. Diakonova), Images of Nusantara in Russian Literature (Leiden: KITLV Press, 1999), menjadi bukti bahwa para sarjana di Eropa Timur tak mau ketinggalan dari para sarjana pemerhati Indonesia di Barat (Amerika, Eropa Barat, dan Australia).

Buku ini merupakan antologi karya sastra sejumlah sastrawan Rusia yang mengambil inspirasi dari Nusantara, atau Indonesia, dalam sejumlah puisinya. Menyertai antologi ini, pengantar dan apendiks buku ini menjadi sangat berharga bagi kita untuk memahami bagaimana dua kebudayaan ini bertemu dan bertaut di wilayah kesastraan.

Braginsky lahir di Moskwa pada 11 Januari 1945. Ia menempuh pendidikan awalnya di Institute of Oriental Languages, Moscow State University, dan lulus sebagai doktor pada 1972 dalam bidang sastra Asia-khususnya sastra Indonesia dan Malaysia-dan sufisme dalam Islam. Ia telah menulis lebih dari 150 artikel dalam bahasa Rusia, Malaysia, Indonesia, dan Prancis, juga menulis 11 buku, baik hasil penelitian maupun terjemahan sastra.

Kini Braginsky menunggu penerbitan bukunya yang terbaru di Malaysia, Satukan Hangat dan Dingin. Riwayat Hidup Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Melayu yang Agung (diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka).

Wartawan TEMPO di Jakarta, Ignatius Haryanto, menyusun daftar pertanyaan ini, lalu koresponden TEMPO di London, Lenah Susianty, mengajukannya kepada Braginsky dan mendapat jawaban tertulis.

Dalam buku ini, Anda menulis bahwa para sastrawan Rusia telah lama memendam keingintahuan dan kekaguman terhadap Nusantara (Indonesia). Apakah ada di antara mereka yang pernah datang langsung ke Nusantara?

Ada pihak yang mengatakan, kekaguman pada kawasan yang misterius ini timbul sejak abad ke-11. Bagaimanapun, kita harus mencatat, baru pada abad ke-18 Indonesia mulai dikenal lebih luas. Pengetahuan masyarakat Rusia terhadap Indonesia sejak zaman Bizantium, lalu negara-negara muslim dan Eropa Barat, kebanyakan berasal dari mitos-mitos.

Ada kepercayaan kala itu bahwa kepulauan Nusantara ini terletak dalam surga di bumi, yaitu Taman Eden, yang memiliki kekayaan berupa emas dan batu berharga lain. Tempat ini juga dikatakan penuh dengan binatang dan buah-buahan yang tumbuh sepanjang tahun. Di sana hanya ada kebaikan, dan ia dihindarkan dari segala yang jahat. Tentu saja semua ini fiksi dan tak seorang pun pernah menemukan tempat demikian. Tapi usaha pencarian tempat tersebut tak pernah berhenti.

Suatu perjalanan yang agak akhir dilakukan oleh kelompok Cossacks dari Siberia pada paruh kedua abad ke-19. Dalam catatan harian yang ditulis seorang awak kapal itu disebutkan bahwa mereka mengarungi pantai Sumatera, menyeberangi Selat Malaka, dan mengunjungi Singapura. Tapi kala itu tak seorang pun yang bisa menunjukkan jalan menuju kerajaan yang adil dan baik itu.

Perjumpaan sesungguhnya dengan Indonesia terjadi pada abad ke-19, walaupun lebih banyak dalam bentuk buku. Agak aneh, misalnya, ketika pada 1820-an koran-koran di Rusia menulis artikel tentang pemberontakan Pangeran Diponegoro. Bagaimanapun, minat sesungguhnya terhadap Indonesia dan Malaysia dimulai oleh para penulis dan sastrawan Rusia yang saat itu dalam proses pencarian kebijaksanaan dari Timur, bersama gambaran-gambaran yang tidak biasa sebagai alat ekspresi sastra mereka. Inilah yang dilakukan sejumlah sastrawan Rusia klasik pada abad ke-19 seperti Aleksandr Pushkin, Ivan S. Turgenev, Ivan A. Goncharov, atau puisi eksperimentalis pada pergantian abad ke-20 karya Valery Bryusov, Konstantin Balmont, Nikolai Gumilev, dan pemenang hadiah Nobel Sastra, Ivan Bunin.

Dalam buku yang kita bicarakan ini, ada 50 puisi yang dilampirkan, dan dari situ kelihatan sangat jelas bahwa para penulis Rusia ini tidak tahu di mana letak Indonesia atau Malaysia karena juga tak memiliki akses langsung terhadap bahan-bahan tentang kepulauan Nusantara tersebut. Mereka semua mendapatkan informasi tentang kawasan ini lewat bacaan yang ditulis para sarjana Eropa lain ataupun lewat karya puisi penulis Eropa lainnya.

Misalnya pantun lokal dalam bahasa Jerman dan Prancis, sebagaimana diterjemahkan oleh Schamisso dan Victor Hugo, atau terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Skeat. Satu contoh lain, setiap anak kecil di Rusia kenal dengan satu puisi Pushkin berjudul Antiar, nama sebuah pohon yang hidup di Nusantara. Tapi, yang lebih penting, rupanya para penulis puisi Rusia ini sangat terkesan akan cara bertutur dalam pantun dan mantra, yang mengingatkan mereka pada cara penulisan pantun berkait ala Rusia.

Penulis puisi yang betul-betul pernah berkunjung ke Malaysia dan Indonesia adalah Konstantin Balmont, yang terkagum-kagum pada bebunyian gamelan, kekayaan alam Indonesia, dan kemegahan Candi Borobudur.

Mengapa penerjemahan karya-karya sastra Indonesia baru dilakukan pada 1950-an, padahal sastrawan Rusia sudah mengenal Indonesia sejak berabad-abad lalu?

Seperti saya sebutkan di muka, para penulis Rusia tidak mengerti bahasa Indonesia dan karya sastra Indonesia setidaknya sampai 1950-an. Satu-satunya orang yang bisa berbicara bahasa Indonesia kala itu adalah Dr. L. Mervart, yang kemudian menjadi pendiri studi Indonesia di Rusia. Mervart belajar bahasa Indonesia di Leiden dan Paris setelah Perang Dunia II. Baru setelah ada hubungan diplomatik dan hubungan budaya antara Indonesia dan Rusia, bahasa Indonesia dikenal lebih jauh.

Faktor apa yang merintis penerjemahan karya sastra Indonesia?

Sejak berabad-abad lalu, Rusia dikenal sebagai jembatan yang menghubungkan Asia dan Eropa. Karena itu, Rusia ada dalam situasi yang menguntungkan karena bisa menyerap pengaruh budaya dan sastra dari dua kebudayaan ini. Inilah penjelasan mengapa minat terhadap kebudayaan Asia di Rusia sangat besar dan karya sastra Rusia juga banyak yang membahas imajinasi tentang Arab, Persia, Turki, Cina, dan India. Tentu saja minat besar ini hanya bisa diperkuat oleh adanya hubungan dekat dengan negara tersebut, dalam hal ini Indonesia.

Sastra, bagi orang Rusia, memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan, tempat pembaca tidak hanya bisa melihat sisi luar realitas Indonesia, yang biasa banyak dibaca dalam surat kabar, tapi juga melihat sisi dalamnya seperti perasaan, pemikiran, dan persepsi orang Indonesia. Dalam buku ini, ada daftar 50 buku sastra Indonesia dan Malaysia yang telah diterjemahkan ke bahasa Rusia. Termasuk dalam daftar buku itu cerita tradisional, peribahasa, karya klasik seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Sri Rama, Hikayat Panji Semirang, dan Hikayat Indraputra, novel Indonesia awal karya Marah Rusli dan Abdul Muis, juga karya penyair Pujangga Baru, Armijn Pane. Juga karya Chairil Anwar, sebagai penyair pada masa setelah perang, serta karya prosa Pramoedya Ananta Toer dan Utuy Tatang Sontani. Karya kontemporer pun banyak yang telah diterjemahkan.

Pada 1970-an, misalnya, diterbitkan sejumlah novel karya Mochtar Lubis, Umar Kayam, Putu Wijaya, dan Iwan Simatupang, juga cerita pendek dari Kuntowijoyo, Budi Darma, Gerson Poyk, Danarto, dan lain-lain. Kita bisa menambah panjang daftar ini dengan sejumlah karya antologi puisi dan cerita pendek Indonesia. Ini semua kalau kita bicara tentang buku. Saya kira ada puluhan, bahkan ratusan, karya terjemahan sastra Indonesia lainnya yang diterbitkan dalam jurnal ataupun majalah. Dalam hal jumlah terjemahan karya sastra Indonesia dan Malaysia, Rusia mungkin bisa berkompetisi dengan Amerika Serikat. Mungkin kedengarannya tak bisa dipercaya, tapi sebuah karya terjemahan di Rusia ini dicetak antara 30 ribu dan 300 ribu kopi, dan sebagian besar buku ini habis terjual atau telah menemukan para pembacanya yang tepat.

Berapa universitas di Rusia yang memiliki studi khusus tentang Indonesia?

Pada 1950-an, mahasiswa Rusia mulai belajar bahasa Indonesia di Universitas Moskwa dan Universitas St. Petersburg (Leningrad). Juga ada yang belajar bahasa di Institute of Oriental Studies dan Institute of World Literature di Russian Academy of Sciences. Kondisi ini mengubah total situasi studi tentang Indonesia di Rusia dan membuka sejumlah kemungkinan penelitian bagi para sarjana dan penerjemah dari Rusia, untuk selanjutnya membawa karya sastra Indonesia lebih dekat kepada pembaca Rusia.

Pada masa Orde Baru, apakah ada kemunduran dalam hal penerjemahan karya sastra Indonesia di Rusia?

Dengan sendirinya peristiwa pada 1965 membuat penerjemahan karya sastra Indonesia menurun. Sulit bagi kami melakukan studi, juga penerjemahan sejumlah karya penulis, setelah peristiwa itu. Saya ingat, misalnya, betapa sulitnya saya pada 1976 untuk menerbitkan survei detail atas “Kesusastraan Indonesia Setelah Tahun 1965”. Ini survei pertama yang hendak menggambarkan perubahan drastis dalam kesusastraan Indonesia. Bagaimanapun, karena telah dikerjakan pada masa sebelumnya, proyek ini harus diteruskan. Di antaranya adalah penerbitan koleksi lengkap puisi para penyair Pujangga Baru pada 1966, juga koleksi cerita pendek sebelum 1965 dari Ajip Rosidi, S.M. Ardan, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Nugroho Notosusanto, dan lain-lain.

Dua novel Pramoedya diterjemahkan pada 1975 (Di Tepi Kali Bekasi) dan 1980 (Keluarga Gerilya). Tapi situasi mulai berubah pada awal 1980-an dan kondisinya menjadi kembali normal. Pada 1981, terbit kumpulan puisi sejumlah penyair Asia kontemporer, yang di dalamnya terdapat karya penyair Indonesia seperti Rendra, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Mohamad. Pada 1984-1988, terbit kumpulan cerita pendek, juga novel Putu Wijaya (Bila Malam Bertambah Malam dan Telegram), dan karya Pram yang lain, Bumi Manusia.

Di Jakarta, pada 1980-an, seseorang yang belajar bahasa Rusia dicurigai sebagai simpatisan komunis dan mendapat pengawasan lembaga intelijen. Oleh Orde Baru, Rusia dianggap sebagai negara komunis yang kemudian menjadi halangan tersendiri bagi kerja sama di antara kedua negara. Apakah ada kegiatan tertentu yang terhambat pada masa pemerintahan Orde Baru?

Ya, tentu saja secara akademis dan budaya, hubungan Indonesia-Rusia mundur sangat drastis pada masa Orde Baru. Kunjungan para penulis sastra dan kritikus sastra Rusia ke Indonesia, atau sebaliknya, menjadi tak mungkin dilakukan, atau katakan saja sangat jarang. Kami mengalami kesulitan, misalnya, untuk mendapatkan buku ataupun terbitan berkala dari Indonesia. Telah saya katakan sebelumnya bahwa pada 1980-an sulit untuk bisa menerjemahkan karya penulis Indonesia terbaru. Tapi, di luar semua kesulitan itu, penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Rusia terus berlangsung.

Bisakah digambarkan seberapa besar minat para sarjana Rusia mempelajari Indonesia?

Dapat dikatakan, saat ini baik Indonesia maupun Rusia memiliki kondisi yang lebih baik untuk pengembangan studi tentang Indonesia di Rusia, juga penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Rusia. Tapi Rusia saat ini mengalami krisis finansial. Orientasi banyak mahasiswa di Rusia juga berubah dengan mengambil lebih banyak studi tentang bisnis daripada studi humaniora. Biarpun begitu, sejumlah institusi pendidikan yang telah saya sebut di atas tidak menunjukkan tanda bahwa minat mahasiswa Rusia untuk belajar bahasa Indonesia menurun. Tentu saja sebuah persoalan lain apakah mahasiswa yang saat ini sedang melakukan studi tentang Indonesia akan meneruskan minatnya menjadi peneliti atau penerjemah sastra Indonesia, atau memilih bidang bisnis ataupun diplomatik yang berkaitan dengan Indonesia.

Pada masa Sukarno, banyak mahasiswa Indonesia dikirim ke Rusia. Apakah pada saat yang sama juga banyak mahasiswa Rusia yang dikirim ke Indonesia? Bidang apa yang mereka pelajari?

Sangat sulit menjawab pertanyaan Anda, terutama jika menyangkut akurasinya. Seperti Anda ketahui, saya telah bekerja sebagai guru besar, mengajar, dan meneliti di London School of Oriental and African Studies (SOAS) selama sepuluh tahun terakhir ini.

Dalam direktori yang dibuat oleh Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV)-European Directory of South-East Asian Studies, dikompilasi dan diedit oleh Kees van Dijk dan Jolanda Leemburg-den Hollander, 1998-tercatat bahwa pada 1990-an tak kurang dari 17 orang sarjana Rusia menguasai masalah yang ada di Indonesia. Bagaimana arti strategis Indonesia buat Rusia saat ini?

Bagaimanapun, sarjana Rusia pemerhati Indonesia dalam direktori KITLV itu terlalu kecil jumlahnya. Daftar itu disusun dari mereka yang mengembalikan formulir biodata kepada KITLV. Saya yakin bahwa ahli Indonesia di Rusia, dalam bidang bahasa, sejarah, politik, ekonomi, kebudayaan, dan kesusastraan, setidaknya satu setengah kali hingga dua kali lipat jumlahnya. Kita pun bisa menambahkan, dengan menghadapi pelbagai kesulitan itu, para ahli dari Rusia ini terus berusaha mempublikasikan hasil karya mereka. Misalnya, satu kelompok yang tergolong aktif saat ini adalah kelompok Nusantara, yaitu para Indonesianis Rusia dari Universitas Moskwa dan Universitas St. Petersburg. Hampir setiap tahun mereka menerbitkan kumpulan artikel dalam berbagai aspek dari Indonesia, mulai kebudayaan, sejarah, dan sastra. Kelompok ini pun secara rutin menggelar konferensi ilmiah.

Beberapa tahun lalu, misalnya, mereka menyelenggarakan international colloquium ke-11 untuk studi Indonesia-Malaysia. Dalam kolokium itu juga diundang perwakilan sarjana Indonesia. Bisa dikatakan dengan tegas bahwa hubungan Indonesia-Rusia sangat penting dan, lepas dari pengalaman masa lalu, Indonesia dan Rusia saat ini memiliki berbagai pengalaman yang serupa: perjalanan sejarahnya, kesulitan pembangunan sosial ekonominya, juga problem pembentukan masyarakat demokratis menggantikan pemerintahan otoriter, serta pentingnya peran hubungan antar-agama dan antarkelompok.

Rusia, seperti Indonesia, adalah negara multi-agama (Kristen, Islam, dan Buddha). Dengan banyak kesamaan itu, dialog di antara kedua negara yang lebih serius, lebih komprehensif, menjadi suatu keharusan. Kedua bangsa ini memiliki banyak hal yang bisa dibicarakan, dan pertukaran ide di antara kedua bangsa ini akan sangat berharga dan bisa memberikan inspirasi bagi keduanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *