“Paralogi”: Satu Residu yang Tersisa

Edy A Effendi
Kompas, 21 Maret 2010

Kenyataan sastra hari ini, mau tak mau, harus dilihat dan dipandang dalam prinsip-prinsip paralogi. Satu prinsip atau kaidah yang mendedahkan keberagaman realitas, unsur-unsur, dan ruang permainan dengan logikanya masing-masing, tanpa harus saling menindas atau mengkerangkeng satu dengan yang lain. Para cerdik pandai melihat realitas ini, ibarat permainan catur. Setiap bidak memiliki rule of game dan kehendak sendiri tanpa harus saling menindas bidak-bidak lain. Dalam paralogi, imajinasi merupakan kekuatan atau daya yang penting.

Paralogi tidak dibangun atas dasar kesepakatan melalui proses yang berkesinambungan dengan aturan main yang ada, melainkan melalui apa yang disebut Jean Francois Lyotard sebagai dissensus yang tidak selalu berkesinambungan. Paralogi juga tidak dibangun sepenuhnya atas penemuan-penemuan baru, melainkan berupa kemampuan menggunakan yang apa yang sudah ada, sudah tersedia dengan cara-cara baru.

Tentu saja, niatan melihat dan memandang sastra dalam bingkai kaidah paralogi ini, berangkat dari lahirnya beragam produk sastra dewasa ini yang menyodorkan berbagai bentuk kreatif dengan cara tutur yang berbeda, dengan konvensi yang berbeda dan dengan gairah kreativitas yang menyebar ke segala arah.

Pada tataran ini, Susan Sontag, kritikus seni, melihat lahirnya beragam realitas kreatif merupakan indikasi lahirnya sensibilitas baru: sebuah kesadaran akan kemajemukan, bermain dan menikmati realitas secara bersama-sama, tanpa harus membusungkan dada untuk selalu berada dalam garda depan atau menaklukan realitas lain.

Pikiran Susan Sontag soal sensibilitas baru itu, sejatinya sebagai cara merayakan dan merespon hadirnya kemajuan teknologi sekaligus meruntuhkan prinsip-prinsip kesatuan ontologis yang sudah tak relevan lagi dalam traktat konstelasi penciptaan dewasa ini. Sebuah cara yang memberi kabar, bahwa kekuasaan telah terbagi-bagi dan tersebar ke berbagai arah, ke berbagai ruang dan membuka pintu demokratisasi teknologi. Karena itu, kaidah-kaidah paralogi layak dikedepankan agar ruang keberagaman realitas, unsur-unsur, dan ruang permainan dengan logikanya masing-masing, dapat berdiri tegak tanpa harus berpusat pada satu titik legitimasi.

Dalam lajur pikiran seperti ini, tentu saja didorong cara kerja Lyotard, bahwa dalam dunia yang sangat dipengaruhi kemajuan teknologi, prinsip kesatuan ontologis sudah tidak relevan lagi. Lebih jauh filsuf Prancis itu bergumam bahwa prinsip-prinsip yang menegakkan modernisme: rasio, ego, ide absolut, totalitas, teleologi, oposisi biner, subjek, kemajuan sejarah linear yang disebutnya narasi-narasi agung itu, telah kehilangan legitimasinya. Kisah-kisah agung modernisme itu, hanyalah topeng yang bopeng, mistifikasi yang bersifat ideologis, eksploitatif, dominatif dan hanya menghuni ruang-ruang semu.

Maka tak perlu memaksakan kehendak agar karya-karya sastra Indonesia melirik atau menaruh subjek uang dalam ruang-ruang kreatif. Apalagi seorang Bandung Mawardi berkeluh kesah (Uang, Modernitas dan Tafsir Sastra, Kompas, 7/3) bahwa ?kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra. Uang tentu jadi perkara besar dalam biografi manusia-manusia Indonesia ketika dengan gairah atau gerah tumbuh dalam arus dan alur modernitas pada abad XX.? Memang, jika kita mengikuti jejak pikiran yang ditebar Jean Baudrillard, kebudayaan dewasa ini adalah kebudayaan uang, excremental culture. Uang menempati peran penting dalam masyarakat postmodern. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, fungsi dan makna uang, tak sekadar alat-tukar, lebih dari itu merupakan simbol, tanda dan motif utama berlangsungnya kebudayaan. Kebudayaan masa kini, adalah sebuah dunia simulasi, dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda, citra dan fakta melalui produksi maupun reporduksi secara tumpang tindih dan saling berkelindan.

Persoalan sastra hari ini bukan sekadar pada urusan tema, apalagi menggangap kesanggupan untuk menggarap tema uang mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra. Bukankah sebuah karya tidak saja didekati dari kerangka tema secara makro, tapi seharusnya dikaji lebih subtil, detail, dan terstruktur ?darah daging? karya itu sendiri? Tentu saja, tema seharusnya dibangun sebagai sarana untuk memproduksi makna-makna dan gagasan-gagasan dalam sebuah karya. Sebuah reproduksi makna dan gagasan yang dibingkai kemauan untuk mengubah kondisi yang stagnan dalam struktur masyarakat kita yang heterogen.

Salah baca

Kehendak Bandung soal tema uang, ternyata disalahpahmi Binhad Nurrohmat dalam . Mata Sastra Tak Melirik Mata Uang? (Kompas, 14/3). Mawardi menginginkan tema uang menjadi isu sentral dalam sebuah penceritaan karya. Tema tak sekadar tempelan atau sampiran sebuah cerita. Tapi tema menjadi bagian integral dalam cerita itu sendiri. Tengoklah pikiran Mawardi yang mencoba menyisir soal perlunya tema dalam karya sastra. Ia melihat penggarapan sastra dengan tema uang tentu bisa jadi dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia terhadap uang sebagai pamrih untuk hidup atau menjadi modern.

Menjadi sebuah dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia , tentu tak sekadar mengusung tema uang menjadi sub ordinat dalam penggarapan sebuah kisah. Di sinilah letak kekeliruan Nurrohmat mengambil dua contoh kasus isu uang dari dua contoh yang ia pungut. Novel Telegram (1972) Putu Wijaya dan Pasar (1995) Kuntowijoyo yang dijadikan contoh kuasa uang Nurrohmat, bukan menjadikan tema uang sebagai pijakan dasar dalam cerita. Telegram yang menjadi pemenang lomba menulis roman Panitia Tahun Buku Internasional 1972, dianggap novel yang berhasil meletakkan corak baru dalam wajah sastra Indonesia pada waktu itu.

Boen S Oemarjati membaca Telegram semacam collage beraneka ragam peristiwa sebagaimana termaktub dalam mata pikiran dan si penerima telegram. Atau A Teeuw mengungkap novel Telegram cukup berhasil membongkar berbagai pernik persoalan hidup manusia: paradoks manusia modern dalam keterasingan hidup. Telegram mencoba memotret arus kesadaran manusia (stream of consciousness). Kisah yang merinci sosok lelaki yang selalu memandang buruk isi telegram. Telegram dalam konteks novel Telegram selalu berisikan hal-hal yang menakutkan, kecemasan dan ketidakpastian.

Putu sendiri berujar ?dalam Telegram saya numpang bertanya lewat tokoh utamanya. Apakah yang berhak bercerita itu hanya para pahlawan dengan tindakan-tindakan besarnya. Apa orang yang bodoh dan tidak tahu, tidak boleh ikut bicara membagikan pikiran-pikirannya? Dalam sebuah telegram, tokoh utama mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya dalam bahasa Arab. Apakah saya harus menunda tulisan itu sampai saya dapat menuliskan dalam bahasa Arab apa yang diucapkan oleh yang nelpon?? Demikian juga dalam novel Pasar. Uang bukan menjadi tema sentral dalam pengisahan karena sejatinya dua tokoh utama dalam novel Pasar, Pak Mantri Pasar dan Kasan Ngali, representasi nilai halus-kasar, pengejewantahan dari dua kultur manusia yang berbeda latar belakang. Pasar mengusung tema besar soal harmoni dan disharmoni dalam kehidupan publik.

Tindakan tafsir sastra, membutuhkan piranti konseptual yang lebih argumentatif, tak sekadar mencuplik petikan sebuah teks tanpa mensetubuhi darah daging teks itu sendiri. Hal ini disebabkan karena bahasa dalam sastra, mau tak mau, mengawinkan proyek imajinasi dengan realitas keseharian. Proyek perkawinan antara imajinasi dan realitas keseharian dalam kutub sastra inilah, yang seringkali meramaikan pertikaian pemikiran sastra ke dalam ruang-ruang publik. Sastra dewasa ini, sudah seharusnya dilihat dan dipandang dengan prinsip-prinsip paralogi. Catatan ini sekadar bahan tambahan bagi Mawardi dan pelajaran tambahan bagi mahasiswa baru: Binhad Nurrohmat.

Edy A Effendi, seorang penyair.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*