Berdirinya TIM, Keinginan Bang Ali Mewadahi Kreativitas Seniman

Sihar Ramses Simatupang

http://www.sinarharapan.co.id/

Tanggal 10 November, 33 tahun lalu, di sebuah tempat seluas kurang lebih 8 hektare, dulu masih bernama Jalan Raden Saleh dan kemudian dijadikan kebun Binatang Cikini (sebelum pindah ke Ragunan) akhirnya menjadi sejarah sebuah gedung pusat kesenian. Inilah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Pasalnya, tempat nongkrongnya seniman di Pasar Senen atau Balai Budaya tak bisa dipakai lagi, karena perpecahan ideologi politik. Sejak itu, seniman pun kehilangan tempat ?pertemuan?.

Oleh Gubernur Ali Sadikin, para seniman ?dikumpulkan? di sebuah tempat dengan satu tendensi: memajukan seni dan kebudayaan. Bang Ali lantas memerintahkan stafnya untuk mencari sebuah kawasan yang ideal sebagai Pusat Kesenian Jakarta. Akhirnya, ditemukan sebuah areal di Jl. Cikin 73, Jakarta.

Setelah tempat ditemukan, pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada seniman untuk memikirkan perencanaan dan konsep selanjutnya. Pada periode 1968, secara intens terjadi pertukaran pikiran soal seni dan budaya terjadi di Kantor Harian KAMI, tempat Gunawan Mohamad bekerja dan biasa disinggahi seniman bersama budayawan lain dan aktivis 66. Juga pertemuan selanjutnya di pondokan Salim Said (wartawan Angkatan Bersenjata) Jl. Matraman Raya 51, yang juga sering dikunjungi oleh Arifin C. Noer (Almarhum dulu wartawan di Pelopor Baru), Gunawan Mohamad dan Ed Zulverdi (keduanya wartawan di harian KAMI) juga Sukardjasman (wartawan Sinar Harapan). Saat itu, konsep semuanya diketik oleh Arifin C. Noer di kamar kerja Salim Said dan diserahkan oleh Christianto Wibisono kepada Bang Ali.

?Pemda DKI akan menyediakan sarana, dana dan fasilitas, tapi pengelolaan sepenuhnya dilakukan oleh seniman dan budayawan,? kata Bang Ali. Dibentuklah tim formatur yang melibatkan tujuh seniman dan budayawan senior yaitu: Brigjen Rudy Pirngadie (musikus), D. Djajakusuma (sutradara film dan teater), Zulharman Said (wartawan), Muchtar Lubis (sastrawan dan wartawan Indonesia Raya), Asrul Sani (insan film), Usmar Ismail (produser film) dan Gajus Siagian (sastrawan dan sutradara film).

Dari tim formatur, pada 24 Mei 1968, muncullah usulan pada Gubernur Ali Sadikin untuk membentuk Badan Pembina Kebudayaan. Nama-nama seniman yang dipilih sebanyak 19 orang antara lain: Trisno Soemardjo (pelukis), Arief Budiman (sastrawan), Sardono W. Kusumo (penata tari), Zaini (pelukis), Binsar Sitompul (musikus), Teguh Karya (sutradara), Gunawan Mohamad (sastrawan), Taufiq Ismail (penyair), Pramana Padmodarmaya (pemain teater), Ayip Rosidi (penulis), H.B. Jassin (kritikus sastra), Misbach Yusa Biran (sutradara film dan sineas). Pada 27 Mei 1968, Badan Pembina Kebudayaan itu masih ditambah dengan beberapa nama yaitu Oesman Effendi, D. Djajakusuma, Asrul Sani, Moh. Amir Sutaarga, D.A. Peransi dan Sjuman Djaja.

Sebagai Ketua DKJ pertama yang memimpin 25 orang itu dipilihlah Trisno Soemardjo, yang menurut Arief Budiman, sudah lama menginginkan berdirinya sebuah pusat kesenian. Menurut Arief, Trisno adalah orang yang berwawasan luas, walau agak diragukan dalam hal administrasi kesenian.

Bagi Trisno Sumardjo (berdasarkan catatan dari Ramadhan KH) sebagai Ketua DKJ pengangkatan itu berat, karena bukan hanya dipertanggungjawabkan pada Gubernur DKI dan DPRD GR, tetapi juga kepada seluruh rakyat Jakarta. Hampir dua puluh tahun lebih para seniman menginginkannya. Namun dalam pendirian itu, ternyata masih ada kontroversi terdengar dari seniman kiri yang tak digubris oleh para seniman dan Bang Ali. Lembaga seni harus didirikan, sekalipun di tengah kontroversi. Desakan dari seniman untuk penentuan para anggota dan pengurus DKJ, Bang Ali akhirnya pada Oktober 1973 membentuk Akademi Jakarta.

Menurut otobiografi berjudul Bang Ali, 1966-1977 yang disusun oleh Ramadhan KH, DKJ pernah menyampaikan buah pikiran orang terkenal dari Prancis, Andre Malraux tentang pembangunan pusat kebudayaan, yang mengatakan pentingnya dana untuk menyokong kesenian. Namun Andre menambahkan, bahwa kebebasan juga menjadi faktor lain yang utama. Setelah itu, untuk juga dibangun oleh Ali Sadikin juga Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) yang kemudian bernama TIM. Diberi nama Taman Ismail Marzuki untuk memberikan penghargaan kepada seniman almarhum Ismail Marzuki. Putra Jakarta, komponis dan pejuang kemerdekaan.

Tanggal keramat peresmian TIM adalah 10 November 1968, saat itu Bang Ali membuat pertunjukan kesenian dengan label Pesta Seni Jakarta yang diadakan selama tujuh hari lamanya dengan berbagai acara mulai dari: drama, gending Sunda, pameran dokumentasi kesusasteraan Indonesia, pameran lukisan anak, konser solis Iravati Sudiarso dan Rudy Laban, Orkes Simfoni Jakarta di bawah pimpinan Adidharma. Tarian mulai dari tari balet, pantomim Jerman, diskusi bahasa Indonesia, lenong Nyai Dasima dan tari Tapanuli.

Kemudian disusul ide lain dari para seniman yang kemudian disanggupi oleh Bang Ali, sehingga pada tahun 1970, berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang membentuk akademi buat para seniman muda dengan lima akademi yang ada: akademi tari, akademi teater, akademi musik, akademi seni rupa, dan akademi sinematografi. (srs)

Leave a reply