Eksotika Kerbau Rawa di Danau Panggang

Raudal Tanjung Banua
http://www.tempointeraktif.com/

Nagara-Daha unik, kaya pesona, dan memiliki banyak peninggalan bersejarah. Kota kecil di atas rawa itu merupakan pertemuan dua sungai besar di Kalimantan Selatan, Sungai Nagara dan Alai. Dulu Nagara-Daha pusat awal Kerajaan Banjar dengan patih terkenal Lambung Mangkurat. Posisinya sangat strategis; tempat pelintasan kapal-kapal dari kuala ke pedalaman. Kedua sungai ini juga bertemu langsung dengan Sungai Kapuas yang terentang sampai Kalimantan Tengah dan Sungai Barito yang melewati Kota Banjarmasin.

Konon Putri Junjung Buih, permaisuri Pangeran Suryanata, raja termasyhur orang Banjar, dipercaya muncul di tengah arus pertemuan itu.

Ke kota rawa itulah saya berkunjung pada pertengahan Juni 2009 lalu, dengan hasrat mula-mula ingin menyaksikan kerbau kalang. Terletak 35 kilometer barat daya Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), atau 156 kilometer dari Banjamasin; Nagara-Daha memang dikenal dengan keunikan kerbau rawa atau lazim disebut kerbau kalang.

Brosur yang diberikan Boerhanuddin Soebly, Kepala Seksi Pariwisata-Budaya Kabupaten HSS, menyebutkan bahwa kerbau kalang (kandang) hidup di tengah rawa Danau Panggang, tepatnya di Desa Pandak Daun, 4 kilometer dari Nagara. Kandangnya dari kayu ulin, menyerupai panggung setinggi 2-4 meter, dan penggembalanya yang berperahu tinggal di rumah bertiang tinggi di samping kandang. Kerbau-kerbau di sini pintar berenang, tidak pernah diikat tali, pagi hari dibiarkan lepas bebas mencari makan ke tengah rawa, sore harinya pulang sendiri ke kandang.

Hmm…, tak sabar rasanya untuk sampai ke sana. Tapi tidak usah terlalu bergegas. Mobil Opel berbadan lebar dan beroda besar yang dikemudikan pemiliknya, Hajriansyah, kurang leluasa berlari di jalan darat ke Nagara-Daha yang terbilang sempit. Apalagi ketika harus melintasi jembatan titian kayu.

Namun, sepanjang perjalanan, suguhan pemandangan alam memberi sensasi tersendiri. Hamparan rawa tak bertepi. Rumah-rumah penduduk dari kayu bertiang tinggi ramai-ramai merapat ke pinggir jalan. Di depan rumah, penduduk menjemur kayu bakar dan ikan, badan jalan kian sempit.

?Masyarakat di sini hidup dari hasil ikan air tawar, sebagian rawa kering ditanami semangka, dan ada juga yang mulai menanam sawit,? kata sahabat saya, Hajriansyah, yang ayahnya berasal dari Nagara.

Setelah hampir satu jam melaju di tengah ribuan hektare rawa gambut, sampailah kami di wilayah Nagara-Daha.

PerjalananOrang-orang membuat tembikar. Ya, di samping rumah-rumah kayu sederhana, di kiri-kanan jalan, saya saksikan banyak cerobong mengepulkan asap pembakaran. Hasilnya, bermacam jenis tembikar tergelar. Mulai dari pernik-pernik seperti tempat lilin dan asbak; imitasi buah-buahan; sampai pot bunga, tungku, poci, hingga dudukan toilet.

?Daerah ini terkenal pula tembikarnya,? tutur Hajriansyah. ?Juga penghasil produk rumah tangga seperti panci dan dandang, bahkan baling-baling kapal. Orang sini banyak punya kapal dagang yang berdagang sampai pelosok Kalimantan, dan baru akan pulang saat Ramadan. Oya, para pengusaha kayu yang menguasai pasar Kalimantan hingga Jawa kebanyakan juga orang sini, tepatnya Desa Baruh Kambang.?

Saya manggut-manggut takjub, sambil membatin, itulah konsekuensi logis dari alam rawa yang keras, setiap orang harus kreatif untuk eksis.

Kami memasuki jembatan baja di atas Sungai Alai. Hajrin memperlambat laju mobil dan kembali cerita, ?Ini jembatan Andi Tajang, julak-ku (paman) yang tewas melawan Belanda. Beliau orang kepercayaan Hasan Basri, pemimpin pejuang Kalsel.?

Kembali saya manggut-manggut, kali ini sambil melayangkan pandangan ke ujung jembatan. Ada kubah masjid berwarna cokelat muda, besar dan cantik di ujung sana. Setelah sampai di seberang, saat itulah kami sampai ke tengah kota kecil di atas rawa, Nagara-Daha! Masjid Jami? Ibrahim yang bersejarah langsung menyambut dengan keindahannya. Masjid yang sudah dipugar tersebut merupakan peninggalan Habib Ibrahim, Tuan Guru dari abad ke-17.

Siang itu akhirnya kami istirahat di rumah keluarga Hajriansyah di Baruh Kambang.

***

Berkunjung ke Danau Panggang menyaksikan kerbau kalang memang disarankan sore hari, saat kerbau-kerbau kembali ke kandang dan cahaya matahari mewarnai hamparan rawa.

Begitulah, sore hari sehabis azar, kami bergegas ke dermaga di tepian Sungai Nagara. Di sana sudah menunggu klotok carteran diawaki sang pemilik dan seorang anak buah kapal. Suasana menjadi meriah ketika anak-anak kampung Baruh Kambang berloncatan ke atas kapal minta ikut ke Danau Panggang. Kami pun beramai-ramai menyusur ke arah hulu Sungai Nagara, menuju Desa Pandak Daun.

Duduk di atas atap kapal, pemandangan jadi bebas hambatan. Kapal-kapal sandar, rumah-rumah bertiang tinggi, jejeran lanting (rumah apung yang bisa berpindah tempat) dan dermaga kecil tempat mandi (lengkap dengan jamban terapungnya) berjejer di sepanjang sungai. Perempuan mandi dan mencuci, bocah-bocah berloncatan riang ke air keruh, dan nelayan berperahu pulang menjala ikan. Rambu-rambu sungai banyak mewarnai tepian, entah apa maknanya. Sungguh pemandangan yang tak biasa bagi saya yang jauh dari tradisi sungai besar.

Sungai Nagara sendiri berwarna kuning-cokelat, mulai surut seiring datangnya musim kemarau. Enceng gondok yang hanyut dari rawa-rawa nyaris memenuhi badan sungai, cukup membahayakan baling-baling kapal.

Di atas kapal, Igau, anak kelas enam, bercerita, pada musim kemarau kapal harus lebih hati-hati supaya tak kandas. Simur, sahabat Igau, menambahkan, musim kemarau rawa-rawa juga susah dilayari. Amarta, murid Tsanawiyah Daha Utara, berbinar matanya menyebut Ramadan bakal tiba. Kenapa? Ternyata ayahnya sedang berdagang ke pedalaman Kapuas, dan akan pulang pada bulan Ramadan.

Jika masa itu tiba, sungai akan penuh dengan kapal-kapal kayu besar yang sandar sebulan penuh, untuk angkat jangkar lagi sepuluh atau sebelas bulan lamanya. Ayah Amarta mungkin boleh dikatakan pedagang terakhir yang masih menjalani tradisi itu. Menurut Hajrin, yang ayahnya dulu juga menekuni profesi ini, sekarang tidak sebanyak dulu orang berdagang dengan kapal, sebab jalan darat sudah dibuka ke mana-mana, dan itu dianggap lebih cepat.

Setelah setengah jam berlayar, kapal berbelok ke kiri memasuki anak sungai yang terentang lurus membelah rawa gambut. Lajunya lebih lambat, sebab air mulai dangkal. Saya mengamati ribuan hektare rawa bervegetasi rumputan berbagai jenis. Ternyata yang disebut ?danau? Panggang adalah rawa gambut yang luas ini, bukan danau seperti yang saya bayangkan sebelumnya. ?Danau? ini menghampar sampai ke Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara hingga ke Kapuas Hulu.

Selain kerbau rawa, Nagara juga terkenal ikan air tawarnya. Tak heran, di dalam rawa sangat padat aktivitas nelayan air tawar. Dengan jukung bermesin tempel atau berkayuh, mereka menyusuri aliran air yang berupa sungai kecil berkelok-kelok, memasuki jauh ke tengah rawa dan bertemu dengan aliran lain yang membentuk jalanan penuh simpang. Mereka menangkap ikan dengan jala, bubu, atau pancing. Hasilnya berjenis ikan air tawar, mulai haruan (ikan gabus), pepuyu, puyau, limbat, sepat, dan udang.

Lalu di mana kerbau kalang? Saya sudah tak sabar. ?Itu kandangnya,? tunjuk Acun, anak buah kapal. Saya mengikuti telunjuk Acun. Di kejauhan, mulai terlihat beberapa titik bangunan yang meninggi di atas air, berpencar di keluasan rawa. Kami memutuskan menuju ke satu titik. Kecil dan terpencil. Namun alur air ke sana ternyata dangkal.

Acun segera mengukur kedalaman air dengan galah bambu dan memberi isyarat kepada nakhoda kapal. Ia pun membuka baju dan celana panjangnya, lalu jadi navigator dalam lumpur.

Setelah susah-payah, kami berhasil mendekati lokasi kandang. Dua buah kandang berdekatan, dibangun dari kayu dan papan yang tebal. Sangat kokoh. Maklum, tiangnya bersusun, bersilangan, beralaskan kayu gelam yang makin kuat bila terendam air atau lumpur. Di sisi kandang berdiri rumah penjaga atau penggembalanya.

Acun segera melompat ke kandang, menambatkan tali kapal. Saya mengikutinya dengan takjub. Betapa di tengah rawa gambut tak bertepi ini masih ada kehidupan.

Saya sapa keluarga Julak Ahim, 47 tahun, yang tinggal di rumah jaga bersama istri, sementara tiga anaknya menetap di kampung Pandak. Sesekali mereka berkumpul di Pandak atau di rumah jaga. Kebanyakan penggembala (lebih tepat penjaga) kerbau kalang memang hidup seperti Julak Ahim. Mereka bukan pemilik. Mereka hanya digaji oleh pemilik kerbau yang tinggal di Nagara-Daha atau daerah sekitar. Nah, karena kerbau-kerbau itu sejatinya tak usah digembalakan, para penjaga tetap bisa menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan air tawar.

Ah, hampir saja saya lupa dengan kerbau-kerbau itu! Di mana mereka? O, ternyata ada dua ekor induk kerbau memamah di dalam kandang yang sengaja dipalang. ?Baru saja melahirkan,? kata sang Julak. Kerbau yang melahirkan memang dikurung sebab anak-anaknya perlu menyusu. Di dalam rawa tentu saja separoh tubuhnya terendam air atau lumpur sehingga tak mungkin anak-anaknya menyusu.

Saya mulai memotret. Dua ekor anak kerbau keluar dengan tampang lucu. Bulu-bulunya masih kelabu. Meski hidup terpencil di tengah rawa, ternyata mereka cukup jinak. Saya menggosok hidungnya bergantian, dan saat itulah sang induk menghentak dalam kurungan. Saya kaget. Apalagi ia mendengus dan mempertontonkan tanduknya yang lurus panjang. ?Tenang saja, palangnya kuat,? kata Julak lagi. ?Itu, ada kerbau pulang!? tiba-tiba si Igau berteriak dari atas atap kapal.

Di kejauhan sebuah titik hitam bergerak, lambat-laun mendekat. Ia mengoek di sepanjang jalur air yang dilewatinya, tentu sambil berenang. Suara ngoeknya parau dan sumbang, membuat anak-anak di kapal terpingkal-pingkal. ?Itu pasti si Midah. Sudah tiga hari anaknya madam ke kandang seberang,? kata sang penjaga. Ia mengakui memberi nama beberapa ekor kerbau gembalaannya secara iseng.

Madam berarti ?merantau? dalam bahasa Banjar, tapi jelas bukan itu yang dia maksud. Ia hanya iseng mempelesetkan menjadi pindahnya seekor kerbau ke kandang orang lain. Hal biasa di padang rawa gembala ini, meski nanti ternak yang bercampur akan pulang dengan sendirinya. Lalu bagaimana si penggembala menandai kerbau miliknya di tengah jubelan kerbau?

?Mereka yang mengenali kita, dengan mendongakkan kepala dan mengerjap-ngerjapkan mata,? kata Julak Ahim, tertawa. ?Tidak. Sejak kecil di telinganya ada keratan yang berbeda setiap kalang,? akunya kemudian. Ia lalu meninggalkan kami, dan dengan gesit menghalau si Midah yang enak-enakkan berkubang di bawah tangga kandang. Kemudian, dari atas perahu, ia menggiring induk kerbau besar itu naik ke kandang sebelah.

Hari terus beranjak sore seiring makin banyaknya titik-titik hitam yang bergerak dari kejauhan. Cahaya merah matahari yang bersiap tenggelam menyepuh permukaan rawa yang datar jadi berkilauan. Sunset rawa, lain sekali rasanya! Rumput-rumput menggeriap mandi cahaya, menyepuh juga punggung kerbau yang perlahan bergerak ke arah kandang. Makin lama makin banyak, dan gerak mereka tampak ritmis, pelan.

Sesekali perahu nelayan lewat, muncul begitu saja dari balik semak rawa, juga menuju pulang. Tangkai pancing mereka yang panjang seperti menggores bola bulat matahari. Barisan belibis terbang ke balik cakrawala. Sungguh pemandangan luar biasa di tengah kesenyapan rawa raya.

Kami pun mesti putar haluan, khawatir hari jadi gelap dan kapal bisa kandas di alur yang dangkal. Tapi, sepenggal kehidupan di tengah gambut dengan kerbau rawanya telah memperkaya sisi batin.

Berwisata ke Daerah Rawa

Berwisata ke daerah rawa, boleh dikatakan kita tidak punya tempat pemberhentian yang cukup selain harus tetap di atas kapal atau perahu. Berdasarkan pengalaman singkat saya ke Danau Panggang, ada beberapa catatan yang mungkin bermanfaat:

1. Pada musim kemarau, lebih baik mencarter jukung (perahu bermesin tempel) daripada klotok yang ukurannya jauh lebih besar. Sebab, jukung bisa lebih leluasa masuk ke berbagai alur sehingga gampang mencapai kandang. Di atas klotok pemandangan lebih terbuka dan penumpangnya lebih banyak sehingga cocok untuk keluarga. Atau, tidak ada salahnya menyewa keduanya sekaligus; klotok biarkan sandar di alur besar, dan jukung berfungsi layaknya sekoci mengantar Anda di alur kecil.
2. Jangan hanya kamera, siapkan juga teropong; pemandangan dijamin lebih seru!
3. Siapkan makanan dan camilan Anda, sewaktu-waktu Anda akan lapar. Ingat, tidak ada warung di sini, dan lagi pula bukankah sangat nikmat makan di alam terbuka?
4. Pakailah jaket atau sweeter, sebab angin di tengah rawa cukup santer, matahari juga terik. Sebaliknya, pakailah celana pendek supaya lebih leluasa bergerak.
5. Jangan lupa bawalah pancing, sebab Danau Panggang bukan hanya kerbau rawa, juga ikan rawanya. Memancing merupakan aktivitas mengasyikkan sembari menunggu matahari turun perlahan?saat yang tepat menyaksikan kerbau pulang ke kandang.

*) Penikmat perjalanan, tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *