Johann Sebastian Bach (1685-1750)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=655

“Bach adalah semata-mata musik. Tiada literatur, tiada pernyataan kehidupan sendiri yang datang mengurangi kemurnian dari bunyi. Ia sekaligus sintese dari yang mendahuluinya, dan menjadi titik permulaan dari sesudahnya. Sekarang pun masih ada pengaruhnya terhadap musik modern. Kita bisa temukan dia lagi sampai ke konsert-konsert Stravinski dan Poulenc. Bach harus acap kali dibaca dan mungkin sekali orang belum bisa membukakan semua keindahan dari musiknya.” {Petikan pendapat J. Van Ackere, di buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}.

Sudah lama diriku tak mendengar lantunan musik klasik, mungkin tiga bulanan lebih. Kini kumulai menyimaknya kembali, melalui komposisi dari musiknya komponis Bach.

Serasa mendapati kesegaran baru, keremajaan anyar datang gemilang menghampiriku, serupa ribuan kecupan bunga sehabis hujan melanda.

Demikian para seniman memanjakan kaum penikmatnya untuk menyusuri alunan nada; apakah tarian irama, gemulainya kalimah, semua menghanyutkan jejiwa perasaan sesama.

Selaksa alam memancarkan pesona tak terbilang jumlahnya, ketika cahaya surya menerobos cela-cela dedaunan. Sisi dimana sukma kita dipastikan luruh di kedalamannya.

Seperti penyair mengembara ke negeri jauh dari tanah kelahiran, kaki-kakinya merantau kala memasuki musim kemarau. Daun-daun rontok diterpa terik, angin kering mencekik tenggorokan.

Lalu di suatu senja memberkah, ditemukan sungai bening gemerincing dari pegunungan hijau. Matanya berkaca-kaca, hati jutaan haru, lantas menceburkan tubuhnya dengan girang luar biasa, seakan lepas semua yang pernah dituliskannya.

Kegetiran teguh menemukan warna pembeda. Yang mengikuti saluran arus melodi bathinnya mengembarai nasib seolah tiada tentu arah, terbuai keindahan mewah. Air sungai telah menguapkan kegundahan, seumpama bocah gembira mendapati mainannya.

Namun semua harus dituntaskan, keluar sambil menginsafi kerentanan hati kesilauan pandang. Dan menancapkan ulang niatan, agar tak lebur yang mengayomi, dalam memekarkan denyutan nafas kehidupan.

Citraan musik Bach sangat terang, kalau tak dikatakan bening berkilauan. Lampu kristal menghiasi rumah dalam konstruksi modern, atau istana putri salju yang dikaruniahi hujan rintikan gerimis menyusut habis menakjubkan.

Gairah kelopak mawar, harum semerbak melati menebarkan bau-bau kasmaran. Dan terlihat kamar pengantin berhias kain halus memutih melambai. Sedangkan kecupan tipis melebihi kilatan petir, yang membuat tak sadarkan diri.

Hasrat lembut keselarasan damai kesucian kalbu ketampanan fikiran, adalah kekayaan tersendiri bagi tabah menuntun pengetahuan ke hari depan cemerlang. Musik paling khidmat serasi seimbangkan nada-nada naik turunnya hawa hayati demi bangunan kesetiaan.

Johann Sebastian Bach, komponis lahir di Eisenach, Jerman, 21 Maret 1685, yang meninggal 28 Juli 1750. Menggubah musik alat organ, harpsichord, clavichord, juga orkestra. Karya terkenalnya “Brandenburg Concerto.”

Tahun 1703, berhasil memenangkan perlombaan menjadi pemain organ di gereja Santo Blasius, Mulhausen, terletak sekitar 55 kilometer dari Arnstatdt. Berjumpa dan tertarik dengan Maria Barbara, yang ternyata sepupunya, mereka menikah di saat itu pula.

Belajar komposisi kepada komponis George Boehm (1661-1773). Menemukan puncaknya sendiri, kedinamisan jeli atas pemikiran teliti dengan gubahan sangat menarik, dan telaten menyuguhkan ritme liris, sungguh kefahaman ini menjulang.

Untuk menuntaskan perihal Bach, marilah menyempatkan mendengar gubahan komposisi “Brandenburg Concerto,” dikala dirinya beristri dengan Anna Magdalena Wulken, yang banyak memberikan kebahagiaan, waktu itulah puncak kejenialannya.

Menurut J. Van Ackere, “konsert-konsert Brandenburg merupakan sebuah rentetan indah, sama kaya dan bercoraknya seperti kesembilan simfoni Beethoven, atau syair-syair simfoni Liszt.”

Akhir hidupnya menderita kebutaan, seperti yang dialami komponis Frederick Delius (1862-1934), lahir di Bradford, Yorkshire, Inggris, orang tuanya berasal Bielefeld, Jerman juga. Di masa kebutaan, Bach menggubah Die Kunst der Fugue 13 (BWV 1080), komposisi berjenis-jenis variasi, bentuk dari sebuah tema fuga. Menulis sambil berbaring di ranjang, mengeja not-not yang mengisari kepalanya pada istri tercinta. Ia meninggal dunia dan karya itu tak sempat diselesaikannya.

Tidakkah tampak pada pancaran musik serta hidupnya, ia tergolong penyair musik waras alias tak ugal-ugalan, meskipun mendapati ketenaran. Yang terpantul betapa setianya sang istri, walau lika-liku hayatnya sepenuh bilangan warna.

Yang digagasnya keceriahan mendamaikan jiwa-jiwa dalam tarian. Semua sudut terisi pengertian bayangan mengabadi, arus tanpa kesombongan gelombang terlalu. Sederhana, Ya kesederhanaan itulah bahasa paling tepat baginya, yang tak luput dari keindahan akan hasrat penciptaan.

Irama musik digubahnya sangat merancak sebenang-benang wewarna berayun-ayun, bergelayutan menggoda. Dirinya ditarik-tarik menerima kecupan maut berasa puas. Di sisi tertentu, bayangan kekasihnya bersama arak-arakan para bidadari muda membawa buah-buahan.

Mata-mata jelita menggugah nafas-nafas menyerap kedalaman nikmat. Kaki-kaki tergesa, jemari cekatan selaras perhitungan, melewati jembatan hati teriris di linggiran jurang pinggir kenangan. Kelezatan itu seakan sirna kalau tidak meneguk ulang, mengakrapi damainya kesetiaan menggumuli Yang Asih.

Dari uraian di atas dapat dipetik, kepribadiannya sederhana nan dinamis, kemanjaan menarik energi lanjut, keceriahan meremaja. Kesahajaan langit senja lebih dekat, malam akrab gemintang, mendung putih yang pernah kita kenal.

Tiada kegundahan di seberang sana, jiwa patriotik pun tak tampak, apalagi dendam tak mungkin ada. Maka benarlah ungkapkan J. Van Ackere; “Bach semata-mata musik.” Jiwanya terus menari-nari selukisan petikan gerimis di lesung pipit sungai. Keriangan terpancar alami mengikuti alur naluri nan halus permai, mengupas soal-soal beruraian menakjubkan.

Yakni keseimbangan mendewasa, ketulusan di atas jarak kepasrahan tanpa keangkuhan yang dapat merusak kejadian sebelumnya. Melengkapi sifat dengan perbaikan diri, mengisi nafas menghidupi, menyeruak kekuncupan mekar, nan tiada perlu melukai kelopak-kelopak merekah yang termiliki.

Ia tak sekali dua kali mengatur nafas demi purnanya melodi menancapi sanubari, untuk landasan keharmonisan di muka bumi.

Tatkala mendendangkan detikan musik, selalu terseret arus kelentikannya sendiri, tidak mau lekas berhenti. Menggesek kemungkinan sejauh-jauhnya, tetapi tetap pada jangkauan kesadaran. Bunyi-bunyian tampak bersahabat menyebar, menemui ubun-ubun kematangan.

Denyutan menanjak memercikkan api kasih, berbangkitnya pesona sayang terdalam, yang masih di batas penalaran. Perhitungan selaras demi pengakhiran hatam, memuaskan segenap lelapisan pancaindra kenyangkan jiwa, selepas menghayati perolehan dalam memaknai hayat.

Jawa 21 Oktober 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*