Kelapa Lima

Berto Tukan
http://www.sinarharapan.co.id/

Membaui kembali aroma keringat kanak-kanak, kucoba kini. Mungkin ada sisa kenangan yang lupa diuapkan matahari dan dihanyutkan hujan. Sia-sia! Berapa sudah musim kering dan hujan yang tak kulalui di sini? Di mana teman-teman sepermainanku dulu? Di mana si Pedo dengan janji ceritera Kelapa Lima-nya?

***
Seperti biasa saat biji-biji mente ramai ditimbang, anak-anak asyik bermain lontar mente. Sebagaimana permainan-permainan lain yang menggunakan taruhan sebagai penyemangat, permainan ini punya dua konsekuensi; menang atau kalah. Kebetulan, saat itu aku dan Pedo kebagian pilihan kedua. Tentu saja kami masih ingin bermain. Selain permainan ini asyik, kearifan kanak-kanak kami menghendaki pembalasan atas kekalahan tadi.

?Lebih aman mencuri di sana, di ujung timur. Pada siang hari begini, pemilik kebun tidur di oring. Atau pergi mengambil belutu di pantai,? ujar Pedo.

?Hei setan-setan kecil. Jangan lari!? Lelaki tua itu keluar dari oring-nya dengan sebilah parang di tangan. Mungkin ia terbangun oleh suara berisik yang kami timbulkan. Kami langsung mengambil langkah seribu, tentu saja. Lari, dan terus berlari, tapi penjagal tua itu tetap menempel di belakang kami.

?Kita sembunyi saja di sana!? Usulku setelah melihat bagian pantai yang dipenuhi semak-semak, pohon kelapa, pohon waru, tampak liar dan sangat memungkinkan untuk sembunyi.

?Gila kau! Itu kan Kelapa Lima??

?Kelapa Lima? Ada apa di sana? Kenapa tidak bisa bersembunyi di sana??

?Ahh, akan kuceriterakan padamu nanti. Ayo lariiiiiiiii terus!? Di belakang kami, lelaki tua terus mengejar.

Hari sudah beranjak surut. Kami lolos dari kejaran lelaki tua. Tentu saja, kami harus pulang ke rumah.

***
Saat aku bingung hendak ngapain dalam kunjungan ini, Kelapa Lima memberi solusi. Adikku mengusulkan untuk berjalan-jalan saja ke tempat-tempat rekreasi pinggir pantai. Untuk apa? Aku sudah terlalu sering membayar beberapa rupiah untuk menikmati bau asin lautan, desiran angin, dan ombak. Di sini, di kota kecil ini, apakah harus aku membayar juga? Ingatan masa lalu, membantu memutuskan untuk berkunjung ke Kelapa Lima.?

Kelapa Lima tidak berubah di mataku. Aku mengikuti jalan setapak, masuk ke semak-semak, mengitari batang-batang kelapa yang menghitam termakan waktu. Sekilas mataku menangkap bayangan. Seseorang duduk bersandar pada batang kelapa. Aku mendekat. Lelaki tua sendirian. Matanya mandi di laut biru.

?Selamat siang, Bapa.?

?Siang, Nak.?

Aku duduk di sampingnya. Ia menawariku nawi tuak kecil. Kuteguk! Sejenak panas bersarang di dada. Kukembalikan! Ia teguk juga. Tetesan tuak putih mengunjungi jenggot dan kumis putihnya. Ia menyulut tembakau yang dibungkus daun lontar. Segerombolan asap putih, keluar dari mulutnya. Terbang ke laut. Asap berkeliling sebentar lalu menghilang disapu angin. Matanya terus terawang, seakan-akan asap itu berlarian ke laut, bercengkerama bersama biru, bertengger di putih pucuk gelombang kecil.

?Setiap hari Bapa sendirian di sini. Baru kamulah yang datang dan duduk di samping Bapa,? ucapnya tanpa ekspresi. ?Yah?Sejak peristiwa itu, tak ada orang yang datang ke sini??

?Peristiwa apa, Bapa?? Rasa ingin tahuku muncul tiba-tiba. Bagai membeberkan sebuah rahasia yang tak lagi penting, lelaki itu berkisah?.

***
?Hooii, Uje! Cepat ke rumah dinas Bupati!? Seseorang berseragam pegawai sipil daerah, menjemputnya. Uje baru saja selesai memancing dan sedang menambatkan sampan di batang kelapa.

Meja bundar di beranda dikelilingi beberapa orang. Tuan rumah yang gemuk dengan cincin-cincin batu akik di jemarinya, berusaha menghadirkan keakraban. Seorang lelaki berpakaian loreng duduk di sampingnya. Tanda bintang jelas terlihat di bahu tegapnya. Kumis melintangnya menusuk udara bila berbicara. Ia pandangi Uje lekat-lekat. Yang dipandang cuma menunduk menatap meja. Gugup!

Udara yang beranjak sore membelai teras. Panas tetap saja terasa. Apalagi untuk Uje. Ia ingat desas-desus kemarin; Sinu adiknya, ditangkap di pulau seberang.

?Pa Uje! Anda pasti sudah dengar berita mengerikan baru-baru ini, kan?? Bupati berkata. Buyarlah lamunannya. ?De … dengar, Pak. Te …te …tapi saya tidak termaksud ke ..ke ..kelompok adikku, Pak.? Ia heran, mengapa nama adiknya bisa menyerempet kata-katanya tadi. Ia pun tak paham apa pun menyangkut kegiatan Sinu selama ini. Membentuk kelompok tani, pergi ke desa-desa, berdiskusi, dan… Adiknya tidak pernah menengok kebun lagi. Sinu menghilang dari keseharian hidupnya. Lalu, desas-desus penangkapan Sinu, muncul seperti orang asing yang numpang lewat.

?Ha..ha?Kami tidak mengundang Anda kemari untuk bicara soal adik Anda.? Menimpali, si lelaki loreng.

?Bbbbbukan begitu Pak! Saya cuma mendengar kabar, kkkalau dia pun ditangkap.?

?Ah, sudalah Letnan. Saya tahu baik siapa Pak Uje ini?.?

?Begini Uje! Letnan Tanto ditugaskan khusus dari ibu kota untuk menumpas pemberontak di daerah kita. Untuk memudahkan pekerjaan beliau-lah, kamu diundang ke sini.? Bupati mengerling pada pria loreng itu.

?Nah, seperti yang terjadi di tempat lain, pemberontak yang ada di sini pun harus dihukum mati.? Letnan Tanto berhenti sejenak. Ia menarik napas.

?Untuk itu, saya butuh lahan untuk maksud tersebut. Dan menurut Bapak Bupati, kebun Andalah yang paling cocok, dilihat dari letak dan luasnya?? Kumisnya terus menusuk-nusuk udara.

***
Kelapa-kelapa ditebas. Lubang besar menganga, mengganti kedudukannya. Bawahan-bawahan Letnan Tanto mondar-mandir di sana, berbaur dengan Uje dan beberapa penduduk yang lain. Sekilas, tampak kebun milik Uje telah berubah fungsi.

Sementara itu, pelabuhan kecil di ujung barat kota telah dipadati warga. Sekolah-sekolah diliburkan. Murid-murid diwajibkan berkumpul di sana dengan seragam mereka. Tentara di kota kecil yang tiba-tiba saja bertambah jumlahnya, hilir mudik membawa senapan. Sebuah pemandangan yang langka.

Rombongan yang ditunggu tiba. Telanjang, berdarah, kurus-kurus, mereka keluar dari lambung sebuah kapal perang. Udara panas! Satu per satu mereka digiring turun dari kapal. Sambil berjongkok, tangan mereka memeluk belakang kepala. Bagaikan kodok, mereka menyambut tatapan jijik penonton dan menahan tendangan sepatu-sepatu lars.

Gerombolan itu digiring dari dermaga ke arah timur kota. Ditendang-tendang, dicemooh, murid sekolah diwajibkan meludah-ludah mereka, penonton tertawa, memaki-maki, mengutuk mereka!

Seorang ibu tua tiba-tiba menangis, ketika bayangan tubuh Sinu tertangkap matanya. Seketika, punggungnya dicium popor senapan.

?Bangsat! Sudah berbau tanah, masih memberontak!? Perempuan tua didorong ke dalam barisan.

?Mama, maaf mama.? Sinu menyambutnya. Air mata jadi saksi hancurnya hati. Segelintir orang sesembunyi menyeka air mata, lalu tertawa getir, dan meludah terpaksa.

***
?Parang-parang sudah di asa? Mana batu asaku? Semuanya sudah lengkap, Pak Bupati. Saya pinjam sebentar, Uje. Mana tentara-tentara tadi? Coba periksa lagi lubang itu. Mereka sebentar lagi datang. Bla?bla?bla. Hei, hei, kemari we.. wew? wewwzzzz?. hoihiooihioh.? Suara buru-buru merekah, memburu udara yang asin. Kebun Uje hampir jadi rumah jagal. Uje dan beberapa orang lainnya, menyiapkan parang yang terasa tajam. Tentara-tentara berseliweran.

?Sebentar lagi akan kita lihat, siapa-siapa yang termasuk antek mereka.? Di sudut lain, Bupati berbicara dengan Letnan Tanto.

?Ya! Uje dan beberapa yang lain itulah yang harus diperhatikan benar.?

Orang berjubelan, murid-murid sekolah memegang bendera kecil, menyanyikan lagu-lagu. Rombongan itu disejajarkan sekeliling lubang. Sedih, pilu, pucat, haaaaaah! Tak terlukiskan, membayangi wajah mereka.

Waktu bekerja untuk parang-parang telah tiba. Matahari tampak panas kemerah-merahan. Mereka didorong lima-lima ke pinggir lubang. Lima orang pria dengan parang garang, mengambil tempat di belakang mereka. Komando diberikan! Parang diayunkan! ?Crass!? ?Ujhk!? Kepala melayang ke dasar lubang, tubuh tumbang mancurkan darah.

?Hah..ha..ha?rasakan!? ?Cuih! Pengkhianat.? ?Pembelot.? ?Dasar kafir!? Itu baru bagus, ha..ha..ha?? Kutukan-kutukan menyebar di udara, mengatasi gemerincing dedaunan, tenggelamkan keluhan-keluhan pendek dan lenguhan-lenguhan pasrah.

Kepala-kepala, tubuh-tubuh, terus berjatuhan. Darah-darah tak jemu bermuncratan. Batu-batu asa mulai menipis. Lima orang dari kelompok yang kesekian, terpaku di bibir lubang.

Parang Uje masih berlumur darah. Dipandanginya lelaki di depannya. Seketika, tangannya gemetar. Parangnya hampir terlepas.

Komando terdengar! ?Crass.? ?Crass.? ?Crass.? ?Crass.?

?Hei, kau! Ayo! Selesaikan tugasmu!? Tangan Uje makin gemetar. Hulu parang jadi licin.

?Pa Uje! Anda capek? Silakan beristirahat dulu.? Letnan Tanto membimbingnya menjauh. Seseorang mengganti posisi Uje. Uje tertunduk; parang terlepas, menancap di tanah berpasir.

?CRAsss.? ?Ughk.? Kepala jatuh mencium tanah leluhur. Mancuran darah basuh keringat purbanya. Uje menjauh?.

***

?Bapa tahu, ke mana Uje pergi setelah itu? Atau mungkin lebih dari itu?? Aku tak sempat melanjutkan interogasi otomatisku. Orang tua itu telah melangkah di atas pasir putih. Terkadang laut menerpa mata kakinya, dan membasahi sarung yang dikenakannya.

Jauh di depannya bayangan-bayangan kecil manusia asyik bergerak-gerak di pantai. Tunggu! Mereka menggunakan pelampung beraneka bentuk; angsa, perahu, monyet, ikan. Kilatan putih menerpa mataku. Silau! Apakah itu? Pantulan matahari dari pagar besi di seberang sana?

Kucari orang tua tadi. Tak ada! Bayangannya pun tak tampak. Aku rebah di pasir putih. Bebayang daun-daun kelapa, menjauhkan matahari dariku. Angin laut kemarau beraroma kebebasan dan kamboja membelaiku perlahan-lahan. Aku dininabobokan!

Matraman, 2003-2004

Catatan:
Nawi tuak: tempat mengisi tuak, terbuat dari sebilah bambu.
Belutu: perangkap ikan; semacam bubuh.
Oring: pondok kecil di tengah ladang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *