Loker

Syaifullah
http://www.hariansumutpos.com/

Pagi-pagi sekali Sabrata sudah bangun. Hal ini ganjil. Saban hari Sabrata doyan bangun siang. Tapi hari ini tampak terlalu istimewa baginya. Buru-buru, dia bergegas cuci mukanya yang penuh dengan noda tidur. Di sudut matanya menggantung kotoran mengeras. Sisa dari buah tidur yang tercipta dari debu-debu yang masuk ke biji matanya seharian sebelumnya.

Di sudut bibirnya, aliran serupa sungai yang mengering masih bercap manis. Aromanya jangan ditanya. Tapi hal itu tidak mengganggu Sabrata sama sekali. Dia tidak mandi. Lebih senang mencuci muka. Gosok gigi sebentar tanpa odol.

Sehari sebelumnya, Surata temannya mengabarkan bahwa ada iklan lowongan kerja di salah satu surat kabar milik China. Konon lowongan itu masih menerima karyawan hingga satu pekan ke depan. Dan iklan itu masih terbit hingga beberapa hari ke depan. Makanya Sabrata bergegas ingin beli koran pagi-pagi buta. Takut kehabisan. Karena manusia nganggur sepertinya berjumlah ribuan. Ribuan orang saban harinya ingin mencari kerjaan. Dan hanya surat kabar milik Cina itu yang setiap harinya menerbitkan iklan lowongan kerja.

Harian Alanasi sudah digenggamnya. Sial. Untuk mendapatkannya di agen milik Ahok, Sabrata bahkan harus antre. Antrean mengular. Ratusan orang berdesak ingin beli koran. Semua berharap bisa melamar kerja dari lowongan yang ditawarkan.

Tiba gilirannya mendapatkan itu koran, Sabrata bahkan harus merogoh kocek terlalu dalam. Sepantasnya, koran itu hanya dibandrol Rp2500. Namun karena naas koran itu tinggal sebiji, maka sang agen melelangnya. Sabrata naik darah. Orang yang mengantre di belakangnya siap membayar dengan harga lebih tinggi. Bah.

Sabrata marah. Dia akhirnya rela bayar Rp10 ribu. Sementara sang pesaing hanya siap bayar Rp7500.
Meski grahamnya bergemeratuk, Sabrata puas bisa dapat itu koran. Digenggamnya tak henti. Di teras kontrakannya, Sabrata sangat teliti mencari-cari di mana ruang lowongan kerja itu terpampang.

Begitu ketemu, dia langsung mencari teleskop alias kaca pembesar yang dia beli waktu kanak-kanak dahulu. Kaca pembesar yang dulunya jadi mainan untuk membakar kertas lewat pantulan sinar matahari, kini menjadi sangat penting untuk membaca koran itu. Bagaimana tidak, iklan di halaman koran itu tulisannya sangat kecil-kecil. Dekat kurang dekat, Sabrata menengadahkan biji matanya ke kolom demi kolom koran itu. Namun tak kunjung terbaca. Tarif iklan yang mahal, membuat pemasang enggan memasang iklan dengan ukuran besar. Semakin bisa kecil, semakin murah yang dibayarkan.

Begitulah, dengan kaca pembesarnya Sabrata menemukan sebuah lowongan kerja di sebuah perusahaan. Dibutuhkan, puluhan karyawan untuk ditempatkan di posisi sebagai berikut: manajer (40 orang), administrasi (200 orang), tukang kebun (11 orang). Pengalaman tidak dibutuhkan. Bawa guntingan iklan ini dan anda akan langsung diinterview. Tersedia gaji memuaskan bagi anda yang lulus. Dibayar tiap pekan, bukan perbulan. Begitu tulis iklan tersebut.

Wah, sabrata senang bukan kepalang. Kalau banyak persyaratannya dia tentu langsung putus asa. Maklum, ijazah di tangan hanya lulus SMP. Itu tidak cukup untuk bersaing di kancah dunia kerja yang konon mengikuti arus globalisasi.
Kini, di depan matanya terpampang lowongan yang tak harus banyak cengkunek. Sabrata mulai mengkhayal.

Andai diterima kerja nanti, dia akan langsung menelepon ibunya di kampung. Dengan telepon koin di pinggir jalan, memang Sabrata kerap mengabari ibunya apa yang terjadi pada kehidupannya. Tapi telepon yang dituju di seberang sana tidak langsung kepada ibunya. Melainkan kepada tetangganya Ustadz Muin yang punya ponsel terbaru. Menurut Ustadz Muin, ponsel itu sangat penting karena bisa mendatangkan rezeki. Misalnya undangan ceramah atau lainnya yang ujungnya mendatangkan uang. Maka itu, sebelum beranjak ke kota, Ustadz Muin sempat berpesan agar Sabrata punya ponsel. Tapi itu belum sempat terwujud, karena Sabrata masih terpuruk di kontrakan kumuh tanpa pekerjaan yang jelas. Tapi itu dulu, sekarang Sabrata akan segera punya kerja. Dia berencana melamar sebagai manajer. Melamar sebagai administrasi. Melamar sebagai tukang kebun sekaligus.

Dengan demikian, gaji pun akan semakin melimpah ruah. ?Halo Mak, aku dapat kerja Mak. Jadi manajer. Gajinya jutaan. Dibayar tiap minggu, Mak. Nanti aku kirim ke kampung, ya, Mak.?

Sabrata bersahaja dalam mimpinya. Belum lagi diterima, tapi optimismenya melangit. ?Emak senang dengar kabar itu Sab. Jangan lupa sedekah ya,? kata emaknya dari seberang telepon.

Mendapati anaknya sudah dapat kerja, emak pun melapor ke seluruh penjuru kampung. Dikabarinya semua bahwa anaknya jadi manajer. Sudah tentu banyak orang yang bersungut-sungut tak percaya. Mana mungkin mantan maling ayam bisa jadi manajer. Ya, semasa di kampung Sabrata lebih sering bonyok karena dihajar massa.

Selalu kedapatan mencuri ayam jantan milik tetangga. Selalu ketauan mengintip pengantin baru mandi.
Sebenarnya, kepergian Sabrata ke kota adalah upaya melarikan diri dari sebuah amuk massa yang lebih dahsyat. Itu terjadi karena Sabrata pernah nekad meraba-raba payudara milik Suti remaja di bawah umur. Bah.

?Iya mak, aku pasti akan sedekah. Pasti Mak,? jawab sabrata dari ujung telepon lainnya. Alhamdulillah, anakku sudah tobat. Pikir emaknya bangga setengah mati.

***
Dipilihnya baju paling bagus yang ia punya. Disetrikanya yang rapi. Satu kemeja warna putih yang kini sudah kekuningan karena pengaruh asap obat nyamuk masih saja dielus-elusnya. Malah dia nekat memadukannya dengan dasi kupu-kupu. Bah, penampilan yang payah.

Di bagian bawah, Sabrata mempercayakan celana panjang berbahan katun palsu terpajang. Celana itu sudah sedikit menggantung di atas mata kaki. Itu peninggalan bapaknya yang sudah mati kena DBD. Besok pagi setelan itu akan jadi pendongkrak percaya diri tinggi Sabrata. Setelah dilipatnya kembali, seluruh perangkatnya tadi dimasukkan ke dalam kardus mi instan yang sudah disulap jadi lemari mini.
***

Bergegaslah Sabrata mencari di mana alamat itu lowongan terpampang di koran. Menumpang kap 70 milik Surata, Sabrata menyusuri jalanan dengan gagah dan keyakinan besar akan segera diterima.

Sabrata memegang map merah berisi ijazah ala kadarnya. Lembar lowongan di dalamnya, ditulis tangan acak-acakkan. Satu jam lebih menyusuri macatnya ibu kota tak lagi terasa bagai petaka. Sabrata semangat tinggi ingin langsung kerja hari ini juga.

Sampailah ia di jalan yang dituju. Jalan yang terpampang di lowongan kerja di koran milik China itu. Jalan Ibrahim Umar No27c dekat Masjid Al-Hidayah. Setelah celingak-celinguk saling pandang dengan Surata, Sabrata lantas bertanya pada abang becak yang istirahat tepat di depan masjid itu. ?Pak ini benar Jalan Ibrahim Umar No27c?? ?Yoi coy, benar sekali. Mau cari siapa??

Sabrata dan Surata saling berpandangan. Bayangan soal gedung menjulang dan keramaian pegawai saat makan siang pun hilang. Di depan mereka hanya tanah lapang. Nisan berbaris ditemani pohon kamboja yang menjulang, kurus dan tak terawat.

MEDAN, 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *