Maharaja

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada sebuah dongeng Hans Christian Andersen yang sering dikutip sepotong tapi kemudian dilupakan, tentang seorang maharaja yang amat sibuk dengan satu cita-cita: berdandan bagus. Yang dipikirkannya hanya bagaimana berkereta sepanjang jalan, memperlihatkan pakaian model terakhir.

Syahdan, dua orang penipu datang menawari sang maharaja seperangkat busana yang lain dari yang lain: terbuat dari kain yang ditenun dari serat ajaib, begitu halus, hingga hanya dapat dilihat oleh mereka yang pintar dan yang layak berkedudukan.

Baginda pun terkesima. Ia berpikir, “Bila kukenakan pakaian seperti itu, aku akan tahu siapa saja bawahanku yang tak cocok menjabat, dan akan dapat kuketahui mana yang pintar dan mana yang dungu.”

Kedua penipu itu pun mendapat order. Dengan cekatan mereka memasang alat tenun, dengan giat mereka bekerja. Dana berlimpah, tapi tentu saja alat tenun di sanggar itu kosong, dan kesibukan mereka cuma pura-pura.

Sang maharaja sebetulnya ingin datang untuk melihat bagaimana rupa bahan yang sedang disiapkan itu. Tapi ia gentar. Bagaimana kalau ternyata tekstil ajaib itu tak tampak di matanya? Ia akan mengetahui dirinya bodoh dan bukan orang yang layak bertakhta.

Maka dikirimnya perdana menterinya ke sanggar itu untuk mengecek, sambil menguji bagaimana sebenarnya mutu pejabat ini. Sang PM pun datang. Kedua penipu itu menyambutnya, dan dengan petah-lidah menjelaskan betapa cemerlangnya warna nila di tepi sana dan betapa masih kurang rapinya tenunan di bagian sini. Sang PM tentu saja tak melihat apa-apa, tapi ia menyatakan kagum. Ia tak mau ketahuan bahwa dirinya bodoh.

Hal yang sama terjadi tiap kali Maharaja mengirim utusan.

Syahdan, akhirnya baginda sendiri bertamu ke sanggar itu. Tentu saja ia tak melihat apa-apa. Tapi ia bimbang: jangan-jangan hanya ia sendiri yang tak bisa menikmati kain yang konon indah tersebut. Maka, seperti yang lain-lain, ia tak mau mengaku.

Akhirnya, kabar tersiar ke seluruh negeri tentang kain yang luar biasa itu. Baginda pun bersiap berpawai, dan kedua penipu itu dengan khidmat memasangkan busana yang tak ada itu ke tubuh maharaja.

Dengan semarak parade berlangsung. Sang maharaja telanjang bulat, tentu, tapi dengan anggunnya tegak di atas kereta, dan seluruh khalayak kagum, “Alangkah cemerlangnya busana beliau kali ini!” Mereka bertepuk. Hanya seorang anak kecil yang dengan polos mengatakan, “Hai, Baginda telanjang!”

Di seluruh dunia orang mengutip adegan ini untuk jadi alegori tentang kekuasaan yang memperdaya semua orang dan tentang kebenaran yang hanya bisa diutarakan oleh yang tak berdosa. Tapi sebenarnya Andersen, seorang pendongeng ulung, membiarkan kisahnya tak selesai.

Ia memang bercerita bahwa, setelah mendengar ujar si anak kecil, orang ramai pun sadar. Mereka berteriak, “Baginda telanjang!” Sang raja dan para pembesarnya mendengar. Tapi ia dengan cepat memutuskan agar pura-pura besar itu tak batal. Pawai terus. Baginda tetap tegak, anggun?.

Di sini Andersen berhenti, dan kita bisa melanjutkan. Mungkin baginda berpikir: jika ia terus bersikap seakan-akan ia berbusana, jangan-jangan mereka yang berteriak itu yang akan jadi ragu akan benarnya penglihatan mereka. Sebab apakah kebenaran, sebenarnya? Andersen menuliskan dongeng ini pada tahun 1837. Abad lain yang menjawab, juga abad ini. Tapi mulanya adalah tahun 1930.

Waktu itu rakyat Jerman mendukung Nazi. Goebels, sang menteri propaganda, menyimpulkan bahwa jika dusta diulang-ulang, ia akan jadi kebenaran. Pada 1936-38 Stalin menghukum mati kawan-kawan separtai. Mereka tak bersalah, tapi toh mereka siap mengaku bahwa tuduhan Stalin tentang kejahatan mereka “benar”.

Jagat pemikiran pun guncang. Orang akhirnya menyimpulkan, sebuah tesis dianggap benar karena hubungan kepentingan dan kekuasaan. Sampai hari ini: Presiden Bush mengubah alasannya menduduki Irak dan jutaan orang Amerika menganggap itu benar, meskipun alasan semula?Saddam menyiapkan senjata nuklir?terbukti salah dan Bush tampak telanjang.

Dongeng Andersen jadi cerita masa kini, karena di sana kekuasaan tak hanya bermula dari laras bedil, tapi dari kata. Para penipu telah menggunakan kata dengan efektif, seperti iklan televisi yang disusun tepat dan disiarkan luas berulang kali.

Tapi tentu saja kata-kata tak bekerja sepihak. Seandainya sang raja percaya diri?atau percaya akan hubungan baik antara mata dan otaknya?kata yang ampuh sekalipun akan boyak, tanpa dampak. Namun Andersen datang dari sebuah zaman ketika rasionalisme sedang menggugat tubuh, termasuk mata, kuping, dan kemaluan, hingga sang pendongeng terusik. Maka dicemoohnya mereka yang meragukan kemampuan badan dan intuisi mereka sendiri untuk menangkap kebenaran.

Mungkin karena tak ada lagi kebenaran yang pasti. Dalam dongeng itu, penipu, perdana menteri, raja, orang ramai, saling meneguhkan bahwa kebenaran akhirnya keputusan tentang kenyataan. Keputusan itulah yang membentuk kenyataan, yang membuat yang tak ada menjadi ada. Dengan kata lain: merekalah sebuah subyek yang penuh dengan kehendak mengubah dunia. Sampai akhirnya ada suara si bocah.

Si bocah adalah pra-subyek: ia belum jadi pusat yang mengukuhkan kontrol dirinya atas dunia?ia membiarkan dunia yang dilihatnya di tengah jalan tanpa dibingkai tegar. Ia biarkan dunia yang dilihatnya seakan-akan menari, berbeda tiap kali.

Anak adalah keterbukaan. Dalam Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exup?ry, hanya si anak yang dapat melihat sebuah gambar siluet bukan gambar sebuah topi, melainkan gajah yang ditelan ular sawah. Bagi mereka, kebenaran bukanlah hasil mencocokkan dunia dengan akal dalam diri, bukan adaequatio intellectus ad rem. Kebenaran adalah sebuah peristiwa yang sederhana tapi menakjubkan: “Hai, Baginda telanjang.” Si bocah mungkin melihat itu mengasyikkan. Ia belum ingin mengubah dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *