Mengasah Hati Setajam Pedang

Buku Nyanyian Jiwa Sang Samurai
Muhammad Muhibbuddin
http://suaramerdeka.com/

KETIKA mendengar kata samurai, maka yang terlintas dalam pikiran adalah sebilah pedang. Tak pelak samurai, ikon budaya Jepang itu, identik dengan kekejaman, kekerasan, dan kebrutalan. Benarkah demikian? Tidak. Di balik ketajaman mata pedang samurai justru tersembunyi ketulusan hati, keluhuran budi, dan keteguhan jiwa. Seorang samurai bukanlah preman bekerja sebagai pembunuh. Sebaliknya samurai adalah orang yang tulus, loyal, pemberani, dalam menegakkan nilai-nilai moral.

Buku ini menunjukkan samurai pada dasarnya sebuah etos untuk mengasah ketajaman hati melalui penegakan nilai-nilai moral dalam diri seseorang. Pedang yang senantiasa dekat di tangan sang samurai merupakan simbol keloyalan, keselamatan, ketangkasan, keberanian, dan kehormatan. Nilai-nilai semacam inilah yang ditanamkan dalam hati seorang samurai. Jadi, bagi seorang samurai pedang bukan sebagai alat untuk menebas leher orang lain, tetapi sebagai alat untuk melayani dan melindungi kehidupan orang lain.

Kata samurai berasal dari kata samorau ?bahasa Jepang kuno? yang berarti melayani. Kata melayani ini merupakan simbol kesetiaan seseorang terhadap terhadap pemimpin. Namun dalam konteks yang lebih pokok, nilai moral kesetiaan sang samurai tidak hanya tertuju pada seorang pemimpin, melainkan pada nilai-nilai moral. Hidup sebagai seorang samurai harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai moral ke dalam dirinya. Setia pada nilai-nilai moral itulah tujuan hidup. Internalisasi atau kesetiaan terhadap nilai-nilai moral itu sendiri adalah bertujuan untuk mengubah kehidupan seseorang.

Inilah spirit perubahan yang tertanam dalam diri seorang samurai. Inti pokok dari spirit penanaman moral bagi sang samurai itu adalah bahwa sebagai manusia tidak boleh berada dalam kondisi hina, rendah, dan dekaden. Seseorang dalam hidupnya harus mempunyai gairah untuk hidup baik, maju, dan merdeka dari berbagai macam keterpurukan dan ketertindasan. Inilah pesan moral yang ditegaskan dalam diri seorang samurai. Maka, nilai moral di sini bukan hanya sebagai ajaran normatif, tetapi sebagai spirit pembaruan dan transformasi.

Karena itu, menjadi samurai tidaklah mudah. Harus dimulai sejak anak-anak. Karena yang ditanamkan bukan sekadar ketangkasan fisik, melainkan ketangkasan rohani, secara otomatis pendidikan sang samurai harus dijalani secara intensif sejak usia dini. Bagian pendidikan yang serius berlangsung antara sepuluh dan dua belas tahun, ketika seorang anak dapat menghabiskan waktu sampai dua belas jam sehari untuk berbagai mata pelajaran mulai dari menekuni ilmu-ilmu abstrak, filsafat, jasmani, termasuk beladiri, khususnya kendo/berlatih pedang, hingga belajar alat musik.(halaman 50).

Dalam sistem pendidikan samurai itu, dikenalkan upacara rutin yang disebut Genpuku. Ini merupakan upacara pemberian dan pengenalan senjata pedang pendek ?Wakizaschi? untuk kanak-kanak dan pengenalan pedang Katana bagi peserta didik dewasa.

Bushido
Dalam penanaman nilai-nilai moral itu, kaum samurai akan diajari mengenai bushido. Bushido adalah kode etik para samurai dalam melakukan pengabdian dan pelayanan (halaman103).

Nilai-nilai bushido inilah yang secara kultural merasuk ke dalam jiwa masyarakat Jepang dan sekaligus menjadi kepribadian mereka sebagai bangsa. Menurut Inazo Nitobe, Bushido atau Jalan Samurai (bushi=Samurai dan do=jalan) merupakan kepribadian bangsa Jepang dan jiwa kesatria yang merangsang pikiran, emosi, serta sikap hidup sehari-hari masyarakat Jepang, serta menjadi asas moral yang harus dihayati oleh golongan ksatria.

Jadi, pada prinsipnya bushido merupakan ajaran-ajaran moral yang diterapkan dalam diri sang samurai.

Secara geneologis, nilai-nilai moral bushido ini diangkat dari ajaran filsafat Konfusius dan agama Budha. Di antara ajaran-ajaran moral itu ada keberanian. Artinya para samurai tak takut dan apalagi mundur ketika berhadapan dengan lawan, baik besar maupun kecil. Kalau sesuatu memang menjadi misi suci sang samurai, maka sesuatu itu harus dilakukan dengan penuh komitemen, tulus dan konsisten apa pun risikonya. Ada ketabahan hati. Ini berarti seorang samurai harus mampu mengendalikan emosi, amarah, ambisi dan sifat dendam untuk agar tercapai sesuatu lebih mulia. Seorang samurai harus mempunyai kehalusan budi dalam menyikapi hidup. Sebab inilah yang membedakan dengan gerombolan penjahat. Namun, kehalusan budi bagi samurai bukan berarti sikap cengeng dan tak tegas. Tetapi itu merupakan keluhuran jiwa dalam mengabdi dan melayani.

Juga terdapat kejujuran dan ketulusan. Seorang samurai harus menjunjung tinggi nilai kejujuran dan ketulusan, meskipun itu membuahkan sesuatu yang pahit. Juga jangan dilupakan cinta nama baik. Seorang samurai harus rela mempertaruhkan jiwa raganya untuk penegakan nama baik. Karena nama baik bagi sang samurai adalah kehormatan. Samurai juga mesti setia pada tugas. Bagi seorang samurai tugas adalah sebuah tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Ia harus dijalankan secara total dan tuntas.

Juga harus diketahui bersikap tegas. Seorang samurai harus tegas. Tetapi tegas di sini tidak berarti keras. Tegas dalam arti sikap menghadapi persoalan secara akurat, teliti, dan total.

Adapun sikap yang lain adalah pantang menyerah. Seorang samurai tidak boleh menyerah, dalam arti harus teguh dan komitmen untuk tetap setia mencapai tujuan. Terakhir, samurai rela menghadapi hukuman mati. Kematian bagi seorang samurai adalah jalan untuk mencapai keabadian. Maka Samurai akan merasa terhormat memilih jalan mati dalam mencapai cita-cita tinggi. Karena bagi samurai, hidup tanpa semangat secara total dalam mencapai cita-cita adalah sebuah kesia-siaan. Dari spirit samurai itu kita tahu kemajuan Jepang sekarang ternyata juga berawal dari gerakan pencerahan hati dengan selalu setia pada nilai-nilai moral. Sekarang bagaimana kita bangsa Indonesia?

==========================
Judul: Nyanyian Jiwa sang Samurai
Penulis: Najamuddin Muhammad
Penerbit: BukuBiru
Cetakan: Mei 2010
Tebal: 208 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *