Menghormati Orang yang Tidak Puasa

Aliman Syahrani*
http://www.banjarmasinpost.co.id/

APAKAH judul di atas tidak keliru atau malah mengada-ada? Bukankah selama ini kita selalu dan selamanya dianjurkan untuk menghormati orang yang sedang berpuasa? Bukan malah sebaliknya, justru menghormati orang yang tidak berpuasa?

Tidak! Judul di atas sama sekali tidak keliru apalagi mengada-ada. Karena tidak adil rasanya, kalau selama ini kita hanya diminta untuk tidak dikatakan dituntut – agar selalu menghormati orang-orang yang berpuasa saja, tanpa juga harus menghormati mereka yang tidak berpuasa.

Alasannya? Dapat dipahami dari ayat-ayat tentang puasa juga, setidaknya dalam surah al Baqarah ayat 183, ?Hai orang-orang yang sungguh-sungguh percaya (beriman), diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana (puasa itu juga) diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.?

Berdasarkan ayat tersebut, setidaknya ada empat hal yang mengisyaratkan tentang penghormatan terhadap orang yang tidak puasa.

Pertama, karena puasa Ramadan hanya diwajibkan bagi orang-orang beriman (mukmin), Maka orang-orang yang tidak beriman, atau tepatnya – menurut istilah Alquran – orang-orang kafir, tidaklah dibebani dengan kewajiban puasa Ramadan.

Imbauan kalimat ?Hai orang-orang yang beriman, (ya-ayyuhal-ladzina amanu)? yang ada di bagian awal ayat tersebut mengisyaratkan demikian.

Jadi, jika puasa diwajibkan hanya kepada orang-orang beriman, maka mafhum mubalaghahnya (kebalikan makna) adalah bahwa orang-orang yang tidak beriman tidaklah dikenakan kewajiban untuk berpuasa. Nah, kebebasan mereka (orang-orang yang tidak beriman) untuk tidak puasa itulah yang harus dihormati oleh orang-orang yang berpuasa.

Kedua, dari sudut pandang syariah, segenap dan setiap muslim terutama para ulamanya telah sepakat untuk menyimpulkan, bahwa hukum puasa Ramadan adalah wajib. Kata-kata kutiba alaikum al-shiyam menunjukkan hal itu. Semua ulama Islam telah sepakat bahwa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan hukumnya wajib, atau tepatnya menjadi kewajiban setiap individu (fardhu ain) bagi setiap dan semua insan beriman yang telah akil baligh (dewasa).

Lagi-lagi, kewajiban puasa itu terbatas atau malahan dibatasi hanya untuk orang-orang mukmin yang telah mukalaf (berakal) alias akil balig. Artinya, orang-orang nonmukmin, atau orang mukmin yang belum akil balig, tidak dibebani kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadan.

Atas dasar itu, maka orang yang tidak berpuasa – dalam hal ini orang-orang nonmukmin – dapat dikatakan sama dengan anak kecil yang belum aklil balig dalam hal tidak dibebani kewajiban puasa. Di sini, mereka memiliki hak untuk dihormati ketidakpuasaannya, dalam arti tidak boleh dipaksa supaya berpuasa.

Ketiga, dari sudut pandang sejarah, pensyariatan ibadah puasa Ramadan itu telah memakan waktu cukup lama. Kalimat kama kutiba alaikum – sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu mengisyaratkan hal itu.

Logikanya, umat Islam dalam usia Ramadan yang ke sekian ini, seyogyanya jauh lebih dewasa dan lebih berkualitas. Di antara indikatornya, menghormati orang-orang yang tidak puasa karena mereka tidak beriman atau karena alasan lain yang dibenarkan agama. Di sinilah terletak arti penting dari penghormatan kepada mereka yang tidak puasa.

Keempat, dari sudut pandang sasaran, target puasa ialah agar para pelakunya menjadi orang-orang yang bertakwa. Ungkapan laallakum tattaqun pada pengujung ayat tersebut, mengisyaratkan hal itu. Di antara ciri orang yang bertakwa tentu saja melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Menghormati sesama umat manusia, apa pun paham agamanya, merupakan perbuatan yang diperintahkan agama Islam, sekaligus salah satu dari beberapa ciri orang mutaqin.

*) Ketua Pemuda Muhammadiyah HSS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *