Operasi Tak Pernah Berada di Jaringan Bawah Tanah dan Tertutup

Andika HM (BBC)
http://www.seputar-indonesia.com/

Kehidupan mafia memang selalu menarik untuk dikuak.Jake Adelstein bahkan mempertaruhkan nyawanya demi mengetahui seluk beluk kehidupan mafia Jepang,Yakuza.

?HAPUS ceritamu,kita akan membunuhmu dan mungkin juga keluargamu. Tetapi, kita akan membiarkan mereka setelah Anda belajar mengenai pelajaran sebelum Anda meninggal.? Itulah ancaman pembunuhan yang pernah diterima Adelstein dari Yakuza. Beruntung, pria yang sudah 12 tahun malang-melintang sebagai jurnalis itu mampu melepaskan diri. Ancaman itu diterima ketika dia berusaha melakukan investigasi salah satu kelompok Yakuza yang paling ditakuti di seluruh Jepang.

Tapi, demi alasan keluarga, Adelstein memilih tidak melanjutkan proyek tersebut. ?Semua informasi tentang Anda, nomor telepon,catatan ponsel,di mana Anda tinggal,orang-orang dekat, semua yang kita ketahui,mereka juga mengetahui sama baiknya. Anda harus berpikir jernih terhadap teman-teman Anda dan orang-orang yang dekat dengan Anda,? kataseorangpolisikepada Adelstein saat ditanyai tentang Yakuza. Lima tahun berlalu, Adelstein kini merasa lebih aman saat bekerja di sebuah koran terbesar di Jepang,Yomiuri Shimbun.

Wartawan asal Amerika Serikat (AS) itu menganggap dirinya sepertinya bukan kandidat yang bisa berdekatan dengan para kriminal. Dulu, ketika masih berstatus mahasiswa,dia hengkang dari Missouri untuk belajar Sastra Jepang di Universitas Sophia. Saat itu dia juga belajar seni bela diri dan agama Budha. Hingga di akhir masa kuliahnya, dia melamar sebagai jurnalis.

Saat itulah dia mulai tertarik menulis tentang Yakuza. Menurut Adelstein, kejahatan di AS dan Jepang sangat berbeda. Kejahatan di Jepang tidak dijalankan dalam jaringan bawah tanah. Kejahatan Yakuza benar-benar dilakukan tertutup rapat.?Ada anggapan, suatu hal lebih buruk dibandingkan kejahatan terorganisasi adalah kejahatan tak terorganisasi,? paparnya.

Ada satu pengalaman yang tak mungkin dilupakan Adelstein saat berhadapan dengan Yakuza, yaitu saat dia bertemu salah satu pemimpin Yakuza yang berjuluk The Cat alias Si Kucing.The Cat adalah nama resmi Kaneko,bos Yakuza itu.?Kami duduk bersama.Dia menawari saya segelas teh hijau dan saya menolaknya. Saya mengatakan tidak,terima kasih. Dia sepertinya tersinggung,? katanya.Padahal,The Cat biasanya tidak akan ramah terhadap tamu yang tidak menyukai teh hijau.

Demi menulis buku bertajuk Tokyo Vice,Adelstein rela tidur satu kasur dengan para gundik pemimpin Yakuza.Termasuk juga dia harus bergaul dengan para tukang pijat para bos mafia. Kedekatannya dengan para bos Yakuza mampu membantunya ketika Lucie Blackman,21,karyawan British airways yang dibunuh ?pengusaha? Joji Obara. Sebagai reporter asing dengan pengalaman menguasai wilayah lokal, Adelstein mampu mendapatkan informasi yang tak terhingga nilainya dan dia menyampaikan informasi itu kepada ayah Blackman.

Ketika meliput industri seks di Tokyo, ada salah satu sumber anonimnya, seorang pelacur, yang hilang setelah diwawancarainya.Kemudian, Adelstein mendapatkan informasi bahwa sumber anonim itu dilaporkan diperkosa, disiksa, hingga akhirnya dibunuh. Idealisme menulis buku yang juga menceritakan hubungan badan dengan para pelacur dan gundik bos mafia membuat ketidaknyaman bagi istri Adelstein.

?Sesekali setelah membaca buku, dia mendukung dan mengerti.Tetapi, saya merasa pernikahan kami benar-benar tak dapat diperbaiki,? papar Adelstein. Adelstein pun berharap, anakanaknya akan membaca bukunya ketika mereka dewasa.?Saya ingin anak-anak saya mengerti kenapa saya melakukan itu dan kenapa kita bermigrasi dari Amerika Serikat. Saya tidak ingin mereka mengulangi kesalahan yang pernah saya lakukan,?tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *