Para Perempuan Penulis Bersaing di Pasar

Ada yang Tawarkan Novel Karya Sendiri Door to Door
Endah Imawati

http://www.surya.co.id/

Setelah beberapa novelnya menjadi perbincangan komunitas sastra, Ayu Utami melempar novel terbaru, Manjali dan Cakrabirawa. Tak perlu berpeluh-peluh, kepopuleran nama Ayu Utami menjadi tiket untuk kelarisan novel-novelnya.

Novel Manjali dan Cakrabirawa bercerita tentang Marja, yang dititipkan berlibur oleh kekasihnya pada sahabat mereka, Parang Jati. Mereka menjelajahi pedesaan Jawa dan candi-candi. Perlahan, Marja jatuh cinta. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa.

Manjali dan Cakrabirawa terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini yang pertama dari Roman Misteri – Seri Bilangan Fu, serial yang berhubungan dengan Novel Bilangan Fu. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri ini merupakan petualangan memecahkan teka-teki yang berhubungan dengan sejarah dan budaya Nusantara.

Ayu memiliki nama cukup tangguh yang membuat buku karyanya relatif lebih mudah dijual. Dalam waktu sepekan, Manjali dan Cakrabirawa ludes di Surabaya dan sekitarnya. Naga-naganya, buku ini akan meledak di pasaran.

?Surabaya mendapat kiriman 800 eksemplar, dan habis dalam seminggu. Buku itu langsung diserap komunitas sastra,? kata Ary dari Gramedia Pustaka Utama (GPU), Sabtu (7/8).

Para penikmat tulisan Ayu harus, bersabar karena buku yang baru diedarkan awal Juli ini menunggu dicetak ulang 5.000 eksemplar. Biasanya, untuk nama beken semacam ini penerbit berani mencetak hingga 10.000 eksemplar. Jatah cetak dari para penerbit untuk penulis baru biasanya 3.000 eksemplar.

Ayu beruntung, tanpa promosi besar-besaran pun bukunya langsung diserap pasar. Hal itu tidak berlaku bagi Lan Fang. Penulis dari Surabaya itu, enam bulan lalu, menerbitkan Novel Ciuman di Bawah Hujan. Posisi penjualan novel ini sekarang sekitar 800 buku. Lan Fang harus berkeringat mempromosikan novelnya.

?Saya harus door to door,? kata Lan Fang, saat ditemui, Jumat (6/8).

Istilah ini mengisyaratkan betapa sulitnya meyakinkan masyarakat untuk membaca karyanya. Lan Fang rutin mengadakan bedah buku dari kampus ke kampus dan pesantren serta komunitas. ?Kadang-kadang setelah bedah buku, yang terjual hanya dua,? katanya, kemudian tertawa. ?Tetapi tidak apa-apa. Saya menanam benih untuk jangka panjang supaya mereka tahu seperti apa novel Lan Fang,? imbuhnya.

Perilaku pasar tidak selalu membuat penulisnya lega. Lan Fang mengakui, namanya belum setenar Ayu Utami, sehingga dia harus bekerja keras agar bukunya diterima. ?Saya telanjur mencintai dunia menulis. Kalau tidak menulis, rasanya ada yang kurang,? kata Lan Fang sambil menggigiti kuku jempol kanannya ?kebiasaan jika topik pembicaraan menurunkan ledakan gayanya berbicara.

***

FAN Lang juga sadar pada dirinya tidak ada keartisan yang melekat seperti penulis Happy Salma. Sebagaimana diketahui, Happy Salma menjadi satu dari sekian selebriti yang menerbitkan buku. Pasar buku di Indonesia cukup rentan. Buku hanya akan teronggok jika tidak ada promosi. Happy menyadarinya. Karena itu, dia meluncurkan Hanya Salju dan Pisau Batu, yang ditulis bersama Pidi Baiq, Selasa (3/8) malam di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

?Ini pementasan adaptasi novel,? kata Happy tentang pentas teater yang disutradarainya.

Sejumlah orang hebat di bidangnya ikut terlibat, antara lain, Olga Lydia, Marcela Zalianty, Alexandra Gotardo, Ki Joko Bodo, dan Budi Ross.

Tahun 2006, Happy meluncurkan buku pertamanya, trilogi antologi cerpen Pulang. Meski awalnya tidak satu sekuel tidak laku, Pulang sedang dicetak ulang. Belajar dari Pulang, kali ini bersama penerbit Mizan, Happy memakai promosi berbeda yaitu pentas teater.

Promosi mandiri juga dilakukan penulis novel Agnes Jessica, yang telah menerbitkan 20 novel. Lewat blog, Agnes memamerkan karya-karyanya. Gayanya yang populer membuat bukunya mudah diterima. ?Buku-buku Agnes di GPU cukup banyak. Penjualannya rata-rata 1.500 eksemplar,? kata Ary.

Angka 1.500 itu angka ?normal? bagi penjualan novel. Nah, dengan jumlah cetakan ribuan buku, berapa pendapatan penulis di Indonesia? Menurut Agnes, pendapatan biasanya berupa royalti 10 persen dari harga buku.

Jika buku dijual Rp 20.000, dicetak 3.000 eksemplar, setelah enam bulan laku 1.250 eksemplar, maka royaltinya 10 persen x Rp 20.000 x 1.250 eksemplar. Setelah dipotong pajak 15 persen, penulis mendapat Rp 2.125.000.

Penulis mendapatkan royalti enam bulan sekali. Jika teratur menghasilkan karya, semakin besar royaltinya. Tentu saja pasar harus diraih dengan promosi seperti Lan Fang yang ?mengamen? hingga ke Bandung.

Leave a Reply