PERTENGAHAN NOVEMBER YANG MENIKAM-NIKAM *

Ghassan Kanafani **
Alih Bahasa: Misran ***
http://www.riaupos.com/

Duhai Ibrahim…!

Entah kepada siapa pesan ini harus kutujukan. Aku tak tahu. Padamu sudah kujanjikan, tiap pertengahan November akan membawakan karangan bunga tanda kasih ke makammu, untuk kutebarkan. Sekarang sudah pertengahan November pula, dan belum satu karangan bunga pun kudapatkan. Sekiranya kudapat, bagaimanakah aku dapat sampai ke makammu dan memberikannya padamu? Padahal sudah dua belas tahun berlalu.

Kuyakin, saat ini kamu jauh dari apapun. Sebagaimana jauh terhunjamnya kamu ke perut bumi dan terurai, sedalam itu pula kamu kian menghunjam dalam ingatan kami dan terurai. Raut mukamu ikut terurai. Bahkan aku tak dapat lagi mengingat raut mukamu itu dengan baik. Suaramu memang menjadi agak sulit kukenali, bahkan kerlingan matamu pun tak dapat lagi kuingat. Aku pun menjadi sulit membayangkan bagaimana anggota tubuhmu melakukan gerak-gerik. Kini, di benakku tinggal jasad kaku, dengan telapak tangan terlipat di dada dan secarik kain penuh darah yang melintang dari bagian telinga ke bibir.

Namun, kali ini jelas sekali, aku dapat mengingat bagaimana mereka memanggulmu, dan membiarkanmu terhenyak dalam lahatmu, dengan pakaian yang masih utuh. Lalu mereka menimbunmu dengan tanah. Sesaat kemudian teman-temanmu yang terpaku tersentak mendengar suara rintihan seseorang yang terluka, yang semakin lama semakin kuat, lalu berhenti.

Pertanyaannya sekarang, untuk apa kutulis pesan ini padamu? Bukankah lebih pantas, setelah gagal membawakan karangan bunga ke makammu, aku tetap melanjutkan dua belas tahun bungkamku? Tapi, tampaknya, mustahil aku terus-terusan bungkam. Pertengahan November terus menekanku bagai takdir gila. Takdir yang pernah salah pilih: mestinya aku yang dibunuhnya, bukan kamu.

Benang cerita ini mulai mengurai di kepalaku. Percayakah kamu, aku takut melupakannya? Sungguh aku takut melupakannya! Barangkali kamu pun telah lupa. Duhai, apa lagi gunanya cerita itu sekarang? Tapi aku ingin membantumu, dan membantu diriku untuk menjalinnya kembali.

Banyak cerita yang tidak punya awal, tetapi anehnya cerita kita berdua punya awal yang jelas. Bahkan saking jelasnya, aku hampir bersumpah, awal cerita itu bisa kamu anggap sebagai bagian terpisah dari seluruh kisah hidup kita:

Waktu itu menjelang Ashar. Kita ?aku dan kamu? sudah siap di samping sebuah batu besar yang dijadikan tempat duduk, di depan rumah kakekmu. Kita sama-sama baru belajar mengokang senjata. Hingga saat itu, sasaran tembak kita masih kaleng-kaleng bekas yang kosong, tempat minyak jelantah. Jika tidak salah, bisa kukatakan kita pernah memakai kaleng merek ?Cahaya Kaz? sebagai sasaran tembak, dua atau tiga kali.

Waktu itu sedang Ashar. Ya, kembali kuberi tekanan pada kata Ashar karena potret cerita kita tidaklah lengkap kecuali setelah disorot matahari Ashar. Kita sudah berdiri di samping batu besar itu, kemudian kudengar kamu bertanya:

?Katanya kamu mau balas dendam??

Pertanyaanmu itu kusambut dengan tawa pendek. Giliranku kemudian yang bertanya: ?Pada apa??

Kamu lalu memberi isyarat pada tembok di seberang sana. Tanganmu menunjuk suatu makhluk. Kemudian ujarmu dengan senyum yang masih mengembang: ?Kucing garong, yang mencuri sepasang merpati dari sangkarnya…!?

Kini berganti, aku yang tertawa. Aku ingat bagaimana kucing brengsek itu bisa sampai di atap dan menjangkau sangkar merpati di taman, dua malam berturut-turut. Ia berhasil melarikan sepasang merpati yang sudah susah-payah kami pelihara bersama kakek. Sebelum sempat kuberikan suatu keputusan, kamu sudah lebih dulu memotong: ?Aku yang akan menjagalnya jika kamu tidak berani…?

Kamu sandangkan senapanmu ke bahu, langsung melepaskan satu tembakan. Dari sela asap yang tidak sedap baunya itu, kita menyaksikan kucing malang itu melompat ke belakang karena takut. Kemudian ia biarkan kakinya melompat ke pagar taman sebelah. Di atas pagar itu ia berhenti, mengamati bekas bidikanmu dengan mata kaget. Aku tidak tahu, setan apa yang membuatku berujar: ?Kamu meleset. Giliranku sekarang mencoba.?

Aku ingat bagaimana tembakanku tepat mengenai kepalanya. Ketika melihat kucing itu dari teropong di ujung senapan, aku merasa tubuh ini menggigil. Sasaran tembakku seketika menjadi goyang. Mata kucing itu ?masih saja? ketakutan menatap sekeliling, sedangkan ekornya ia kibas-kibaskan ke tanah. Namun, kedua telinganya ia tegakkan, berusaha mencium bahaya yang akan datang. Pada detik berikutnya, aku sudah melihatnya berada tepat di tengah-tengah teropong. Pelatuk kutarik dan peluru melumatnya persis di muka. Kucing itu terpental; kakinya menggapai-gapai di udara, bergerak-gerak. Sebelum akhirnya jatuh ke samping. Darah pun mengalir perlahan.

Lalu kamu menggiringku untuk melihatnya. Kamu bolak-balikkan bangkainya dengan ujung senapan lalu berbisik padaku: ?Bidikan bagus… tepat di kepala. Kamu sudah memutus jaringan otaknya.?

Tapi kemudian aku muntah-muntah. Aku pun terbaring lemas di kasur sampai lebih dari dua minggu.

Kamu bertanya beberapa waktu kemudian ketika datang menjengukku, menertawaiku: ?Hah. Kucing garong yang tertembak itu membuatmu sampai seperti ini? Lucu nian! Bukankah kamu pernah berjanji akan berperang melawan pria dewasa, tidak dengan kucing??

Aku malu sekali mendengarnya. Entah bagaimana aku bisa berbohong padamu waktu itu: ?Kucing? Gila kamu. Waktu kecil aku membunuh banyak kucing pakai batu. Semua ini gara-gara bahu senapan yang terangkat ke atas habis ditembakkan dan menyikut tenggorokanku. Itulah yang menyebabkanku muntah-muntah. Lagi pula, sebelumnya aku juga sudah sakit.?

?Kamu mau bohong ya? Baru kali ini aku tahu kamu bohong.?

Tapi yang membuatku merasa tenang waktu itu, kamu kembali datang pada sorenya. Kamu berbisik di telingaku, supaya aku mau berjanji ikut denganmu dalam sebuah ?serangan?… dua hari lagi.

Di atas mobil yang membawa kita ke pemukiman Yahudi di desa tetangga, kamu bernyanyi riang seperti biasa. Sementara aku, masih belum pulih dari sakit akibat kejadian kemarin. Tiba-tiba kamu mencolekku untuk melihat kebun-kebun di kanan-kiri jalan. Bulan November telah memberinya warna baru: oh, bunga-bunga hanun. Waktu itu kita bahkan sempat mencari kupu-kupu mungil warna-warni. Demi seekor kupu-kupu kita bahkan tega menjatuhkan ribuan bunga hanun yang merah, dari tangkainya. Alangkah indahnya.

?Aku kan bahagia bila kamu berjanji mau membawakan seikat bunga hanun tiap November ke makamku. Kamu mau kan??

?Kamu ini ada-ada saja. Tapi jika janjiku bisa menghentikan bualanmu, aku mau saja!?

Tawa gugur dari kedua bibirku. Kamu lalu mendekapkan senjata ke dada. Dengan suara yang lembut, tapi dalam, kamu berbisik: ?Makasih…?

Kita sampai di kebun milik pemukim Yahudi itu pada waktu Zuhur. Rencana yang kita buat cukup berani, tapi mungkin dilakukan: menduduki rumah-rumah di pinggir pemukiman lalu menggempurnya. Baru kemudian kembali ke kampung kita.

Namun, yang terjadi setelah itu justru berbeda dari rencana semula. Kita tertangkap tangan oleh beberapa pria Yahudi ketika sedang berada di kebun mereka. Pertempuran pun tak terelakkan. Aku di sampingmu, memberondongkan senapan membabi-buta. Tak satu pun mengenai musuh. Waktu itu, kita lari terbirit-birit menginjak duri dan tanaman. Apakah hari itu kamu merasa kecut, tak dapat lagi kuingat pasti. Tiba-tiba, seorang Yahudi sudah menghadang kita di depan sehingga membuat pikiranku kacau. Tangannya yang mengenggam sebuah granat tangan melemparkannya pada kita. Masih sempat kudengar teriakanmu saat asap hampir membuat mata kita tak mampu melihat apa-apa: ?Bunuh dia. Dia memegang sebuah ranjau…?

Asap pun berkurang. Namun, Yahudi itu masih berdiri di tempat tadi, menggenggam granat tangan yang kedua. Ia mencari-cari kita di antara tanaman yang ada. Melalui teropong senapan aku dapat melihatnya berdiri di sana, dengan mata ketakutan. Beberapa saat berlalu, namun jemariku belum juga bisa menarik pelatuk. Badanku menggigil. Sasaran tembak masih berdiri di tempatnya. Aku dapat melihatnya dari teropong senapan. Lalu dari teropong yang sama aku melihatnya menemukanmu. Ia lalu melemparkan granat tangannya yang kedua dan kabur.

Akhirnya, kami memanggulmu pulang dan membawamu ke kampung kita. Tempat kamu dikubur masih dengan pakaian lengkap sebagaimana layaknya para syuhada. Di belakang teman-temanmu, ibumu menangis sendirian. Sementara itu dengan ditindih oleh rasa malu, aku mengais-ngais tanah yang masih basah dan menanam karangan bunga hanun, yang kita petik di jalan kita pulang, di makammu.

Sudah dua belas tahun berlalu semenjak hari itu. Rasa malu itu tak pernah bisa kuhindari. Tiap November tiba, ia menyesaki dadaku tak kenal ampun layaknya sebuah mimpi buruk.

Pertanyaan yang senantiasa menggema di kepalaku: Mengapa saat ini aku kembali mengingatmu, dan menulis pesan ini? Tidakkah sebaiknya aku tetap dalam bungkamku?

Takkan! Aku takkan sanggup. Hari-hari terus berlalu, sedang kamu kian jauh terkubur di dalam sana. Aku takut lupa padamu. Betapa pun tersiksanya aku karena mengingatmu, namun tak kan kubiarkan hal itu terjadi. Mungkin, suatu hari nanti, rasa tersiksa ini dapat membuatku merasa betapa sangat perlunya aku datang kembali ke makammu, lalu menyerakkan beberapa kuntum bunga hanun di atasnya. Aku tidak tahu, sudah seberapa beraninya aku sekarang. Sanggupkah aku membunuh seorang saja pria Yahudi tanpa gemetar? Aku sudah dewasa kini. Lagi pula, tinggal di pemukiman pengungsi telah membantuku berubah menjadi lebih keras.

Namun, semua itu belum mampu membuatku cukup yakin. Satu hal yang kuyakini secara pasti, rasa malu ini betul-betul telah membuatku terpojok…hingga ke tulang sumsum. Apakah malu saja cukup? Kukira, cukup. Sebab, aku membunuh kucing itu hanya gara-gara kesalahannya menerkam sepasang merpati. Tentu, karena ia sangat lapar. Padahal, yang saat ini sedang kubela adalah orang-orang dengan jumlah ribuan yang didera rasa lapar, baik laki-laki maupun perempuan. Aku ikut berbaris di tengah-tengah mereka menghadapi para pencuri yang telah merampas segalanya dari kami. Inikah alasannya sehingga aku bangkit dari bungkamku, yakni agar aku semakin mengakrabimu?

Pengakuan ini niscaya akan memberiku maaf.

Aku sadar, sebagaimana seharusnya juga kamu sadari sejak lama, terkadang segelintir orang harus merelakan diri mereka mati, agar yang lain dapat terus hidup, ungkap sebuah kata bijak. Namun yang terpenting dari semua itu, sekarang, aku sedang hidup di dalamnya.***

—-
*)Diterjemahkan dari cerpen yang berjudul Muntashaf Ayar.

**)Sastrawan yang bernama lengkap Ghassan Fayiz Kanafani ini dilahirkan di Yafa (Palestina) pada 9 April 1936. Di samping sebagai sastrawan ia juga dikenal sebagai jurnalis. Semenjak pendudukan Israel atas tanah kelahirannya, hidupnya banyak ia habiskan di pengungsian hingga meninggal secara tragis karena ledakan bom yang dipasang orang tak di kenal di mobilnya, pada 8 Juli 1973, di depan rumahnya di Beirut. Ia meninggal dalam usia 36 tahun.

***)Misran adalah penggemar sastra. Sarjana sastra sastra lulusan Al-Azhar, Mesir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *