Satu Panggung, Dua Cerita

Yudi Winanto
http://www.balipost.co.id/

ADA persoalan yang membelit juru foto Robert Kincaid saat mendapat tugas memotret di Madison County. Ia tak menemukan objek yang tepat meski pilihan terhampar di depannya. Angle yang dipilih tak mendukung hingga foto yang dibuat menjadi “tak bercerita”. Namun, nasib berpihak padanya. Pertemuannya dengan Francesca Johnson memberi jalan hingga mendapatkan gambar-gambar terbaik jembatan di Madison County.

Novel karya Robert James Waller (1992) dan diangkat ke layar perak dengan judul “The Bridges Over Madison County” (1995) itu disutradarai dan dibintangi Clint Eastwood dan Meryl Streep. Film ini tidak hanya bertutur tentang dunia fotografi semata. Cerita di balik pembuatan foto itu tak kalah indah dan intim di tengah kesunyian dan keindahan panorama wilayah itu.

Jembatan tak lagi sebuah struktur yang membentang di jalan raya namun menjadi penghubung dua tempat yang terpisahkan. Bentuknya yang unik membuat bangunan tersebut tidak hanya dikenal karena fungsinya semata. Ada nilai-nilai romantis, sejarah, keindahan atau lainnya yang terselip di dalamnya.

Ilustrasi di atas dipakai penulis untuk memahami upaya menjembatani antara penulis cerpen dan perupa. Dua dunia yang terpisahkan oleh media penyampainya, dicoba untuk dipersatukan dalam sebuah gagasan baru. Kolaborasi yang diharapkan menjadi “genre baru yang otonom” itu muncul di tengah perkembangan seni yang luar biasa cepat dan tak lagi terkotak-kotak.

Semua itu diawali pada 4 Januari 2009 dengan “Topeng Nalar” sebagai judulnya. Restu Ratnaningtyas memvisualkan ide yang dibawa dalam cerpen Dewi Ria Utari. Dalam naskah cerpennya, pembaca diajak berkelana dengan topeng, tarian dan sakit demam yang diderita seorang anak bernama Nalar. Sebenarnya penyakit itu biasa namun karena datang pada saat yang tepat dan pada kondisi khusus, maka memunculkan banyak pertanyaan. Apakah itu berhubungan dengan paket pesanan yang diterima ibunya yang seorang penari topeng? Apakah itu bukan teror klenik yang biasanya menghantui, bila pemikiran rasional tak lagi bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan.

Semula pemikiran berjalan sederhana, selanjutnya menjadi menarik dan jlimet. Apakah persoalan ilustrasi juga membebani pemikiran sang penulis naskah? Jawaban seketikanya adalah tidak, karena sang juru gambar yang mendapat tugas “memberi” bahasa visual dengan tujuan untuk mendukung naskah yang dimaksud. Penulis melakukan eksperimen sederhana dengan membaca teks dan menutupi ilustrasinya. Yang terjadi adalah visualisasi kata-kata itu menjadi bahasa gambar. Proses itu tak terelakkan. Pada tahap awal, kata anak tentu mengacu pada bocah yang belum berangkat remaja, topeng adalah sebentuk kayu yang diukir serupa wajah dan demam adalah sakit dengan dirasakan seseorang dengan suhu badan yang tak lagi normal.

Cerita mengalir seperti gambar bergerak, jalin-menjalin menjadi paparan peristiwa seperti tertera dalam narasi yang dibaca. Dan selesai. Tetapi saat penulis melihat ilustrasinya dan mencoba mengabaikan teks, yang terjadi lebih dari yang diharapkan. Meski ada topeng, anak dan ranting-ranting tanpa daun, cerita yang terbangun menjadi tak terbatas. Gambar menjadi simbol, simbol memaknai peristiwa dan cerita dengan berbagai ide mengalir tanpa henti.

Apa yang terjadi? Meski kedua media penyampai (teks dan ilustrasi) itu menawarkan intepretasi yang luas, tetapi keduanya tetap tak bisa dipersatukan, bahkan oleh judul sekalipun. Keduanya seperti berlomba dan tidak mau mengalah dalam mencari perhatian pembacanya. Ini tentu menjadi kemenangan bahasa visual yang cenderung menarik perhatian mata. Bisa difahami karena pada kasus ini melibatkan dua seniman berbeda dengan media penyampainya yang tak sama pula. Kalaupun mereka dikolaborasikan yang muncul tetap mereka masing-masing, bahkan pada titik tertentu mereka tak saling mewakili atau mendukung.

Ilustrasi yang semula dipahami sebagai media visual untuk mendukung teks seketika juga menjelma kekuatan tersendiri. Apakah itu kelanjutan dari fenomena the illustrations are better than the text? Padahal dalam naskah klasik, ilustrasi dimaknai sebagai bahasa visual untuk mendukung dan memperkuat narasi teks. Artinya, ide yang ditawarkan tak akan pernah jauh dari cerita yang dipaparkan. Dengan demikian imaji pembaca tak akan melebar dari gagasan cerita. Atau paling tidak membantu pembaca memahami naskah dari perspektif berbeda.

Tetapi siapa yang mampu menghadang sang waktu? Perubahan menjadi hal yang tak terbantahkan. Gagasan menampilan cerpen dengan ilustrasi dalam satu tampilan menawan adalah langkah kreatif. Menjembatani ide perupa dengan penulis cerpen, juga sah-sah saja. Harapannya tentu, akan ada cerpen dengan ilustrasi terbaik dalam satu bahasa yang utuh. Dan juara selanjutnya adalah cerpen terbaik dan ilustrasi terbaik. Maka tragis memang bila jembatan yang mempersatukan itu sudah dibangun tetapi yang melaluinya tak ada. Namun, itu pula yang dialami Robert dan Francesca pada akhirnya pada ilustrasi di atas. Jembatan Madison County memang mempertemukan dan menghubungkan keduanya, namun pada kenyataan mereka tetap kukuh pada pendirian dan keinginan mereka masing-masing. Keinginan bersatu pernah ada tetapi mereka kemudian tak pernah bertemu kembali selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *