Baz-Art dalam Wacana dan Pasar

Sri Wintala Achmad *
http://www.kr.co.id/

MEMAHAMI Baz-art, salah satu agenda kegiatan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XV – 2003, sangat berbeda dengan basar sebagai pasar murah. Secara substansial, Baz-art mengandung pengertian event seni rupa yang berbingkai keseimbangan wacana pasar dan pasar wacana. Di mana, penyelenggaraan Baz-art versi Yayat Surya tidak sekadar menawarkan publik atas produk seni rupa sebagai aset komoditas. Melainkan, seni rupa ditawarkan sebagai wacana apresiatif, edukatif, rekreatif, artistik dan inovatif bagi publik.

Baz-art yang diselenggarakan di museum benteng Vredeburg menampilkan karya-karya perupa tiga generasi. Sekadar menyebutkan nama: Affandi, H Widayat, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Dedi Setiadi, Dyah Yulianti, Fadjar Sidik, Lucia Hartini, Laksmi Sitoresmi, Samuel Indratma, Sekar Jatiningrum, Rudi Winarso, Sun Ardi, Ugo Untoro, Yaksa Agus, Yanuar Ernawati dll. Lengkapnya, 80 perupa Yogyakarta telah mengambil kesempatan ini sebagai ajang ekspresi dan sekaligus pasar atas karya-karya seni murni mereka.

Seluruh peserta yang mengeksibisikan karya-karya seni lukis, patung, sketsa, drawing dan grafis tersebut memiliki keanekaragaman visual dan tema atau konsep. Melalui bentuk, tema dan konsep yang merefleksikan totalitas, kemandirian dan kejujuran kreatif perupa mampu memberikan gambaran bahwa penyelenggaraan Baz-art tidak sekadar mengabdi pada kepentingan kolektor (dol) yang membeli karya seni rupa dengan patokan harga pasar. Akan tetapi, para perupa yang berkredibilitas seniman itu memasang tarif karyanya selaras bobot idealismenya. Dus, kontribusi seni rupa tidak selamanya mampu ditebus lewat kompensasi finansial. Kompensasi apresiatif publik pun ternyata lebih penting.

Ditandaskan, keistimewaan Baz-art bertumpu pada penampilan karya seni rupa murni yang diwarnai keanekaragaman bentuk visual, tema dan konsep. Keanekaragaman yang merefleksikan kejenuhan kreatif perupa atas kegalauan kondisi sosial politik yang tidak kunjung ke titik solusinya. Meskipun, sebagian kecil peserta masih mengangkat tema sospol ke dalam karya-karyanya, seperti: Djoko Pekik (Masker, pastel on paper, 38 x 55 cm – 2003), Januri (Bingung, pen on paper, 30 x 20 cm – 2003), Khoiri Rohman (Indonesia Berduka, pencil on paper, 67 x 49 cm – 2003), Pupuk DP (Konflik, self print, 55 x 75 cm – 2002) dll.

Kejenuhan kreatif di kalangan perupa terhadap tema sospol merupakan fenomena menarik guna dikaji. Tema-tema alternatif pasca sospol dalam Baz-art dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori: pertama, komedial-naif.Kedua, spiritual – transendental. Ketiga, natural-realis. Dan keempat, tradisional. Komedial-naif dapat ditemukan pada karya: Ugo Untoro (I Love My Puppet, pen on paper, 22 x 35 cm – 2003), Yaksa Agus (Bukan Raja Dangdut, drawing on paper, 10 x 20 cm – 2002), dan Wibowo Adi Utomo (Mobil, drawing on paper, 25 x 30 cm, 2002).

Tema dengan menawarkan nuansa spiritual-transendental terdapat dalam karya: Agus Suwage (State of Meditation, digital print, 45 x 45 cm – 2003), Dedi Setiadi (Moksa, 2002), Dyah Yulianti (Meditasi, conte on paper, 25 x 32 cm – 1970) dan H Widayat (Abstraksi Purba, ink on paper, 39 x 39 cm – 1978).

Tilikan tema natural-realis yang menyiratkan sikap kembali ke alam terdapat pada karya: M Ali Rahman (Avril Lagvine, drawing on paper, 40 x 50 cm – 2003), Mulya Gunarso (Ekspresi Cucuku, pen on paper, 55 x 40 cm – 2003), Sriyadi (Air, pencil on paper, 40 x 25 cm – 2003), Wasdi Watarejo (Termenung, drawing on paper, 53 x 35 cm – 2003); Yayat Lesmana (Kantor Pos Yogyakarta), ink on paper, 40 x 50 cm – 2002) dll. Dan, peserta yang cenderung menawarkan tema tradisional, semisal: M Operasi Rahman (Mitoni, drawing on paper, 75 x 55 cm – 2003), Sulasno (Prajurit Kraton, lukis kaca, 60 x 100 cm – 2003) dll.

Pengkajian bahwa pergeseran tema sospol dan pernik-perniknya ke arah tema-tema alternatif yang merupakan medium terapi perupa, dapat ditangkap sebagai gerakan katarsis kreativitas. Titik jenuh terhadap persoalan sospol tersebut mampu menggiring kreator kepada dunia kreativitas rekreatif, natural, meditatif dan bahkan selengekan. Kreativitas yang mengarah pada penjangkauan substansi humaniora dengan sepenuh spirit cinta kasih dan kedamaian hati.

Reaksi positif kreator inilah merupakan langkah bijak di dalam menawarkan antitesa terapi terhadap tesa tema sospol yang memasung kreator ke dalam kesakitan penuh lelehan darah, peluh dan airmata. Sehingga, karya-karya bertema alternatif tidak lebih refleksi sikap pemberontakan kreator. Sikap arif yang mampu memberikan jalan ke luar efektif. Sikap yang mampu membebaskan kreator dari jurang kreativitas sloganis atau posteral melalui pengorbanan nilai seni rupa murni di hadapan publik.

PENYELENGGARAAN Baz-art versi Yayat Surya mengandung nilai tawar lebih ketimbang bursa seni rupa FKY versi Mah-Dot yang cenderung bernuansakan pasar. Di mana, karya seni rupa ditangkap sebagai aset komoditas. Senasib barang kerajinan atau sovenir seni.

Konsep penyelenggaraan Baz-art yang selaras dengan kondisi zaman itu sayangya belum diikuti kualitas artistik display. Pemajangan karya masih terkesan seadanya, amburadul dan semrawut. Alhasil, publik terganggu dalam mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan. Sehingga, persoalan yang sederhana ini menyebabkan terhambatnya penyampaian nilai tawar estetika di ruang wacana dan apresiasi publik.

Panitia Baz-art seyogianya merefleksi diri atas kerja seninya di dalam event FKY tahun ini. Hal tersebut sangat penting guna mendukung penyelenggaraan event serupa melalui masinis-masinis muda yang berwawasan brilian, baik di sisi artistik maupun manajemen pelaksanaannya di masa mendatang. Sekalipun dengan dana relatif minimal. Bukankah panitia FKY di setiap kerja keseniannya senantiasa mengencangkan ikat pinggang?

*) Pemerhati Seni Budaya. Tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *