Belajar Pada Semangat Dudevant

Iskandar Norman
http://blog.harian-aceh.com/

Ia wanita yang mencoba jadi penulis, namun dikenal sebagai ?pria? produktif dalam berkaya. Menanggalkan identitas ketika menjadi wanita penulis dianggap tak beruntung dalam dominasi kaum pria.

Aurore Dupin Dudevant, benar-benar menikmati perannya sebagai penulis ?pria? di balik keasliannya sebagai wanita. Keinginannya untuk jadi penulis sangat besar. Ia rela meninggalkan suami dan keluarganya di sebuah kota kecil dengan pindah ke Paris pada tahun 1831.

Sebagai wanita yang saat itu terkukung dalam rumah tangga. Ia ingin menggapai kebebasan. Jender waktu itu belum berlaku di dunia, termasuk di kota besar seperti Paris. Dudevant mencoba menentang norma yang berlaku di lingkungannya kala itu. ia mengangap pernikahannya lebih buruk dari penjara, karena usahanya untuk berekpresi dan ingin jadi penulis hebat terkukung.

Berbekal semangat itu, ia meninggalkan suami dan keluarganya. Pernikahan benar-benar mengurungnya dalam lingkungan kecil. Ia pun menuju Paris untuk menggapai cita-citanya, hidup mandiri melalui menulis. Namun di Paris ia harus menghadapi hidup yang keras.

Untuk menggapai kebebasan di Paris ia harus mempunyai uang. Bagi wanita pendatang di Paris saat itu hanya ada dua cara mendapat uang, lewat pernikahan atau pelacuran. Belum pernah ada seorang wanita pun di Paris saat itu yang berhasil mandiri dari menulis.

Ketika pertama kali Dudevant menunjukkan tulisannya kepada editor di Paris. Editor itu mencemoohnya dengan menyuruhnya menjadi seorang wanita biasa untuk melahirkan bayi saja di rumah, bukan menghasilkan karya sastra. Dudevant jelas-jelas meras tersinggung.

Bagi penulis pria di Paris saat itu, Dudevant dianggap melakukan sesuatu yang mustahil. Karyanya dianggap sampah. Meski sebetulnya karyanya tidak kalah bagus dibandingkan dengan karya penulis pria di Paris saat itu. Takdirnya yang lahir sebagai perempuan membuat Dudevant tak diperhitungkan.

Untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi penulis hebat di Paris. Ia masuk dalam lingkungan pria dengan cara menjadi ?pria? karena perempuan di Paris pada masa itu hanya jadi seniman kelas dua. Itu pun sangat sedikit.

Pada tahun 1832 Dudevant menulis novel dengan nama samaran George Sand. Novel perdananya Indiana membuat George Sand terkenal. Para penulis dan editor di Paris menganggap George Sand sebagai penulis baru yang langsung menghasilkan karya bermuta. Mereka tak tahu bahwa itu Dudevant.

Dudevant kadang-kadang mamakai pakaian pria dan berprilaku sebagai pria untuk menunjukkan identitas barunya sebagai George Sand. Dalam berbagai pertemuan sesama penulis, Dudevant memakai jaket panjang pria, topi abu-abu, sepatu bot yang berat dan dasi dandy sebagai koleksi busananya. Ia juga mengisap cerutu dan adlam obrolannya ia selalu bertingkah layaknya seorang pria.

Tipuan sebagai ?pria? benar-benar membuatnya diakui sebagai penulis hebat. Namun di luar itu ia tetap sebagai seorang perempuan yang fenimin dan bersahaya. Di dunia penulisan, ia menjalin hubungan dengan seniman dan penulis paling terkenal di Erops, seperti Musset, Listz, Chopin. Dudevant lah melalui peran George Sand yang merayu mereka dan kemudian mencampakkannya. Ia melanjutkan hidupnya sesuka hati.

Orang-orang yang mengenal Dudevant dengan baik tahu tentang kedoknya sebagai George Sand. Untuk menghindari kesan tertentu tentang dirinya sebagai penulis, George Sand/Dudevant kerap mengubah gayanya, baik dalam kesehariannya sebagai ?pria? dan wanita, maupun dalam karya-karyanya.

Perubahan pada gaya menulis yang ditunjukkan Dudevant membuat karya-karyanya jadi incaran. Publik Paris selalu menanti kejutan-kejutan baru darinya. Begitulah Dudevant mempertahankan reputasinya sebagai penulis wanita, meski di balik topeng pria yang ditunjukkannya.

Sepanjang kehidupan Dudevant dalam dunia sastra, banyak kalangan seniman yang menghabiskan waktunya dengan Dudevant sebagai George Sand. Tetapi dalam jurnal-jurnalnya dan di hadapan teman-teman dekatnya seeprti Gustafe Flauber, ia mengaku bahwa ia tidak pernah berniat untuk menjadi pria. Ia hanya memainkan peran sebagai ?pria? untuk konsumsi publik yang menerima karya-karyanya.

Sebagaimana ditulis oleh Robert Greene (2007) yang sesunguhnya diinginkan Dudevant adalah kekuasaan untuk menentukan karakternya sendiri. Ia menolak batasan-batasan yang ditentukan oleh masyarakat terhadapnya. Kedok sebagai ?pria? telah membuatnya menarik perhatian dan publik Paris terus menerus menunggu karya-karnyanya.

Begitulah Dudevant dari seorang penulis perempuan yang tak dihargai, berhasil membalik keadaan dengan menyamarkan identitasnya sebagai seorang pria. Apa yang dilakukan Dudevant hanyalah usaha untuk menunjukkan bahwa karya-karyanya patut dihargai. Karya tidak dilihat dari jenis kelamin, karena karya itu sendiri tak punya jenis kelamin.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *