Epos The Years of Living Dangerously

Judul: Merdeka Square – Intrik Perebutan Takhta Istana, 1965-1967
Pengarang: Kerry B. Collison
Alih Bahasa: Dwi Ekasari Aryani
Penerbit: Narasi, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2009
Tebal: 664 halaman
Peresensi: M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
http://www.ruangbaca.com/

“Kesahihan” sejarah seputar peristiwa 30 September 1965 hingga kini belumlah tuntas. Kita semua sadar atas satu pernyataan “menjebak” itu. Bahkan, harus diakui bahwa kita memang pernah terjebak dalam mengungkap peristiwa itu menurut narasi penulisan sejarah yang sesat, yakni dengan menodongkan sebutir pertanyaan yang teramat ambisius: Siapa “dalang” di balik peristiwa pemberontakan 30 September 1965? Nah, bukankah simpul nalar semacam itu yang turut menjerumuskan “narasi formal” Orde Baru dalam sebatas “klaim”?

Peristiwa 30 September 1965-yang sekarang “diluruskan” peristilahannya dengan “G30S” merupakan puncak dari segala pertarungan ideologis. Skenario-skenario politik berbagai pihak dimainkan layaknya kisah Bharatayudha. Ya, perang saudara sebagaimana epos pewayangan itu. Itulah memang realitasnya pada masa awal kemerdekaan kita.

Demikian pulalah analogi yang tertangkap usai merampungkan novel karya Kerry B. Collison berjudul Merdeka Square: Intrik Perebutan Takhta Istana, 1965-1967 ini. Pusaran inti kisah yang ditulis Collison ihwal peristiwa G30S itu sebenarnya sudah jamak diketahui pembaca umum, terlebih lagi bagi kita yang sekian lama berselisih pandang soal “dalang” peristiwa itu. Kelebihannya, ia banyak menguraikan ketegangan dan sepak terjang intelijen. Di sisi itulah, mungkin, Collison jadi betah menyajikan kisah sampai 664 halaman.

Merdeka Square adalah sebuah karangan fiksi yang ditulis Collison berdasarkan imajinasi dan penelitian atas fakta-fakta sejarah. Tentu, ia tak luput pula menyandarkan diri pada kerapuhan ingatan pribadinya selama bertugas di Jakarta. Collison memang pernah tinggal di Indonesia sebagai seorang anggota militer dan intelijen pemerintah Australia sekitar periode 1965, suatu periode pergolakan yang lazim disebut The Years of Living Dangerously. Sebagai profesional, prediksi-prediksinya selama ini dikenal mengerikan dalam meramalkan perkembangan politik dan ekonomi Asia sebagaimana ditulis dalam buku-bukunya, seperti The Timor Man, Indonesian Gold, termasuk Merdeka Square ini.

Sekalipun hanya satu buku nonfiksi yang pernah ia tulis, yakni The Leo Stach Story, Collison boleh dikatakan memaparkan data sejarah secara cerdik. Ia jelas tak bakal terjebak pada kesesatan penulisan, karena ia berdiri menurut sudut pandang profesinya. Terlebih, itu dituliskan dalam bentuk fiksi (novel). Ia merupakan seorang intelijen (asing), sehingga normal jika narasinya dibungkus menurut kacamata intelijen (dan lembaga intelijennya). Dan lagi, ia seorang Australia, sehingga sederet intrik lembaga intelijen Australia terseret dalam penulisan. Dari situ, ia merembet pada peran intelijen Amerika Serikat dan Uni Soviet (USSR). Alhasil, Merdeka Square hadir disertai kisah konspirasi intelijen yang sangat sesak.

Selebihnya, Collison tentu saja berkisah ihwal gagasan Presiden Soekarno yang menerapkan kebijakan politik Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis) sebagai upaya pemersatuan bangsa Indonesia. Tetapi, di tengah perjalanan, Partai Komunis Indonesia mendapatkan peluang untuk mendekati kuasa pemerintahan. Semisal, adanya Soebandrio sebagai Menteri Luar Negeri dan Wakil Perdana Menteri kala itu. Nah, karena Soekarno dicap terlalu lama memerintah, belum lagi dengan menasbihkan diri sebagai “presiden seumur hidup”, terjadilah ekses perebutan pengaruh ideologis, khususnya antara Angkatan Darat dan Partai Komunis. Akibat konflik berdarah itu, rakyat sipil menjadi korban –serupa wayang, yang bisa kapan saja dikorbankan sang dalang.

Sampai di sini, saya teringat pada tinjauan sejarawan Asvi Warman Adam dalam menyikapi peristiwa G30S. Menurut dia, kini tidak sepatutnya lagi kita mempertanyakan “siapa dalang G30S”, melainkan “siapa dalang pembantaian 1965”. Artinya, perdebatan terkait siapa dalang G30S sudah sepatutnya diakhiri. “Seyogianya,” demikian Asvi menuturkan, “diskusi kini beralih tentang bagaimana proses pembunuhan massal 1965 itu terjadi dan mengapa sampai memakan korban demikian banyak.” Dan saya menangkap pesan itu dari novel ini, sekurang-kurangnya dari dua bagian cerita yang menurut Collison pun paling kontroversial.

Pertama, terkait apakah para Dewan Jenderal yang diculik pada pagi 1 Oktober 1965 disiksa lebih dulu dan tentang peranan Gerwani dalam pembunuhan mereka. Di titik ini, Collison menilai Gerwani berperan penting atas kejadian yang menimpa para tawanan kala diculik ke Lubang Buaya. Tentang kejadian di Halim Perdanakusuma itu, Collison menuliskan seluruh adegan sesuai laporan interogasi yang dibacanya. Memang, beberapa pihak berpendapat bahwa Gerwani tidaklah bersalah. Tetapi, Collison meyakini, kelompok Gerwani memang hadir untuk menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan Dewan Jenderal.

Kedua, menyangkut peranan negara Barat dalam intrik-intrik penggulingan kekuasaan atau lebih tepatnya kudeta pada September 1965. Agaknya, hal itulah yang menyebabkan novel ini harus disusun melompat-lompat, beralih dari satu tempat ke tempat yang lain, antara Jakarta-Canberra-Melbourne-Bangkok-Semarang-Virginia-Jakarta.

Selain itu, Collison juga tak alpa menuliskan beberapa kelindan konspirasi. Seperti dijalinnya hubungan antara CIA dengan beberapa perwira senior Komando Diponegoro, Jawa Tengah. Tujuannya untuk mendukung pemberontakan terhadap Soekarno yang dianggap anti-Amerika, tak terkecuali terhadap teman-teman komunis Soekarno. Catatan khusus di sini, Collison mengakui bahwa tidaklah mungkin mendapatkan detail yang akurat ihwal keterlibatan Amerika dan Australia.

Sekalipun begitu, Collison tetap menyajikan sudut pandang baru, sebuah narasi yang langka atas peranan lembaga intelijen Australia, Australian Secret Intelligence Servive (ASIS) di Indonesia, yang sebelumnya berhasil dibongkar Brian Toohey. Dalam penemuan Toohey, agen senior Australia pada masa itu tidak hanya mendirikan sebuah jaringan di Indonesia, namun juga menyusupi sekte agama rahasia yang berfilosofi SUBUD (Susila Budi Dharma).

Menariknya novel ini, yang dengan cerdik langsung dapat dinikmati pada Bab 1 Netherlands East Indies-1901 Jawa Tengah, yakni fakta bahwa Subuh sebagai pendiri organisasi SUBUD rupanya lahir pada waktu yang hampir bersamaan dengan Soekarno. Jadi, pemimpin spiritual itu terlahir dengan nama Soekarno, namun kemudian menggantinya dengan nama Subuh. Sebaliknya, Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia terlahir dengan nama Subuh, lalu berganti nama menjadi Soekarno. Dan, sepertinya takdir kedua sosok pun bersimpangan sebab ketika Soekarno jatuh dari kursi kepresidenan, justru kebintangan pemimpin spiritual Subuh sedang menanjak. Ini cerita pembukaan (fakta?) yang lumayan mengusik, karena akan memantik rasa penasaran soal persinggungan SUBUD dengan G30S.

Novel yang edisi Inggrisnya diterbitkan Sid Harta Publishers pada 1996 ini memang menarik bukan hanya karena secara tematis menyangkut misteri sejarah 1965, tapi seperti umumnya novel sejarah, kita bakal larut dalam estetika penyajian antara mana yang realitas sejarah dan mana yang imajinasi pengarang. Ini pula yang ditekankan Collison dalam catatan akhir novelnya. “Tentu saja sebagian besar karakter dalam cerita ini hanyalah karangan, tetapi ada juga beberapa fakta seperti bahwa Head of the Soviet KGB Station di Indonesia saat saya bertugas di Kedutaan Australia adalah Jenderal Konstantinov,” demikian Collison mengakui.

Akhirnya, harus diakui bahwa terbitnya Merdeka Square dalam edisi Indonesia kali ini tidak bisa dilepaskan dari berondongan terjemahan karya publikasi yang mengungkap “aksi” G30S, yang terus bermunculan sejak 1998. Namun, novel ini patut diberi ruang khusus bukan hanya karena ditulis menaati keakuratan sejarah, semisal dengan menuliskan semua istilah, nama, dan nama tempat sesuai ejaan yang berlaku saat itu. Lebih dari itu, narasi atas G30S yang lama menyimpan misteri itu kini bagi saya bolehlah disementarakan setara epos. Ia hadir menyeka keringat yang terus mengucur sebab pundak terbebani kekelaman sejarah.

*) Peminat sejarah dan sastra, bergiat di Komunitas Kembang Merak, Yogyakarta.