Machiavellian

Zulkarnain Zubairi
http://www.lampungpost.com/

APA itu yang disebut demokrasi, kedaulatan rakyat, aspirasi, partisipasi, keadilan, tekanan, legitimasi, kebijakan. Itu hanya ada dalam kamus politik. Realitas politik tak butuh itu semua. Yang ada adalah kasidah: Ya dana ya dana dana…

Ketika Mamak Kenut mencoba menjelaskan berbagai fenomena dari kemaruknya eksekutif dan legislatif, ia kembali mendapat makian. Machiavellian! Sebuah istilah yang paling sering digunakan untuk seorang pembicara atau penulis politik yang berani mengetengahkan pandangan-pandangan yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah kesusilaan. Machiavelian sering digunakan untuk mengutuk suatu kebijakan atau suatu tindakan politik yang tak bermoral demi mencapai tujuan-tujuan tertentu bagi kepentingan diri sendiri.

Machiavellianisme adalah suatu gerakan politik yang menerapkan ajaran-ajaran Nicollo Machiavelli dengan nada-nada sumbang berdasarkan interpretasi?yang mungkin?tak dapat disetujui Machiavelli sendiri. Kasihan Machiavelli. Sebab, Machiavelli tak lebih dari filsuf yang begitu mencintai negerinya; yang bersedia melakukan apa pun demi kejayaan negerinya?Florence. Tak lebih.

Banyak yang salah sangka dengan Machiavelli ketika membaca bukunya: Il Princip, Sang Penguasa. Bagi Mamak Kenut, Il Prinsip adalah kamus cinta. Begitulah cara mengungkapkan kecintaan pada negara. Namun, para legislator, pejabat korup, politikus karbitan, dan pemimpin belagu salah besar jika menuruti maunya sendiri dalam menjalankan roda pemerintahan. Mereka bukan pengikut Machiavelli. Sama sekali tak ada cinta di hati mereka: kepada rakyat, kepada negara, kepada siapa pun. Mereka hanya berpikir untuk dirinya sendiri: kepentingan, kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan diri sendiri.

Sejak awal, ketika ajaran politiknya disebarluaskan, Machiavelli bukan hanya dipuja, tetapi juga dikutuk. Barangkali tak seorang filsuf pun yang seperti Machiavelli: dikutuk selaku bajingan tak bermoral, tetapi juga dipuja sebagai realis tulen yang berani memaparkan keadaan dunia dan fakta apa adanya.

Gagasannya yang menggemparkan adalah tatkala ia menganjurkan penguasa berbuat apa saja, termasuk kejahatan demi kebaikan negara. “Penguasa tak perlu risau melakukan segala perbuatan jahat, yang tanpa itu akan sukar menyelamatkan negara,” kata dia. Demi kepentingan negara?seperti filsuf-Raja Plato?sang penguasa Machiavelli boleh bertindak di luar hukum. Karena hukum dibuat manusia atas desakan kebutuhan, hukum itu tidak mutlak.

Mamak Kenut melihat berbagai tindak kekerasan, pementingan diri, penipuan, kelicikan, hipokrisi, kekejaman, kejahatan menjadi kenyataan yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, Mamak Kenut tak yakin itu semua refleksi dari orang-orang yang sudah membaca ajaran Machiavelli. Sebab, Machiavelli?sekali lagi?cuma mengajarkan sebuah cinta.

*) Penulis dilahirkan di desa Negarabatin, Margaliwa, kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, tanggal 12 Juni 1970.