Mengembalikan Aras Kebudayaan

M Abdul Rohim *
http://www.seputar-indonesia.com/

KEBUDAYAAN yang berasal dari kata budhidan dayamerupakan inti dari kehidupan manusia.Manusia disebut sebagai hewan yang berakal.

Pancaran dari akal adalah budhi yang merupakan nukleus dari kebudayaan. Dalam konteks ini seseorang bisa disebut manusia jika memiliki kebudayaan. Manusia dan kebudayaan menjadi satu tubuh yang tak bisa dibedakan.Kebudayaan adalah ruh dari manusia. Tanpa kebudayaan,manusia tak ubahnya binatang yang berkeliaran di hutan.Tetapi sekarang,manusia sering salah tempat dalam memosisikan kebudayaan. Hal ini diakibatkan dari kesalahannya dalam memaknai kebudayaan.

Kebudayaan yang bermakna sebagai proses memanusiakan manusia telah tergeser oleh politik kepentingan. Saat ini kebudayaan hanya dijadikan sebagai alat untuk memuaskan nafsu kapitalis. Sebab, muara dari percaturan politik adalah kapital.Sehingga,perlu adanya refilosofi kebudayaan agar makna kebudayaan tidak semakin tergeser oleh tangan-tangan jahil. Filosofi kebudayaan menjadi penting untuk digaungkan kembali di tengah maraknya politisasi budaya.

Kesalahan Latah

Buku ini menjelaskan tentang sebuah kesalahan latah yang selama ini mentradisi tidak hanya dalam lingkup Negara Indonesia, tetapi pada lingkup global. Kesalahan selama ini terletak pada penggunaan budaya sebagai alat pemuas politik (halaman 265). Politisasi kebudayaan menjadi salah satu concerndari buku ini. Kebudayaan yang menurut Arif adalah sebuah proses pemanusiaan manusia lewat pemanusiaan kehidupan telah ternodai oleh para politikus. Kepentingan politik menubuh dalam kebudayaan.

Sehingga,kebudayaan kian mandul dengan nilainilai kemanusiaan.Praktik politisasi kebudayaan ini semakin memperkukuh kebobrokan moralitas bangsa. Buku ini mencoba memberikan wawasan tentang makna kebudayaan berdasarkan aras filosofisnya. Buku ini akan memberikan wacana kepada para pembaca tentang filosofi kebudayaan yang hakiki.Kebudayaan yang bertendensi pemanusiaan manusia dengan pemanusiaan kehidupan. Jadi, tidak hanya memanusiakan manusia tetapi memanusiakan kehidupan secara keseluruhan. Pemanusiaan manusia saja tidak cukup untuk menciptakan kehidupan yang berbudaya.Kehidupan secara makrokosmos mesti diperhatikan, agar manusia tidak menjadi korban kehidupan.

Dehumanisasi

Fenomena yang telah terjadi saat ini memperlihatkan betapa keserakahan manusia menjadi sumber bencana. Banjir, longsor, tsunami, dan segenap bencana alam lainnya adalah akibat kejahilan tangan manusia sendiri. Dehumanisasi yang dilakukan terhadap kehidupan selain manusia memberikan dampak negatif yang mengancam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya kesadaran akan pemanusiaan kehidupan. Buku ini merupakan ruh kegelisahan Arif dalam melihat moralitas manusia Indonesia. Namun, akan sangat berguna bagi pembaca jika tidak hanya berhenti pada teks.

Percakapan yang timbul dari buku ini sangat diharapkan, agar pesan yang ingin disampaikan penulis bisa dicerap oleh pembaca. Teks yang telah ditelurkan oleh penulis akan memiliki makna jika direspons oleh pembaca. Kebudayaan tidak hanya menjadi percakapan dan tontonan yang berbentuk artifak. Kebudayaan tidak cukup hanya dengan menjadi koleksi di museum.Tetapi,kebudayaan merupakan ikhtiar untuk menciptakan kehidupan yang lebih hidup.Kehidupan yang tidak hanya memandang kebudayaan dari segi produknya.Tetapi,kehidupan yang memandang kebudayaan sebagai bagian kehidupan yang tak bisa dipisahkan merupakan tujuan akhir. Kebudayaan yang memandang dari sebuah produk adalah hasil dari para kaum strukturalisme.

Kebudayaan strukturalis lahir akibat kebutuhan manusia akan sebuah moralitas.Tetapi,dengan logika kekuasaan, strukturalisme kebudayaan bergeser pada pascastrukturalisme (halaman 267).Pergeseran inilah yang mengakibatkan kebudayaan kehilangan aras filosofisnya. Kebudayaan menemui ruangnya dalam konteks kekuasaan. Buku ini dibagi menjadi delapan bab yang masing-masing akan kita temukan runtutan pemikiran Arif. Pembaca disuguhi kronologi arus pergeseran makna kebudayaan. Arif sengaja memperlihatkan politisasi kebudayaan dengan meruntutkan tulisan dari bab ke bab.

Sehingga, pembaca akan mudah memahami alur pemikirannya. Menurut Arif, kebudayaan merupa dalam ruang politik yang bebas ?nilai?.Padahal,esensinya kebudayaan bergumul dan sarat ?nilai?.Sebab, martabat kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilainya (halaman 37).Nilai di sini adalah sebuah perwujudan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.Dengan berasaskan nilai kemanusiaan,kebudayaan mencoba menciptakan kehidupan yang penuh dengan keharmonisan.Tetapi, kini nilai tersebut telah ternodai oleh kapitalisme yang tertemu dalam ruang politik. Kebudayaan pada episode terbarunya dijadikan sebagai media legitimasi kekuasaan.Sebab,kebudayaan dijadikan sebagai polisi untuk memperkukuh dan mempertahankan kekuasaan.

Kebudayaan menjelma kekerasan simbolik yang dilakukan oleh kekuasaan.Rakyat dipaksa untuk tunduk pada kebenaran kekuasaan. Melihat kondisi yang kian tragis ini, kebudayaan mestinya dikembalikan pada rel semula.Yakni kebudayaan yang dijadikan alat untuk membina kehidupan yang berasaskan nilai-nilai kemanusiaan lewat pemanusiaan kehidupan.Inilah yang menjadi tujuan buku ini. Mengembalikan kebudayaan yang berasaskan nilai humanis. Sebab, kebudayaan pada dasarnya adalah sebuah proses penciptaan, penertiban, dan pengolahan nilai-nilai insani. Dan hal tersebut bisa diwujudkan jika didasari dengan budhi.

Buku ini menjadi referensi penting bagi mereka yang masih peduli dengan nasib kebudayaan. Kebudayaan harus segera disembuhkan dari kekritisannya. Bangsa ini mestinya memiliki perhatian yang khusus terhadap kebudayaan yang kian sakit.Refilosofi kebudayaan menjadi titik tolak untuk mengembalikan kebudayaan pada rel kehidupan sejati. Nilai yang terkandung dalam kebudayaan mesti dijaga dan diruwat agar tidak tergeser oleh nilai politis dan kapitalis.

Hal ini tentunya bisa diwujudkan dengan kepedulian semua elemen masyarakat.Tanpa dukungan semua elemen,selamanya kebudayaan hanya akan menjadi kaki tangan politik yang haus akan kekerasan.(*)

*) Wakil Direktur Paradigma Institute.