Puisi-Puisi Noor Amanah

http://www.suarakarya-online.com/
DI MAKAM

Oh, debu, ternyata
Yang melantunkan dedaunan gugur
Gelisah ranting-ranting terasa
Pada siang di makam
Dengan dara dara menyapa,
menghampiri
Menjelma selendang ungu
Sedangkan aku di perbukitan
Menderu burung burung pipit
Ah, debu juga, ternyata
Yang mengabarkan kedatanganku
ke makam itu
Siang jadi penuh arti
Dalam busukan kembang kembang
Penjaga makam yang tidur
akan bangun
Jika kuminta membersihkan debu

Kendari, Januari 2010

DI PANTAI LOSARI

Langit menggeliat tiba-tiba
Ketika azan mengalun
Di pantai Losari
Perahu yang berlayar ke langit
Tiangnya semakin membisu
Nelayan pemancing ikan
Dan para pedagang
makanan dan minuman
Khas Makassar
Tak seluruhnya punya nestapa
Segalanya telah sempurna
Tapi serasa belum selesai
Sebentuk sujud memutih
Dan laut pun turun ke dasarnya
Bersama bintang bintang
Amboi, lihatlah itu di sela-sela karang
Seekor cumi cumi dan anak gurita
Sedang meninabobokan matahari

Makassar, Juni 2010

BUMI SEMAKIN TUA

Burung burung melayang di kebun tropika
Terbang tak tentu arah mencari suaka
Binatang menggeliat dahaga
Tubuh bumi bergoyang kencang
Padang kosong semak ilalang
Berguguran sayap hutan
Telaga kerontang hamper telanjang
Kemarilah kawan,
Saksikan ini kehancuran
Bumi yang semakin tua
Pohon tumbang longsor datang
Tanah berubah sahara
Panas membara udara khatulistiwa
Bumi dirusak nafsu serakah
Mari kawan,
Tebar cinta di tanah ladang
Menanam pohon di hutan
Mekarkan bunga bunga di taman
Sampai musim bersahabat
Dan bumi kembali sehat

Makassar, Maret 2010

WAKTU

Waktu, Ternyata sia sia
Berusaha memisahkan kita
Dari rindu dan cinta
Ruang,
Akhirnya putus asa
Membatasi getaran
Tapi gelombang sampai juga
Mengukir kata
Lorong waktu sepanjang ruang
Kita jelajahi bersama
bayang bayang
Walau ada catatan terbuang
Interupsi sang petualang
Kita tiada pernah peduli
Karena cinta tak
mengenal dimensi

Kendari, April 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *