Sebuah Novel yang tidak Sekadar Cinta Terlarang

Nyoman Agus Arta
http://www.balipost.co.id/

Ber-setting era awal tahun 60-an, pembaca dibawa larut dalam keseharian tokoh-tokohnya yang tumbuh dan berkembang bersama pasang surut keadaan, cinta dan penghianatan. Demikian ditulis penari Legong senior Ayu Bulantrisna Djelantik di cover belakang novel Ayu Manda karya I Made Iwan Darmawan. Apa yang ditulis dokter spesialis THT ini, tentunya mengacu dari begitu detailnya narasi dan visualisasi keadaan Bali 50 tahun lalu tersebut.

Latar belakang penulis novel yang seorang fotografer, membuatnya paham bagaimana menarasikan tidak saja dari sudut pandang normal, tapi juga dari sudut-sudut ekstrem yang tidak biasa, sehingga akan dengan mudah kemudian pembaca mengetahui arsitektural sebuah puri, atau landcscape sebuah desa, lengkap dengan fungsi masing masingnya.

Namun demikian, detail tidak membuat plot menjadi lamban, atau penggambaran sebuah tempat tidak justru merusak dialog. Nampaknya novel yang diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) dari Kompas-Gramedia telah mengalami editing sangat ketat. Sehingga tidak banyak terjadi penumpukan kata keterangan atau kata sifat pada paragraf-paragraf dimana alur cerita sedang menukik.

Diakui budayawan Prof. Dr. I Made Bandem dalam endorsement-nya di-cover belakang, novel ini amat mudah dicerna. Lugas dan tidak bertele tele. Namun apa yang ditulis mantan redaktur Bali Post ini, memiliki pemahaman yang cermat akan seni dan budaya Bali. Keberaniannya menampilkan Bali secara detail dan utuh, menurut mantan Rektor ISI Jogyakarta dan kini menjadi pengajar di The College of the Holy Cross, Massachusetts, USA, tentunya berasal dari kajian akademis yang didalaminya selama ini. Karena itu, penari yang berasal dari keluarga penari ini, merekomendasikan novel ini sebagai bagian dari koleksi pustaka dalam mempelajari dan mempromosikan seni pertunjukan dan kebudayaan Bali.

Novel setebal 330 halaman ini, dimulai dengan sebuah prolog pendek tentang perdebatan kasta. Kemudian waktu surut keenam tahun sebelumnya. Saat Ayu Manda, mulai belajar menari legong dan menyadari bahwa dirinya hidup dalam sistem keluarga poligami. Kata pianis Vera Verraza Jasmine yang seorang penyuka baca buku, yang tidak hidup dalam sistem sosial kemasyarakat Bali, novel ini seperti mesin waktu yang membawa pembaca ke sebuah masa di Bali.

Pendeskripsian detail seni budaya Bali menantang imajinasi pembaca untuk terlibat secara terus menerus dalam realita kehidupan para tokoh serta konflik-konflik yang menyertainya. Hal tersebut menyebabkan novel Ayu Manda menjadi warna baru di tengah mosaik karya tulis di Indonesia,sebutnya diakhir kata dukungannya terhadap keberadaan novel ini.

Pembaca awal novel ini, Mari Nabeshima Ph.D. yang seorang ethnomusicologist lulusan Tokyo National University of Fine Art and Music, menilai kelincahan Iwan Darmawan dalam menggambarkan kejadian-kejadian dramatis kehidupan penari pada masa yang dinamis dalam sejarah modern Bali, membuatnya merasa terbawa ke alam pikiran orang Bali yang tersembunyi di balik senyum dan tata tutur yang halus. Dan ini menjadi sebuah pengalaman budaya yang sangat mendebarkan.

Alur cerita dimulai dari masa kanak kanak Ayu Manda, lalu berkembang menjadi persaingan antaristri Gusti Ngurah Amba, ayah Ayu Manda. Ngurah Amba juga memimpin sebuah sekaa kesenian yang kemudian berangkat membawa misi budaya ke Eropa. Di sini Ayu Manda banyak mengalami konflik dengan beberapa tokoh lainnya, termasuk persaingannya menjadi penari legong terbaik dengan Gusti Ayu Wimba.

Sepulang dari Eropa, Ayu Manda kembali menjalani hidup sebagai gadis yang mulai beranjak remaja. Hubungannya membaik dengan salah satu ibu tirinya, membawanya mendalami tarian bernuansa eksotis yang disebut joged. Bahkan dia dalam beberapa waktu sempat memimpin sebuah sekaa joged, hingga ia membubarkannya karena ada anggotanya yang melakukan penyimpangan prilaku.

Saat Ayu Manda sudah frustasi dengan kehidupannya sebagai penari, ia justru masuk ke dalam kegiatan kesenian yang berada di bawah partai politik yang marak saat itu. Dimana kemudian ia bertemu seorang pemuda yang membuatnya jatuh hati. Namun perbedaan kasta di antara keduanya, menjadikan hubungan ini cinta terlarang.

Seperti kata Janet DeNeefe -Pendiri & Direktur Ubud Writers & Readers Festival di cover depan, novel ini secara menggairahkan memaparkan kisah klasik pergulatan karakter manusia yang nyata dan tak terlupakan dalam struktur kasta.

Semua gerak dan tindakan karakter dari tokoh-tokoh dalam novel ini terus berubah dan beradaptasi dengan lingkungan dan kondisi mencekam kala persaingan antarpartai politik menjadi anarki. Dari cover yang terdiri dari dua bagian, satu bagian terluar dibuat semacam sobekan, nampak ada maksud dari novel ini untuk mengungkap sesuatu yang selama ini tersimpan rapat dari sejarah panjang Bali.

Novel yang ditulis lelaki yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menggunakan alur cepat, namun dengan bahasa yang segar dan penuh lirik, tulis Janet DeNeefe. Novel debutan ini pun diakhiri dengan sebuah keadaan yang sangat tidak terduga dan tiba-tiba, yang bisa membuat pembaca menduga duga, apakah akan ada kelanjutannya di novel novel berikutnya.