Seni Sebagai Ruang Mengabdi

Widya Rumpaka
kendaripos.co.id

PADA zaman yang serba pragmatis ini, masih adakah yang namanya pengabdian? Mengabdi berarti berbuat bukan untuk diri sendiri. Seseorang yang mengabdi, melakukan pengabdian, tidak akan pernah memikirkan apa keuntungan yang bakal diraih, bagi dirinya sendiri, dari perbuatan yang dilakukannya. Dia berbuat sesuatu yang bermanfaat bukan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk di luar dirinya. Jiwanya telah terbebas dari pamrih.

Pada zaman yang serba pragmatis ini, sulit menemukan sosok terbebas dari pamrih. Demikian sulitnya, sampai-sampai orang-orang akan menyebut sosok itu sebagai orang yang (sok) idealis. Anehnya, bukan hanya orang awam yang memandang bahwa sekarang bukan zamannya lagi bersikap idealis. Kaum terpelajar, anak-anak muda yang mengaku diri sebagai seniman, orang-orang yang dianggap pakar sastra dan karena itu pasti telah banyak membaca karya sastra ? mereka yang tahu benar bahwa dunia yang beradab dibangun oleh idealisme, ternyata kemudian lebih memilih jalan pragmatis sembari mencerca orang lain yang punya sikap idealis. Mereka lebih memilih menjadi tokoh antagonis daripada protagonis.

Dalam konteks inilah, dramawan Achmad Zain dan Teater Sendiri, sebuah kelompok yang didirikannya pada 21 Juni 1992 (enam belas tahun lalu), menempatkan diri pada posisi yang layak dihormati. Bagi Achmad Zain, kesenian tak lain adalah ruang mengabdi. Tidak pernah terpikir di benaknya bahwa kesenian yang diciptakannya adalah hasil jerih payah kreatif dan karena itu para penonton semestinya membayar tontonan hasil jerih payah kreatif seniman. Dalam sejumlah acara rutin Teater Sendiri yang digagasnya bersama anggotanya di Teater Sendiri seperti agenda bulanan Prosesi Seni Malam Jumat (Proselamat) atau Malam Bulan Puisi, tidak pernah sekali pun memungut uang tiket, padahal kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan tanpa dukungan sponsor.

Berbuat Adalah yang Terbaik

Sumbangan penting dramawan Achmad Zain dan Teater Sendiri adalah menggeliatnya kehidupan kesenian di Kendari khususnya, di Sulawesi Tenggara umumnya. Agenda tahunan Festival Teater Pelajar yang dilaksanakan kalau tidak salah sejak 2002 sempat menumbuhkan jamur teater di sejumlah sekolah, dari sekolah-sekolah yang ada di kota Kendari dan sekitarnya sampai sekolah-sekolah yang jauh dari ibukota provinsi seperti di Unaaha, Uepai, Lambuya, Angata, Rate-Rate, Kolaka, Pomalaa, Raha, bahkan Wanci. Tumbuhnya kantong-kantong teater di sekolah-sekolah itu tidak lepas program pelatihan di Teater Sendiri pada akhir 1990-an yang menghasilkan sutradara-sutradara muda, serta ?menularnya virus seni sebagai ruang mengabdi?. Tidak dapat berlangsungnya Festival Teater Pelajar dalam dua tahun terakhir ini tentu patut disayangkan.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah dunia penerbitan sastra. Diawali dengan penerbitan antologi Dengung pada 1996, Teater Sendiri kemudian menerbitkan empat kumpulan puisi berupa antologi bersama yakni Sendiri (2003), Sendiri 2, Sendiri 3 (2006), dan Malam Bulan Puisi. Di samping itu, Teater Sendiri juga menerbitkan dua kumpulan puisi tunggal yaitu Perjalanan (kumpulan puisi Syaifuddin Gani), dan Merobek Malam (kumpulan puisi Achmad Zain, 2007). Hingga saat ini, tidak ada kelompok kesenian lain, bahkan kelompok kesenian yang mengkhususkan diri di bidang sastra, di Sulawesi Tenggara yang memiliki produktivitas penerbitan karya sastra sebanyak itu. Kumpulan puisi lain yang pernah diedarkan kepada khalayak masyarakat sastra di luar terbitan Teater Sendiri adalah antologi puisi Kendari dan Jejak Haluoleo (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara), Memberi Harga pada Kata (Studio Drama FKIP Unhalu), dan Tanah Merah Tanah Sorume Tanah Mekongga (Rumah Puncak Puisi, Kolaka).

Perkara uang, yang sering dijadikan alasan untuk tidak berbuat, rupanya tidak dianggap sebagai persoalan bagi dramawan Achmad Zain. Padahal, dia tidak tergolong orang kaya raya yang bisa dengan sesuka hati menebar fulus. Artinya, bila dia harus mengeluarkan dana untuk kegiatan kesenian yang digelutinya, maka uang itu pasti disisihkan dari anggaran kebutuhan hidup keluarganya. Ketika orang-orang bicara menuntut perhatian (baca: dana) dari pemerintah, Achmad Zain justru mempersetankannya. Bila pepatah mengatakan ?anjing menggonggong kafilah berlalu?, maka Achmad Zain boleh jadi akan bilang, ?biarkan pemerintah tak punya perhatian, saya akan terus berkesenian?. Prinsipnya, yang menunjukkan sikap kerendahhatian, ?Berbuat adalah yang terbaik?.

Kerja keras tanpa pamrih itulah yang kemudian mengantarkan Achmad Zain dan Teater Sendiri meraih penghargaan sastra dari Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara akhir tahun lalu. Penghargaan yang diberikan kepada dramawan dan kelompok seni yang sungguh layak menerimanya. Kini, di usia keenam belas, tantangan yang perlu dihadapi oleh Achmad Zain dan Teater Sendiri adalah bagaimana membangun regenerasi dengan baik agar elan kreatif berkesenian yang tanpa pamrih akan tetap terjaga.

Widya Rumpaka, penikmat drama. Tinggal di Kendari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *