27 AGUSTUS 2005

Abdul Rosyid

Suasana kedamaian terasa kental melapisi tiap sudut keadaan Salafiyah yang berjalan pelan namun penuh kepastian. lantunan-lantunan kerinduan mengalun mesra memuji kebesaran Sang Pencipta. tapi ditengah-tengah kemesraan itu, terlilhat sebagian santri sibuk menyiapkan panggung dan terop untuk acara besok, sebab Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan dipilih sebagai tempat acara pertemuan ulama’ se-Jawa Timur, guna membahas UUD 1945.

Sore itu angin berhembus begitu wajar, mengelus bangunan Salafiyah yang berdiri kokoh dan ramai menemani para santri yang selalu diliputi oleh rahasia-rahasia sentuhan Ilahi yang sanggup memetakan bongkahan-bongkahan hati. ini baik ini tidak baik dan yang ini kurang baik lewat hati yang begiti lama berkarat tetesan-tetesan duka sedikit banyak mampu mengubah sebongkah batu hitam menjadi mudah untuk berair mata.
***

Usai rutinitas pembacaan aurad Rotibul Haddad nampak wajah-wajah yang mulai tersentuh oleh rasa kantuk dan lelah. setelah dari Ashar tadi duduk bersila melakukan aktifitas kewajiban pesantren. adzan Isya’pun terdengar mengalun sama seperti tempoe doeloe, saat Kiai Abdul Hamid masih memangku Salafiyah.

Samar-samar terdengar bahwa nanti setelah jamaah Isya’, para santri disuruh membaca Al Qur’an satu juz satu juz, lalu dalam pikiranku mengatakan kemungkinan ini untuk kelancaran acaa besok. aku masih belum menyadari apa sebenarnya yang terjadi, hanya saja aku merasa da kejanggalan, karena jamaah Isya’ tadi begitu cepat kurasakan tak seperti biasanya. lalu dalam benakku timbul pertanyaan “apa yang terjadi?”.

Pembacaan Al Qur’an terdengar riuh dan penuh khusyu’, tanpa pernah menyadari bahwa kejadian besar telah terjadi, kejadian yang akan mengubah suasana ini menjadi tetesan air mata menyedihkan. ya saat itu aku dibisiki oleh temanku

” Sid, ente wes krungu?”.

“aku tidak tahu, sebenarnya apa yang terjadi?”. aku balas bertanya.

“Kiai Nu’man wafat!”

langsung saja aku rasakan aliran darahku seperti tersentak oleh jawaban itu.

“Inna Lillahi wa inna ilaihi roji’un…..

perlahan-lahan suasana di musholla iyu goyah oleh pertanyaan rasa ingin tahu, benarkah berita yang terdengar dari bisik-bisik santri, namun ayat-ayat Al Qur’an terus terdengar ditelingaku. saat itu perasaanku berbaur oleh rasa kaget dan sedih yang masih ragu untuk menangis..

tiba-tiba terdengar seperti ada keributan di halaman musholla, spontan aku menoleh kebelakang, dan kulihat panggung yang tadi sore telah siap, dibongkar dengan paksa. melihat itui yakinlah diriku bahwa kabar dika itu memanng benar adanya.
***

Jenazah Kiai Nu’man belum juga datang, para santri menunggu penuh cemas, aku masuk kemara, membuka baju untuk sekedar istirahat sejenak. sekitar jam 10.30 malam, ada suara yang berteriak

“Jenazahnya datang…!”

dengan cepat aku segera keluar ke musholla, terlihatlah mobil warna merah memasuki halaman dan disusul dibelakangnya mobil RSI Surabaya yang dikawal oleh beberapa banser. saat iti halaman pondok Salafiyah sudah mulai penuh oleh para antri dan orang-orang kampung. lalu terdengat suara dimikrofon

“Bismillahirrohmanirrokhim Qul huwallahu ahad allahusshomad lamyalid wa lam yulad wa lam yakunlahu kufuan ahad….”

bacaan itu terus terdengar membuat suasana semakin tak bisa kunamai.

Aku hanya bisa berdiri diserambi musholla sambil menyasikan kerumunan manusia yang hanya ingin sekedar menyaksikan dan sedikit mendekat kepada sosok jenezah seorang ulama’ yang mereka cintai. dan yang mereka segani sebagai panutan tentang bagaimana menjalani hidup. pemandangan didepanku terasa kuat mengoyak-ngoyak ketenangan pikirku. dalam dadaku seperti ada semacam aliran listrik yang menjalar perih seperti ingin mnangis, tapi tak mampu, dadaku tersa sesak oleh perasaan duka yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. dalam diriku berkecamuk perasaan yang berbenturan dengan apa yang sedang kusaksikan. mobil yang beriis jenazah Kiai Nu’man dikerumuni oleh para pecintanya, hingga jenazah tak bisa dikeluarkan, sebab pintu mobil tak punya cukup ruang untuk dibuka.

dari pihak keluarga jenazah, Kiai Idris dan Kiai Taufiq dan para Kian yang lain sudah berdiri dikantoran, menyuruh agar jenazah segera diangkat keluar. dari jauh seperti terdengar

“minggir…minggir…minggir…!”

sambil tanganya memberi isyarat dengan cepat, agar orang-orang menjauh dari mobil. tapi kerumunan orang-orang itu seperti tak menghiraukan, mereka tak juga pecah dan buyar. sementara dari pengeras suara terus menggema, membuat malam itu bertambah mendebarkan.

“Qul huwallahu ahad…………………….”

Selang beberpa menit akau masih berdiri mematung tanpa mampu bergerak. akhirnya jenazah Kiai Nu’man bisa diangkat keluar. semua yang hadir ingin menyentuh jenazah Kiai Nu’man, tapi jenazah itu lanngsng diawa masuk kedalam kantoran. aku masih kakku dengan apa yang ada didepanku. lalu terdengar suara ”

“bagi semua santri harap segera mengambil air wudlu dan membaca yasin”

aku langsung beregas untuk mengambil air wudlu. aku masuk kamar sebentar guna menenangkan perasaan yang tak bisa kupahami.

Suara yaasin bergemuruh memenuhi keadaan malam itu. pembacaan yasin dipimpin oleh Kiai Umar. setelah tahlil doapun terdengar terasa menyentuh dijantungku.

“Ya Allah….
Ya Rohman…..
Ya Rokhim…..
Ya Maliku….
Ya Quddus….

doa terasa cepat mengalun, suara isak Kiai Umar membuatkuterhenyak sekali lagi.aku seperti ingin menangis tapi tertahan begitu sesak………………………
………………………………

PASURUAN, 28 Agustus 2008