Histeria Budaya Kelisanan

Omonrupira
http://blog.harian-aceh.com/

DALAM buku kumpulan esainya yang berjudul Women Womeni Lupus, Faruk, seorang Doktor Sastra UGM menulis tentang Histeria Budaya sebagai Pertemuan Kelisanan. Dalam esai tersebut ia mengungkapkan tentang perbedaan antara budaya lisan dan tulisan.

Secara khusus lagi, ia mengungkapkan tentang hysteria budaya yang terjadi saat ini dengan munculnya media elektronik yang memungkinkan subjek pembaca terpesona pada sebuah produk budaya tertentu. Ia mengatakan bahwa histeria itu muncul karena pertemuan kelisanan.

Kelisanan pertama, menurut dia adalah era dimana budaya lisan masih diandalkan sebagai salah satu wujud budaya suatu masyarakat tertentu dalam rangka membangun sebuah komunitas tertentu dengan menciptakan mitos-mitos, legenda, dan juga berhala-berhala. Dengan budaya lisan itu, subjek diajak masuk ke dalam realitas yang disampaikan hingga mengalami keterpesonaan. Jarak antara subjek dengan pesan tak lagi tercipta. Dengan demikian, subjek pun larut bersama dengan objek yang disampaikan.

Ketika kelisanan pertama ini berjumpa dengan kemajuan teknologi komunikasi media, maka terciptalah histeria. Para pembaca dibuat mabuk dan tenggelam dalam histeria media yang menciptakan pesona bagi para pembaca itu. Tak ada lagi jarak antara subjek dengan pesan karena tak ada lagi makna yang bisa diproduksi, terlebih hal ini berkaitan dengan budaya televisi bersama iklan-iklan yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Dengan histeria itu, budaya reflektif dan kontemplatif tak lagi membuat subjek aktif memproduksi makna tetapi menempatkan mereka sebagai penikmat saja karena pesan akan datang silih berganti hanya untuk dinikmati.

Meski begitu, budaya lisan dan tulisan bukanlah sebuah gradasi sebuah nilai budaya yang dapat diperbandingkan baik buruknya. Tetap saja ada sisi lemah dari budaya tulisan. Salah satu kelemahan dari budaya tulisan adalah kecenderungannya sebagai alat kekuasaan. Dalam budaya tulis, menulis berarti menguasai, menjadikan hal yang ditulis itu sebagai milik diri dan berkuasa menciptakan makna baru melalui tulisan.

Budaya tulis membuat orang masuk ke dalam dirinya sendiri sehingga mengarahkan pada pembentukan karakter individualisme. Hal ini tentu patut menjadi catatan kritis bagi para pembaca yang hidup di era histeria media ini. Apa yang terjadi saat ini adalah penggabungan dua kekuatan budaya tersebut dalam rangka komunikasi massa.

Budaya tulis disampaikan ke dalam budaya media akan menghasilkan sebuah kekuatan yang luar biasa bagi sebuah penciptaan image untuk menguasai. Apa yang terjadi dengan dunia media sekarang ini tak lebih dari sebuah visualisasi tulisan. Efek mempesona yang dipadukan dengan kekuatan kekuasaan tulisan akan sangat mempengaruhi kematian subjek.

Ketiadaan proses berpikir akan membuat manusia hanya menginginkan pencitraan (image), dan bukan makna dari realitas. Itulah potret masyarakat konsumtif yang dibentuk oleh media. Manusia tak lagi dapat memproduksi makna selain hanya menjadi penikmat atau konsumen dari produk-produk budaya yang telah dihasilkan oleh industri-industri budaya.[]