Kisah Sejarah dalam Karya Sastra

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

MENELUSURI jejak-jejak sejarah perjuangan bangsa, ternyata tidak saja dipelajari dalam buku-buku sejarah, juga dapat diketahui melalui kesusastraan. Tradisi penulisan unsur-unsur sejarah dan kepahlawanan sudah dikenal sejak sastra zaman klasik sampai kesusastraan Indonesia modern. Penulisan kreatif imajinatif itu pun terus berlanjut dalam bentuk novel. Bahkan pakar sejarah Sartono Kartodirdjo mengatakan, keadaan sosial dalam cerita novel digambarkan secara realistis, lebih mendekati kehidupan konkret. Masyarakat tidak dilukiskan oleh si pengarang menurut fantasi dan imajinatif yang bebas.

Karya sastra yang mengandung unsur sejarah banyak dijumpai dalam kesusastraan nusantara dan kesusastraan Indonesia modern. Dalam sastra Jawa Kuna Bali, misalnya dikenal istilah babad yaitu silsilah atau sejarah yang ditulis dalam bentuk sastra. Pun kesusastraan Melayu melahirkan jenis hikayat yaitu sejarah dan cerita kepahlawanan para nabi yang disusun sesuai aturan sastra. Setelah kesusastraan Indonesia mondern, penulisan unsur sejarah ke dalam kesusastraan makin ramai diminati oleh para sastrawan seperti roman “Hulubalang Raja” oleh Nur Sutan Iskandar, “Ken Arok dan Ken Dedes” oleh Mohamad Yamin, “Sandyakalaning Majapahit”, “Airlangga dan Kertadjaya” oleh Sanusi Pane, “Surapati” dan “Robert Anak Surapati” (keduanya oleh Abdul Muis).

Mereka menggarap ceritanya bersumber pada penulisan sejarah sebagai tema atau latar belakang cerita, baik berupa roman, puisi, novel maupun drama. “Hulubalang Raja” adalah sastra berbentuk roman yang mengandung unsur sejarah. Kisah sejarah itu menceritakan peristiwa kedatangan orang-orang Belanda yang pertama datang ke daerah pesisir Sumatera Barat sekitar tahun 1662 sampai 1667. Dalam pendahuluan roman itu diterangkan bahwa segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah diambil dari buku “De Westkust en Minangkabau” oleh Kroeskamp. Selain itu juga penulisan didasarkan surat-surat kompeni yang tersimpan dalam arsip negara.

Cerita “Surapati” dan “Robert Anak Surapati” oleh Abdul Muis juga menambahkan keterangan serupa dalam bab penutup novel “Surapati”, Abdul Muis menulis, “Demikianlah riwayat kehidupan Surapati yang terambil catatan sejarahnya dari buku-buku sejarah yaitu ‘Babad Tanah Jawa’ oleh F.W. Stapel, ‘Sejarah Indonesia’ oleh Sanusi Pane dan ‘Si Untung’ oleh Melati Van Jaya.” Pengarang Sanusi Pane juga senang dan kreatif mengolah bahan-bahan sejarah sehingga sukses menyusun naskah drama “Sandyakalaning Majapahit”, “Airlangga” dan “Kertadjaja”. Demikian juga Mohamad Yamin dalam naskah “Ken Arok dan Ken Dedes” yang bersumber dari peristiwa sejarah kerajaan Singasari dan Tumapel.

Faktual dan Fiksional

Dalam membicarakan unsur sejarah dalam karya sastra, perlu diingat, tidak semua kisahnya dapat diterima sebagai fakta sejarah yang bisa dijadikan bahan penulisan sejarah. Harus dibedakan antara penulisan sejarah dan penulisan karya sastra yang memakai bahan sejarah. Pada penulisan sejarah, pembaca menemukan kenyataan faktual, sedangkan pada penulisan karya sastra yang bersumber sejarah, pembaca menemukan kenyataan fiksional. Dalam kenyataan fiksional, pengarang memegang peranan penting dalam penulisan atau penceritaan serta berimajinasi sebagaimana layaknya sebuah karya sastra. Meski begitu, fantasi dan imajinasi pengarang masih dalam batas koridor sejarah. Bukan bebas tanpa batas.

Kisah sejarah dalam karya sastra sempat mengundang polemik di media massa nasional di tahun 1972. Ketika itu dua orang produser film sama-sama ingin menggarap kisah pahlawan Untung Surapati ke karya film. Produser yang satu mengangkat kisah Surapati dari naskah yang disusun oleh Drs. Budiaman, Cs., sedangkan yang lain dari novel “Surapati” karya Abdul Muis. Kedua produser film itu sempat bersengketa karena masing-masing bertahan untuk memfilmkan cerita yang sama. Silang sengketa itu sempat ditangani pihak Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI), namun tetap menemui jalan buntu.

Pihak PPFI selanjutnya melaporkan masalah itu kepada lembaga Sejarah dan Antropologi Depdikbud. Lembaga ini, setelah melalui diskusi panjang, menyimpulkan bahwa naskah versi Budiaman Cs. mempunyai nilai-nilai historis yang sangat kuat dan lebih murni dibandingkan naskah novel Abdul Muis. Karya Abdul Muis, menurut penilaian PPFI, lebih banyak menceritakan sejarah hidup dan tokoh Untung Surapati secara fiktif dan nonhistoris. Naskah mana yang layak difilmkan, lembaga Sejarah dan Antropologi dibawah koordinator Drs. Jemen, M.Sc tidak memberikan keputusan yang tegas. Pihaknya menyarankan agar kedua produser film itu untuk bersama-sama menggarapan film Surapati. Saran tersebut nampaknya tak digubris dan kabar film itupun akhirnya takjuga jelas.

Perbedaan itu hendaknya dapat ditinjau dari keperluan penulisan dan latar belakang kehidupan penulisnya. Naskah versi Budiaman disusun berdasarkan aturan penulisan sejarah murni, sedangkan naskah Abdul Muis ditulis dengan kriteria sebuah karya sastra. Tentunya unsur imajinatif dan kenyataan fiksional tidak bisa diabaikan begitu saja. Akhirnya wajar saja, tim penilai dari lembaga Sejarah dan Antropologi Depdikbud waktu itu menilai naskah Budiaman lebih otentik. Di samping itu, penulisnya sendiri adalah seorang staf pengajar jurusan Sejarah IKIP Bandung, bukan seorang sastrawan seperti Abdul Muis.

Akal Sastra

Penulisan unsur-unsur sejarah ke dalam karya sastra, bukanlah sekadar laporan peristiwa bersejarah. Akan tetapi, merupakan kenyataan dan rekaan yang bercampur-baur. Kenyataan sebagai fakta sejarah diceritakan dihiasi oleh pengarang agar menimbulkan greget di kalangan pembaca. Segala akal sastra yang menyangkut nilai estetis, informatif, edukatif dan moral digunakan oleh pengarang untuk meyakinkan pembaca. Tak ketinggalan juga sifat karya sastra yang menghibur selalu diperjuangkan oleh sastrawan. Dengan demikian, sidang pembaca tidak cepat bosan membaca karya sastra sejarah itu. Beberapa kriteria penulisan itu tidak dijumpai dalam penulisan sejarah murni.

Itulah sebabnya, maka sampai kini produk-produk sastra yang bernafaskan sejarah dan kepahlawanan mampu bertahan sampai di hati pembaca seperti judul-judul karya sastra yang telah disebutkan tadi. Bahkan novel “Surapati” karya Abdul Muis tidak saja terkenal di tanah air, juga populer di luar negeri. Novel sejarah itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Kirgis, Ubheckestan dan Kazaghstan. Masyarakat di negara-negara itu sangat simpati dengan perjuangan seorang budak yang bernama Surapati. Masyarakat setempat punya sejarah yang kelam tentang perbudakan dan punya kemiripan dengan perjuangan Untung Surapati — seorang budak belian yang berasal dari Bali.

Penulisan sejarah murni berdasarkan historiografi justru sebaliknya sering mendapat tanggapan dari masyarakat seperti sejarah G 30 S/PKI, seputar Proklamasi, Serangan Umum Kota Yogjakarta dan Supersemar. Peristiwa-peristiwa sejarah itu dinilai oleh banyak orang telah dibengkokkan dari fakta sejarah. Kejadian sejarah kemungkinan diwarnai rekayasa untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Ada baiknya perlu diadakan penelusuran kembali sejarah, bukan penulisan kembali, dengan menoleh karya-karya sastra sejarah.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/