Membaca Perpuisian Malang Mutakhir

W. Haryanto
Sumber :http://cetak.kompas.com/

mendung yang menggantung,
gerimis yang malu malu, di atas kota ini
seperti wajah seorang gadis yang diam diam
terus meratapi nasibnya, yang terlanjur
menjadi namanya

(Sajak ”Malang” karya Ragil Supriyatno Samid)

Puisi adalah jejak sejarah, tapi bukan anak kandung sejarah. Puisi adalah tindak individual atau dalam pengertian penyair Muh Zuhri, tingkat kebenarannya bersifat subyektif meski bisa diuji secara ilmiah. Sekalipun bertendensi individual, ranah perpusian juga ditentukan pada organisasi makna di luar dirinya. Inilah harmoni puisi.

Lama setelah (alm) Hazim Amir, Eka Budianta, dan Wahyu Prasetya, saya merasa asing dengan sebutan puisi Malang. Bukan sebatas konteks karya, tapi juga mereka yang menyebut dirinya sebagai penyair Malang (dalam komunikasi di Jawa Timur) dan Malang hanya memiliki prosais Ratna Indraswari Ibrahim. Di akhir tahun 90-an, Nanang Suryadi dan Kuswinarto merintis komunikasi dengan atmosfer Jawa Timur lewat gerakan puisi internet.

Gerakan ini, dalam terawangan saya adalah antiklimaks dari dinamika perpuisian Jawa Timur, seiring klaim yang menyatakan bahwa puisi internet adalah keputusasaan para penyair yang gagal bertarung di media massa yang bercorak Jakarta dan Yogyakarta.

Indikator dari apatisme terhadap media massa terlihat jelas. Malang seperti juga Jember menolak media massa, tetapi keduanya berbeda. Apatisme Jember karena warisan penyair-penyair pendahulu, sedangkan bagi penulis-penulis senior Malang aktualisasi di media massa hukumnya wajib. Wahyu Prasetya, Tan Tjin Siong, Ratna Indraswari, dan Akaha Taufan Aminoedhin tidak asing pada kolom-kolom sastra media massa. Akan tetapi, generasi sesudah mereka jadi seperti lost generation, mereka yang hilang.

Sejak periode tahun 90-an, media massa menjadi klimaks setiap kontemplasi para penyair, hingga memicu booming penyair Surabaya di media massa. Tentu, bukan dalam standar kualitas karena media cetak tidak otomatis menjadi penentu. Terbukti pada beberapa tahun terakhir, booming penyair itu hanya euforia dan pseudo-reality. Namun, tidak banyak yang tercatat dari Malang ketika arah perpuisian kita sebatas kontemplasi redaksi di ruang tertutup.

Resistensi

Dalam bangunan kultur, Malang kerap membentuk resistensi terhadap Surabaya, seperti Solo kepada Yogyakarta. Resistensi ini juga bersifat penandaan atas karakter penciptaan. Ketika mainstream Jakarta ”bocor” dan menjadi referensi rujukan bagi mereka yang merasa butuh pengakuan di Jakarta, banjir pengemis eksistensi ini tak cukup memenuhi kolom-kolom koran, juga pada sejumlah acara yang dicitrakan sebagai ”wajah Jakarta” penuh kaum dhuafa ketimbang penyair. Sekali lagi kepenyairan Malang juga tak terbaca di sana. Sekalipun beberapa penyair Malang muncul dalam perpetaan puisi Indonesia, karya-karya Ragil Supriyatno Samid termuat dalam Temu Sastra Indonesia III Tahun 2010 (Tanjung Pinang), Yusri Fadjar termuat dalam 104 Puisi Menuju Bulan (Antologi Penyair Nusantara Banjarbaru, 2006), juga Denny Mizwar yang termuat dalam buku Tabir Hujan (Dewan Kesenian Lamongan, 2010). Catatan-catatan kecil ini menunjukkan bahwa Malang telah menjadi salah satu subkreatif di Jawa Timur, selain Sumenep dan Lamongan.

Kepenyairan Malang sebenarnya cukup menarik untuk digali karena tak adanya patron, reproduksi teks tumbuh secara terbuka dan alamiah. Berbeda dengan puisi-puisi Surabaya yang homogen (seragam), perpuisian Malang lebih variatif dan kaya irama. Penyair-penyair Malang juga lebih berani melawan arus (mainstream). Malang seakan mencoba menemukan jejaknya sendiri di luar politik Jakarta minded yang telanjur diklaim sebagai wajah perpuisian Jawa Timur. Risikonya Malang seakan tak diakui dalam peta perpuisian Jawa Timur, seperti apa yang dituliskan Ragil Supriyatno Samid dalam puisinya yang saya kutip di awal tulisan ini.

Resistensi Malang cukup menarik jika kita bertolak pada ungkapan komponis China, Tian Feng, maupun pandangan sastrawan Afrika, Ben Okri, bahwa kebudayaan memungkinkan adanya alur-alur lain yang menjadikan kebudayaan tersebut hidup. Karena tradisi yang terus direproduksi secara berulang-ulang (mainstream), justru memuncak pada degradasi.

Fakta ini pun mulai terbaca akhir-akhir ini. Kebanyakan penyair-penyair Jawa Timur terbiasa merepetisi dan mengcopy-paste karya-karya yang terbiasa laku di media massa, tanpa adanya gagasan baru, dan sekadar memanfaatkan keterampilan memakai bahasa yang indah, sementara faktor kedalaman dan filsafat bahasa semakin tidak dikuasai.

Dan resistensi penyair-penyair Malang memang jadi catatan tersendiri. Ternyata, kepenyairan Malang lebih bisa diterima oleh atmosfer sastra Indonesia, walau dalam birokrasi kesenian di Jawa Timur terkesan menganaktirikan Malang.

W Haryanto Penyair, Esais Tinggal di Ngagel Baru, Surabaya