Perempuan yang Mengayunkan Kakinya di Air Laut Dermaga Pelabuhan Kecil Itu

Sunaryono Basuki Ks
http://www.balipost.com/

Setiap bulan purnama menumpahkan cahaya keperakan ke atas permukaan air laut yang berkecipak di pelabuhan kecil dengan dermaga kayu yang menjorok ke tengah itu, selalu saja orang-orang berbisik bahwa sebentar lagi seorang perempuan cantik akan muncul, duduk sendirian di ujung dermaga, kadang turun melalui tangga kayu ke permukaan laut dan duduk di kaki tangga lantas mencelupkan sepasang kakinya yang putih bersih ke dalam air laut.

PEREMPUAN itu katanya cantik, rambutnya yang panjang terurai entah sampai ke punggung atau ke pantat, hanya mengenakan kain yang dililitkan ke tubuhnya sebatas dada sehingga kedua buah payudaranya pun nampak mendesak lilitan kain yang seolah tak mampu menahannya.

Kenapa orang-orang bisa mengatakan bahwa perempuan itu cantik, padahal tidak ada penerangan apapun di dermaga itu dan cahaya bulan tak cukup menumpahkan terangnya ke tubuh perempuan itu, ke lantai dermaga tua dan ke air laut. Cahayanya yang lembut seolah hanyalah cahaya kunang-kunang yang sekadar menghibur pengelana yang kegelapan di tengah sawah.

Tetapi orang-orang selalu mengatakan bahwa perempuan itu cantik, kulitnya putih bersih, geraknya lemah gemulai, rambutnya yang lebat dan hitam legam itu kadang terayun mengikuti gerak tubuhnya.

Pernah seorang lelaki muda mencoba mendekat untuk memikatnya, siapa tahu kemudian perempuan itu dapat diperistrinya, menjadi perempuan yang suka tinggal di rumah, memasak nasi dan gulai yang lezat untuknya sementara dia pergi melaut mencari ikan. Dengan penuh semangat dia melangkahkan kakinya di atas papan kayu dermaga yang sudah tua tetapi yang masih kokoh, dengan harapan dia dapat menyapa perempuan itu dan mendapat balasan senyum serta kata-kata yang manis.

Namun, belum lagi sepuluh langkah dari perempuan itu, masih di dermaga, sementara perempuan itu asyik memainkan kedua belah kakinya di air laut yang tentunya hangat oleh bekas sinar matahari sore, lelaki itu tertegun. Hatinya berdebar dan nyalinya surut.

“Jangan-jangan dia dewi penunggu dermaga yang muncul sebulan sekali, setiap bulan purnama, untuk memandikan sekujur tubuhnya dengan siraman cahaya bulan dan membasuh kakinya di air asin, mungkin ikan-ikan kecil merubung dan memijit telapak kakinya yang lembut atau bahkan mencium-ciumnya untuk mendapatkan keharuman tubuh dewi.” Lelaki itu menyurutkan langkahnya, lalu tergesa melangkah cepat kembali ke arah daratan dan memberi tahu orang-orang kampung tentang perjumpaannya dengan perempuan berkulit kuning berambut panjang sampai ke ujung kakinya. Dia ceritakan bahwa perempuan itu duduk di kaki tangga dermaga yang menyentuh air laut dengan menyanyikan lagu yang sangat merdu dengan nada tinggi seolah bisikan angin laut yang timbul dan tenggelam, bagai gesekan biola, seolah sebuah sampan yang diayun-ayunkan ombak.

“Dengarlah suara nyanyiannya, demikian merdu bagai tiupan seruling, dan bayangkan alangkah cantiknya perempuan yang memainkan kakinya di air laut dan melantunkan lagu yang demikian indah.”

“Apakah tubuhnya berbau harum?”
“Kulit tubuhnya menyebarkan harum bunga setaman.”
“Apakah kamu cium juga bau bunga sedap malam?”
“Sedap malam? Mawar, kenanga, melati, sedap malam, semuanya bercampur menambah kelembutan perempuan itu,” jawabnya dengan penuh perasaan.

“Jangan-jangan dia hantu laut, peri yang singgah di pelabuhan tua ini, menyapa kita, atau ingin mengingatkan kita akan riwayat pelabuhan ini. Bukankah kata orang tua-tua, ada seorang perempuan cantik?”

Lalu, perempuan tua itu berceloteh tentang kisah yang pernah didongengkan oleh kakeknya sebelum tidur. Apakah itu hanya sebuah dongeng atau sebuah riwayat yang harus diteruskan kepada generasi yang lebih muda?

Dulu, ketika pelabuhan ini masih ramai disinggahi kapal-kapal dari negeri jauh, banyak pelaut yang turun ke darat, makan-makan dan minum di warung-warung yang banyak terdapat di pelabuhan. Salah seorang dari mereka adalah Kapiten Masyhur yang berasal dari negeri jiran. Tubuhnya kekar, agak tinggi bagi ukuran anak negeri ini, kulitnya coklat sehat tertempa sinar matahari di lautan. Konon Kapiten Masyhur sudah menjelajahi lautan yang ganas ombaknya. Dia sudah diterpa ombak Selat Makasar, dia sudah jelajahi Laut Cina Selatan, dia sudah mendarat di negeri Campa, bertemu dengan perempuan-perempuan cantik dari negeri itu.

Malam itu Kapiten Masyhur turun ke darat disertai anak buahnya dan seorang perempuan cantik yang dibawanya dari negeri Campa, dibawa pulang ke negerinya untuk diperistri. Sungguh suatu pasangan yang sangat serasi, kapiten lelaki yang tampan dan berwibawa dan perempuan itu cantik jelita, rambutnya digelung dan tersembunyi di balik penutup kepala.

Perempuan itu diajaknya bertamasya berkeliling kota sementara anak buahnya asyik makan dan minum di warung pelabuhan. Dengan mengendarai dokar kapiten dan perempuan Campa itu berkeliling kota yang sudah mulai sepi, sais dokar bercerita tentang kota tua yang jalan utamanya dipenuhi bangunan gaya Belanda sementara rumah-rumah di daerah pelabuhan bergaya Tionghoa.

“Alangkah indahnya kota ini,” bisik perempuan itu.
“Kamu ingin tinggal di sini? Menetap di sini?”
Perempuan itu menyembunyikan senyumnya dan berkata, “Mana mungkin aku berpisah dari suamiku? Bukankah aku harus pulang ke negeri suamiku, berkenalan dengan keluarga suamiku, menyembah orang tua suamiku?”

Kapiten merasa berbunga-bunga hatinya atas pilihannya yang tepat, seorang istri yang cantik jelita, berbakti bukan saja pada suami tetapi juga pada mertuanya. Malam itu mereka berkeliling kota, saat bulan purnama melimpahkan cahayanya ke sekujur tubuh kota tua itu. Kembali ke pelabuhan anak buahnya sudah menunggu.

Seorang lelaki nelayan bernama Arok hadir pula di pelataran pelabuhan, berbaur dengan para pelaut yang menghambur-hamburkan uangnya dengan minum-minum arak. Arok dikenal pula sebagai seorang pemberani, jagoan kampung yang sangat ditakuti.

Ketika dokar yang membawa kapiten dan perempuan Campa itu memasuki pelataran pelabuhan, semua mata memandang ke arah mereka. Arok pun tak dapat mengedipkan matanya. Kapiten Masyhur turun lebih dahulu dari dokar lalu menolong perempuan Campa itu turun dengan mengulurkan tangannya.

Ketika perempuan Campa itu turun dari dokar, kainnya tersingkap dan cahaya bulan menimpa betisnya yang indah memantulkan cahaya yang menyilaukan mata Arok. Begitulah ceritanya, awal dari pertumpahan darah yang terjadi malam itu, ketika Arok menusukkan badiknya ke dada Kapiten Masyhur yang kemudian tersungkur tak berdaya dan membawa lari perempuan Campa itu.

“Selebihnya kalian sudah tahu ceritanya. Dan yang kamu lihat tadi pasti Puteri Campa yang menantikan kedatangan suaminya kembali, jadi jangan coba menjadi Arok, jangan coba-coba merenggutnya dari dermaga.”

Bulan purnama makin tinggi, ombak berkecipak dan laut mengeram bagaikan hendak menerkam malam. Di ujung dermaga kayu itu yang terlihat hanyalah cahaya bulan dan yang terdengar adalah suara angin dan ombak. Pemuda yang tertegun langkahnya tadi berbisik, “Kakek, kakek, alangkah cantiknya nenek.”

Singaraja, 1 Agustus 2003