Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair

Sutardji Calzoum Bachri
http://www.infoanda.com/Republika 9 Sep 2007

Ketika Tuhan merindu memimpikan dirinya agar dikenal dan lepas dari kegelapan rahasiaNya, Ia berfirman: Kun faya kun. Maka jadilah alam semesta ini.

Manusia sebagai bagian dari alam semesta serta alam semesta yang terkandung di dalam dirinya adalah bagian dari mimpi Tuhan, seperti yang dikatakan oleh Sufi besar Syeh Muhyiddin Muhammad ibn Arabi. Dari mimpinya, dari imajinasiNya, Tuhan melalui kata-kata kun faya kun, menciptakan sejarah jagat raya berikut sejarah manusia di dalamnya.

Manusia sebagai mahluk imajinasi Tuhan pada gilirannya menciptakan pula imajinasi. Para penyair sebagai mahluk yang profesinya menciptakan imajinasi atau mimpi — meskipun posisinya jauh di bawah Tuhan — memiliki kesejajaran seperti Tuhan. Penyair menciptakan imajinasinya, mimpinya, lewat kata kata sebagaimana Tuhan menciptakan mimpinya lewat firman.

Peran penyair menjadi unik, karena — sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya — secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.

Adalah menakjubkan Aquran, dalam QS As-Syuaara secara tepat mendefinisikan profesi penyair, “Mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.”

Memang, pada kenyataannya penyair yang serius selalu mengembarakan perasaannya, feeling dzaug-nya, pada lembah-lembah dasar dari duka suka kemanusiaan dan selalu konsentrasi pada penciptaan karya puisi dan bukan pada realisasinya atau pada upaya mengerjakan mimpinya itu –puisinya — agar menjadi kenyataan.

Profesi penyair adalah menciptakan sajak, dan bukan mengerjakan sajak atau merealisasikan sendiri puisinya menjadi kenyataan. Tugas terakhir ini dibebankan pada pembacanya. Pada para pembacalah terjadi realisasi dari puisi itu berupa perasaaan-perasaan, empati, simpati dan sebagainya dan berikutnya realisasi psikologis ini mungkin berkembang menjadi realisasi kongkrit di dunia nyata berupa tindakan-tindakan yang terinspirasi dari sajak tersebut.

Karena profesi para penyair cenderung tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, maka ada ruang bagi penyair untuk cenderung bisa tergoda untuk bebas tidak mempedulikan pertangungjawaban terhadap karya-karyanya.

Ruang bebas itulah yang diberi peringatan oleh Tuhan agar kebebasan yang dimiliki penyair selalu dikaitkan pada iman (“kecuali para penyair yang beriman”), yang pada hemat saya jika ditafsirkan secara duniawi bisa berarti para penyair serius yang selalu melandaskan dirinya pada Kebenaran dalam meningkatkan atau mengembalikan martabat manusia sebagai mahluk termulia di bumi.

Dalam fungsinya sebagai karya yang ingin melandaskan dirinya pada Kebenaran dan martabat manusia yang luhur itulah puisi menjadi penting. Penting dilihat dari sisi manusia sebagi individu, puisi bisa meninggikan dan meluhurkan martabat manusia, dan penting dari sisi sosial puisi bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan sejarah. Dilihat dari sisi kenyataan maupun secara teoritis puisi bisa menjadi unsur yang menciptakan sejarah, sebagaiman firman Tuhan menciptakan sejarah jagat raya.

Untuk menjelaskan hal ini saya ingin menampilkan teks Sumpah Pemuda sebagai teks puisi. Selama ini teks Sumpah Pemuda selalu dilihat sebagai teks atau dokumen sosial politik. Tetapi, kalau kita ingin mencermati dari sudut puisi maka segera terlihat ia juga bisa dianggap sebuah teks puisi yang utuh. Syarat yang diharuskan pada puisi ada terkandung penuh padanya.

Sebagaimana halnya puisi seluruh isi teks Sumpah Pemuda itu adalah imajinasi atau mimpi, sesuatu yang tidak ada atau belum ada dalam kenyataan.

Kami putera puteri Indonesia berbangsa satu bangsa Indonesia. Pada waktku itu, tahun 1928, belum ada dalam kenyataan putera puteri Indonesia. Yang ada pemuda Jawa, pemuda Sumatera, pemuda Sulawesi dan seterusnya. Juga belum ada Indonesia. Yang ada dalam kenyataan Hindia Belanda.

Kami putera puteri Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia. Pada waktu itu belum ada bahasa Indonesia. Yang ada dalam kenyataan adalah bahasa-bahasa daerah dan bahasa Melayu sebagai lingua-franca.

Begitulah teks Sumpah Pemuda itu menampilkan mimpi atau imajinasi dengan bahasa ringkas hemat, padat, kuat menyaran makna, dengan irama dan pengulangan kata-kata bagaikan mantera.

Mantera Sumpah Pemuda itulah yang memukau para pembaca atau pendengarnya yang kemudian merealisasikannya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan agar mimpi dalam Sumpah Pemuda menjadi kenyataan.

Suatu puisi besar atau suatu kumpulan puisi dari beberapa penyair bisa memberikan sumbangan untuk menciptakan sejarah bagi perbaikan mutu kemanusiaan atau bangsa.

Sejak tahun 1970-an sejumlah besar penyair dan sastrawan serta seniman lainnya menampilkan karya-karya yang sarat dengan sub kultur, dengan akar budaya, warna budaya daerah masing-masing yang mereka akrabi. Berbagai khazanah kultur lokal dan tradisi digali, diolah dan dijadikan dasar untuk pengucapan-pengucapan puisi mereka.

Begitulah kita menemukan sajak-sajak yang bernafaskan dan beraroma kultur-kultur daerah setempat, yakni nilai-nilai tradisi lokal yang diakrabi para penyair untuk pengucapan ekspresi dirinya.

Para penyair mengidentifikasikan diri-puisinya dengan daerah tempat mereka berasal atau yang sangat diakrabinya secara pribadi yang membentuknya menjadi manusia. Benang merah perpuisian tidak lagi dipersatu-hubungkan dengan indidualisme-universal seperti halnya Chairil Anwar tetapi oleh unsur-unsur daerah yang mereka akrabi.

Perpuisian tahun 70-an itu pada hemat saya bisa dilihat sebagai koreksi dan sumbangan kreatif terhadap tafsiran kesatuan dari teks puisi Sumpah Pemuda yang pada waktu itu penafsirannya cenderung homogen dan defensif serta kurang mempertimbangkan warna-warni kultur lokal.

Perhatian yang melimpah terhadap nilai-nilai dari kultur lokal atau daerah yang ditampilkan sejak tahun 70-an itu hanya mendapat apresiasi atau respons di sekitar para peminat sastra kesenian saja. Padahal, gejala-gejala yang menonjol pada perpuisian tahun 70-an itu bisa merupakan ilham atau isyarat untuk menciptakan sejarah baru bagi otonomi daerah.

Namun, dalam kenyataannya maraknya perkembangan otonomi daerah baru terjadi setelah lebih dari dua dasawarsa dari maraknya perhatian terhadap nilai-nilai daerah yang muncul dalam perpuisian kita. Ini sedikit banyak menunjukkan bahwa keputusan dan kebijakan-kebijakan para penguasa politik sering mengikuti respons terhadap kebutuhan atau tekanan politik dan kurang atau lamban merespon aspirasi kultural.

Pada hemat saya, jika kita benar-benar hendak merealisasikan suatu kehidupan politik yang kultural, para politikus sebaiknya mencermati sastra, puisi, sebagai inspirasi atau sebagai dorongan untuk menciptakan keputusan dan kebijakan sosial maupun politik, bukan sebagai kuda tunggangan sebagaimana tak jarang terjadi pada momen-momen menjelang Pilkada.

Puisi bisa memberikan inspsirasi untuk kehidupan politik yang sehat seperti yang diingatkan oleh mendiang presiden AS John F Kennedy, “Jika politik bengkok puisi yang meluruskan.”

Tetapi, tentu itu hanya berlaku bagi para politikus yang memiliki tanggung jawab dan kepekaan terhadap aspirasi hati nurani bangsanya yang sering tercerminkan pada puisi-puisi yang baik, bernas dan bermutu dari para penyairnya.

Dari orasi budaya dalam acara Pekan Presiden Penyair.