Sajak-Sajak Heri Listianto

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Alam Berburu

benar atau tidak
sebauh butir tetes dan mengalir
meminjamkan suara dan dentuman jantung
malam itu.
gunung gemuruh,
banjir berburu sinyal putih dan hitam
menyibak melewati bumiku.

sudah lebih dari lima tahun
alam berburu dengan bencana
menggubah wajah bumi ini.
bumi yang sudah kehilangan kesejatian merah putih.

biarkan alam melukis bumi
biar alam menuliskan sajak merah putih
biarkan alam mencari bibit-bibit suci
biarkan gelisah terendam jiwa
melihat alam berburu nyawa.

lima arah angin bertiup seketika
menutup perburuan saat itu. sampai,
bumi terlihat gersang tak berpenghuni.

Surabaya, 28 Oktober 2010

WASIOR – PAPUA BARAT

Sebagai do’a sahabat…
siraman air suci berisi do’a
Terhantar lewat bumi pertiwi ini.
Gempa, ombak, angin, dan panas tak menentu.

Sajakku merangkai luh pada malam ini

Air naik ke bukitan
Tanah meleleh kepanasan
Aliran menggulung nyawa dan pemukiman

Sebuah tragedi

Banjir bandang bercapur batuan.

Surabaya, 4 oktober 2010

RAP

Dan… tubuhmu
Menghias setiap pandang persimpangan
jalan–jalan kampus ini
;sebuah Rap

Alas kaki menggesek setiap menelapak.

Gaduh meredah
senyap membanjiri suasana
Hati melebur menjadi darah
ubun gemetar tak berirama,
menyimak suara itu.

Benar ataupun tidak?

Sebuah suara datang dari sepasang sepatu.

Surabaya, 12 oktober 2010

BUNDA

Menyebut namamu ibu …
Teringat buih di laut biru
Menyebut namamu ibu …
Bagai lentera di malam haru
Ibu …

Seikat permata
Tidak bisa mengganti jasamu

Jasa ketika aku kau pangku.
Ibu…
Dengan hati aku kau asuh
dengan rasa aku kau sentuh
ibu…
Tersimpan namamu dalam kalbu.

Surabaya , 20 – April – 2010

Trauma Mak…

Seamakin mlang nasibku mak…
terlihat kepulan asap jatuh dari gunung itu
getaran datang terburu
mengguncang bumi dan lautan biru

semakin sedih aku mak…
bulan menampakkan raut cemberut
menggundang gerhana
sebagai tanda masa itu
masa di beberapa tahun lalu
saat kita mengungsi kebanjiran ke lamongan

semakin gembira mukaku mak…
melihat kampung cerah
setelah semua bencana aredah.

tapi…

aku takut mak…
trauma!
jika melihat bumi, air, dan angin marah.

Surabaya, 29 Agustus 2010

Heri Listianto, lahir 9 November 1989 di Lamongan, pendidikan MI Islam Pucangro, MTs Simo, MAN Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AL-Ikmal, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Enjelai &ll. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL].