Abdul Mun’im Muhammad, Risalah Cinta Sang Nabi

Yudhiarma
http://www.suarakarya-online.com/

Kisah cinta selalu menjadi sumber-sumber inspirasi yang tak pernah pupus untuk berkarya. Sudah tak terhitung berapa banyak dokumentasi sejarah, cerita fiksi sampai nonfiksi, buku-buku sastra dan beragam ekspresi seni berkelas dunia menggali dan menafsirkan cinta dari berbagai sudut pandang.

Legenda roman Sang Nabi (The Prophet), Sayap-sayap Patah (Al-Ajnihah al-Mutakassirah) Kahlil Gibran; Dr Zivago Boris Pasternak; War and Peace Leo Tolstoy, atau Romeo and Juliet William Shakespeare penuh imajinasi tentang keagungan cinta.

Cinta ibarat permata yang setiap sudutnya penuh kemilau cahaya. Dalam Khadijah: The True Love Story of Muhammad, Abdul Mun’im mencoba mengilustrasikan secara jenius penggalan-penggalan gita cinta keluarga Nabi.

Buku ini disaring dari banyak literatur berbahasa Arab yang merangkum hikmah kesetiaan tanpa pamrih dari seorang istri bernama Khadijah. Ketabahan luar biasa membuat ia mampu mendampingi Rasul dalam menghadapi kesulitan dan rintangan berat tanpa mengeluh.

Ia pantang mundur dalam menyelesaikan beragam persoalan, hingga segenap hidupnya dipersembahkan untuk perjuangan membangun risalah sang Nabi.

Setiap kali Rasul menerima celaan, hinaan, dan cobaan, Khadijah menjadi orang pertama yang memberi spirit yang menghibur. Ia berperan besar mengondisikan rumah tangga Rasul menjadi tenang, tenteram, dan damai. Ia memposisikan diri sebagai rekan di saat-saat yang sulit dan istri yang penuh cinta kasih dalam situasi apa pun. Tak dapat dimungkiri, Khadijah merupakan sosok fenomenal.

Bukan saja memiliki perilaku mulia, ia juga cerdas dengan ketabahan luar biasa dengan mengorbankan seluruh harta, jiwa, dan raga bagi sang Nabi. Dengan kematangan, kebijaksanaan, dan integritas diri, ia mendukung penuh pengorbanan Rasul dalam menjalani tugas-tugas kerasulan.

Khadijah tercatat sebagai teladan entrepreneur bagi pebisnis Muslim. Ia adalah saudagar Quraisy yang menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran dalam dunia usaha. Ketika Muhammad mendapat risalah kenabian, Khadijah selalu berada di sampingnya.

Tak hanya menyokong perjuangan kerasulan, tetapi juga menjadi tempat untuk menguatkan diri menghadapi kezaliman kaum jahiliyah kala itu: sebuah komunitas tak beradab penyuka perang yang antikebenaran. Loyalitas dan totalitas pengabdian Khadijah tak tertandingi, sehingga ia menjadi kisah cinta sejati bagi sang Nabi.