CAMILAN BIMA, BUSUR ARJUNA dan CINTA KOSMOS

Muhammad Zuriat Fadil
http://zuriatfadil.wordpress.com/

Siapa mengenal dirinya maka mengenal tuhannya (Sayyidina Ali r.a)

Suatu ketika, di malam yang gelap gulita Bima kecil sedang memakan camilan kesukaan nya, Arjuna kecil yang sedang berada di sebelahnya terheran lalu bertanya “bagaimana kau bisa memasukkan makanan itu dalam mulutmu kanda Bima, sedang malama sedang sedemikian gelapnya dan kita hampir tak bisa melihat apa-apa?” Bima yang masih saja lahap dengan mulut penuh menjawab “ummm….aku tak tau juga Arjuna, tanganku begitu saja mengenali posisi mulutku tanpa pernah kuajari, mungkin itu karena mereka sama-sama bagian tubuhku jadi mereka saling mengenal dan memberi tahu satu sama lain”. Arjuna yang jenius itu, merenung sejenak.

Keesokan malamnya, yang sama gulita dan hitamnya, Danghyang Drona dengan tatapannya yang tajam tecengang melihat Arjuna kecil sedang berlatih memanah sasaran dengan busurnya dengan mata terpejam, tercengang beliau sebab tak satupun anak panah Arjuna yang meleset dari sasarannya. “Anakku, aku belum mengajarimu ilmu itu, bagaimana kau bisa menguasai cara membidik sasaran dengan tepat tanpa melihat?” Arjuna yang telah selesai berlatih sambil membuka penutup matanya menjawab, “Bima yang mengajariku guru, aku melihatnya memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa meleset, katanya itu karena tangan dan mulutnya adalah sama-sama bagian tubuhnya yang telah saling mengenal posisi masing-masing, jadi kuterapkan saja itu pada sasaran busurku dan ternyata berhasil”. Drona tercengang, Arjuna memang jenius.

Adegan di atas adalah cuplikan dari film Mahabaratha yang dulu tayang di sebuah stasiun TV swasta, jadi bukan adegan Bima dan Arjuna dalam pewayangan sebab saya tidak tahu apakah adegan itu ada dalam pewayangan atau tidak. Dialognya pun saya tulis seingat sendiri saja sebab sudah lama sekali saya tidak melihat film ini lagi. Yang kemudian akan kita bahas adalah bagaimana peristiwa ini berpengaruh sangat besar bagi pencapaian spiritual sang Arjuna bertahun-tahun kemudian, jadi kerana kita akan membahas Arjuna dalam ranah pendakian spiritualnya, mohon dikesampingkan sejenak imej Arjuna yang beristri banyak itu (tentang hubungan antara kesaktian Arjuna dan wanita-wanitanya insyaallah akan dibahas pada pembahasan yang lain).

Kawan, apa yang membuat Danghyang Drona tercengang dalam adegan di atas adalah sebab Arjuna yang saat itu masih sangat belia telah mengamalkan sebuah ilmu yang, mungkin, menurut sang Begawan itu belum pantas untuk dipelajari oleh anak seumuran Arjuna saat itu, yakni pengetahuan tentang kosmos. Pengetahuan tentang kosmos ini, tentang kehendak semesta dalam kehendak diri. Ketika sebuah kesadaran terbuka, bahwa aku adalah bagian dari semesta dan semesta adalah bagian dari diriku maka keterhubungan dengan semesta menjadi hal yang sangat mungkin di lakukan. Menyadari bahwa alam semesta jagad raya, bukan hanya bumi, adalah sebuah bangunan tubuh dan aku adalah bagian tubuhnya yang sama punya kehendak di bawa Maha Kehendak yang lebih besar. Yang kemudian dilakukan oleh Arjuna adalah mulai menyelaraskan kehendak, serta pengetahuan bahkan mungkin juga seluruh indranya dengan pengetahuan semesta. Ini membuat Arjuna tidak mungkin memanah dengan gumpalan kebencian dalam hatinya, sebab kebencian selalu berakibat perpisahan dan bila perpisahan telah terjadi maka komunikasi pun terganggu.

Sejak saat itu Arjuna telah belajar, seperti yang dialami para pendaki spiritual lainnya, untuk melihat dirinya dalam setiap substansi keberadaan makhluk apapun termasuk sasaran panahnya. Kesadaran itu, seperti ‘aku’ ada di setiap yang kulihat, kudengar dan kurasakan kesadaran itu akan berpuncak pada cinta, maka panah Arjuna adalah panah cinta terhadap bagian ‘aku’ nya yang lain, dan bukankah panah cinta tak kan pernah meleset?

Lalu di manakah puncak dari pendakian Arjuna? Ternyata butuh waktu bertahun-tahun setelah adegan dengan Bima itu untuk menyempurnakan pendakian spiritual sang Arjuna, ketika keraguan menyelimuti hatinya (para pendaki spiritual kerap mengalami keraguan) untuk pergi berperang dengan saudara dan gurunya sendiri sebelum Baratayudha dimulai, ketika kegalauan tak mampu lagi tertahankan, Sri Krisna yang berusaha meneguhkan keyakinan Arjuna akhirnya ber-tiwikrama, menunjukkan wujud Wisnu nya yang asli menampakkan ribuan wajahnya, konon wujud Dewa Wisnu ini, sedemikian besar disaksikan oleh Arjuna sehingga melampaui ketakberbatasan alam semesta, bahkan melingkupi masa lalu dan masa depan, serta merengkuh segala ruang waktu. Arjuna terperangah, tak menyangka sahabatnya yang menjadi kusirnya adalah inkarnasi dari Dewa Wisnu yang agung tak pernah dia mengira bahwa Krisna adalah seorang avatar. Terlampu terperangah, Arjuna terus menatap ke atas, tak berani berucap kata, menyerahkan ribuan sembah pada sang Dewata agung, namuna Sri Wisnu tersenyum dan menatapkan wajah cahayanya pada Arjuna lekat-lekat. Arjuna yang bingung tak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Sang Dewata, mungkin jua kerana keterbatasan akal budi seorang manusia. Namun ketika Arjuna melihat ke arah yang dipandang oleh Dewa Wisnu, mengertilah Arjuna, terbukalah segala rahasia baginya, sebab di sana, ketika Arjuna melihat ke dadanya sendiri, disana pula ada Sri Wisnu.

Adegan ini mengingatkan saya pada sebuah syair dari Al Hallaj yang berbunyi :

“Aku bertanya-tanya bagaimana keseluruhanku
membawa bagianku,

Alangkah beratnya! Bumi pun tak mampu lagi
membawaku,

Ah! Mampukah aku merebahkan diri di setiap kelapangan hati makhlukNya, agar tubuhku istirah di bumi -bagian tubuhku- di atas hamparan bumiNya, aku merebah dalam dekapanNya”(Muqatta’at 33, Diwan Al hallaj)

Sejalan pula dengen kisah di atas, pertanyaan tentang cinta tersebut juga pernah ditanyakan oleh Syeikh Husein pada ayahnya Sayyidina Ali r.a ( karamahullahu wajhahu). Ketika itu Syeikh Husein yang masih kecil bertanya pada ayahnya ”Ayah, apakah kau mencintai Allah?” Sang ayah pun menjawab ”Ya nak, tentu saja” kemudian Huseyn bertanya ”Apakah ayah mencintai kakek dari ibu (Rasulullah saw)? Sayidina Ali pun menjawab ”Iya nak” Lalu Huseyn bertanya ”Apakah ayah mencintai Ibu?” lagi Ali menjawab ”Iya” Kembali Huseyn kecil bertanya kembali ”apakah ayah cinta padaku?” Ali pun menjawab ”Iya nak”. Dengan kepolosannya Huseyn pun bertanya ”Ayah, aku bingung, bagaimana kau bisa menyatukan begitu banyak cinta dalam hatimu?” Ali pun kagum atas pertanyaan anaknya tersebut dan kemudian menjelaskan ”Pertanyaanmu hebat sekali anakku, ketahuilah bahwa sesungguhnya Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerana cinta kepada Allah. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt”. Huseyn pun mengerti.”

Maka inilah sejatinya seorang manusia, tentu bila ingin mencapai sebuah kesempurnaan mestilah bisa melihat keberadaan dirinya dimanapun dia berada, dan pada akhirnya mampu melihat dirinya bahkan pada yang disembah oleh Nya. Sebaiknya lah hal itu dipelajari seumur hidup, sebab hidup kita adalah pencarian tanpa henti pada kesempurnaan hidup itu sendiri. Dua pandangan ini, melihat diri sendiri apada setiap eksisten dan melihat Tuhan dalam diri, mestilah berjalan berimbang dan bertahap.

Mungkin juga ketidak seimbangan pencapaian ini yang digugat oleh para Walisongo terhadap Syekh Siti Jenar (disamping alasan politis lain tentunya). Sebab bila manusia hanya diajarkan melihat Tuhan dalam diri tanpa menyeimbangkan dengan pengetahuan bahwa kita juga adalah bagian dari tubuh jagad semesta, maka ditakutkan sifat yang muncul adalah ke-egoisan yang teramat besar kerana kepercayaan bahwa Tuhan berpihak padaku maka kepentinganku di atas segalanya, ini tentu berbahaya terutama untuk kestabilan Negara (kerajaan Demak Bintoro) yang dijaga oleh para Wali saat itu. Sebab itu, mulai sekarang saya berharap kita bisa belajar untuk mencintai seluruh keberadaan tanpa terkecuali, para guru sejak dahulu telah mengajarkan kita tentang hal ini, rasul Muhammad saw tak pernah marah bahkan terhadap orang yang memusuhinya, Buddha Gautama selalu mengajarkan welas asih, beliau bahkan menghadapi Mara sang Iblis dengan cinta dan tak pernah memusnahkan Devadatta sepupunya sendiri yang selalu berusaha menjatuhkannya, begitu pula Kristus berkata “Akulah Kasih, akulah Cinta” sehingga menghasilkan revolusi cinta kasih pada zamannya. Imbanglah, sewaktu-waktu mungkin kita terlampau terperangah akan kebesranNya sehinga berlupa melihat ke dalam diri sendiri, dan kita juga seringkali terlampau jauh meliat ke dalam diri hingga lupa mengagumi kebesaranNya.

Hal ini lah yang disebut oleh D.T Suzuki sang master Zen dalam kumpulan essainya pada buku Zen dan Psikoanalisis dengan sebutan ’subjektivitas-absolut’ sebagai jawaban atas konsep ilmiah modern yang mengedepankan ’objektif’ dan ’rasio’. Suzuki sendiri tidak mengatakan pada kita bahwa teorinya ini adalah konsep ilmiah –beda dengan psikologi Islami yang dalam pemahaman saya sangat berusaha diilmiahkan sehingga konsepnya mesti tunduk pada hukum ilmiah, yang dengan sendirinya justru merendahkan Islam itu sendiri- tapi dengan berani dia berkata bahwa konsep ini adalah ”ante ilmiah, anti ilmiah atau bahkan meta ilmiah”. Subjektifitas-absolut ini juga kesadaran penuh bahwa aku tak berbeda dengan hal yang kuamati, kudengar dan kurasa. Saat aku menikmati angin semilir akulah angin itu, saat aku meminum air akulah air dan kesejukannya dalam tegukanku, saat menikmati keindahan sebuah bunga akulah bunga dan keindahannya, saat menyaksikan orang-orang yang kelaparan rasakanlah bahwa andalah yang sebenarnya kelaparan dengan begitu anda tak segan unntuk membantu mereka, begitu seterusnya sampai ketika anda menyembah sesuatu. Berbeda sekali dengan objektifitas dalam konsep ilmiah, yang membuat kita berjarak dengan yang kita amati yang dengan begitu membuat manusia angkuh dan merasa berhak mengeksploitasi objek yang sedang dialaminya bahkan bilapun objek itu adalah sesama manusia sendiri. Bisa kita lihat hasil dari objektifitas itu dalam pengurasan sumber daya alam yang keterlaluan, perlakuan pada buruh yang tidak manusiawi dan lain sebagainya. Dalam dunia jurnalistik kita lihat wartawan yang walaupun sekeras mungkin berusaha untuk objektif (dalam hal ini konotasinya netral) tapi seumur-umur mereka tidak akan bisa, sebab seperti kata Suzuki ”manusia tidak mungkin bebas bahkan bila dia sedang sendirian, manusia hanya mengalami kebebasan ketika dia terhubung dengan subjektifitas-absolut”. Sesuatu itu, ketika berada di luar diri anda, membuat anda merasa bukan siapa-siapa, dan ketika berada dalam diri anda akan membuat anda bisa menjadi apa saja.

Wujud nampak dari subjektifitas absolut dapat kita saksikan pada karya-karya seni (SEntuhan ruhaNI) yang indah nan abadi dari para seniman, para pendekar, para empu, para penyair dan pujangga-pujangga besar. Sebab dalam proses penciptaan karya tersebut, sang pembuat memasukkan sejumput diri sejatinya kedalam karya agungnya. Wajarlah bila kita mengenal keris-keris pusaka yang berpamor macam-macam, bukannya musyrik namun inilah bukti kebesaran para empu zaman dahulu. Kenapa pula ada prosesi pemandian dan penghormatan terhadap keris? Ini bukanlah dimasukkan untuk menyembah sang keris tersebut, namun untuk mengeluarkan kesejatian sang empu dalam ujud keris tersebut, terkadang keris itu butuh dikondisikan dengan suasana tertentu agar pamor sang empu tadi lebih terasa. Empu itu sendiri tidak mungkin mendapat energi selain dari Sang Maha Kekuatan semesta ini, jadi tidak ada unsur musyrik di dalamnya sebenarnya.

Untuk menjelaskan tentang ’subjektifitas-absolut’ dan ’cinta kasih-kosmos’ lebih banyak tentu tak cukup dengan pembahasan di sini. Apa yang ingin disampaikan disini adalah, agar kita bersama membangun ’cinta kosmos’ atau ’cinta universal’ dalam jiwa kita masing-masing. Yang dengan begitu sekat pemisah antar kita sebagai sesama manusia dan sesama makhluk Nya tidak lagi menjadi penyebab sikap permusuhan diantara kita. Sekat-sekat ideologi, agama, kepercayaan mestilah memang selalu ada. Setiap yang anda pegang tentu memiliki penentangnya masing-masing namun janganlah kesemuanya itu dijadikan alasan bagi kita untuk saling membenci. Ingatlah, Tuhan ada dalam diri kita sebagaimana Dia ada dalam fihak yang anda anggap paling kafir dan jahat sekalipun, kikis dan hilangkanlah rasa menghakimi orang lain dalam dada. Berbahagialah untuk kehidupan, masa lalu, masa kini dan masa depan, lalu bagilah kebahagiaan itu pada semua yang anda temui. Tersenyumlah, jadilah ’terang dalam gelap’ dan anda akan temukan bahwa Tuhan hadir dalam setiap relung celah hidup. Hiduplah dengan penuh, dalam kehidupan yang sejatilah anda bisa bertemu Tuhan, Tolstoy dalam ’War and Peace’ bilang ”Sebab Tuhan adalah kehidupan itu sendiri”.

”Semoga kebahagiaan pada setiap makhluk”

(6 Oktober 2009)