EMPUKU, PEREMPUANKU

M.D. Atmaja

Dituliskan untuk Soviana D. Saputri Atmaja dan Almarhum Eka Kartikakunang Atmaja (Eka Kartikawanti, 28 April 1985 – 27 Mei 2006)

Pengantar

Persembahan di atas, mungkin terkesan membenjol dalam kejanggalan yang tidak logis. Saya secara pribadi menyarankan untuk tidak perlu dihiraukan. Akantetapi, kalau saya boleh menyarankan kembali, sebelum membaca tulisan ini sampai tuntas, saya mengajak hadirin pembaca untuk sejenak melepaskan ego sebagai lelaki dan (atau) ego sebagai pribadi perempuan. Dalam khasanah ini, hendaknya kita berdiri sebagai manusia yang telah melepaskan kepentingan gender dan bersama-sama mengenang perempuan yang kita kasih dan cintai. Bolehlah, mereka adalah sosok kekasih, kawan dekat (yang biasa maupun tidak biasa), adik atau kakak perempuan, bahkan (lebih disarankan) mengenang seorang ibu.

Membaca Kitab Para Malaikat

Tulisan ini, keseluruhannya akan berbicara menyoal perempuan. Dari senyuman yang manis yang biasanya membuat kita (lelaki) mabuk kepayang sampai mbesengut-nya yang terasa panas bagai Banaspati. Dua hal itu dapat sama-sama berefek mematikan. Tulisan ini hanya sebatas pada studi tukar pengalaman atas analisis Puisi (baca: surat) Membuka Raga Padmi dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat (KPM) karya Nurel Javissyarqi (NJ).

Saya membacai dan sengaja membuat judul baru sebagai bentuk baru dalam rangka proses menafsir. Judul yang saya angkat yaitu Empuku, Perempuanku sekedar sebagai niatan baik untuk menterjemahkan judul Membuka Raga Padmi yang terkesan misterius. Berawal dari niatan itu juga, saya berani mengangkat kepala dengan judul milik saya sendiri, perempuan yang bisa dipecah dari asal kata empu yang menjadi per-empuan. Empu, seorang pembuat keris atau benda pusaka lainnya yang biasanya memiliki karakter sebagai seorang Wiku.

Perempuan, khasanah klasik bagi para lelaki. Ia layaknya tumpukan kitab lama yang teramat sulit untuk dibaca, pun diterjemah. Ketika kita mencoba menguraikan makna, justru akan menciptakan misteri baru. Teka-teki yang tidak mudah dijawab karena melahirkan teka-teki baru. Menjadikan kita (lelaki) memandang tanpa tenaga dalam kekosongan hati. Keadaan yang serba sulit ini, menjepit saya karena hanya sedikit sekali memiliki pengalaman tentang perempuan. Tapi, keberuntungan memang selalu berpihak, seluruh penulisan ini hasil penggoresan dari Nyai Kelopak Kunang yang telah dititipkan untuk saya dalam tulus cinta. Ruh dan jiwa si empu Kelopak Kunang menemani saya dalam mengurai dan meracik kembali tumpukan simbol (KPM karya NJ). Selain itu, ada juga sebilah Nyai Arkamaya yang setiap titian waktu menyuguhi dengan kehangatan kasih akan tulusnya perjuangan dan pengabdian. Kemudian, ada Nyai My Sweet Appel yang menemani proses penelusuran, serta Nyai Sekar Sinelir yang mengingatkan akan darah penghianatan (Nyai Sekar Sinelir ini yang sebentar lagi akan dilabuh). Baik Nyai Kelopak Kunang, Nyai Arkamaya, Nyai My Sweet Appel, dan Nyai Sekar Sinelir adalah aran (nama) pusaka yang disepuhkan oleh mereka per-empu-an serta Kyai Tirtamarta yang sudah sembilan tahun menemani dalam harapan menggapai mimpi menjadi pujangga dan Kyai Dhimas Alit yang kini mengabdi pada seorang perempuan.

Melepaskan obrolan pribadi, saya akan mencoba untuk memulai menumbuk bahan dan membuat racikannya untuk dapat melarutkan ke dalam air dan meneguk makna atas pengalaman dari Surat Membuka Raga Padmi (I : I-XCIII) dalam Kitab Para Malaikat karya Nurel Javissyarqi, dan saya pun memulai.

Hal mendasar yang akan saya lakukan untuk mengurai surat penjang ini, saya akan mendahului untuk mengunyah makna istilah Padmi. Pun, hal ini juga dimunculkan NJ di ayat yang pertama:

Ketika dunia berupa kabut pekat, siapa berkata?,
manakala embun belum terlahir, siapa menggapai?,
di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?,
wewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,
siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya? (I : I)

Ayat (bait puisi) di atas memang tidak mencoba mengajak pembaca untuk mengurai Padmi secara gamblang. Atau sekedar menanyakan pengertian akan Padmi, pun tidak. Akantetapi, lima baris pada ayat I ini dapat menjadi pembuka jalan untuk dapat menyusuri pemahaman akan Padmi yang dicatumkan sebagai perwakilan mengenai awal akan sesuatu hal. Lalu, apa yang sebenarnya di sebut Padmi itu? Padmi, istilah dalam bahasa Sansekerta yang berarti permaisuri. Istri dari seorang raja Jawa yang seringkali menjadi sandaran dalam pembuatan keputusan seorang raja, selain peran maha patih maupun para wiku. Sandaran (penasehat) dalam pengambilan keputusan ini biasanya terjadi dalam hubungan pribadi, ketika raja tidak sebagai raja dan permaisuri tidak sebagai permaisuri melainkan sebagai lelaki dan perempuan (ibu).

Raja-raja di tanah Jawa, kita mendapati mereka sebagai golongan berkuasa yang memiliki banyak perempuan. Namun, permaisuri tetap hanya satu, ia juga hadir sebagai seorang ibu dari semua rakyat di sebuah negeri. Keberadaan yang berperan sebagai Ibu untuk “ngemong” rakyat, pemerintahan, dan di dalamnya termasuk raja itu sendiri. Bagaimana tidak mengagumkan peran dari seorang perempuan seperti ini, yang mungkin saja dia (perempuan) adalah raja yang sebenarnya, seperti dalang yang memainkan lakon. Penguasa tunggal yang tidak disebut ini telah membuat gerakan para kesatria dan dewa berada di dalam genggamannya (maksudnya, seperti peran dalang dalam pewayangan).

Kita pasti pernah mendengar, bahwa raja-raja di tanah Jawa selain beristrikan perempuan dari golongan manusia, juga beristrikan golongan mahkluk ghaib (saya tidak bisa menentukan apakah setan, jin, atau iblis). Hadirnya istri ghaib, semisal Kanjeng Ratu Kidul sebagai salah satu permaisuri dapat dipandang dari berbagai macam sisi. Ratu Kidul (Nyai Roro Kidul) seringkali dipandang sebagai sosok mistis yang luhur dalam kehidupan masyarakat Jawa. Akantetapi, saya secara pribadi sebagai manusia Jawa, lebih senang menyebut Nyai Roro Kidul sebagai sosok simbolis dalam pengertian sempit dan luas. Makna simbol yang hadir bersamaan dengan mitos Nyai Roro Kidul memberikan pengertian yang kompleks mengenai posisi perempuan dalam kebudayaan Jawa. Apa benar, pendapat orang-orang di luar Jawa (pribadi masing lelaki) yang menganggap bahwa peran perempuan berada dalam segitiga setan (setan disini saya artikan sebagai politik) yang telah dikultuskan para lelaki (penguasa) untuk menempati posisi dapur-sumur-kasur?

Bagi saya, Tidak! Pengertian sempit dalam perjalanan simbol ini dapat dipandang sebagai jati diri perempuan itu sendiri, yaitu menyangkut sifat-sifat dan keberadaannya. Perempuan dinisbatkan (dan diumpamakan) dengan lautan. Lelaki sebagai manusia yang berdiri di pantai maknawi dalam rangka menyaksikan keindahan yang menggelora, sehingga dia terkagum-kagum dan jatuh cinta. Pantai yang indah, bergelombang yang kalau manusia (lelaki) tidak berhati-hati, maka akan tergulung dan mati. Dari pantai dan menjorok ke dalam, kita akan mendapati kedalaman yang menyimpan lebih banyak misteri. Di kedalaman itu juga melahirkan kebahagiaan dari hasil laut dan juga murka (amarah) dari badai yang terkandung. Raja menempati posisi ini, lelaki yang menghadapi pantai maknawi dan harus senantiasa berhati-hati dalam tiap langkah, sebab perempuan ikut menentukan laju pemerintahan negara.

Pengertian kedua, saya mencoba mengetengahkan mengenai penguasaan akan perempuan. Penguasaan (menjadikannya istri) secara gamblang menjelaskan mengenai kekuasaan dan perempuan (bisa jadi) merupakan simbol dari keberadaan rakyat (atau wilayah) di dalam negara. Kekuasaan menghadapkan individu pada perempuan cantik yang diwujudkan sebagai Nyai Roro Kidul yang tidak dapat ditolak oleh hawa nafsu (duniawi). Kekuasaan tidak hanya masalah pangkat seorang raja, akantetapi juga menyangkut hal-hal yang dikecapi hawa nafsu, yaitu segala macam kenikmatan. Jika kita menempatkannya dalam khasanah seorang raja, kekuasaan (nafsu tersebut) dapat diartikan sebagai perwakilan dari rakyat yang dengan menguasainya dapat mendatangkan kenikmatan. Baik rakyat, kekuasaan, maupun kesenangan (dan kenikmatan) lain diwujudkan dalam bentuk seorang perempuan yang dijadikan istri (padmi) dengan maksud menjaga diri dari murka perempuan demi menuju pada keselamatan.

Perwujudan simbolisasi ini dapat membantu kita dalam memberikan sedikit penggambaran mengenai peran Padmi (permaisuri yang dalam hal ini diterjemahkan sebagai istri/ ibu) di dalam kehidupan. Sekuat apa pun kita (manusia) hanya mampu menggendalikan hal-hal yang sifatnya badaniah namun teramat sulit merengkuh ruh. Bagaimana pun juga, perempuan telah dijadikan sebagai ruh di dalam dunia kehidupan. Tentang bagaimana sang Adam dijebloskan ke dunia, atau tentang bagaimana Ki Ageng Mangir ditaklukkan Pembayun (Mataharam) atau tentang bagaimana peran perempuan menaklukkan Sunan Giri sehingga tunduk pada Mataram.

Perempuan, bisa saja menjadi awal, pun bisa menjadi akhir. Toh, Kanjeng Nabi pun pernah berpesan kalau seindah-indahnya perhiasan dunia adalah istri (perempuan) yang sholehah. Saya kira, sholeh di sini melingkupi seluruh keberadaannya dengan keluhuran, entah itu batin (di dalamnya pikiran/ akal) atau lahir yang akhirnya terwujud dalam laku. Kita sebenarnya telah menyadari, hal yang diluar batin adalah hal yang sementara dan akan segera menjadi fana.

Perempuan, tentang Hakekat

Dalam perjalanan yang sedikit menanggung letih, secara sekilas saya telah menguraikan menyoal perempuan. Dalam endapan delta renungan, masih juga menyisakan perasaan gamang dan pertanyaan lain. Seperti saat kita berdiri di dalam keremangan sementara warna hitam lebih pekat, lalu di sana kita melihat bayangan yang berlalu cepat. Langsung hilang begitu mata kita mencoba mengamati dengan sadar setelah dimabukkan aroma. Tapi sebentar, bayangan itu bukan hantu melainkan diri kita sendiri yang mawujud ke dalam pandangan. Ini mungkin terlihat tidak nyata, namun NJ telah memberikan penekanan yang lebih nyata ketimbang kita bergulat dengan Nyai Roro Kidul. NJ menyatakan bahwa perempuan sebagai:

Wanita [yang] ditakdirkan [untuk] melahirkan anak-anaknya,
[untuk] menyusui anak lelaki dan perempuan (I : II)

Ayat II surat Membuka Raga Padmi ini terkesan sederhana setelah saya tambahi dalam penandaan kurung. Keserderhanaan yang ternyata telah berhasil menelikung saya. Awalnya memang terkesan biasa, perempuan (wanita) memang ditakdirkan sebagai mahkluk yang memiliki rahim untuk mengandung yang terhubung dengan vagina yang secara bentuk mendukung dalam proses kelahiran. Pernah, kita membayangkan kalau vagina, sebagai kelamin perempuan memiliki bentuk yang hampir sama dengan lelaki? Bagaimana seorang anak bisa keluar dari sana, meskipun dengan kelamin bulat panjang dan memiliki rahim?

Keadaan ini menjelaskan kalau perempuan sebagai mahkluk yang terpilih dengan seperangkat sistem (organ) yang menyertai kelahirannya. Perempuan telah diciptakan dengan sedemikian rupanya dengan menanggung pekerjaan yang bagi kita (manusia) pada umumnya, sebagai pekerjaan yang terkesan remeh-temeh. Perempuan tidak dilahirkan untuk menduduki posisi khalifah seperti posisi yang telah dijanjikan untuk kaum lelaki. Akantetapi, untuk melahirkan anak dan menyusui. Hal ini tekesan remeh, namun kita perlu mengenang kembali bahwa setiap kita, lelaki dan perempuan, pernah merasakan manisnya air susu perempuan (Ibu atau Padmi). Air susu yang diberikan perempuan menjadi makanan pertama dan satu-satunya bagi bibit-bibit kehidupan baru. Air susu ini (dan perempuan) diketika itu hadir sebagai rahmat atas suatu kehidupan. Sedari awal, bagaimana benih tumbuh di dalam rahim, mendapatkan makanan di dalam tubuh perempuan, sampai akhirnya setelah proses kelahiran, peran perempuan tidak berhenti di sana.

Melahirkan dan menyusui, mengingatkan saya pada siklus kehidupan yang lain. Menurut saudara sekalian, aspek hidup yang paling mendasar dari melahirkan dan menyusui ini apa? Di zaman modern, banyak perempuan-perempuan kita yang enggan untuk melahirkan dan menyusui untuk memilih sebagai wanita (perempuan karier). Enggan untuk melahirkan, mereka memilih dengan operasi, yang mungkin ini sebagai akibat dari perkembangan pengetahuan sekaligus pergeseran peradaban. Akantetapi, bukan masalah perkembangan pengetahuan ini yang ingin saya ungkapkan di sini, melainkan struktur pemikiran dari rantai kehidupan yang sudah berumur ribuan tahun, bersamaan dengan diciptakannya manusia.

Di dunia ini, apa yang secara hakekat memiliki sifat melahirkan dan menyusui? Kembali saya menegaskan pertanyaan ini. Keadaan ini tidak menyoal reproduksi manusia demi kelangsungan hidup, melainkan lebih pada nilai universal yang keberadaannya hadir sebagai inti dari kehidupan. Saya tidak menyebutkan kata: Tuhan, sebagai asal muasal kehidupan, tapi hanya sebatas pada senyawa yang ada di dalamnya.

Manusia Jawa (secara khusus) memiliki struktur simbol pemaknaan hidup yang berhubungan erat dengan dua hal ini, yakni melahirkan dan menyusui. Simbol pemaknaan yang mewujud dari struktur hidup. Melahirkan dan menyusui, aspek mendasar dan terpenting dari seorang ibu. Melahirkan, tidak hanya diungkapkan sebagai proses kelahiran seorang bayi, akantetapi di dalamnya terdapat nilai mengandung, pengamanan, pembentukan yang tergolong ke dalam penyimpanan di dalam. Penyimpanan ini, memuat pembenihan di dalam yang pada fase tertentu dimunculkan keluar diri sebagai kelahiran. Kehidupan baru tersebut tidak (belum) dapat berdiri sendiri, sehingga tahap menyusui memiliki sifat yang berkesinambungan dengan kelahiran. Menyusui, kegiatan transfer makanan yang sudah diolah di dalam tubuh seorang perempuan.

Masyarakat Jawa (mungkin) karena dua kegiatan penting seorang ibu yang hampir sama dengan unsur tanah (bumi) menemukan adanya keterkaitan peran. Ibu dan juga tanah, menyatu sebagai unsur simbolis dari kehidupan (asal muasal) itu sendiri. Tempat dimana kehidupan terkandung kemudian terlahir (tumbuh). Bumi sebagai ibu, merupakan bagian dari kepercayaan tradisional (Jawa). Bumi yang melahirkan dan menyusui adalah ibu, yang secara pribadi juga berperan sebagai istri atau padmi yang menumbuhkan kehidupan setelah lelaki yang disimbolkan angkasa menurunkan hujan. Kehidupan bersemi di bumi, karena itu setiap manusia memiliki unsur bumi (tanah) yang kuat di dalam dirinya.

Manusia diciptakan dari tanah, begitu Allah S.W.T. berfirman dalam Surat Shaad ayat 71. Tanah yang menjadi bahan dasar manusia berupa air mani, yaitu tanah yang bercampur dengan sifat air. Badan manusia memiliki sifat tanah, sedangkan ruh yang menghidupkan memiliki sifat ketuhanan. Bumi hakekatnya menjadi jasad (Purwadi dan Dwiyanto, 2005: 50). Dengan demikian, pandangan hidup tradisional mempercayai kalau setiap manusia memiliki sifat keperempuanan, yang sekaligus bahan dasar hidup manusia.

Dalam kondisi seperti ini, tidak cukup mengherankan kalau NJ melanjutkan surat Membuka Raga Padmi dengan:

Ia [perempuan sebagai] pembuka gerbang langit, ketika kitab waktu belum dipelajari (I : III).

Dia insan tertinggi di muka bumi,
karenanya kabut singkup mega lenyap wajah langit biru (I : IV)

perempuan, oleh NJ benar-benar dihargai sedemikian rupa. Apa yang NJ lakukan, maksud saya adalah penghormatan, melebihi masalah kesetaraan gender. NJ mengetengahkan sesuatu yang lain, melebihi teori perjuangan yang pernah ada. Tentu saja, penghargaan NJ pada perempuan melebihi R.A. Kartini dalam menghargai dan memperjuangkan perempuan. Penempatan simbol yang menyerahkan sebuah tanggung jawab yang berat untuk para (kaum) perempuan, saat kehadirannya sebagai: pembuka gerbang langit. Ungkapan ini mengejawantahkan suatu makna terdalam.

Menghayati dua ayat ini, justru membuat saya teringat pada seorang kawan, Muhammad Taufik Rahman, sewaktu dalam obrolan di angkringan Wijilan beberapa tahun silam. Kawan saya ini, mengungkapkan pemikirannya yang aneh, karena anehnya itu membuat saya mampu mengingat, menurutnya bahwa perempuan sebagai makhluk pertama yang menghuni dunia. Mereka pemimpin di dunia sebelum dunia kita sekarang. Dahulu, pada masa kehidupan tersebut, kehidupannya berciri matriarki, dimana perempuan menjadi pusat pemerintahan kosmos. Tuhan menguji mereka, yang kemudian dibinasakan karena sebab tertentu, kemudian perempuan menjadi makhluk berstatus nomor dua. Akantetapi, meskipun demikian, perempuan di dalam kehidupan ini mewarisi hak-hak istimewa yang dimiliki di dunia terdahulu.

Cerita ini memang sama sekali tidak mengungkapkan mengenai pembukaan gerbang langit seperti yang dikatakan NJ. Akantetapi mungkin saja, bisa memberikan sedikit penjelasan untuk kalimat selanjutnya: … ketika kitab waktu belum dipelajari. Kitab waktu dapat menjadi kunci untuk membuka pintu pemahaman yang lebih luas. Kitab ini dapat saja diterjemahkan sebagai perwakilan atas agama para Nabi Allah. Kitab mengenai saat (waktu) dibukanya ruang yang mana di sana manusia mampu mengetahui hakekat kehidupan yang berkisar antara perbuatan baik, perbuatan buruk, ganjaran, atau pun mengenai hukuman. Waktu, juga menyiratkan pada hari perhitungan yang kedatangannya pasti namun tersembunyi.

Lalu, bagaimana dengan “pembuka gerbang langit” tersebut? Bangunan simbol yang hampir saja tidak mampu saya mengerti. Ayat III surat Membuka Raga Padmi hampir membuat saya kehilangan napas. Namun saya tidak patah arang untuk terus berusaha mengurai simbol tersebut. Kini, hal yang paling nyata adalah dengan mengembalikan ke tanah sebagai asal-muasal manusia. Tanah yang saya maksudkan di sini adalah pulau Jawa dan pandangan hidupnya. Dalam Serat Centhini yang dikutib Zoetmulder (Beatty, 2001: 222) mengatakan bahwa jika kita “ingin menembus realitas, masuklah ke dalam simbol”. Nasehat ini memberikan saya harapan untuk terus menelusur, yang akhirnya membawa pertanyaan baru: simbol apa? Yah, tentu saja simbol perempuan (padmi) yang merupakan simbolisme mengenai suatu nilai.

Menetapkan keberadaan perempuan sebagai simbol bukan tanpa dasar. Dengan masih mengacu pada penelitian Beatty (2001: 224) yang mengarahkan saya untuk menetapkan perempuan sebagai simbol, yakni bahwa “seseorang tidak perlu keluar dari diri sendiri”. Perempuan sebagai simbol, di dalam struktur bangunan simbol Jawa yang bermedan makna mengenai kehidupan manusia. Pada khasanah yang lebih luas, perempuan sebagai bumi yang juga sebagai hakekat kehidupan seluruh makhluk.

Simbol perempuan dan bumi, mengingatkan saya pada cerita di ujung timur pulau Jawa. Pun, mengingatkan saya pada perjalanan cinta yang kini menjadi perjalanan pulang kampung ke Kota Pensiunan, Banjarnegara. Hal yang nantinya akan terdengar mengada-ada, meng-gothak-gathuk-kan dari satu sisi dengan sisi lainnya untuk memperoleh penjelasan. Kembali ke tanah di ujung timur pulau Jawa, di sana kita akan menemukan wilayah hutan wingit yang disebut dengan Alas Purwo.

Menurut hasil penelitian Beatty (2001: 291) dengan memahami tempat-tempat rahasia Alas Purwo sama halnya dengan memahami asal-usul manusia. Di tengah-tengah Alas Purwo terdapat Gua Kelelawar, di sanalah tersimpan hakekat asal-usul tersebut. Apabila Alas Purwo melambangkan rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan, maka keberadaan Gua Kelelawar melambangkan kelamin perempuan (Vagina) yang menghubungkan dengan kedalaman asal-usul

Ujung timur pulau Jawa yang memiliki struktur simbol Alas Purwo dan Gua Kelelawar sebagai kelamin perempuan, itu berarti adanya pertautan dengan simbol lainnya, mengantarkan pada proses melahirkan dan menyusui yang kemudian menempatkan perempuan sebagai pembuka gerbang langit. Sebenarnya, melalui simbol Alas Purwos dan Gua Kelelawar kita sudah dapat menangkap makna mengenai hakekat perempuan. Dia menyimpan, sekaligus menjadi jalan pengetahuan mengenai asal-usul kehidupan. Asal usul ini seperti yang termuat dalam Serat Gaholoco (Anderson dalam Beatty, 2001: 291)

Dalam guaku ini
ada mata air tersembunyi
yang disebut “air rasa”
pada masa dahulu, perbendaharaan

Tuhan yang Maha Kuat
orang yang membasuh dirinya,
dengan air rasa ini
merasa nikmat tak terpermanai
melebihi semua di dunia.

Seringkali saya menyibukkan diri dengan gothak-gathuk ini. Mengolah rasa dan pikir agar dapat dengan akurat membidik. Di sini juga saya berniat memberanikan diri untuk mengatakan kalau tanah Jawa ini adalah seorang (tubuh) perempuan yang terlentang dalam ketelanjangan. Anggapan yang tidak pasti? Mungkin saja seperti itu, tapi marilah kita menyelidiki cerita perjalanan pulang dari Mangir (Bantul) menuju Banjarnegara. Di pertengahan jalan saat kita memasuki Kabupaten Wonosobo, pandangan akan menemui dua gunung yang hampir kembar bernama Sindoro dan Sumbing. Dua gunung yang hampir kembar ini mengingatkan saya akan suatu nilai yang lain.

Nah, kali ini kita mulai memiliki kesamaan alur pemikiran. Katakan dengan lantang, Sindoro dan Sumbing sebagai payudara (perempuan) dalam simbolisme menyusui. Gunung yang hampir kembar, keduanya nampak sama namun berbeda antara kanan dan kiri, begitu pun Sindoro dan Sumbing. Gunung juga menjadi jalan dalam pemuntahan saripati tanah (baca: kesuburan) untuk memberi penghidupan dari apa yang pernah dilahirkan. Begitu juga dalam pengejawantahan perempuan itu sendiri, kita dapat menemukan makna yang entah itu adalah sebagai bumi atau pun sebagai ibu. Dua bentuk simbol seperti ini, membawa pengertian mengenai hakekat kehidupan/. Gua Kelelawar (kelamin perempuan) di Alas Purwo, maupun Sindoro dan Sumbing (payudara) memeberikan deskripsi akan hakekat itu sendiri, bahwa manusia tidak bisa melepaskan diri dari tanah dan sekaligus dari perempuan.

Mungkin saja, kasus seperti ini yang mendasari NJ menyebut perempuan sebagai “insan tertinggi di muka bumi”. Ungkapan yang mungkin saja dapat menyakiti perasaan para lelaki, karena menisbatkan perempuan untuk menempati puncak kepemimpinan. Bagaimana pun juga, ada ungkapan bijak yang mengatakan seperti ini: Surga berada di bawah telapak kaki seorang ibu. Manusia yang menginginkan surga, karena posisinya di bawah kaki perempuan, maka dia harus menempatkan diri di bawah kaki ibunya. Selanjutnya mengajak kita untuk menuju dan (sekaligus) memasuki ladang pengabdian. Raja dan semua orang besar kalau dia tidak menjalani pengabdian ini, maka surga itu menjauh darinya.

Pengetahuan mengenai keberadaan surga yang terkadang kita lupakan sesungguhnya memiliki nilai spiritual yang tinggi. Perempuan, ternyata berdiri pada posisi yang mengagumkan. Saya meraba-raba sejenak, sambil mengenang seorang ibu, kekasih, dan sekaligus istriku. Benar-benar musti melepaskan ego sebagai lelaki untuk menghadapi hal ini, kalau di kaki ibu (padmi atau perempuan) ada indahnya surga, lalu apa yang ada di dada dan kepalanya? Mungkin saja di sana memancarkan keagungan akan kesejatian Tuhan.

Keagungan seorang perempuan membuatnya bermahkota di hadapan ala semesta, dan NJ menuliskannya demikian:

Doa ibu mencipta senyum menafaskan angkasa
bagaikan gelombang ke pantai berulang-ulang (I : V)

NJ kembali menghadirkan rangkaian simbol yang sederhana, tapi sekali lagi saya mengajak agar kita tidak terjebak atau sampai meremehkan struktur yang terbangun di ayat V ini. Rangkaian yang menghubungkan antara “Ibu” dan “angkasa” serta doa yang bergandengan dengan napas. Menurut saya, racikan yang mengandung estetika dan ritual mistis di dalamnya. Ibu dan Bapak (angkasa) dalam simbolisme Jawa memiliki posisi penting, menjadi satu sebagai Hidup. Doa yang mengawali dapat kita uraikan sebagai cinta, kebijaksanaan, dan tentu saja ketuhanan. Tiga aspek yang dilafalkan (doa) memungkinkan adanya kelangsungan hidup (menapaskan) yang terus menerus.

Adanya hubungan baik antara ibu dan angkasa dapat menjadikan dunia terus ada. Hubungan baik ini dapat menciptakan keadaan yang penuh kasih, ketaatan, kesholehan sehingga hari penghancuran itu diundurkan karena di dunia tidak ditemukan kejahatan. Kita sama-sama menyakini kalau kejahatan dapat mendatangkan murka Tuhan, kemudian lain halnya dengan cinta, kebijaksanaan dan laku ketuhanan mendatangkan kebaikan. Tiga laku dasar yang ada di dalam doa ibu (gerak perempuan) dapat mengukuhkan hati lelaki dan keturunannya untuk terus menapak di jalan yang lurus. Kita perlu mengingat dan memberi garis batas yang jelas, bahwa doa berbeda dengan bujuk-rayu. Perempuan yang berdoa mendatangkan kebaikan sedangkan perempuan yang penuh bujuk rayu mendatangkan malapetaka. Kita bisa melihat bagaimana hubungan antara Allah, Adam, Hawa, Setan, dan Buah Khuldi. Allah memerintahkan agar Adam-Hawa banyak-banyak memuji (berdoa) pada-Nya dan menjauhi (baca: makan) Buah Khuldi. Setan membujuk Hawa, kemudian Hawa membujuk Adam sampai akhirnya Adam-Hawa diturunkan ke dunia fana dengan telanjang dan terpisah.

Perempuan, Perhiasan Dunia

Seindah-indahnya perhiasan dunia adalah istri (perempuan) yang sholehah, begitu saya mencoba mengutip bebas pesan yang diwasiatkan Nabi SAW pada kita. Perempuan sebagai perhiasan, terkesan sepele dengan suatu nilai yang sungguh tidak penting di dalam tatanan kehidupan. Sebab, hanya sebagai perhiasan dalam fungsi yang tidak begitu dibutuhkan. Akantetapi, perhiasan akan menjadi teramat penting sebab kehadirannya mampu memberikan warna hidup. Perhiasan menjadikan hidup menjadi lebih indah, ceria, dan tentu saja lebih bermakna. Hiasan, semisal warna memberi nuansa hidup agar lebih hidup. Kita bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya dunia tempat kita berpijak ini hanya satu warna saja. Maka hidup akan terasa kosong, dengan kata lain tidak ada kehidupan di sana.

Warna juga mampu memberikan kita bentuk mengenai segala yang nampak oleh pandangan, pun yang tidak nampak pandangan. Kehadiran perhiasan seperti ini, menampakkan sesuatu yang tanpa keberadaannya tersembunyi. Akantetapi, makna yang diterjemahkan menumbuhkan perhelatan misteri yang baru. Seperti ayat VI dan VII surat Membuka Raga Padmi di bawah ini:

Perawan cantik sejagad keturunan Hawa, kepadanya cahaya memancar
dan setiap lelaki yang dicintai, niscaya bermahkotakan raja (I : VI)

Menjadikan awan kerudung baginya,
lalu kegundahan menderas bagi menertawai (I : VII)

Kedua ayat di atas memberikan gambaran atas posisi akan perhiasan. Takdir yang sudah disematkan pada perempuan dalam babak ini sebagai perhiasan, seperti cahaya itu sendiri. Menampakkan dalam terang yang akhirnya memunculkan warna serta bentuk-bentuk. Dunia menjadi indah dalam bentuk dan warna tersebut. Aspek mendasar adalah warna (yang ada melalui cahaya) yang membuat dunia indah karena perhiasan. Sampai, perhiasan itu hadir sebagai mahkota raja, simbol mengenai kekuasaan akan hidup.

Apabila kekuasaan itu tertutupi, menjadikan keadaan yang meragukan. Awan di sini dapat mewakili suatu sikap, perhiasan yang baik dengan demikian mengisyaratkan keadaan perilaku (esensial) yang baik pula. Perempuan yang mampu berperan sebagai empu yang sebenarnya, tidak sekedar tumpukan (hati) besi, mata (berlian), (wajah dan tubuh) emas, maupun (senyuman) intan permata. Jauh dari sekedar aspek material pembangunnya, seorang empu mengandungi esensi yang dapat menyelaraskan hidup dan sekaligus memaknainya. Kaum Adam, dipesankan NJ agar cermat dalam memilih dan menempatkan perhiasan agar tidak sakit dalam perjalanan hidup.

Begitu singkat keperjakaan memaknai sang gadis, maka melangkahlah
mengikuti harum kanthil menuju taman-taman jauh di sana (I : VIII)

Jangan paksa memegang sayap kekupu,
nanti meronta tinggalkan bekas luka, tangkaplah lewat pandangan saja
lantaran dirinya telah memahami semerbak angin di udara (I : IX)

kehati-hatian ini yang semestinya membawa kita untuk meresapi “kanthil” yang dapat dipandang sebagai buah laku (batin) dari seorang perempuan. Akantetapi, keturunan Adam, menurut NJ hanya sekedar melihat bentuk lahir tanpa mempertimbangkanaspek batin perempuan, yang sebenarnya menjadi dasar dari suatu perjalanan hidup yang sudah dan akan ditempuh. Kebanyakan dari kita (lelaki) lebih senang menilai perempuan dari segi lahiriyah, berbatas pada material pembangunnya, hakekat seorang perempuan dikesampingkan begitu saja. NJ melalui KPM menyarankan agar lelaki lebih berhati-hati untuk sabar mencermati nilai yang lebih esensial yang olehnya (NJ) disimbolkan melalui bunga kanthil. Penisbatan perempuan pada bunga Kanthil dipandang cukup berdasar mengingat adanya nilai kemanunggalan yang tersembunyi dan memancarkan cahaya harum. Tersembunyi dan harum yang manunggal (wingit), itu lah perempuan.

Nilai yang bersemayam di dalamnya tidak dapat dikuasai oleh kaum Adam dengan paksaan, semisalnya peperangan. Pemaksaan terkadang hanya mampu menguasai wilayah (tubuh). Perempuan yang hatinya masih bebas dari pijakan dapat melangkah pergi. Walau tubuhnya telah dikuasai, hatinya dapat dimiliki oleh orang lain atau barangkali akan tetap merdeka. Dalam epos Mahabarata, kita bisa melihat bagaimana Rahwana menculik Dewi Shinta, namun hati sang Dewi tetap menjadi milik Ramawijaya. Mengacu pada cerita pewayangan tersebut, contoh yang lain, misalnya Dewi Drupadi yang telah menjadi istri kelima Pandawa namun hati hanya diberikan untuk Arjuna.

Hakekat dari perempuan sebagai perhiasan adalah kelembutan yang ada di dalamnya. Kelembutan di sini tidak lain adalah laku yang baik. Ia tidak hanya menghiasi, selayaknya keberadaan lampu hias di dalam Pendopo. Lampu hias ini juga perhiasan, namun sekaligus mengandung makna terdalam. Sebagai perhiasan, sebab keberadaannya menghiasi struktur estetika. Selain itu, jika kita melihat seluruh struktur pembangunnya, maka kita akan mendapat makna yang paling esensi dari keberadaan hiasan tersebut, yakni sebagai pancer atau pusat. Nilai ini menuntun kita pada jalan hidup Jawa mengenai keyakinan adanya “Empat Saudara”, yaitu pandangan, pendengaran, penciuman, dan ucapan (Beatty, 2001: 245). Empat saudara ini dapat pula dimaknai sebagai kiblat papat (empat arah kiblat) kehidupan manusia yang dilambangkan dengan empat tiang utama.

Empat arah kiblat yang dibangun juga menghadirkan lampu hias yang berada di tengahnya. Lampu hias ini simmbol dari pancer (pusat) yang menandakan mengenai pusat kehidupan. Peran sebagai hiasan menyembunyikan maknawi sebagai pusat, yang apabila kita memahaminya akan mencapai misteri kelembutan di kutub Maha Kasih (I : X). Perempuan, dengan demikian, membawa makna pusat di dalamnya yang menjadikan dirinya sebagai panutan, meskipun membawa pada kekacauan (I : XI). Sesosok maknawi yang hebat dikandung perempuan dalam kehidupan. Ia diciptakan sebagai pahala yang tidak untuk diikuti kehendakknya (Ranggasutrasna dkk, 1999: 159), sebab apabila diikuti, perempuan lebih banyak mendatangkan penderitaan.

NJ menegaskan pokok ini dalam ayat XII berikut:

Ia menciptakan badai-badai maut membuncang,
memusar pisau-sakauw menjemput usia, batu-batu lebur ditiiup olehnya (I : XII)

Saya kira, penulisan ayat ini tidak terlalu berlebihan mengingat dari peran perempuan itu sendiri. Ia (perempuan) sebagai perhiasan dapat membawa pada kelanggengan hidup (keselamatan) namun dapat juga membawa pada sakit. Semua ini, sangatlah bergantung dari bagaimana kita menempatkan kemudian bersikap pada keberadaan perempuan. Karena bagaimana pun juga, perempuan itu sebagai seonggok simbol yang menghiasi dan sekaligus memaknainya.

Musuh di dalam Diri

Musuh, siapa sebenarnya musuh kita ini? Begitu, Pak Putu Wijaya membawa suatu persoalan penting di dalam novel Perang (2002). Dalam cerita ini, novel yang selayaknya pagelaran wayang semalam suntuk, menuntun kita untuk memahami keberadaan diri beserta segala macam pembawaan di dalam hidup. Keberadaan diri ini, yang dapat mengantarkan pada makna hakiki mengenai musuh Pandawa (manusia) yang sebenarnya. Ajaran Islam memiliki suatu jalan yang sering disebut dengan berpuasa, sebagai kegiatan peperangan besar untuk memerangi diri sendiri. Hakekat dari puasa, adalah untuk mengalahkan nawa nafsu. Lantas, kenapa saya mengetengahkan sub-judul mengenai musuh dalam pembahasan mengenai perempuan ini, adalah sebagai berikut:

Perempuan, seperti yang sudah dikemukakan di atas sebagai pahala yang tidak untuk diikuti (Ranggasutrasna dkk, 1999: 159), menyiratkan nilai tersembunyi yang perlu untuk diwaspadai. Nilai tersembunyi ini saya sebut sebagai musuh, sebab keberadaannya mengancam keselamatan hidup, baik kehidupan perempuan maupun kehidupan lelaki. Jadi, musuh di sini tidak semerta-merta menyatakan kalau perempuan sebagai musuh yang nyata, melainkan sebagai simbol akan keberadaan diri manusia itu sendiri.

Nurel Javissyarqi memberikan kita pengetahuan mengenai ini, dia (musuh) tersimbolkan dalam diri perempuan, melalui perwakilan dari “rasa” yang dimiliki manusia semenjak lahir. Rasa itu juga yang memberikan bentuk kehidupan manusia, dan yang keberadaannya terbiaskan oleh unsur lain yaitu nafsu dan fikiran. NJ menyebut kekompleksitasan nilai ini sebagai cinta:

Cinta setia, tulus membasuh lingga hingga tiada berdaya
dalam rengkuhan kasih, renggutan tangan sayang mesra (I : XVI)

Wanita membawa ruhmu ke puncak pada padat pasir lamunan
bagaikan rerumputan hijau bergoyangan atas bisik ketinggian (I : XVII)

dua ayat yang sungguh memberikan pengalaman tersendiri. Melalui bahasa yang halus, NJ menyuguhi kita dengan nuansa yang sungguh berbeda. Tidak seperti apa yang terdengar, di sana cinta setia yang berpadu dengan lingga dan ketidak-berdayaan. Lalu, NJ menyatakan mengenai adanya keterpaksaan di dalam kemesraan yang tercipta. Saya mulai menaruh curiga, apabila cinta setia mewakili perasaan sejati, lalu apakah lingga di sini mewakilkan pada alat kelamin lelaki atau pada tubuh (badan)? Saya menafsirkan, lingga sebagai simbol dari tubuh manusia. Selanjutnya, cinta (rasa) yang menurut NJ adalah sejati merasuk, ke dalam tubuh (lingga), namun membuatnya tidak berdaya sampai melalui rengkuhan kasih, ia (cinta tersebut) berusaha memfatamorganakan kemesraan. Saya menemukan pemahaman, bahwa ternyata rasa cinta itu yang perlu diwaspadai, ditilik ulang benar atau tidaknya cinta yang NJ maksudkan sebagai hakekat atau kemurnian cinta sudah terlimbahi.

Sebab, cinta yang dihadirkan (lelaki dan perempuan) membawa diri pada dunia yang terkadang hanya terbentuk sebagai mimpi. Membawa kita pada perjalanan penuh marabahaya, “padang padat pasir” yang seolah seperti rumput hijau yang menyatakan mengenai hakekat kekuasaan, “bisik ketinggian”. Iya, atau tidak seperti demikian di atas, mengenai hakekat keberadaan perempuan dan cinta yang disuguhkan. NJ menyatakan kalau kita tidak teliti menyelidik, duri senyuman yang juga disebut dengan luka hidup akan terus membekas (I : XVIII). Dengan kata lain, perempuan dijadikan wakil dari keberadaan diri mengenai perasaan manusia. Perempuan yang (mungkin) oleh NJ merupakan simbol dari perasaan manusia sama dengan megahnya kerajaan misteri (I : XIX).

Nilai rasa dari perasaan yang tersusun dari berbagai unsur ini membawa perempuan sebagai rasa atau nilai rasa dari kehidupan yang sering disebut dengan: hati. Kalau lelaki sebagai tubuh yang tersimbolkan sebagai lingga (dalam ayat I : XVI) maka perempuan sebagai cinta (hati). Tubuh manusia dapat memiliki nilai karena di dalamnya terdapat jiwa yang mengandungi cinta. Jikalau jiwa tersebut mengandung unsur keilahian maka cinta berunsur perempuan. Dia (perempuan sebagai cinta) hadir bernama ruh yang berbentuk aktivitas di dalam hati. Perempuan adalah rasa manusia yang musti dipilih hakekat pembangunnya, apakah dia sejati atau bisikan nafsu. Karena bagaimana pun juga, perempuan simbolisasi dari musuh yang ada di dalam diri.

Sang Penakluk

Suatu keberadaan yang seharusnya membuat seluruh kaum Adam berhati-hati, perempuan itu penakluk yang sebenarnya. Perempuan yang dalam pandangan sekilas menyiratkan suatu sisi kelemahan yang menggiurkan lelaki untuk menguasai, sesungguhnya di dalamnya mengandung jiwa penakluk. Pemikiran ini tidak berlebihan, jikalau kita mengingat kembali sejarah penaklukkan Mangir yang dapat memberikan gambaran bagaimana peran penaklukkan yang dilakukan perempuan. Andaisaja, Ki Ageng Mangir tidak terjerat pikatan Pembayun, tentu tidak perlu untuk menghadap yang membawa pada kematian. Pun, peran Ratu Pandhansari dalam prosesi penaklukkan Giri menjelaskan sisi jiwa penakluk yang lain. Nurel Javissyarqi (2006: 251) mengetengahkan pendapatnya, bahwa perempuan bukan pemancing atau ikannya, dia mampu menjadi penjala paling lihai di antara lelaki.

Peran ini, nampak dalam ayat XX dan XXI surat Membuka Raga Padmi berikut:

Saat mata memahami, tertangkap gambaran mendatang
Pula sejarah sebelumnya, ia matahari mata rajawali di Maospati,
Segala yang terlihat didapatkannya sebagai mangsa (I : XX)

Ia sang pemburu lihai, setiap kepakan sayapnya mencabut nyawa pelena
Sedangkan tarian jemarinya mengangkasa, menghapus papan hari-hari pembalasan
Kepada bumi yang tak selamanya beredar (I : XXI)

Hakekat yang tersembunyi dari perempuan adalah kelembutannya, yang melahirkan adanya kekuatan tanpa batas yang membawahi para lelaki. Perempuan yang lembut, nampak tidak berdaya namun mematikan selayaknya Rajawali yang memangsa apa pun juga. Hal ini menyiratkan mengenai sesuatu yang berlebih, kekuatan yang begitu banyaknya. Semisal, api yang sedikit namun mampu beranak pinak dan menghanguskan apa pun juga yang ada di sampingnya, meskipun itu adalah tumpukan besi baja akan lebur ketika bersentuhan dengan kekuatannya. Atau pun, semisal air yang gemericik namun tiba-tiba meluap untuk menyapu dan menghanyutkan setiap hal yang ada di jalannya.

Hal ini yang (mungkin saja) telah dibaca NJ, yaitu mengenai hakekat akan kelembutan. Penjabaran yang indah dengan simbolisme yang, menurut saya, sungguh pas. Ia perempuan, membawai sifat lemah lembut yang dapat dijadikan sebagai suatu jalan dalam memperoleh kekuatan yang dasyat. Pun, dengan demikian, saya membaca mengenai nilai kelembutan yang dibawa perempuan, kelembutan tersebut bukan perempuannya, yang merupakan sikap dan kepekaan rasa, layaknya perempuan itu sendiri.

Kelembutan membawa kita pada dimensi yang melepaskan keberadaan ruang dan waktu. Aspek ini mampu membawa kita pada ruang ketiadaan, jikalau kita nyatakan tidak ada namun sebenarnya ada, juga jika kita mengatakan ada namun tidak nampak dalam pandangan. Nilai ini mengandungi sifat nyata (hakiki) yang syarat dengan metafisik. Sikap lembut, di dalam kehidupan masyarakat Jawa sering disebut dalam istilah alus, yaitu suatu sikap seseorang yang mampu mengontrol diri secara sempurna dan memiliki kekuatan batin (Magnis-Suseno, 2985: 162). Sifat alus atau kehalusan yang mengacu pada kekuatan batin yang di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai manusia dalam dunia dan dalam kosmos, dalam usaha melihat eksistensi manusia dalam susunan kosmologis, sebagai pengalaman religius (Mulder, 1984: 22). Untuk mencapai tingkatan halus ini, manusia perlu menjalankan sikap nrimo, sabar, waspada-eling, dan prasojo (Mulder, 1984: 22-23) demi menjaga keseimbangan hidup (diri sendiri) dengan Tuhan, yang dapat diungkapkan sebagai jalan hidup.

Sikap masyarakat dalam menjalani hidup lebih menekankan pada ketentraman batin, yang mendorong individu untuk hidup selaras dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat, selaras dengan Tuhan dan menjalankan hidup dengan benar demi tercapainya dimensi pengetahuan antara dunia (manusia) dengan Hidup atau Tuhan (Mulder, 1981: 12). Pandangan hidup seperti ini akan menuntun manusia untuk menjalani laku hidup yang halus, hidup yang penuh dengan welas-asih dan religius. Hidup yang alus (lemah-lembut) mampu mendatangkan kekuasaan, sampai manusia tersebut dapat “mengalirkan air dari hulu” dengan jarinya (I : XXII).

“Butiran embun gugur mengenangkan masa silam” (I : XXII), kalimat yang mengajak kita untuk memahami kehidupan yang sebenarnya. Berusaha meneguk embun, untuk mencapai pengalaman dari masa lalu. Mereguk embun di sini, mendeskripsikan mengenai jalan kebatinan yang juga merupakan suatu jalan untuk mencapai sifat alus. Jalan tersebut, misalnya saja, tapa-brata dan lelana-brata (Magnis-Suseno, 1985: 104). Lantas, kenapa jalan hidup akan pengetahuan tersebut termaktub dalam butiran embun? Hal ini dapat dipandangan sebagai suatu pengibaratan mengenai pencarian ilmu (pendalaman ilmu) Jawa, yang berasal dari pengalaman saya pribadi, bahwa manusia melalui tapa brata dan lelana-brata itu digiring untuk meresapi tetesan embun yang merupakan penjelmaaan dari wangsit (kalau tidak boleh disebut wahyu). Dari aspek ini, manusia akan dikembalikan ke masa silam untuk menyelami dunia leluhur yang sudah berbadan (bertubuh) halus atau roh dan menjadi pepunden.

Hasil dari laku kebatinan ini, mengakibatkan seorang pelaku akan memperoleh keutamaan atau kelebihan. Dia sebagai manusia yang linuweh, maka dari dalam diri menampilkan keharuman budi pekerti dan serta menyenangkan selayaknya perawan (I : XXIII). Melalui kelembutan yang dimiliki seseorang, ia mampu menghadirkan kekuatan kosmis yang luar biasa. Ia memancarkan aura yang mampu memikat indra. Kekuatan yang menguasai indra, sebab melalui alat indra manusia dapat memperoleh pengukuhan dan pengusahaan atas nafsu (keinginan) yang akhirnya dipertaklukkan. Ini tidak menyoal bagaimana perempuan menaklukkan lelaki, namun lebih sebagai identitas simbol atas makna yang diembannya. Kelembutan yang melahirkan kekuatan di dalam jiwa (diri) manusia.

Keberadaan kekuatan kosmis di dalam jiwa manusia, yang apabila terus mengacu pada sisi keperempuanan, ia hadir sebagai penguasa. Kita bisa saja mencermati sejarah dan mitos yang berkenaan dengan kekuatan kosmis dari perempuan (baca juga: kelembutan). Sebut saja, Nyai Roro Kidul, seorang ratu lelembut yang diwujudkan sebagai perempuan (Ratu) yang juga sebagai istri (padmi) yang memiliki jiwa yang cantik. Ratu secara jelas menyimbolkan kekuatan dan kekuasaan. Dengan demikian, kecantikan itu mewakili mengenai apa? Di sini lah NJ kembali bermain simbol mengenai kekuatan kosmis tersebut.

Ratu perkasa jagad ini ialah kecantikan berhilir,
Sepenuh gemerincing kata-kata penyair (I : XXIV)

Saya pun, akhirnya kembali menjadi spekulan dalam mengurai makna kecantikan yang NJ hadirkan di sini. Kecantikan membawa pada kekuasaan yang tidak dapat disepelekan, sebab kehadirannya mampu membuat seseorang menjadi Ratu Kehidupan. Posisi yang sungguh menggiurkan, sampai-sampai dalam kondisi realitas, banyak perempuan (dalam arti sebenarnya) berusaha keras untuk menjadi cantik, atau hanya sekedar terlihat cantik. Mungkin saja, para perempuan ini ingin mendapatkan kekuasaan yang datang bersamaan dengan kecantikan seperti yang NJ ungkapkan. Namun memang ada benarnya, mengingat bahwa sebagian besar perempuan cantik memiliki kekuasaan, entah kekuasaan karena faktor ekploitasi lelaki, budaya, maupun kepentingan pasar. Secara tidak langsung, kecantikan yang dipuja di dunia realitas kita adalah kecantikan yang menindas jiwa manusia yang sebenarnya.

Entah bagaimana kecantikan itu diterjemahkan oleh setiap individu, masing-masing pengertian akan memberikan dorongan tersendiri untuk menciptakannsuatu perbuatan. Dalam salah satu karyanya, Trilogi Kesadaran (2006), Nurel Javissyarqi (2006: 117-118) mengungkapkan suatu pemahaman yang lebih jauh dengan mengatakan “kecantikan adalah penggerak alam mistis”. Ini bisa kita jadikan sebagai kunci untuk memahami kecantikan yang berhubungan erat dengan kekuasaan, apabila dalam bahasa NJ yaitu untuk menjadi ratu sejagad. NJ (2006: 117) mengetengahkan tiga pandangan, yaitu cinta, rindu dan bertatap muka. Kecantikan (yang mistis) membuat kita ingin mencintai, yang kemudian melahirkan rindu untuk bertemu. Apakah ini menyoal mengenai cantiknya perempuan yang seksi, semok dan seabrek istilah lain? Bagi saya tidak! Kecantikan yang ada di dalam ayat-ayat surat Membuka Raga Padmi (dan secara umum dalam Kitab Para Malaikat) adalah perwakilan dari suatu kekuatan kosmis, sifat ketuhanan itu sendiri.

Kecantikan sama dengan kekuatan mistis (kosmis) yang merupakan wujud lain dari laku alus (lemah lembut). Suatu kecantikan mengandungi nilai yang merupakan hasil dari perjalanan mengenai laku yang juga adalah jalan hidup. Kekuatan ini yang pada akhirnya membuat seseorang mampu untuk “memberi makna yang belum terlahir (I : XXVI)” sebagai pengejawantahan atas kemampuan batin, yang oleh NJ diungkapkan sebagai “ketajaman mata jiwa (I : XXVII)”. Demikian, NJ membungkus kekuatan batin (rasa sejati) yang diwujudkan ke dalam simbol sebagai padmi (perempuan).

Suatu Nasehat: Hakekat ke-Empu-an Padmi

Empu, dalam kehidupan masyarakat Jawa memiliki status yang penting di dalam struktur kehidupan. Empu tidak hanya sekedar sebagai seorang pembuat keris, senjata tradisional masyarakat Jawa. Akantetapi, seorang empu juga sebagai sosok manusia yang dianugrahi suatu kedekatan hubungan dengan alam dan Hidup (Tuhan). Bagaimana tidak demikian, jikalau kehadiran seorang empu bukan sekedar pandai besi, namun lebih dari itu, yaitu seorang empu mampu untuk menitiskan kekuatan alam dan kekuatan kosmos lainnya ke dalam bentuk pusaka yang menjadi senjata pamungkas apabila manusia mengalami posisi gawat dan penting. Seornag empu dapat dipastikan kalau di dalam dirinya memiliki kelembutan diri dalam kesejatian yang diperoleh dari ketatnya perilaku perihatin dalam waktu yang lama. Pun, NJ mengungkapkannya demikian:

Pada perempuan pekerja, dirinya ada kelembutan lain,
Dan setipa insan memahami rabahan penuh kasih (I : XLIII)

Perempuan pekerja, begitu NJ membuat perumpamaan simbol mengenai hakekat kehidupan. Yakni, bahwa perempuan selayaknya seorang abdi, yang bekerja untuk dirinya sendiri agar mendapatkan upah. Upah dalam konteks ini sebagai buah dari ibadah, yang ditujukan demi kekuatan kosmis yang telah menciptakan keseluruhan dari hakekat hidup. Perempuan sebagai simbol dari manusia bijaksana, yaitu empu yang sesungguhnya tidak bekerja hanya untuk dirinya sendiri. Ilmu yang dimiliki digunakan untuk membantu orang lain dalam usaha pengerjaan pusaka hidup, yang juga merupakan simbol dari kegiatan transfer kekuatan kosmis.

Ia, si empu ini yang secara sekilas seperti seorang kyai yang mempelajari agama bukan untuk dirinya sendiri namun demi keselarasan hidup manusia beragama. Selayaknya kyai, empu memiliki kelembutan yang diakui dan sekaligus disegani orang. Kehalusan yang didapat dari penjalanan laku prihatin yang ketat, yang sesuai dengan kondisi lingkungan di mana dia hidup.

Hal ini dapat dicermati dalam ayat:

Bibir selalu dibasahi puja sepohon jati kering berpuasa
Bungan mekar dicumbui embun telah lama dirinya putik
Seperti ombak kuluman bibir samudra (I : XLIV)

Susunan kalimat yang dapat kita dengar simphoninya. Karena teramat merdu, nyaris tidak terdengar makna yang disembunyikan. Ayat di atas mengabarkan pada kita dengan sangat halus mengenai cara (baca: jalan) untuk mencapai kelembutan. Jalan yang jelas-jelas bukan kondisi yang dipenuhi dengan nikmat dunia, jalan yang jauh dari menyenangkan. Akantetapi, jalan yang di dalam penggambarannya merupakan suatu kondisi hidup yang keras dan hanya bisa dilalui dengan bulatnya tekat. Kenapa saya mengatakan seperti ini?

Kita bisa saja menyangkal, namun sebelum menyangkalnya, marilah kita mengamati bagaimana NJ mengajak kita untuk selalu bersyukur dan ingat dalam menjalani kehidupan. Mungkin saja, pemikiran lama dari masyarakat Jawa mengenai eling lan waspada, ingat dan waspada, yang dimaktupkan NJ dalam kalimat: “Bibir selalu dibasahi puja”. Puja adalah penganggungan atas sesuatu hal, tidak lain yaitu suatu kekuatan kosmis (Tuhan). Manusia yang ingin mencapai taraf empu, hendaknya tidak lalai dalam pengagungan dan menjalani hidup dengan prihatin. Pengagungan Tuhan dapat kita terjemahkan dengan selalu menerima dengan senang hati setiap perhelatan takdir yang telah Tuhan berikan untuk kita.

Dalam suatu kasus lain, kehidupan sekitar kita memberikan saksi nyata tentang bagaimana pohon Jati menjalani hidup. Dia (pohon Jati) dapat terus tumbuh walau tanah yang dipijaki dalam keadaan kekurangan air (gersang). Pohon jati bertahan hidup dalam kesahajaan akan kesederhanaan (dan juga kemiskinan) untuk tidak mempertahankan rimbunan daun yang sebenarnya, rimbunnya daun ini dapat membuatnya nampak gagah perkasa dari pandangan luar.

Bukan kekuatan dan keperkasaan semu mengenai keindahan pohon Jati. Akantetapi, pohon Jati menyimpan kekuatannya di dalam diri. Melihat fenomena ini, pohon Jati secara jelas tidak membutuhkan pujian karena apa yang nampak (penampilan fisik) namun dari apa yang ada di dalam dirinya. Untuk memberikan penggambaran yang jelas, mari kita mencermati syair Rumi, yang mengatakan bahwa: “Jiwa adalah seperti sebuah cermin yang jernih; raga adalah debu di atasnya. Keindahan di dalam diri kita tidak terlihat karena kita di bawah debu” (Shah, 1985: 128) atau “Jangan memandang bentuk luarku, tetapi ambillah apa yang ada di tanganku (ibid: ii).

Seperti itulah pohon Jati. Dari luar, ia akan nampak gersang apalagi saat musim kemarau, maka akan seperti pohon mati. Tidak rindang, pun hijau namun menyimpan kekuatan hakekat yang luar biasa. Kemudian kita pun akhirnya bertanya-tanya, bagaimana agar seperti pohon Jati? Pertanyaan ini pun telah dijawab NJ dengan “kering berpuasa”. Dalam kehidupan masyarat Jawa dikenal istilah “ngatuske segara” atau mengeringkan lautan yang merujuk pada perut manunusia. Lapar dalam berpuasa dijalani dengan kemantapan hati dan ikhlas seperti “ombak kuluman bibir samudra” mampu mengukuhkan kekuatan diri yang pada hakekatnya sudah dimiliki semenjak lahir. Puasa sebagai jalan mengalahkan hawa nafsu (keingin manusia mengenai duniawi) untuk memenangkan rasa (jiwa) sejati.

Di dalam diri kita ada musuh, hal ini sudah saya singgung di atas, yang hakekatnya melemahkan jiwa yang sejati. Menjalani hidup seperti pohon Jati, dengan tidak langsung memenjarakan musuh yang melemahkan. Jika jalan hidup sudah dilalui layaknya pohon jati, maka:

Ia mengalirkan daya pesona, terimalah waktu di dasar renungan
Hasrat tumpah di jalanan membentang, gerak sadar pun ketaklumrahan (I : X:LV)

Ini dapat dikatakan sebagai hasil, yakni orang itu dimabuk kepayang oleh cinta pada Hidup (Allah). Orang yang dimabuk cinta seperti orang gila yang menampilkan hasrat (rindu) di muka umum. Sampai, membuat pecinta itu tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Adanya pesona, suatu kekuatan yang tumbuh di luar kesadaran, sadar namun tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi. Seperti, apakah pohon Jati menyadari kekuatannya sendiri? Jalan hidup dalam surat Membuka Raga Padmi ini, NJ menghadirkan jalan cinta yang penuh dengan penderitaan yang hakekatnya terasa nikmat. Jalan, yang selaykanya penanaman pohon yang membuahkan kenikmatan abadi. Laku!

Bantul dan Banjarnegara – Studio SDS Fictionbooks, 12 Januari 2011.
Sumber: http://phenomenologyinstitute.wordpress.com/2011/01/24/empuku-perempuanku/