HURAG-HURUG CINTA

Siti Sa’adah
Radar Mojokerto-Jombang 17 Okt 2010

Ketenanganku sumbing. Bebungah yang ku jaga untuknya luruh tak di sangka. Aku diayun-ayunnya tanpa ku ingin jatuh bedebam. Mimpi yang melingkupi selama ini koyak sebelum sempat terbersit untuk geragap bangun.

Sarung macam apa yang ku banggakan itu, heh?!

Ku sandarkan tubuhku di sofa ruang tamu. Urung menyapu, sapu yang sudah ku pegang tadi tergeletak begitu saja.Pagi hari liburku jadi ringkih.

Ku baca deretan kalimatnya yang di kirim beberap menit yang lalu melalui SMS. Ku pencet menu pilihan dan pesan itu ku hapus. Kata-kata lelaki berkoko itu lenyap. Tapi semakin menggelinjang, terelief jelas dalam ingatanku.

Aku bingung harus pilih yang mana. Kalian berdua teman baik.

Sampean sendiri pilih siapa. Ku tegas-tegaskan kalimatku. Tapi terasa benar air tubuhku meletup-letup panas. Mengapa bisa bingung?!

Aku kan masih bingung. Balasnya. Buaya! Gila! Muluk-muluk dulu katanya yakin akan aku. Tapi sekarang… bingung?!

“pilih saja Pipit. Turuti kyaimu itu” terlintas rekaman ingatanku, terpampang wajah sahabatku Pipit yang baru sepuluh hari kutinggalkan. Cemberut sejak aku dekat dengan lelaki ini. Lelaki yang aku dan Pipit anggap sebagai santri alim ini, begitu juga pemahaman tetangga kos kami, yang tahu kesehariannya.

Ternyata pikiran lelaki ini owah! Ku suruh pilih teman yang sudah ku anggap saudara itu yang tinggal bersamaku satu tahun sebelum aku memutuskan pulang, mencari pekerjaan dekat rumah sambil kuliah.

“Jadi kamu mundur dariku?!” SMSnya menyodorkan pertanyaan. Puih!! “aku tidak bisa denan lelaki yang tak punya prinsip. Tidak bisa di pegang ekornya. Meski awalnya berhasil membungkamku dengan sumpah dan rela hafalan Al-Qur’an hilang jika mempermainkan. Sampean sendiri yang bilang seperti itu kan?! Rupanya aku salah. Aku mencengkeram tiang yang bergoyang” Hendak ku kirim pesan panjang ini. Tapi urung. Geriap kesal membauriku. Ku balas “Terima kasih menggelar kekonyolan ini untuk ku”

“Maafkan aku. Aku tak berani menentang kyaiku. Katanya dia lebih baik darumu. Lebih siap untuk hidup bersamaku. Lebih rajin ibadahnya….” Rasa heran naik ke ubun-ubun.

Jin negara mana yang merasuki santri macam ini?! Tak ku baca kata-kata selanjutnya. Baru kali ini aku menemukan santri yang menjadi ustadz seperti ini. Meski geli, tapi mawut hatiku di buatnya. Mimpi keterlaluan indah di bangun.

Belum genap dua bulan aku di timangnya. Diyakinkan hatiku dengan menghembuskan hasil istikhoroh kyainya yang belum ku kenal itu. Saat itu hatiku gelora indah. Memekikkan “Thank’s berat Kyai!. Istikhoroh Anda memantapkan langkah kami.” Dan Pipit teman sekamarku yang baru ku tinggal sepuluh hari denganku ini tersenyum hambar. Girang di depanku. Tapi aneh, selanjutnya dia beku selam lelaki ini dekat denganku. Sejak itulah Pipit gencar memasang patung kuda. Meringkik tapi diam berkonflik tapi bungkam. Aku jadi tidak enak sendiri. Ada tafsir yang ku simpan yang akhirnya terlontar dari lelaki ini.

“Dia tuh cemburu padamu Dik” Kata lelaki ini suatu kali begitu muram Pipit setiap hari. “Tapi jangan khawatir dengan ku…”

Oh, oh… cinta gula-gula terpancing puji dan rayunya. Mimpi kau bangun, kau jelentrehkan segala rencana. Aku yang terlalu lugu terkibas lugutmu yang sekarang baru kusadari begitu gatal hati.

Kau pernah membuatku gentar dan menangis dengan pertanyaan

“Apa kamu sanggup hidup denganku nanti. Puasa berhari-hari kalau tidak ada yang dimakan… hanya air saja.”

“Ya usaha dong Kang!”

“Kalau misalnya sudah njedok?!” Dia diam. Ku tunggu kata-kata selanjutnya. “aku ingin anakku lahir dari rahim kerobi’ah Adawiyahmu…” Hu hu hu…air mataku merembet haru. Lena benar pikirku mengartikanmu sebagai sufi. Sekarang… Huuek!!

Aku saat itu yang mendengar omonganmu melalui telepon hanya diam sambil menelan tangis di samping Pipit yang tidur pulas. Ada kekhawatiran akan masa depan. Apa lelaki ini tidak bisa bekerja?!

“Hallo Dik?!”

“Heh”

“Dik, kamu nangis ya?!”

“Nggak kok. Nggak.” Nggak salah kamu batinku.

“Aku yakin dengan pilihanku. Maaf ya, aku tadi cuma ngetes kok. Di rumah aku di suruh nerusin usaha bapak yang sudah sepuh.” Terdengar dia menghela napas. “Aku sekarang tinggal di sini karena ku lihat musholla ini tidak terawat. Lagian aku juga ingin mandiri. Keluar dari pondok untuk hidup mandiri. Makanya sekarang lagi cari kerja. Dari kemarin di suruh boyong, tapi aku gak mau. Nanti kamu gimana?! Ya udah, aku cari kerja di sini aja dulu.” Kalimatnya ku dengar mengalir.

“Terus kapan sampean pulang?!”

“Gak tau Dik. Di rumah aku di jodohkan” kalimatnya pelan.

“Apa?!” Jantungku terasa kewalahan memompa darahku. Sesak.

“Aku bilang kalau sudah punya kamu.” OH…

Pikiran awang-awangku ini setan macam apa. Aku menelan apa adanya….

Pikiran awang-awangku ini setan macam apa. Aku menelan apa adanya….

Tapi denganmu air mata begitu murah. Terlalu tinggi aku berharap. Terlalu kuat rayu terucap. Terlalu besar mimpi ku panggul sehingga saat terjatuh. Sakit lipat derajat hantam diriku. Terperosok jerembap hatiku. Aku baru ingat sekarang kata orang bijak, jangan berharap dan memberi harapan terlalu tinggi, karena energi akan tergadai tinggi jika kenyataan tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Pernah cemburu membuncah saat kau menggoda Pipit yang setiap hari beku. Dia riang amat jadinya. Aku oke saja. Percaya apa yang saat aku mempertanyakan apa aku hanya di buat mainan?!

“Demi Allah. Demi Qur’an yang sedang kuhafalkan hilang tidak apa-apa jika aku mempermainkanmu…”

hei! Mengapa ada buaya bersurai merak?! Mengapa Allah kau gadaikan dengan keculasanmu itu?! Dia terlalau agung! Mengapa ur’an kau gunakan jaminan atas janjimu?!

Terlalu lama aku mengingat masa bersamanya. Masa melayang-layang, hingga hati hilang kendali dan akhirnya menabrak kenyataan. Gubrak!! Sakit pekikku lirih.

“Kenapa Mir?!” kakakku heran melihatku menangis, linglung di sofa. Dia kira aku dari tadi bersih-bersih. Karena kami tadi sepakat untuk mengisi liburan mingguan untuk bersih-bersih.

Aku tidak menjawab. Ku sambr sapu yang trgeletak di lantai. Pandangannya beralih ke handphone yang sedang ku genggam dengan tangan kiri.

“Sini kakak lihat” Tak berani aku mencegahnya. Biar saja dia tahu.

“Gila!” Aku langsung menoleh ke arahnya yang memaki. “Lelaki macam apa dia! Ini santri yang katamu mau maen kemari?!” Kak Mimi menatapku tajam. Geram.

“Tinggalkan dia! Gak usah diurusi. Kalo dia menghubungi lagi bilang sudah tidak ada urusan!” Kakakku satu-satunya itu meradang setelah membaca sebagian SMS lelaki itu yang belum ku hapus. Ambyar kata-kata kakaku yang tegas.

“Tapi Kak…” Kalimatku menggantung.

“Tapi apa Muna?! Masih sayang?! Lelaki aneh! Dulu bilang Kyainya istikhoroh suruh milih kamu. Aku cuma diam. Gak ada Kyai begitu Nduuk..!! Langsung nyuruh milih. Apa dulu ceritamu? Yang diajukan ke Kyainya itu tiga gadis, iyakan?! Kamu Pipit dan teman mondoknya yang hafal Al-Qur’an. Begitu?!” Kakak mendedah ingatannya tentang curhat yang pernah kuungkapkan.

“Aku diamkan saja dulu. Ingin tahu seperti apa kekasihmu itu. Jika tidak terlalu memasang harapan besar kepadanya… Aku ingin kamu belajar mengambil keputusan, dan resikonya. Aku juga tak tega mematahkan kebahagiaanmu yang baru mengenal lelaki…” Kakaku menjatuhkan badannya di atas sofa. Sedang aku menyandarkan tubuhku di punggung sofa.

“Saat dia bingung denganmu, yang suka tidak mau pacaran tapi suka, itu karena pikirannya belum matang. Masih suka bersenang-senang…”

“Tapi dia kan bilang serius Kak!”

“Siapa juga yang mau menjawab hanya untuk senang-senang?! Dia tidak mau disangsikan.” Aku diam. Berwarna-warni rasa berkecamuk dalam pikiranku.

“Dia tidak mau diremehkan. Sampai bilang akan main ke rumah. Tapi belum bisa karena masih cari bekal. Bekal apa?! Sekedar mengenalkan diri apa susahnya?! Meski mungkin saja dalam hatinya membenarkan kemunafikannya. Dia masih sekedar lelaki yang menjajaki wanita…” kakaku mengatur nafas. Terdengar lagi kekesalannya.

“Yang konyol itu dia bilang banyak lelaki yang mengjarnya. Dijodohkan Kyainya tetapi tidak mau. Di rumah ada keluarga dari seorang cewek melamarnya… dan dia memilihmu. Begitukan ceritamu dulu?!” Kakakku terus memuntahkan kekecewaannya. Marah denganku yang masih terlihat berat melepasnya.

Aku hanya menelan ludah. Mengapa aku menutup kesadaranku. Kegilaanku menutupi akan sesuatu yang tidak beres.

Tapi bukan itu yang ku maksud tadi…ku susun keberanianku untuk menguak sesuatu yang ku sembunyikan selama ini. Demi menjaga nama baik lelaki ini didepan keluargaku. Juga teman-temanku.

“Uangku masih di bawanya Kak!”

“Apa?! Uang?! Berapa?”

“Tiga ratus ribu.”

Terlihat jelas keheranan diwajahnya, campur kecewa atas tindakanku.

“Belum apa-apa sudah nyangkut uang? Benar-benar tidak beres.” Kak Mimi menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Begitu mengingat uangku aku jadi limbung. Merasa bersalah. Karena dua hari setelah aku menyerahkan uang itu ibu sedang butuh uang. Aku bohongi sudah ku tabung. Ibu melarangku untuk menariknya. “a sudah kalau di tabung. Gap papa.” Begitu ujar ibu lewat telepon.

Ku lihat pelan dua ujung bibir tipis Kak Mimi tertarik. Langsung di tatapnya aku dengan pandangan yang tak ku mengerti. Terlontar kalimatnya yang membuatku terbahak campur malu.

“O…baru tahu aku. Bank Jamal ya?!” Matanya mendelik. Mungkin sudah penat dia membahas lelaki itu.

“Ah Kak! Jangan sebut namanya lagi dong! Dah muak aku!” Ku tonjok lengannya. Kebiasaannya menggojlokku kambuh.

***

Satu hari setelah kejadian itu. Kak Mimi menyuruhku untuk segera menagih hutang Jamal. Ku katakan pada Ustadz kacau itu kalau keluargaku sedang butuh uang. Dia tersinggung amat begitu menyadari hutangnya diketahui keluargaku. Dua hari kemudian dia datang ke tempat kerjaku, masih sempat pula dia sambat belum punya kerjaan. Uang tiga ratus ribu yang diberikan kepadaku adalah hasih menjual HP bututnya dan uang dari anak-anak yang mengaji di mushollanya. Padahal dulu dia tidak mau menerima uang dari anak-anak yang mengaji. Ah, benar-benar Ustadz kacau!

Yang membuatku mengelus dada adalah dia menemuiku ditemani Pipit yang menunggu di pinggir jalan raya. Tapi aku sudah tidak peduli mereka mau apa. Yang penting uangku kembali. Titik.

***

Suasana hatiku normal kembali. Ini adalah titik balik atas hidupku selama ini. Begitu teman-teman lelaki di tempat kerjaku dengan Pipit aku sudah pisah dengan Jamal, mereka main ke rumah. Ada dua lelaki yang berebut ingin memasuki rumah yang baru saja ditinggal penghuninya. Sudah cukup bermain api. Aku ingin menenggelamkan diri dalam lautan ilmu di kampus dan tempat kerja baruku. Mereka aku tanggapi dengan guyon saja.

“Hey! Aku masih dalam masa Iddah!” Selorohku di sambut tawa Yudi.

“Berapa lama?!” Tanyanya penasaran, sedikit grogi.

“Sampai lulus kuliah.” Jawabku asal.

Setelah Yudi pulang membawa pemahaman kalau aku tidak ingin pacaran lagi. Handphoneku berbunyi. Nomer tak di kenal. Nomer rumah. Dari kodenya aku hafal, itu kan kode kota tempat kerjaku dulu?!

“Assalamu’alaikum. . siapa nih?!”

Terdengar suara yang masih ku ingat benar pemiliknya menjawab salamku. Terasa luka mau di korek lagi.

“Ada apa?!” Tanyaku dingin. Terdengar kalimatnya yang mengagetkanku.

“Di tempat kerja atau di lingkungan kamu ada lowongan kerja gak?!”

Kak Mimi yang melihat perubahan ekspresi wajahku bertanya siapa yang menelpon. Kugerakkan mulutku membisikkan.

“J-a-m-a-l. Tanya lowongan.” Mata kak Mimi mengerjap-ngerjap.

“Ada.” Kepalanya mengangguk-angguk. Aku tak faham. Ku oper handphone ku kepadanya.

“Hallo.. Mas Jamal ya?! Ada lowongan disini mas.” Kak Mimi menahan senyum geli. Aku masih penasaran dengan apa yang akan dikatakannya. Volumenya di loud speaker.

“Apa Mbak? Ini siapa ya?!”

“Ini manajernya Muna. Nyuci bajunya Muna mas. Dia sibuk banget dengan kuliah dan pekerjaan barunya. Giman?!’

“Ah, Mbak ini ada-ada saja.” Terdengar suara Jamal dari sana.

“Mas kan sudah punya pekerjaan toh!” Tembak kak Mimi dengan cengar-cengir.

“Belum mbak.”

“Sekarang kerjaan kamu kan nggarap Pipit..” Suara kak Mimi pelan. Di buat sesantai dan sejelas mungkin.

Klek. Sambungan di putus dari seberang. Kak Mimi yang sudah tidak kuat menahan tawanya. Kami tergelak bersama.

“Lelaki tak punya malu!”

***

Tebuireng, 18 Maret 2009

___________

* Untuk perempuan dengan kisah cinta konyolnya bersama s eorang ‘Ustadz kacau tak bermalu’.