Mata Pencerita

Aida Radar
http://www.lampungpost.com/

TAK ada yang tahu siapa laki-laki tua itu. Dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa berada di kampung ini. Orang-orang dewasa di kampung menyebutnya si tua misterius. Sementara anak-anak meneriakinya “O…rang gila…!” Maka, tiada bayangan jejaknya yang bisa kutelusuri. Hanya satu informasi bahwa ia terlihat di kampung sehari sebelum aku mudik dari tempat studi di Kota Daeng*.

Awal kulihat dia keesokan hari setelah tiba di Goto—nama kampungku di Pulau Tidore. Ketika menyusuri jalan setapak diterangi lampu 5 watt yang bersebelahan dengan perkuburan tua; di tengah sayup-sayup lolongan anjing kampung yang memilu, pukul empat subuh; dan di antara semilir angin malam yang menggoyang-goyang daun pala di atas makam-makam itu; kudapati sosoknya.

Sempat aku terhenyak. Kukira dia salah satu makhluk makam tua itu. Bagaimana tidak. Di waktu seperti itu, di pagi yang masih mendengkur, dipastikan belum ada orang kampung yang berseliweran. Semua masih meringkuk di balik selimut hangatnya. Menikmati malam untuk merehatkan tubuh yang sibuk membanting tulang siang tadi.

Dia duduk sendirian di bawah rimbun pohon pala itu. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Mataku tak bisa menangkap aktivitasnya karena gelap yang menyelimuti. Lagi pula aku tidak bisa berlama di sana. Waktu yang memasuki subuh mendesakku segera mengumandangkan panggilan menghadap Ilahi bagi hamba-Nya. Maka kutinggalkan sosok itu berteman dengan sepi yang memang telah melingkar sedari tadi.

Hingga cakrawala mulai dilumuri kemilau emas di ufuk timur sekembalinya dari peraduan, menjemput pagi dengan perpaduan kesejukan embun di rerumputan, masih setia sosok tua menyendiri di bawah pohon pala itu. Lelaki yang kini dapat kutatapi wajahnya walau tak dari jarak terdekat.

Sebelumnya kukira ia berkepala lima. Tak seperti perkiraan orang sekampung bahwa ia telah menginjak tujuh puluh lebih. Pikirku berewok dan gondrongnyalah yang membuatnya kelihatan tua. Tapi memang begitulah adanya. Wajahnya berkata ia sudah seumuran kakekku yang koliho asal** sebulan lalu dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Kakek yang semangat menuntut ilmunya tinggi hingga mengantarnya bersekolah di universitas bergengsi di luar negeri sana. Kakek yang semangat meraih cita-citanya selalu kupanuti. Yang membanggakanku terlahir sebagai cucunya. Sayang nasib baik yang menyambangi kakek sepertinya tidak berpihak pada lelaki tua itu.

Sunyi raut lelaki tua, lusuh, berewokan dan berpakaian kumal itu. Miskin ekspresi. Kuikuti arah tatapannya. Tiga anak berseragam merah putih yang berdiri di sisi jalanlah objeknya. Kemudian sesungging senyum melengkung di bibirnya. Dilanjutkan dengan bahak paling memiris yang pernah kudengar. Tawa yang menyeramkan. Tak lama sesudahnya, mulutnya komat kamit membahasakan hal-hal yang tidak kumengerti. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kulit kepalanya. Mungkin mencari gigitan kutu yang membekas.

Diedarkan pandanganya ke sekeliling. Karena tak mau diketahui bahwa dia sedang kuperhatikan, buru-buru kupalingkan wajah dan berjalan menuju rumah. Menjauhinya yang kurasa sedang menatapiku tajam.

***

“Jangan dekati laki-laki tua misterius itu. Dia berbahaya. Tadi pagi dia melempari temanmu, Dani, dengan batu hingga kepala Dani dijahit tujuh. Padahal Dani hanya ingin menanyakan namanya untuk tugas kampusnya. Benar-benar jahat si tua itu. Bibi Ijah sudah melaporkannya ke polisi. Tapi kata polisi laki-laki itu gila. Dan orang gila tidak bisa ditangkap. Cukup menjauh saja dari dia supaya aman. Jadi ingat itu Rahmat! Jangan dekati dia.”

Ibu mewanti-wanti saat kuutarakan niat mengakrabi laki-laki itu. Namun karena dijangkiti penasaran akut, kuacuhkan wejangan itu.

***

Di pagi keenam ketika malam perlahan menanggalkan jubah gelap seperempatnya; subuh telah mengakhiri ritual penghambaannya; dan surya siap-siap menjalankan titah merajai siang, pelan kudekati lelaki tua lusuh itu. Begitu tanganku menyentuh pundaknya yang membelakangi, sontak ia berbalik dan merengkuh kerah baju kokoku dengan kasar. Matanya melototiku yang terkejut mendapat sambutan itu.

“Mau apa kamu hah!? Dasar pengkhianat! Berani-beraninya kau muncul di hadapanku!”

Lelaki itu meneriakiku marah. Lantas mendorongku hingga jatuh terjerembab di tanah. Takut dan bingung memenuhi benakku. Ia meneriakiku pengkhianat? Bagaimana bisa jika baru beberapa hari ini aku melihatnya. Kenal saja tidak.

“Saya tidak ada niat jahat pada Anda. Saya hanya….”

Aku yang hendak berdiri tidak jadi berdiri. Kata-kataku terhenti ketika bersitatap dengan matanya yang menurutku sangar dan mengerikan. Mata yang kurasa hendak menelanku hidup-hidup.

Lalu tiba-tiba aku merasa ada kekuatan magnet yang menarikku. Kuat sekali memasuki mata sangar yang sedang melotot itu. Tak lama tubuhku sudah meluncur dalam labirin gelap. Lumayan lama aku meluncur di dalamnya. Sampai kemudian aku terempas di sebuah tempat asing.

Tidak! Tunggu dulu! Tempat itu tidak asing. Aku mengenalinya. Itu gedung kampusku di Makassar. Hanya saja papan nama kampus bukan bertuliskan Makassar melainkan Ujung Pandang. Suasana kampus pun tidak seramai kampus dengan papan nama bertuliskan Makassar. Meski begitu bangunannya yang tua masih kokoh.

Aku terus memandangi papan itu dalam lamun sampai mataku menangkap dari kejauhan dua sosok laki-laki di antara orang-orang yang lalu lalang. Keduanya dilingkupi warna, sementara selain mereka terlihat hitam putih. Bak gambar televisi tak berwarna era tujuh puluhan.

Dua laki-laki itu akrab sekali. Mereka jalan berangkulan dan tertawa bahagia. Sempat kudengar mereka memanggil satu sama lain “sahabatku”. Oh… itu artinya mereka bersahabat. Bisa kusebut sahabat kental. Sahabat yang sudah seperti saudara kandung.

Aku ingin mengenali wajah mereka namun yang tampak hanya seorang saja. Wajah yang satunya lagi samar-samar. Kupusatkan perhatianku pada lelaki yang wajahnya tampak itu. Aku tidak mengenalnya. Namun aku mengenali matanya. Yah… itu mata yang sama dengan mata yang menarikku ke tempat ini. Hanya saja arti sorot keduanya berbeda.

Kemudian aku merasa sekitaranku berputar. Aku seperti berada dalam benda bulat yang diputar-putar. Ketika berhenti aku telah berada di sebuah ruangan remang-remang dengan kepalaku yang malah berputar-putar. Ruangan dua kali tiga itu kukira sebuah kamar indekos mahasiswa. Rak yang dipenuhi buku-buku dan jadwal kuliah menjelaskan itu.

Aku baru menyadari bahwa bukan hanya aku di ruangan itu. Seseorang duduk dan menyembunyikan kepalanya di balik sepasang lutut yang tertekuk di sudut kamar. Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya. Loh! Itu lelaki di kampus tadi? Yang kukenali matanya. Tapi mengapa tak kulihat sorot bahagia dalam matanya seperti tadi. Justru sebaliknya, ada amarah bercampur kekecewaan dan tangis di sana. Ia meremas-remas selembar kertas di tangannya. Lalu ia buang kasar remasan kertas itu sambil berteriak marah.

“Pengkhianaaaaaaaat……! Pengkhianaaaaaaaaat……..! Hu…hu…hu…”

Aku tersentak dengan teriakan marah diikuti segukan itu. Aku dekati ia. Duduk di depannya dan memegang pundaknya. Mencoba menenangkan. Namun tanganku tak bisa menyentuh pundaknya. Terasa seperti memegang angin. Rupanya aku ini hanya bayangan. Dan rupanya pula, ia tidak mengetahui keberadaanku. Maka berdirilah aku dan kuraih remasan kertas yang ia buang tadi. Kubaca asal kemarahan lelaki itu.

Maafkan aku sahabatku. Aku tahu aku bersalah padamu. Tapi dengan cara inilah aku bisa mewujudkan impianku. Beda dengan kau yang masih punya kesempatan meraih beasiswa itu di lain waktu karena kecerdasanmu. Sementara aku tak bisa begitu. Maka cara ini kutempuh. Sekali lagi maafkan aku, Sobat.

Aku ternganga dengan isi kertas itu. Astaga! Sebuah pengkhianatan dari sahabat sendiri kah? Oh… betapa hancur hatinya menghadapi kenyataan itu jika begitu adanya. Meski aku tidak tahu apa bentuk pengkhianatannya, iba juga aku melihat lelaki itu. Ketika itu ia menangkap pandanganku. Dan mata amarah penuh kekecewaan itu sekonyong-konyong menarik tubuhku hingga terjungkal di dalamnya. Aku kembali berada dalam labirin gelap dalam waktu lama. Tak lama di depanku muncul cahaya. Aku pun meluncur masuk dalam cahaya itu.

***

Mata itu masih menatapku tajam. Mata dengan sorot amarah penuh kekecewaan yang sama. Mata yang dimiliki lelaki tua gondrong dan dipanggil orang gila oleh anak-anak sekampung.

“Kau sudah lihat semuanya, kan? Kamu sudah tahu pengkhianatan itu, kan? Sahabat yang telah kuanggap seperti saudara kandung merampas hakku. Bahkan berkata Aku masih punya kesempatan di lain waktu. Huh! Tidak tahukah dia kalau untuk biaya kuliah di Ujung Pandang sana saja orang tuaku menjual tanah dan kebun pala hingga tak tersisa? Tidak tahukah dia kalau dengan mendapat beasiswa itu aku bisa melanjutkan kuliah yang terancam putus karena tak ada lagi biaya? Tidak tahukah ia kalau namaku dalam daftar penerima beasiswa yang ia ganti namanya telah menghancurkan hidupku? Dan dia berkata aku masih punya kesempatan lain? Cuih….!”

Napasnya megap-megap mengeluarkan rasa hati yang telah berkarat karena –pikirku—terpendam lama itu. Meski begitu ia tetap menatapiku tajam. Aku mematung di tempat tanpa suara. Bermain dengan keterkejutan dan iba pada lelaki di depanku. Tak berani kupandangi ia.

Lama kami diselimuti diam. Sampai ekor mataku menangkapnya berjalan mendekatiku. Aku ketakutan karena di genggaman tangannya aku melihat sebuah batu. Di jarak duapuluh cm tiba-tiba aku mendengar sebuah bunyi. Dan oh… bunyi itu berasal dari perutnya.

“Aku lapar. Beri Aku makan. Beri aku makan…”

Di antara tatapan menusuk itu ia mengiba. Mengharap belas untuk keroncongan perutnya yang terus bernyanyi ria. Menyirnakan keterkejutanku atas sikap ganasnya yang tiba-tiba melunak. Dan menumbuhkan rasa kasihanku akan kepayahannya.

“Saya tidak bawa makanan sekarang. Kita ke rumah ya? Ibu saya masak nasi goreng. Kita makan nasi goreng sama-sama di rumah saya. Itu di sana rumahnya. Yang bercat biru. Dekat, kan?” kuajak ia menghilangkan laparnya sambil menunjuk rumah orang tuaku.

Ia diam saja. Tidak menggeleng tidak juga mengangguk. Aku salah tingkah dibuatnya. Aku hendak mendekati dan menuntunnya ke rumah. Namun aku masih berjaga-jaga jangan sampai batu di tangannya ia ayunkan padaku. Maka bersitataplah kami dalam diam. Hingga sejurus kemudian ia mengangguk lemah. Batu di tangan ia lepaskan. Ia berjalan mendekatiku dan serak berbisik padaku.

“Aku lapar. Beri Aku makan sekarang.”

***

Rumah kelihatan sepi. Ayah dan ibu pasti sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Kusuruh lelaki tua itu duduk sebentar di kursi teras. Aku akan mengambil nasi goreng untuk kami berdua. Kemudian makan di teras ini.

“Tunggu di sini ya. Saya ambilkan nasi gorengnya. Kita makan di sini sambil menikmati mawar-mawar ibu saya yang merekah.”

Ia tak mengangguk tapi langsung duduk. Matanya merambati setiap bagian teras dan taman bunga kecil di depannya. Kutinggalkan ia dan masuk ke dalam rumah.

Aku mengisi dua piring dengan nasi goreng di atas meja. Satu piring kusendoki hingga menggunung. Itu untuk lelaki tua di depan sana. Kemudian aku menyeduh teh manis hangat. Kubawa sarapan itu dengan nampan ke teras. Baru tiga kali melangkah tiba-tiba…

Prang…!

Aku terkejut mendengar sesuatu seperti kaca pecah. Lalu suara teriakan dan beling yang diinjak-injak. Arah suaranya dari ruang tamu. Segera kutaruh kembali nampan di atas meja makan dan berlari ke depan.

“Pengkhianaaaaa……at! Pengkhianaaaaa……at!”

Itu teriakan lelaki tua lusuh itu. Ia seperti kesetanan. Kakinya berlumuran darah karena menginjak-injak beling bingkai foto yang pecah di lantai. Mulutnya terus meneriaki kata pengkhianat dan menunjuk-nunjuk foto berbingkai pecah itu. Aku terhenti di pintu. Terdiam dan lemas dalam keterkejutan yang sangat. Tahulah aku sekarang. Gambar dalam foto yang sedang diinjak-injak lelaki tua dengan beringas itu adalah dia, sahabatnya, almarhum kakek kebanggaanku.

Tidore-Makassar, Oktober 2009-Juni 2010

Catatan :
* Kota Daeng : Sebutan lain Kota Makassar.
** Koliho asal : Ungkapan orang-orang Tidore ketika mengabarkan seseorang meninggal dunia. Koliho asal artinya kembali ke asal manusia yaitu pada Allah swt.