Puisi-Puisi Fatah Yasin Noor

Belantara Hijau

Mata yang tersimpan dalam kandungan gunung. Perlahan silau atas tajam matahari. Atas hari-hari yang semakin terbuka. Menguak kehijauan hutan belantaramu. Nyaris tak lagi bisa ditandai. Gerimis yang terus merintih pelan. Jejak-jejak sunyi masih merangkum musim. Aku berjalan perlahan dalam beludru malam. Melingkar lewat lekuk teluk yang dikenali pelanduk. Ahai sepi, seperti ampas kopi. Continue reading “Puisi-Puisi Fatah Yasin Noor”

Kredo Puisi dalam Pencitraan Politisi

Abdul Aziz Rasjid
Minggu Pagi, V Maret 2009.

Semoga masih terkenang di ingatan kita saat beberapa politisi negeri ini mengutip sebuah bait puisi untuk kepentingan mengkampanyekan diri. Salah satunya bait puisi Chairil Anwar “sekali berarti sudah itu mati”, dimanfaatkan seorang politisi untuk mempopulerkan namanya pada masyarakat. Bait puisi itu tak hanya terpampang pada spanduk-spanduk di tepi jalan atau surat kabar harian, kita juga menyaksikan bait puisi itu berkali-kali tampil di layar televisi. Continue reading “Kredo Puisi dalam Pencitraan Politisi”

MENGGUGAT PENDIDIKAN GAYA “BANK”

Janual Aidi

…..”masyarakat saat ini sedang mengalami penderitaan
karena salah ajar (dysteachic communit) ”…..
(Thomas Armstrong, 2002)

Freire mengurai secara gamblang problem pengetahuan yang dipolakan dari sistem pendidikan yang “menindas” dan kontra-pembebasan. Dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menegaskan bahwa pola pendidikan yang selama ini terjadi bahwa hubungan antara guru dan murid dengan menggunakan model “watak bercerita” (narrative): seorang subyek yang bercerita (guru) dan obyek-obyek yang patuh dan mendengarkan (murid-murid). Continue reading “MENGGUGAT PENDIDIKAN GAYA “BANK””

Mengeja Orgasmaya, Sebuah Tadarus Dari Orang Tak Saleh

Abu Salman
http://dunia-awie.blogspot.com/

Sebagai seorang penyuka dan penikmat puisi yang tak saleh alias seorang awam puisi. Yang tentu tak bisa kusuk dalam tadarus dan menafsir kitab puisi, maka bagi saya menikmati karya puisi itu seperti menempuh suatu perjalanan. Perjalanan dari kota ke kota. Perjalanan menelusur dari kata ke kata. Dari frasa ke frasa. Kadang seperti melaju di jalanan yang lempeng-lempeng saja tanpa kesan dan tanpa hambatan, terkadang dapat nemu berbagai menu rasa dari tangkapan indra yang terangsang oleh berbagai pemandangan dan peristiwa. Continue reading “Mengeja Orgasmaya, Sebuah Tadarus Dari Orang Tak Saleh”

Bahasa »